Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 21


__ADS_3

Tak perlu ada yang di takuti Mitha, menjalani hidup berdua bersama dengan anaknya Dimas adalah pilihan hidup Mitha. semenjak Mitha di perlakukan buruk oleh keluarga suaminya membuat ia menjadi wanita yang kuat, sebab Mitha mampu dan bisa berjuang sendiri untuk menghidupi anaknya Dimas, semua karena keadaan, bila keluarga suaminya baik mungkin Mitha akan bertahan.


Mitha tidak bermaksud meremehkan suaminya, tetapi justru suaminya yang ternyata mengkhianati dirinya, itu lebih menyakitkan bagi Mitha dari pada cacian oleh mertuanya,


Tak habis pikir bagi Mitha, sebab di saat Mitha bertahan, Andra sang suami malah berbuat serong di belakang nya, apa itu pantas di pertahankan? pastilah bagi sebagian wanita tak bisa, mungkin bila itu terjadi pada sebagai wanita akan lebih baik ia hidup sendiri saja.


Di kala perjuangan Mitha mencari nafkah seorang diri, tentu saja tak lepas dari campur tangan Biyan.


Pria tampan itu selalu memperhatikan Mitha itu walaupun dari kejauhan, dengan memberikan kerjaan buat Mitha.


Setiap hari Biyan mencucikan bajunya di tempat Mitha, baju dia sendiri dan anaknya Malika, semua di pasrah kan pada Mitha, tentu itu saja sudah menjadi pemasukan sendiri buat Mitha, belum lagi promosi yang gencar di lakukan Biyan tak kalah hebatnya, sehingga memberi pemasukan bagi banyak bagi Mitha.


Namum rejeki yang deras itu tak sebanding dengan kehidupan pernikahan Mitha dengan Andra, hingga dalam kurun waktu empat bulan lebih, Andar belum juga menampakkan batang hidungnya, walaupun hanya untuk sekedar meminta maaf, atas semua pengkhianat yang Andra lakukan di belakang Mitha, jangankan minta maaf menanyakan kondisi anaknya Dimas saja Andra sepertinya tak ada niat.


Hingga Dimas telah melupakan Andra, anak kecil itu sekarang tak menanyakan ayahnya lagi.


Rumah istri muda Andra dan Mitha dalam satu kompleks tetapi beda gang, posisi rumah itu saling membelakangi, hanya pagar sebatas pinggang saja membatasi antara rumah Mitha dan Wulan.


Bila Andra ada niat pasti semua sudah selesai dan tak menggantung seperti ini, dan Mitha masih bisa bersikap lunak padanya, sepertinya Andra tak ada niat baik untuk memperbaiki diri sebagi seorang suami, hingga terbersit di pikiran Mitha untuk mengajukan gugatan perceraian pada Andra, tapi untuk semua itu Mitha juga butuh uang yang banyak, dan untuk itu semua baru di kumpulkan oleh Mitha saat ini.

__ADS_1


" Mbak Mitha, sibuk ga Mbak?" tanya Siti yang terlihat panik sambil menggendong Malika yang masih ngenyot susu dari dalam botol.


" Ndak kok Mbak Siti, bisa aku bantu?" Ucap Mitha pada sahabat barunya itu.


Selama Mitha punya pegawai tiga orang Mitha tak terlalu sibuk, dia hanya turun tangan pas lagi ramai-ramainya, dan mesin cuci dan pengering pun sudah tambah menjadi tiga unit sekarang, itu semua karena begitu ramainya pelanggannya Mitha.


" Mbak, saya baru saja di kabari kalau orang tua saya sakit Mbak, beliau masuk rumah sakit, jadi saya harus pulang hari ini juga Mbak, kalau saya nitip Malika bisa kan Mbak?" pertanyaan Siti mengandung unsur pemaksaan di akhir kalimatnya, dan mau tak mau Mitha menyanggupi nya juga, sebab buat Mitha Siti teman yang banyak membantu dia juga, lagi pula Malika hampir tiap hari juga di sini tak sulit untuk mengendalikan bocah kecil itu, begitu pikir Mitha.


Eh tapi tunggu dulu bukankah rumah mbak Siti di kampung sana, tentunya dia tak akan sebentar kalau mau pulang, lalu nanti Malika berarti harus dua puluh empat jam bersama dengan dia, apa boleh sama Pak Biyan bila Malika bersama dengannya, pikir Mitha yang sempat ragu.


Kalau buat Mitha sendiri tak keberatan sebab selama ini Biyan begitu baik sama Mitha, memberi banyak orderan dan bahkan membelikan Mitha sebuah ranjang setelah pulang dari rumah sakit itu, bukan hanya membelikan ranjang, meja makan dan juga satu set sofa yang cukup mewah menurutnya juga di belikan untuk Mitha.


" Ia sudah tidak apa-apa Mbak, biar Malika bersama dengan saya saja, Mbak Siti tenang saja, dan saya do'a kan untuk kesembuhan orang tua Mbak Siti," tutur Mitha menasehatinya.


Sementara Malika tanpa di komando kedua tangannya sudah di rentangkan ke arah Mitha, memberi isyarat kalau bocah itu minta di gendong olehnya, dengan senyum dan wajah keibuan yang Mitha miliki, Mitha meraih tubuh kecil itu dari gendongan Siti.


" Kalau susunya sudah habis bobok ya?" suruh Mitha pada Malika yang di jawab dengan anggukan saja oleh bocah yang di kuncir itu.


Mitha bukalah orang asing bagi Malika sebab setiap hari Siti mengajak Malika bermain di tempat Mitha supaya Dimas dan Malika main bersama.

__ADS_1


" Ia Mbak Mitha terimakasih banyak, saya sudah bilang ke Pak Biyan bila saya langsung pulang dan Malika di suruh nitip ke sini dulu, begitu pesan beliau, Pak Biyan hanya percaya sama Mbak Mitha saja" Ucap Siti jujur pada Mitha.


" O... begitu ceritanya, baik Mbak Siti kalau begitu tak masalah buat saya, yang penting Pak Biyan sudah tahu itu." Balas Mitha dengan lega, sebab ia takut Biyan tak terima bila Malika bersama dengan dirinya.


" Ini Mbak baju dan cemilan Malika untuk sehari, nanti sore biar Bi Pur kirim jatah makan Malika ke sini saja, tadi Bi Pur sudah saya kasih tahu Mbak." Ucap Siti menjelaskan, Bi Pur adalah atr Biyan yang tugasnya sebagai juru masak di rumah Biyan.


" Ia Mbak, kalau untuk makanan biar saya yang buatan aja Mbak, lagian saya sudah tahu kesukaan Malika kan." Ucap Mitha sambil mengambil tas kecil berisikan susu dan makanan kecil milik Malika.


Sementara untuk baju, tak perlu repot bukankan baju Malika banyak yang di laundry sini, jadi Mitha tinggal ngambil saja.


Malika setelah minum susu dia tidur pulang di gendongan Mitha, sementara Dimas sedari tadi sibuk dengan mainannya sendiri, laki-laki kecil itu tak cemburu bila Mitha menggendong Malika, justru Dimas suka bila Malika ke rumahnya, begitupun dengan Malika, anak itu juga senang bila bermain dengan Dimas.


Sementara Siti sudah balik ke rumah Biyan lagi, untuk mengambilkan mainan Malika yang lumayan banyak biar bisa bermain dengan Dimas dengan tenang.


" Mbak ini ya mainannya Malika, aku bawa ke sini yang biasa dia mainkan."Ucap Siti pada Mitha, sambil nafasnya terengah-engah, karena saking terburu-buru.


" Ia Mbak Siti terimakasih, nanti kalau ada yang kurang biar saya minta sama Bi Pur saja, sekarang Mbak Siti pulang saja dulu, biar tenang." Tutur Mitha menasehati temannya itu.


" Ia Mbak Mitha terimakasih banyak, saya pamit dulu ya, nitip Malika ya Mbak?" Pamit Siti pada Mitha.

__ADS_1


Mereka saling berpelukan sebelum Siti meninggalkan rumah kontrakan Mitha, dengan wajah yang murung.


__ADS_2