
Mata ini terbuka ketika mendengar suara pintu terbuka, entah aku sekarang berada di mana, tetapi tercium dengan kuat bau obat-obatan, dan bau parfum yang begitu maskulin seolah memenuhi ruangan ini, dan kepalaku terasa begitu sakit, serta terasa begitu nyeri di bagian kakiku, lalu aku paksakan membuka mata ini secara berlahan-lahan, dan mata ini langsung tertuju langsung pada langit-langit kamar yang berwarna putih, aku sudah menduganya aku berada di mana, kepala ini begitu pusing sekali sangat pusing.
" Kamu sudah bangun?" terdengar suara berat berucap padaku, membuat aku tersentak kaget ketika kepalaku ku toleh kan ke sisi kiri ku, terdiam sesaat untuk menguasai keadaan.
Aku terpana pada pria yang ada di sebelah ranjang yang aku tempati, pria itu duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya, terasa asing sekali bagiku wajah itu, ucapku dalam hati.
Pria itu begitu tampan sekali, usainya kurang lebih sebaya dengan suamiku Mas Andra, siapa dia? tak satupun kepikiran di dalam otakku ini, yang ada dalam benakku saat ini adalah anakku Dimas.
" Maaf membuat kamu seperti ini" ucapnya kemudian, dengan tatapan penuh penyesalan.
" Dimas?" aku sebutan nama putraku itu, entah dia tahu apa tidak tetapi yang ada di otakku hanya anakku itu, aku begitu sangat mencemaskannya, apa jadinya bila tak ada aku di dekatnya pasti dia menangis dan sedih.
" Dia baik-baik saja, kamu jangan khawatir keadaannya sekarang, lebih baik kamu fokus pada kesehatan kamu saja ya? biar segera bertemu dengan Dimas." ucapnya dengan lembut sambil tersenyum.
" Tapi-" belum usai aku bicara dia sudah menyelanya. " Mbak Siti dan babysitter sudah menjaganya dengan baik, aku akan telpon kan dia bila kamu masih merasa khawatir padanya," selanya menepis kekhawatiran ku.
" Anda siapa?" tanyaku padanya, walaupun aku hanya sekedar menebak, tapi aku tak berani mengungkapkan rasa penasaran aku ini.
" Aku Biyan, Papanya Malika" jawabnya, sudah aku duga, tapi awal aku mengira Papanya Malika adalah pria yang sangat tua dan usainya di atas Mas Andra, ternyata dugaan aku salah.
__ADS_1
" Kamu Mitha kan? tetangga baru depan rumah ku." Tanyanya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, lalu aku tersenyum canggung ketika pria itu tersenyum padaku.
" Maaf tadi pagi aku tak sengaja menyerempet kamu, habisnya kamu lewat di belakang mobilku mendadak sih, jadi aku tak bisa melihatnya, dan semuanya tak terduga olehku" Ucapnya beralasan.
" Saya juga salah Pak, saya harusnya lebih hati-hati." Ucapku dengan wajah yang penuh penyesalan, bagaimana tidak kondisi aku sekarang seperti ini, bagaimana aku harus membayar biaya rumah sakit, buat makan saja susah.
Uang tabungan yang aku punya sudah menipis, dan mengharap nafkah dari mas Andra saja aku rasa tidak mungkin, sebab kemaren saja Mas Andra sudah bilang kalau dia belum bisa memberikan aku nafkah untuk bulan ini, sebab masih mengurusi masalah Bowo dan keluarganya.
Buat aku ini masalah berat, lebih baik aku minta pulang saja sebelum biaya rumah sakit ini membengkak, dan aku takut tak sanggup membayarnya, sebab aku lihat aku berada di ruang yang begitu mewah nurut aku, pastinya ini mahal. Begitu banyak pikiran berseliweran di kepala ini, hingga membuat kepalaku menjadi tambah pusing saja, menghadapi hidup ini.
" Pak, bisa minta tolong untuk panggilan Dokter? saya mau pulang saja, saya lebih baik rawat jalan saja Pak, saya tidak terbiasa di sini." Ucapku penuh alasan.
" Maaf kamu belum bisa pulang, kaki kamu keseleo dan aku rasa butuh beberapa hari untuk bisa jalan, jadi aku sarankan kamu tetap tinggal di sini, untuk fisioterapi biar cepat pulih, dan cepat bertemu dengan Dimas." Ucap Pak Biyan menjelaskan
" Tapi Pak, saya tidak bisa meninggalkan anak saya lama-lama, dan selain itu saya banyak tanggungan yang harus saya selesaikan Pak, tolong saya Pak Biyan InshAllah saya kuat Pak, biar nanti saya beli krek saja untuk membantu saya jalan." Ucapku beralasan lagi.
" Tidak bisa begitu Mitha, untuk biaya kamu tidak perlu khawatir aku yang akan menanggung semuanya, dan Dimas sudah ada babysitter yang akan menjaganya selain Mbak Siti, jadi aku sarankan kamu fokus pada kesembuhan kamu aja, dan satu lagi untuk laundry kamu tetap buka di sana saya sudah menempatkan seseorang untuk menjaganya biar kamu tidak kehilangan pelanggan kamu, jadi aku tegaskan sekali lagi kamu tak perlu memikirkan semuanya, oke? sebab bila kamu memaksakan diri nanti akan lama pulihnya." Ucap Pak Biyan panjang lebar menasehati aku, aku tak bisa berkata-kata sebab semua yang aku pikirkan terjawab sudah. dan benar apa yang dia katakan nya aku akan lama pulihnya bila aku tak fokus, sebab kakiku benar-benar sakit sekali, tetapi yang membuat aku jadi tidak enak adalah dia seperti sudah mengenal aku sejak lama saja, panggilan aku dan kamu terlalu akrab di telingaku padahal aku baru mengenalnya hari ini.
__ADS_1
"Makan dulu ya sedari tadi pagi kamu belum makan, dan sekarang lihatlah jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan kamu baru sadar dari pingsan mu" ucapnya padaku sambil membawa mangkuk berisi bubur sungsum.
" Biar saya makan sendiri saya Pak, terimakasih " ucapku mengambil mangkuk yang ada di tangannya, aku tidak mau dia menyuapi aku sebab, aku masih asing dengan pria itu, selain itu aku juga malu padanya, aku ini ibaratnya babu dan dia adalah bosnya Mbak Siti yang baru aku kenal.
" Kalau kamu melamun kaya gitu sini mendingan aku suapi saja biar cepat selesai." Serunya membuyarkan lamunanku, aku tergelak mendengar seruannya dan segera aku menyuapkan makanan itu ke dalam mulutku.
" Maaf " ucapku, sambil aku memperbaiki posisi dudukku.
Selama aku makan, tatapan matanya itu mengarah padaku, hingga membuat aku kikuk sendiri, aku makan sambil tertunduk, jujur aku risih sekali dengan pria ini, pria yang baru saja aku kenal.
Bosnya Mbak Siti ini sungguh sangat menyebalkan, dia sebenarnya cukup membiayai perawatanku saja di sini sudah cukup, tak perlu mengurusi aku seperti Istrinya saja, aku jadi tak enak sendiri.
" Pak Biyan tidak kerja" ucapku ketika aku menyuapkan bubur terakhir ke dalam mulut ku, aku tak berani menatapnya.
" Tidak, kerjaan ku cukup memonitor saja dari sini juga sudah cukup, aku tak perlu repot-repot datang ke tempat aku kerja kok, jadi kamu tidak perlu memikirkan aku." Ucapnya seperti biasa dengan lagak sok akrab gitu padaku, aku tak tahan dan tak nyaman.
" Maaf Pak, tapi saya tidak apa-apa bila di tinggalkan, sebab ada perawat di sini yang akan menjaga saya dengan baik, jadi Bapak tak perlu khawatir." Ucapku memberi tahu.
" Ia saya mengerti, tapi saya tak percaya sama mereka, saya tak masalah kok di sini, sebab saya merasa nyaman di sini." Jawabnya dengan santai.
__ADS_1
"Sudahlah kamu tenang saja, semua tak perlu kamu pikirkan, cukup kesehatan kamu saja yang jadi prioritas saya sekarang ini, jadi sekarang makan yang banyak dan istirahat yang cukup, biar saya tak merasa bersalah karena tak dapat menjaga kamu, dan satu lagi Dimas menunggu kesembuhan kamu." Imbuhnya lagi dengan di iringi senyum.