Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Pukulan Bertubi-tubi


__ADS_3

Dio pun melangkah dengan setengah berlari mendekati Aninda yang terlihat menangis dengan semakin kencang.


"Aninda!!" teriak Dio dengan jantung yang semakin berdebar dengan cepat antara takut jika itu halusinasi ataukah benar itu adalah separuh jiwa nya yang dirinya cari selama ini.


"I--ini hanya mimpi. Di--dio tidak mungkin ada disini. Huhuhuhu," ucap Liliana dengan terbata serta masih di posisi yang sama yakni duduk di atas bebatuan kecil dengan menangkup kan kedua tangan serta wajah di kedua lutut nya.


"A--Aninda ... ini aku Dio," ucap Dio dengan terbata mencoba mengangkat wajah Aninda yang masih terlihat bersembunyi di balik kedua lututnya.


"Ka--kamu benar Aninda kan ...?" ucapnya Dio lagi dengan terbata-bata serta jantung yang berdetak kian cepat.


Liliana pun berusaha menenangkan diri nya kembali begitu yang ditemui nya kali ini ternyata memang Dio yang sangat dirindukan nya serta sangat di benci nya itu.


Kemudian Liliana pun mendongak kan wajah nya dan kemudian terlihat menatap tajam ke arah Dio.


"Aku bukan Aninda!! Aku tidak mengenalmu!" pekik Liliana dengan keras dan pergi secepat kilat dari tempat tersebut.


Dio yang telah melihat bentuk tubuh dan wajah Aninda yang nampak terlihat dekil terlihat lebih kurus dari ibu hamil lain nya pun nampak menatap nanar punggung Aninda yang terlihat telah pergi menjauh tersebut.


"Ya Tuhan, ternyata yang di bilang Abah Saleh tentang wanita muda yang sedang hamil itu adalah Aninda yang selama ini aku cari?? Tubuh nya yang terlihat jauh lebih kurus itu pasti karena memikirkan banyak hal serta kondisi di pesisir pantai yang seperti ini. Bodoh nya diriku yang terlalu lamban untuk membawanya kembali!" ucap Dio dengan mengumpati dirinya sendiri.


Dio pun nampak segera berlari mengejar kemana kaki Aninda melangkah. Hingga terlihat Aninda yang kemudian memasuki sebuah rumah panggung minimalis serta terlihat menutup pintu tersebut dengan cepat dan rapat.


"Ada apa nak? Kenapa kamu pulang-pulang membuat Ayah dan Ibu terkejut?" tanya sang Ayah yang kemudian mendekat ke arah putri nya tersebut.


"Di--diluar sana a--aku bertemu dengan Dio Ayah. Dio telah melihat wajahku dan mengejar ku kemari," ucap Liliana dengan terbata dengan air mata yang terus menerus mengalir dan tubuh yang terlihat semakin bergetar karena ketakutan.


Liliana sangat takut akan kembali di datangi oleh sekelompok pembunuh bayaran jika kembali bertemu dengan Dio.


Liliana takut jika Ayah dan Ibu nya akan turut menjadi korban dari orang-orang kejam yang pernah mengancam dirinya beserta keluarganya.


"Bagaimana ini, Ayah?" tanya Liliana dengan wajah yang terlihat semakin pucat dan pias.


"Tenanglah sayang, biar Ayah yang menghadapi nya. Karena kita tidak akan mungkin bisa melarikan diri kembali," ucap Ayah Liliana berusaha sekuat tenaga untuk tidak merasa takut ataupun gentar kembali.

__ADS_1


Ketiga nya pun nampak saling berpelukan dengan Liliana yang terlihat masih terus menanngis.


Hingga tak berapa lama terdengar suara Dio yang terus menerus memanggil nama Aninda disertai suara ketukan pintu.


"Anin!! Ini aku Dio, tolong bukakan pintu untukku!! Aninnn!!" teriak Dio dengan mengetuk pintu rumah Liliana secara terus menerus.


Hingga pada akhirnya Ayah Liliana pun terlihat berdiri bersiap untuk melangkah membukakan pintu untuk Dio.


"Ayahh ... jangan. Jangan di buka, Liliana mohon ..." ucap Liliana dengan lirih serta terlihat memeluk kedua kaki ayah nya tersebut dengan tubuh yang terlihat semakin bergetar.


"Jangan takut, Ayah yang akan berbicara kepada Dio. Kamu masuklah ke dalam bilik kamar mu. Bu, tolong bawa lah Liliana kembali beristirahat ke dalam kamarnya," pinta Ayah Liliana kepada istrinya tersebut.


Ibu Liliana pun segera memapah tubuh putri satu-satunya tersebut untuk kembali masuk ke dalam bilik kamarnya.


"Sudah lah, Nduk. Biar kali ini ayahmu yang berbicara kepada Dio untuk tidak lagi kembali lagi mencarimu. Namun semua keputusan tetap ada di tanganmu, Nduk,"


"Jika kamu ingin tetap berkomunikasi dengan baik bersama Dio karena bayi yang sedang kamu kandung ini atau pun memilih untuk memutus komunikasi untuk selamanya maka Ibu dan Ayah akan tetap mendukungmu," tutur sang Ibu dengan mengusap air mata Liliana yang terlihat terus mengalir.


"Ayah!! Maaf kan Dio, Ayahh!! Tolong beri kesempatan untuk Dio," ucap Dio dengan segera memohon dan memeluk kedua kaki Ayah Liliana tersebut.


Ayah Liliana pun nampak terkejut karena Dio yang terlihat langsung memeluk kedua kakinya dengan sangat erat hingga tak mampu untuk di gerakkan nya.


"Duduklah!" titah Ayah Liliana dengan nada yang terdengar tajam dan menusuk.


Namun Dio pun terlihat tidak bergeming sama sekali dari tempatnya tersebut dengan terus memeluk kaki Ayah Liliana.


"Duduk atau segera pergi dari sini dan jangan pernah temui kami kembali!" bentak Ayah Liliana kemudian karena merasa perintah nya di abaikan oleh Dio.


Mendengar ucapan Ayah Liliana yang terdengar seperti ancaman untuk nya pun membuat nyali Dio menciut seketika.


Dengan cepat Dio pun segera duduk di kursi kayu yang tersedia di ruangan tersebut dengan perasaan yang sulit untuk di jelaskan nya.


"Katakan dengan jelas apa tujuan mu mendatangi kami sampai sejauh ini. Setelah itu segera lah pergi dari kehidupan kami," ucap Ayah Liliana dengan menatap tajam ke arah lelaki brengsek yang tega menghamili dan berpaling mengkhianati putri nya secepat itu bersama wanita lain nya.

__ADS_1


"Ayah ... tolong izinkan saya menikahi Aninda. Restui kami Ayah," ucap Dio secara lirih memohon kepada Ayah Liliana.


"Tidak bisa! Aninda bukan lah lagi Aninda!" pekik Ayah Liliana dengan mengerat kan kepalan tangan nya.


"Saya tahu Ayah. Aninda telah berganti nama Liliana. Tolong izinkan saya menikahi Liliana yang tengah mengandung buah cinta kami," ucap Dio dengan menatap manik mata Ayah Liliana yang terlihat menatapnya dengan sangat tajam.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu?! Kamu ingin menjadikan putriku sebagai orang ketiga di antara pernikahanmu dengan istri baru mu itu?!" ucap Ayah Liliana dengan terlihat bersiap menghajar Dio.


"Dasar lelaki brengsekk tak bermoral!!" pekik Ayah Liliana dengan menghajar tubuh Dio dengan membabi buta.


"A--Ayah to--tolong deng--ngarkan dulu," ucap Dio dengan nada terbata karena terus dihajar oleh Ayah Liliana.


Sedangkan Ibu dan Liliana yang mendengar suara lemah Dio dan Ayah Liliana yang terdengar masih terus menghajar Dio pun menjadi cemas hingga keluar dari bilik kamar tersebut.


"Ayaahhh!! Tolong jangan seperti ini!! Berhentilah Ayah. Lili takut melihat Ayah yang seperti ini. Ayah bisa membunuh Dio jika terus memukulinya seperti itu. Cukup kita yang pergi dari sini saja, Ayah. Ayo kita pergi dari sini. Maafkan Liliana, Ayah," pekik Liliana dengan memeluk tubuh Ayah nya dengan air mata yang terus mengalir.


"Mas, benar kata putrimu. Hentikan mas, tenangkan hatimu kembali," ucap Ibu Dio dengan segera menarik suami nya.


Hingga tak berapa lama terlihat banyak warga kampung yang datang berduyun-duyun menuju ke rumah Ayah Liliana yang terdengar seperti sedang terjadi perselisihan hebat.


Ayah Liliana pun kemudian tersadar kembali dari emosi yang terlihat menguasai hati nya karena mendengar ucapan Dio yang terdengar enteng sekali untuk meminta restu atas keinginan nya untuk menikahi putrinya kembali.


"Ada apa ini Pak Santosa?? Kenapa Pak Santosa bertengkar dengan Nak Dio yang merupakan seorang pengunjung?? Ada apa ini sebenarnya??" teriak Abah Saleh yang mendengar ada warga nya yang tengah ribut.


Ayah Liliana pun nampak terdiam membisu tanpa menanggapi ucapan Abah Saleh karena pikiran nya pun masih terlihat sangat lah kacau.


"Maafkan saya, Abah. Ini semua adalah kesalahan saya. Saya yang mewakili meminta maaf disini karena telah membuat kegaduhan. Kami pamit akan pindah dari pulau ini segera, Abah," ucap Liliana dengan menahan tangis di dalam dada nya.


Dio yang mendengar ucapan Liliana yang terdengar memohon dan meminta maaf pun membuat hatinya semakin tak karuan apalagi Liliana juga mengatakan untuk akan segera pindah dari kampung tersebut.


"Bukan Abah! Ini semua adalah kesalahan saya. Saya lah yang membuat keluarga Pak Santosa mengasingkan diri hingga jauh menuju ke pulau ini. Saya lah yang telah membuat Liliana hamil. Saya pantas untuk mendapat kan ini semua," ucap Dio dengan lantang yang membuat Liliana berserta keluarga nya terkejut begitu juga dengan warga kampung tersebut.


"Ohh, jadi lelaki itu yang telah memperkosa Liliana hingga hamil dan tak mau bertanggung jawab. Memang lelaki seperti itu pantas untuk di hajar hingga mati," bisik beberapa warga dengan menyimpulkan sekilas cerita yang belum di jelaskan secara rinci dan detail baik oleh pihak Dio maupun Liliana.

__ADS_1


__ADS_2