
Aku buka jendela kamarku biar udara bisa berganti, setelah itu aku tidurkan Dimas di dalam box bayi yang ada di kamarku, sebab kalau di taruh di luar pasti nanti Dimas akan kebangun dengan suara berisik televisi yang di nyalain oleh Ibu dan Sinta, mereka itu kalau lagi menonton televisi sudah tak peduli lagi pada orang lain, selain suaranya televisinya kencang, komentar mereka berdua juga tak kalah kencang, bahkan kadang memaki-maki sendiri mereka itu.
Aku hanya geleng-geleng kepala saja mendengar mereka marah-marah tak jelas seperti itu, ' nonton televisi kok pada emosi, mending ga usah nonton saja, dari pada darah tinggi', gerutuku dalam hati.
Miris aku menjadi menantu di sini, sejak melahirkan sampai sekarang tak pernah ibu mau memegang anakku, entahlah kenapa sikap ibu seperti itu, yang di urusi ibu hanya dirinya sendiri dan anak-anaknya saja, aku menantu mau jungkir balik tak ada urusan, yang penting dia senang tinggal perintah sana sini, pada cucunya saja Ibu mertua juga tak terlalu suka.
Tapi ya sudahlah yang penting anakku baik-baik saja, dia sehat tak kekurangan apapun juga, biar pun tak mendapatkan kasih sayang dari neneknya.
Ibu mertua akan baik padaku ketika Ibuku datang menengok aku, jelas sebab kalau Ibuku datang beliau pasti bawa sesuatu, selain beras banyak sekali oleh-oleh dan sembako, pastinya ibuku akan bersikap lembut terhadapku, dan Dimas pasti akan segera di gendong oleh ibu mertua dan di ajak olehnya.
Bahkan Ibuku setiap datang menyelipkan uang untuk aku dan Dimas, tanpa sepengetahuan Ibu mertua, kata ibu itu adalah hasil dari jual panenan di kampung katanya, walaupun aku menolak tetapi ibu tak tetap memaksa, sebab uang itu untuk cucunya, kalau sudah seperti itu aku bisa apa.
Ketika sampai di dapur aku menghembuskan nafasku perlahan-lahan, rasa sesak memenuhi rongga dada ini, pemandangan yang membuat aku miris adalah setiap hari, cucian yang awalnya satu ember besar kini beranak pinak jadi satu bak besar, dan itu harus aku selesaikan semua setiap harinya.
Kalau seperti ini terus lama-lama badanku bisa rontok semua tinggal tulang dan kulit saja, baiklah aku akan segera selesaikan semua cukup untuk hari ini saja, tetapi besok-besok aku tidak mau mencuci pakaian Santi, Sinta dan Bowo, bayangin saja dalaman mereka harus aku yang nyuci, apalagi punya Bowo, dia bukan suami aku tetapi aku harus mencucinya, Sinta itu benar-benar keterlaluan.
Baiklah aku sudah mengabdi untuk keluarga ini tiga tahun lebih, aku tidak mau dan dalam waktu tiga tahun itu tak pernah sekalipun sikap mereka baik padaku, selalu mencemooh aku padahal aku sudah berbuat banyak untuk keluarga ini.
Dari masak, menyapu, mengepel, sampai mencuci baju satu rumah aku ijabah i, tetapi apa yang aku dapat hanya sebuah cibiran saja.
Selesai mencuci dan menjemur baju aku langsung mandi, buru-buru aku lakukan supaya ketika aku selesai Dimas tidak terbangun, untuk setelikaan nanti saja, sebab baju Mas Andra bisa aku setrika besuk atau enggak nanti malam, sebab badan ini sudah lelah sekali.
__ADS_1
Selesai semua lalu aku masuk ke kamar menyusul anakku yang masih terlelap, membaringkan tubuhku yang terasa lemas.
Brak brak..." hoe...!!! BANGUN!!" seru suara teriakan.
Tiba-tiba pintu kamar di gedor oleh ibu dari luar, " Mita buka pintunya, enak saja jam segini sudah tidur, emangnya ini rumah nenek moyang kamu!!? cepat bangun, itu setelikaan menumpuk tidak di kerjakan, dasar pemalas, sudah numpang belagu lagi," teriak ibu di depan pintu kamarku yang belum aku buka, sebab aku masih enggan untuk bangun, sebab kepalaku pusing sekali.
" Heh... orang kampung kamu masih tidak bangun juga!! kualat kamu ya, jangan bisanya cuma tidar tidur saja, tahu diri kek." Maki ibu lagi.
" Sudah makan gratis, tak tahu terimakasih" ibu terus mengeluarkan sumpah serapahnya, aku hanya diam saja kepalaku pusing sekali, terserah dia mau mengoceh apa aku dengar saja, toh itu hal biasa buat aku bila mas Andra tak di rumah.
Brak brak, suara gedoran pintu kembali memekakkan telinga kali ini lebih keras lagi dari sebelumnya, hingga membuat Dimas anakku kaget dan menangis kencang dan terbangun dari tidur siangnya.
" Cup sayang, kaget ya dengar suara nenek kamu." Ku tanyai bocah mungilnya itu sambil aku tepuk-tepuk pantatnya untuk menenangkan Dimas, setelah diam aku raih kain untuk menggendongnya.
Setelah Dimas benar-benar terdiam aku baru membuka pintu kamarku, dan Ibu mertuaku sudah tak ada lagi di depan kamar sepertinya dia lelah mengoceh sedari tadi.
Ah ternyata ada tamu di depan sana ,hingga membuat wanita tua itu berhenti memakiku.
Sayup-sayup aku mendengar seseorang berbincang di luar sana, entah siapa tamunya itu, hingga membuat kedua wanita beda generasi itu berubah jadi lembut sekali, dari suaranya sepertinya tamunya itu adalah seorang pria, entah apa yang mereka perbincangkan hingga membuat kedua wanita itu tertawa lepas.
Ah sudahlah aku tak mau ikut campur mending aku menyicil untuk menyetrika baju ini, dari pada dengar mulut ibu mengomel tiada henti.
__ADS_1
Aku sengaja memisahkan baju yang akan aku setrika, yang terpenting adalah baju punya Mas Andra, bajuku dan ibu serta punya Dimas aku pilih yang mau di setrika, dan yang lainnya aku sisihkan di keranjang biar mereka setrika sendiri saja.
Silahkan kalau mau marah aku tak peduli, aku sudah siap bila Sinta memaki aku habis-habisan, sebab Sinta itu wataknya persis seperti ibunya, sadis dan semua omongan dia sampah isinya.
Hari makin siang setelah selesai aku bawa setelikaan ke kamarku dan punya ibu aku taruh di keranjang tersendiri, biasanya begitu aku enggan untuk memasukkan ke dalam kamarnya.
Tubuhku rasanya ngilu sekali, berdiri sambil gendong Dimas untuk menyetrika baju tadi.
Sudah cukup aku seperti ini, lebih baik aku mantapkan diri untuk pindah saja, aku sudah tak kuat.
Aku tahu ini pasti berat untuk Mas Andra tetapi aku juga tersiksa di sini terus menerus.
Hari menjelang mahrib, terdengar suara motor Mas Andra masuk ke pekarangan rumah, ah lega rasanya aku sudah sedari tadi menantikannya, untuk membicarakan masalah pindah kontrakan.
Usai makan malam aku menidurkan di mas di Box bayi, setelah ini aku gantian makan dari sisa makanan mereka, ah sudah di tebak pasti tinggal kuah dan sambal saja, dan kerupuk satu, tak apalah yang penting bisa untuk mengganjal perutku ini.
" Dek makan dulu sama gih, kalau Dimas sudah tidur" seru Mas Andra padaku.
" Ia Mas, benar lagi ini Dimas masih belum pulas, takutnya nanti dia kebangun setelah aku tinggal," jawabku sambil aku menepuk-nepuk pantatnya.
" Mas bagaimana kalau kita pindah saja cari kontrakan? rasanya lebih nyaman tinggal terpisah mas?" ucapku pada suamiku, dan seketika membuat mata suamiku melotot ke arahku, sejenak kau terdiam untuk menenangkan hatiku, aku yakin pasti ini akan ribut jadinya.
__ADS_1