
Terdengar suara pintu terbuka dari luar, jam digital yang ada di atas nakas terlihat di angka dua belas malam lebih, aku masih pura-pura tidur di atas ranjang, dengan mata yang pura-pura tertutup, jujur aku tak kuat untuk menghadapi semua ini, mataku sudah sembab, sebab sudah sedari tadi aku menangis nasibku ini, aku takut sungguh takut dan malu pada semua orang, masak sudah keluar dari kandang harimau kini malah masuk di kandang singa.
Untung Malika dan Dimas sehabis makan langsung tidur, mungkin kelelahan sehabis mainan di taman tadi, kedua anak itu langsung di urus Mbak Siti sama Lastri, aku bilang sama Mbak Siti bila aku lagi tak enak badan jadinya aku tak turun ke lantai satu untuk menemui mereka.
Langkah kaki seseorang kian dekat ke arah ranjang yang aku tiduri, tubuhnya berangsur naik ke atas tanjang, aku mencium aroma sabun mandi yang wangi menyeruak di indra penciuman aku, seiring dengan tubuh Mas Biyan yang mendekat, aroma wangi dan maskulin itu kian kuat sekali.
" Malam sayang" ucap suara berat itu membuat bulu kudukku merinding, bukan karena tersangkut akan ucapannya, tetapi karena rasa jijik sekarang yang terdengar olehku saat ini.
Pria yang sudah sah menjadi suamiku itu mencium bagian tubuhku yang tidak tertutup oleh selimut tebal yang aku pakai.
Rasanya aku ingin mencakar muka Mas Biyan sampai puas bila mengingat gambar yang di kirim wanita itu.
Wanita yang mengaku sebagai selingkuhan Mas Biyan di kantor, mendapatkan fasilitas komplit dan nafkah lahir dan batin dari mas Biyan selama menjadi seorang simpanannya, tanpa malu wanita itu menceritakan semua hubungan dia sama Mas Biyan, dan apa saja yang dia peroleh semenjak menjadi simpanan dari suamiku itu, dasar pelakor di mana-mana tak ada yang malu, muka tembok semua, seolah dia yang di tersakiti oleh kami istri sahnya.
Wanita yang mengaku sebagai simpanan Mas Biyan itu, mengirim kan beberapa pose gambar kedua tubuh mereka saling berhimpitan di atas tempat tidur tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya itu, sangat menjijikkan sekali, kenapa kamu begitu bejat Mas, rutukku dalam hati.
" Dek bisa bangun sebentar sayang." Ucap Mas Biyan berbisik di dekat telingaku, jujur tambah jijik aku dengan sentuhannya ke tubuhku.
__ADS_1
Aku perlahan beringsut mencoba untuk menghindarinya, tapi tangan itu seperti biasa tak mau diam bila tidur bersama dengan aku.
Rasanya aku mau menangis saja saat ini juga, aku sudah lelah di khianati oleh mantan suamiku dulu, Mas Bayu tetapi kenapa sekarang usia pernikahanku baru seumur jagung sudah di landa pengkhianat lagi untuk yang kedua kalinya, dan bahkan ini lebih kejam caranya, aku malu sungguh aku malu sekali.
" aku lelah tolong jangan ganggu aku dulu" balasku dengan suara yang serak dan menahan tangis.
" Kata Siti kamu sakit Dek, gimana sekarang keadaan tubuh kamu?" tanya dia dengan rasa khawatir.
" Aku baik-baik saja Mas." sambil aku menenggelamkan mukaku ke bantal yang ada di sampingku, aku tak ingin dia melihat mataku yang sudah sebab ini, namun naas sepertinya Mas Abiyan sudah melihat semua ini, pria itu memaksa aku untuk membalikan mukaku menghadap ke arah dia, hingga aku dengan terpaksa menyerah, dan muka kami saling bertatapan.
" Kamu kenapa sayang? ada apa? tolong bicara jujur sama Mas, jangan di sembunyikan semua permasalahan yang ada." Ucap Mas Biyan sambil menangkup mukamu ini dan melihat mata aku yang sudah sebab ini Mas Biyan begitu khawatir, kenapa malahan wajah dia sok polos kaya gitu, apa dia tak merasa berdosa sekali dengan aku, sungguh pemeran yang handal, tuduh ku padanya.
" Jangan begini Dek, ceritakan ada apa? tolong kasih tahu Mas, kalau Adek tidak terbuka sama Mas bagaimana Mas tahu kesalahan Mas di mana?" Ucapnya dengan wajah yang terlihat cemas sekali.
" Mas mohon kita bicara dulu sebelum kita menutup mata malam ini, Mas tahu ini sudah larut malam, tetapi mas tak mau membawa masalah ini berlarut-larut apa lagi masih mengganjal sampai besuk pagi." Desak Mas Biyan tak mau menunda apa yang menjadi beban di hatiku, dia begitu penasaran yang terjadi pada perubahan sikapku, baiklah aku akan buka semuanya, kalaupun ini akhir dari segalanya aku ikhlas sungguh ikhlas, ucapku tulus dalam hati.
Akupun mengangguk padanya, lalu aku bangun dari tidurku dan mengambil ponsel yang baru dia belikan olehnya untuk aku.
__ADS_1
Aku buka ponsel itu dan aku mencari sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal, tetapi di sana terlihat foto seorang wanita yang sangat cantik sekali.
Lalu aku buka isi pesan dan gambar yang menjijikan itu pada Mas Biyan, dan aku sodorkan ponsel itu ke arah nya supaya dia melihat sendiri beberapa foto itu.
Mata Mas Biyan membuat sempurna dan mulutnya menganga, sepertinya dia hampir tak percaya apa yang dia lihat saat ini.
" Bagaimana Mas, kamu masih mengelak dan menutupi semua ini? apa kamu perlu waktu sebentar untuk mencari jawabannya" ucapku dengan nada dingin dan sinis sekali padanya.
" Mas bisa jelaskan sayang, Mas akan menjelaskan semuanya." Ucapnya dengan kesungguhan.
" Ga usah ngomong sayang-sayang segala Mas, aku sudah kenyang dengan sikap gombal kaum lelaki, sungguh aku sudah lelah, aku berjanji jika masalah ini berlarut-larut, aku akan pergi dari kehidupan kamu Mas, aku lebih baik menjanda seumur hidupku, aku pikir menikah dengan kamu adalah sebuah kebahagiaan dan pilihan yang tepat, tetapi aku salah lagi ternyata pria yang aku nikahi tak beda jauh dengan mantan suamiku dulu." Seru ku sambil aku menangis sesegukan, aku menunduk dan tutup mukaku dengan kedua telapak tanganku ini.
" Mas mengakuinya sayang, di dalam foto itu memang Mas, itu bukan rekayasa juga, tapi kamu juga jangan salah sangka dulu dek sama Mas tidak sebejat yang kamu sangkakan," Mas Biyan menjeda kalimatnya sesaat, dan mimik mukanya sejenak menatap aku penuh dengan kesedihan, lalu aku juga menatap dia penuh dengan api cemburu, dan perasaan kesal.
" Foto itu di ambil tiga tahun yang lalu sayang, itu foto lama yang di salah gunakan seseorang yang ingin menghancurkan rumah tangga kita dek." Seru Mas Biyan sambil memegang kedua pundakku dengan penuh permohonan.
" Wanita yang ada di dalam foto itu sudah meninggal sayang." Ucap Mas Biyan sambil menunjukkan kepalanya.
__ADS_1
" Dia adalah Mama nya Malika sayang." Imbuh Mas Biyan lagi, hingga membuat mataku membulat seketika dan aku membekap mulutku yang menganga tak percaya.