
Bismillah maafkan aku ya Allah bila ini menjadi murkamu, tetapi aku juga harus segera pindah dari sini.
Setelah menidurkan Dimas di dalam box bayi, aku mulai mengeluarkan baju-baju aku yang akan aku bawa, bajuku itu aku tata ke dalam koper dan kardus, lagian baju aku tidak terlalu banyak jadi lebih cepat aku mengemasnya, setelah itu aku mengeluarkan baju Dimas dan aku tata di tas jinjing, baju Dimas lebih sedikit di banding Aku, semua sudah selesai.
Hanya satu tas jinjing besar untuk baju Dimas, dan box kotak satu untuk mainan Dimas, dan satunya untuk bajuku yang tidak muat di koper.
Setelah semuanya selesai aku pinggiran kardus dan koper di tepi lemari pakaian, tubuh ini rasanya sudah lelah, ku rebahkan badan kurus ini di ranjang dan tak menunggu lama mata ini terpejam begitu saja, tanpa beban dan aku pikul saat ini, sebab setiap hari aku lelah dalam kerjaan hingga menjadikan aku mudah untuk tidur.
Apalagi mengingat besuk aku akan pindah membuat aku lebih semangat lagi.
***
Minggu yang cerah, hari ini adalah hari aku terakhir untuk mengabdi pada keluarga ini, semoga kedepannya keluarga ini, bisa menghargai orang lebih baik lagi, tak memandang sebelah mata pada seseorang darimanapun asalnya.
Sebelum suara Adzan berkumandang aku sudah bangun, tapi tak kulihat Mas Andra di sebelahku, apa dia tidak pulang? ah entahlah mungkin saja dia masih mengurusi adik iparnya itu, terserah aku sudah pasrah apa yang akan di lakukannya.
Seperti hari-hari yang lalu, aku tetap melakukan rutinitas ku, memasak mencuci, nyapu dan mengepel, sebelum para penghuni rumah bangun dari tidurnya.
Aku sudah usai masak dan mencuci tetapi masih saja sepi, apa semua orang belum pulang kali ini, jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, tumben ibu juga belum bangun, biasanya ibu sudah bangun dan minta teh hangat, apa dia juga menginap di rumah sakit bersama Sinta dan Mas Andra.
Kalau Santi mah memang dia selalu bangun siang, apalagi pas hari libur gini, dia pasti akan bangun antara jam sembilan.
__ADS_1
padahal jam enam aku sudah kelar mengerjakan pekerjaan rumah.
Setelah semuanya selesai, aku mulai mandi sebelum Dimas terbangun, setelah mandi aku bermaksud membangunkan Dimas di kamar, tetapi ketika aku keluar dari kamar mandi terlihat Sinta dan Ibu baru masuk ke dalam rumah, entah kenapa dengan raut muka yang masam, mereka menatap aku dengan tajam, ketika aku mau berjalan ke arah kamar.
" Hai benalu, ini cuci semua baju-baju ini , jangan jadi pemalas, kamu enak-enak di rumah saja, ck dasar tak tahu diri." Seru ibu sambil melemparkan kantung kresek besar berisi pakaian ke arah mukaku, selalu seperti itu bila dengan aku, menyambut aku dengan muka yang masam dan penuh amarah, Ya Allah apa aku sehina itu di matanya, hingga membuat ibu selalu menyemprot aku ketika hanya melihat mukaku setiap saat, tiada hari tanpa kemarahannya, hal sedikit pun bisa jadi masalah besar.
Aku terpaku sejenak, dan tanpa pikir panjang akupun berlalu dari hadapannya tanpa sepatah katapun, meninggalkan kantung yang berisi baju itu di lantai.
Aku lalu masuk ke kamar dan membangunkan Dimas, tetapi sepertinya Dimas masih sangat lelah, dan akupun langsung gendong saja dia, tekat sudah bulat jangan di pikirkan terlalu dalam lagi, dengan peristiwa ini semakin memantapkan diri untuk segera pergi dari sini, gedoran pintu terus berbunyi di depan pintu kamarku, dan suara caci maki tiada henti terdengar begitu menyesakkan hati, dan lagi-lagi akupun tak peduli akan hal itu.
Aku gendong Dimas dengan kain panjang dalam keadaan masih terlelap, ku usap kepalanya dengan sayang, sepertinya bocah kecil ini masih terlihat mengantuk sekali.
Suara gedoran dan cacian pun masih terdengar di luar sana, dan tak berapa lama sayup-sayup aku mendengar suara seorang yang mengucapkan salam, 'ah sepertinya itu adalah taksi online yang aku pesan tadi, lebih baik aku segera keluar saja kalau begitu.'
" Kami tidak pesan taksi online" seru Sinta di luar sana menjawab pertanyaan seseorang.
" Maaf pak, saya yang pesan" ucapku dengan sedikit berteriak sebab aku di ambang pintu kamarku sementara Pak Jamal sopir taksi itu berada di pintu keluar.
" Oh ia mbak Mitha ya" tanya sopir taksi itu.
" Ia Pak" balasku.
__ADS_1
" Bisa bantu saya Pak," pintaku pada pengemudi taksi itu.
" Baik Mbak," jawabnya, lalu dengan cepat Pengemudi taksi yang bernama pak Jamal itu masuk dan mengambil koper dan kardus yang baru saja aku keluar dari kamarku.
" Hai, orang kampung mau kemana kamu?ini nih, baju-baju belum kamu cuci, sudah mau minggat saja, memangnya kamu mau jadi gelandangan di kota ini, hah!!" bentak ibu dengan tanpa malu-malu mencaci maki aku di depan Pak Jamal.
" Maafkan saya Bu saya pamit, bila ada salah saya minta maaf, bukankah Ibu akan bahagia bila saya sudah tak di rumah ini, ibu jadi tak malu memiliki menantu kampungan seperti saya, sekali lagi saya minta maaf Bu," ucapku dengan tenang, tanpa menunggu jawabannya aku segera berlalu dari hadapannya, dan mengikuti sopir taksi itu masuk ke dalam mobil, ibu dan Sinta saling berpandangan, seolah tak percaya dengan apa yang aku lakukan, mereka seketika terdiam dengan menatap kepergian ku dengan tatapan yang tajam, entahlah yang ada di benak mereka ketika melihat kepergian aku.
Aku dengan santainya masuk ke dalam mobil dan sesaat mereka baru tersadar bila aku telah pergi, ibu yang tadinya terdiam bagaikan patung tiba-tiba berlari ke arah mobil dan mengoceh sesuatu yang tidak dapat aku dengar.
Senyum tipis tersungging di tengah perjalanan ku menuju rumah kontrakan aku, "Alhamdulillah ya Allah Alhamdulillah banyak ucapan syukur aku panjatkan" ucapku dengan lirih ketika tiba di depan rumah kontrakan.
" Sabar ya Mbak, semua pasti ada hikmahnya" ucap pak Jamal ketika mendengar ucapanku.
" Ia Pak terimakasih bantuannya."Balasku dengan senyum,lalu aku turun dan Pak Jamal membantu aku menurunkan semua barang-barang aku itu.
Sebenarnya aku pindah hanya di kampung sebelah saja, tetapi karena barang-barang yang aku bawa banyak, jadi aku putuskan untuk menyewa taksi online saja, agar lebih mudah aku pergi dari rumah itu, sebab aku juga takut nanti ketika aku mau pergi Ibu akan berbuat nekat kepadaku, ibu orang yang temperamental jadi aku sengaja menyewa taksi online supaya aman juga.
Saat ini adalah momentum yang tepat sekali, Mas Andra tidak di rumah juga, pasti urusan akan semakin ribet bila ada Mas Andra, semua akan aku jelaskan nanti.
Adakalanya seseorang harus mengambil keputusan yang terbaik untuknya, walaupun harus mengorbankan sesuatu yang ia cintai, tetapi paling tidak di awal aku sudah berusaha untuk tegar tetapi, apa mau di kata semuanya tak seperti apa yang aku inginkan tak ada yang berubah, maka pada akhirnya biarlah aku yang berubah saja.
__ADS_1