Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 40


__ADS_3

POV Karina dari hal 34


" Selamat pagi semuanya, mohon maaf saya telat" sapa Pram pada semua yang ada di ruangan ini, sudah ku duga dia akan telat, sedari tadi memang sangat marah padanya sebab aku tak habis pikir sama wanita yang bernama Bu Marni itu, merecoki suamiku yang sudah dia buang seperti sampah, tetapi yang membuat aku naik darah adalah kenapa Mas Pram tak bisa bertindak tegas pada wanita itu dan keluarganya.


Seenaknya saja ngatain saya yang tidak-tidak, memangnya mereka itu siapa, saudara aja juga bukan.


Meeting ini sangat penting sekali apalagi keterlibatan suamiku sangat mempengaruhi meeting ini, dialah ujung tombaknya sekarang, sebab Papa sudah tak ku ijinkan kerja lagi karena keadaan Papa baru selesai masa pemulihan dan juga usianya sudah tak lagi muda, sementara Pak Hamdan juga masih istirahat sejenak paska kecelakaan yang dialaminya.


Jadi Sekarang hanya suamiku satu-satunya orang yang dapat di percaya di perusahaan ini, loyalitas tak perlu di ragukan lagi, banyak perusahaan yang meminta ia pindah dengan iming-iming gaji yang besar, tetapi Mas Pram tak mau di bilang kacang lupa akan kulitnya, sebab awal Mas Pram berkarir di perusahaan milik Ayah, dan ayah tahu betul Mas Pram seperti apa.


Jadi tak perlu di ragukan lagi, bahkan Ayah lebih percaya sama Mas Pram di bandingkan dengan aku.


Dan meeting pun di lanjutkan yang intinya adalah penandatanganan MOU deng pihak investor, dan karena Mas Pram sudah hadir maka, semua Prakasa serta sambut di ambil alih oleh Mas Pram.


Setelah berkas sudah lengkap akhirnya aku sebagai CEO menandatangani MOU itu dengan Perusahaan milik Nico.


Meeting pun akhirnya selesai sudah, dan beberapa pejabat berangsur meninggalkan ruang rapat, kini tinggal kami berempat, Mas Pram , Mila, Nico dan aku, sementara asisten Nico menunggu di luar ruangan, Mas Pram yang terlihat gelisah melirik kearah aku dan Nico yang tengah mengobrol ruangan tetang masa kuliah kami dulu, aku yang sebenarnya sedari tadi cemburu kepada dia dan Mila akhirnya aku pura-pura tak menghiraukan keberadaannya, aku sebal kalau melihat mereka berdua bak pasangan yang serasi, idih sok banget itu Mila deket-deket sama suamiku, rasanya aku ingin mengomeli dia, tetapi emosi itu aku tahan sedemikian rupa, jangan harap kamu bisa ambil suamiku Mil, aku pastikan Mas Pram tak akan berpaling dariku, ucapku dalam hati.

__ADS_1


Mas Pram memang memiliki aura magis tersendiri buat kaum hawa, tak di pungkiri banyak wanita kepincut sama dia, sekretaris aku aja genit banget ketika bertemu sama Mas Pram, pokoknya yang jadi istrinya harus kuat hati deh, sebab banyak godaannya, untung aku yang jadi istrinya jadi bersaing dengan aku sama saja cari masalah, emang mau aku pecat.


Aku itu bucin banget sama Mas Pram sebenarnya, tetapi karena ego yang terlampau tinggi jadi aku sering uring-uringan kaya gini, kalau bukan Ayah yang menasehati aku mana mau aku mengalah.


" Pak, buruan banyak pekerjaan yang sudah menunggu di atas meja, jangan lupa siang ini kita ada pertemuan dengan Mr Lee di hotel Ritz Charlton sembari makan siang,"ucapan lirih Mila masih bisa aku dengan, sontak aku kian tambah geram saja, dih kesempatan si Mila berduaan dan makan siang sama suamiku, awas saja kamu Mas bila sampai tergoda sama dia, aku remas-remas kamu biar ga bisa apa-apa, aku ga peduli punya kamu ukuran jumbo, yang jelas aku tak terima, gemas aku rasanya sudah ingin memaki Mila, dan menyemprot dia habis-habisan, idih jangan mimpi ya kamu Mila bisa mengambil suamiku dari aku.


" O... ia Mil maaf " Mas Pram terlihat kaget, apa dia melamun in aku ya, hingga membuat dia gugup sambil mengemasi berkas yang masih berserakan di meja meeting.


" Maaf Pak Nicolas dan Bu Karina kami pamit dulu kembali ke ruangan" pamitnya dengan mengangguk hormat pada kami, yang tengah asik berbincang sedari tadi, sebenarnya aku sakit hati di panggil dengan sebutan "Bu" tetapi bagaimana lagi kalau di kantor biasanya kita pakai bahasa formal kaya gitu.


" Sama-sama Pak Nico, mohon maaf tadi saya terlambat," balas Mas Pram pada Nico, aku terlihat cuek sama Mas Pram, aku perlihatkan kalau aku masih merah sama dia, namun sebenarnya hatiku tak bisa memungkiri, kalau aku kasihan juga melihat dia yang menghadapi masalah, dan banyaknya kerjaan ini sendiri, apalagi di sebelah dia ada Mila yang selalu over sama suamiku, oh andai Mila tak sepintar itu aku pastikan akan depak dia dari kursi sekretaris suamiku.


Sepertinya aku punya dendam kesumat tersendiri pada si Mila ini.


" Ayok Mil," ajaknya.


" Oh ia Pak Pram," sahut Mila, lalu Mas Pram dan Mila berjalan ke arah pintu keluar meeting ini, dan Mas Pram membukakan pintu buat Mila yang tengah membawa tas laptop dan berkas di tangannya, aku melihat adegan itu membuat darahku naik sampai ubun-ubun, nih kok nyebelin banget sih, gerutuku dalam hati.

__ADS_1


Sebelum pintu itu di tutup Nico berkomentar ketika melihat Mas Pram dan Mila.


" Mereka pasangan yang serasi ya Rin?" ucap Nico tanpa dosa berkata demikian di hadapanku, aku yang mendengar ucapan itu seketika aku melotot ke arah Nico dan mengambil nafas dalam-dalam, dasar cowok tengil ini ga tahu apa sedari tadi menahan cemburu mati-matian eh ini malah membuat aku naik pitam lagi, bisa stroke kalau kaya gini terus.


" Nico!" aku melotot ke arahnya dan dia hanya cengengesan saja ketika ku melotot ke arah ya, dasar ga peka, ga tahu apa aku lagi emosi.


Hari beranjak siang, menjelang makan siang Mas Pram sudah mengirim pesan buat aku, menanyakan makan siang untuk ku, tetapi sekali lagi aku tak mempedulikannya, hingga sampai makan siang tiba, seorang OB mengirimkan makanan kesukaan ku yaitu ayam bumbu laos dan sayur capcay, dan itu membuat aku menelan ludah ku sendiri, sebab sangat menggoda.


Apalagi yang mengirimkan suamiku, walaupun aku marah sama dia tetapi dia tetap memperhatikan makan ku.


Aku pun tak peduli lagi marah, makanan kiriman suamiku aku makan dengan lahap sampai habis.


Hingga menjelang pulang pun aku tak punya inisiatif untuk mengirimi kabar padanya, terserah dia mau pulang apa tidak aku sampai ga peduli, hingga sampai di rumah Ayah menegur aku karena sikap aku yang kekanakan, hingga malam menjelang Mas Pram tak kunjung pulang.


Aku baru sadar kalau proyek yang nilainya Milyaran itu sudah mulai di garap malam ini juga, dan penyelesaian tak boleh dari batas waktu yang di tentukan bila terjadi pelanggan maka akan kena sangsi, maka dari itu para karyawan di perusahaan malam ini banyak yang lembur.


Terutama para karyawan yang punya loyalitas yang tinggi dan masuk dalam tim proyek ini, apalagi Mas Pram dialah yang bertanggung jawab penuh pada proyek ini, makanya dia harus bekerja keras untuk ini semua.

__ADS_1


__ADS_2