
Akano yang tengah di selimuti oleh emosi akibat tertunda nya aksi menerobos lembah milik Aninda tersebut menjadi terburu-buru membuka pintu kamar nya tersebut tanpa melihat dari layar interkom nya terlebih dahulu.
"Ada apa sih ... " ucap Akano dengan tertahan karena melihat siapa yang telah berada di depan kamar nya tersebut.
Dengan segera Akano pun nampak akan menutup pintu kamarnya itu namun gerakan Akano tersebut kalah gesit dengan gerakan Edrick untuk membuka paksa kamar milik Akano tersebut.
Dengan membabi buta Dio pun segera memukul Akano dengan tanpa ampun. Ketika Dio ingin memukul kepala Akano dengan vas bungas pun nampak di tahan oleh Dio.
"Kamu periksalah keadaan Aninda. Kamu bawa lah Aninda ke markas ku untuk di periksa dokter pribadi keluarga ku atau mau di bawa kerumah sakit pun tak masalah. Biar Akano itu aku yang urus," ucap Edrick dengan tulus.
Dengan segera Dio pun nampak mellihat tubuh Aninda yang telah polos tanpa sehelai baju pun dengan bekas hisapan di seluruh tubuhnya yang nampak meninggalkan jejak banyak sekali warna merah.
Darah di tubuh Dio seketika mendidih melihat tubuh Aninda yang telah ternoda oleh Akano tersebut.
Dengan geram Dio pun kembali memukuli Akano dengan membabi buta sampai berteriak kesetanan karena tidak terima atas apa yang telah Akano lakukan terhadap kekasih hatinya tersebut.
"Baji*Ngan br*ngsek! Kenapa kamu menodai Aninda hah?! Apa kamu sudah bosan hidup di dunia ini dan ingin segera menuju ke alam baka?!" teriak Dio dengan menginjak dan menendang wajah Akano.
"Ini mulut mu tidak pantas untuk di biarkan utuh!" pekik Dio dengan menginjak mulut Akano dengan sangat keras.
Dengan terbata Akano pun mengatakan jika ia pun belum sempat membobol lembah milik Aninda tersebut dan segera meminta ampun dengan nafas yang nampak tersengal.
"Ed, tolong kamu beri dia pelajaran yang tepat untuk membuat nya jera agar tidak mengulang kejahatan yang selalu ia lakukan berkali-kali," ucap Dio dengan nafas yang sedikit lega karena mendengar jika Akano belum sempat memasukkan benda tumpulnya itu ke dalam lembah Aninda.
Dengan cepat Dio pun menggulung tubuh Aninda tersebut dan menggendongnya menuju ke dalam mobilnya itu.
Dio yang menggendong tubuh Aninda tersebut pun nampak kewalahan karena tubuh Aninda pun nampak terus bergerak tidak tenang karena hasrat nya yang hilang dan timbul dengan sendirinya.
Dengan di bantu beberapa anak buah Edrick tersebut akhirnya Aninda pun berhasil di masukkan ke dalam mobil milik Dio.
Dio pun nampak melajukan mobilnya dengan sangat cepat agar segera sampai di apartemen nya itu.
__ADS_1
Mobil yang Dio kendarai pun telah sampai di basement apartemen. Dengan langkah cepat Dio pun segera membopong Aninda ke dalam bathtub kamar mandi di apartemen nya itu dengan mengisi penuh air dingin.
Kesadaran Aninda pun nampak telah pulih dari pengaruh obat bius nya tersebut. Namun tidak dengan pengaruh obat laknat yang telah Akano cekok kan di mulut Aninda secara paksa yang masih belum juga menghilang.
Hal tersebut pun nampak membuat tubuh dan kepala Aninda rasanya pun hampir pecah karena rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya itu.
"Di ... Dio," ucap Aninda dengan terbata karena menahan has rat yang menjalar semakin tidak karuan di dalam tubuh Aninda tersebut.
Dengan cepat Dio pun kembali mengguyur tubuh Aninda dengan air dingin hingga membuat tubuh Aninda pun menjadi sangat pucat karena terlalu lama berendam di dalam bathtub yang tidak juga membuat has rat nya tersebut hilang.
Dio yang melihat tubuh Aninda yang nampak menggigil dan pucat pun menjadi sangat panik dan segera mengangkat tubuh Aninda dan memakai kan Aninda dengan handuk kimono dengan segera membaringkan nya di tempat tidurnya tersebut.
Tak lama kemudian Aninda pun kembali merintih dan membuka semua kimono nya tersebut dengan menggeliat tak karuan di atas kasurnya tersebut.
"Dio, tubuhku rasanya panas sekali," rengek Aninda dengan raut muka ingin segera menerkam tubuh Dio.
"Tenanglah, aku akan membantumu menuntaskan has rat," ucap Dio yang kemudian nampak langsung melebarkan pa ha milik Aninda tersebut.
Dengan segera Dio pun nampak memasukkan satu jari nya tersebut ke dalam lembah milik Aninda agar has rat nya tersebut segera tersalurkan.
Dengan segera Dio pun mengambil baju ganti untuk Aninda dan dengan segera Dio pun membantu memakai kan baju untuk Aninda agar tidak merasa kedinginan dan mengira jika pengaruh obat tersebut pun telah hilang sepenuhnya setelah dirinya berhasil membuat Aninda mencapai klim*ksnya tersebut.
Namun tak lama setelah nya, tubuh Aninda pun kembali menunjukkan reaksi dari pengaruh obat tersebut yang ternyata masih muncul dan timbul rasa panas yang terasa aneh di dalam tubuh Aninda.
Aninda pun nampak melepas seluruh pakaian nya kembali dan segera menarik tubuh Dio agar bersentuhan dengan tubuhnya itu.
Dengan cepat Aninda pun segera me lu mat bibir Dio dan melepaskan baju Dio dengan setengah memaksa.
"Nin, jangan seperti ini. Bagaimana jika kamu menyesal setelah melakukan hal tersebut bersama dengan ku?" ucap Dio dengan mencoba menyingkirkan tubuh Aninda dan mempertahankan agar bajunya tersebut tidak terlepas karena aksi nekat Aninda tersebut.
"To-tolong aku Dio ..." ucap Aninda dengan lirih dan nampak menyentuh bagian tubuh Dio dengan paksa.
__ADS_1
Aninda pun dengan beringas nya men cu im bibir Dio dengan meraba-raba bagian tubuh Dio yang masih bisa di jangkau oleh tangan Aninda tersebut.
Aninda pun nampak menggesek-gesek kan kedua mochinya tersebut ke dada Dio yang masih tertutup oleh baju yang di pakai oleh Dio.
Sedangkan tangan Aninda pun meraih kedua tangan Dio untuk segera menyentuh kedua mochi milik ya tersebut yang membuat tubuh Dio pun menjadi panas dingin merinding hingga membuat tubuh Dio pun terbuai oleh ga i rah yang Aninda ciptakan tersebut.
Sedangkan Aninda pun nampak merintih karena sensasi panas dingin akibat sentuhan tangan Dio di kedua mochinya tersebut. "Ahh ouuchh ahhh, aku ingin lebih dari ini Dio."
Dio yang telah te rang sang dengan sentuhan dan de sa han yang Aninda lakukan tersebut membuat akal sehat Dio pun menjadi tidak berfungsi kembali.
Dengan cepat Dio pun meraup dan mencium bibir Aninda dengan sangat ber ga i rah begitu juga dengan Aninda. Sehingga ci u man dari kedua nya pun nampak berdecap menggema di kamar nya tersebut.
Tangan Dio pun segera mengeksplor seluruh lekuk tubuh Aninda hingga kedua nya pun nampak sudah polos dan sama-sama saling sentuh menyentuh dan tindih menindih.
Dio pun nampak menghisap kedua mochi tersebut dengan kuat hingga menimbulkan jejak kemerahan yang baru di tubuh Aninda tersebut.
Clap clup clap
Bunyi decapan hisapan mochi Aninda yang nampak menggema tersebut.
"Nin? Jangan marah dengan ku ya setelah ini?" ucap Dio yang tidak mendapat jawaban dari Aninda karena Aninda pun tak henti-hentinya terus meracau dan men de sah ingin segera di sentuh dan di puaskan oleh nya tersebut.
Dio pun dengan segera menusukkan pedang pusaka nya tersebut ke dalam donat milik Aninda yang telah basah. Hentakan pertama pun gagal.
"Aww ... sakit," rintih Aninda.
Hentakan kedua pun Dio nampak menusuk pedang nya tersebut dengan sekuat tenaga hingga perlahan-lahan pedang nya tersebut masuk ke dalam lubang donat milik Aninda tersebut.
"Aww ... sakit. Ahhh uhhh ahhh," ucap Aninda dengan mendesah dengan keras dan kencang ketika milik Dio terbenam dengan sempurna ke dalam milik Aninda tersebut.
Dio pun menghentak dan memaju mundurkan dengan perlahan milik nya tersebut hingga membuat Aninda pun meracau semakin kencang karena hentakan demi hentakan yang Dio berikan pun semakin lama semakin kencang yang membuat tubuh keduanya pun nampak berguncang hebat.
__ADS_1
"Ahh ... Aninda sayangku, milikku sebentar lagi akan keluar," racau Dio dengan memompa milik Aninda dengan sangat cepat hingga tak lama kemudian kedua nya pun telah mencapai puncak secara bersamaan.
Namun tubuh Aninda pun seolah belum terpuaskan dan tak cukup dengan sekali permainan saja. Aninda dan Dio pun kembali mengulang per cin ta an nya lagi dan lagi hingga keduanya pun merasa sangat kelelahan dan nampak tertidur dengan sangat pulas nya dengan tubuh yang masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.