
Sang sopir taksi pun terlihat bingung dengan arah tujuan sebenarnya dari penumpang yang duduk di bangku belakang.
Sedari tadi jika sang sopir bertanya kemana arah yang di tuju pun selalu di jawab oleh Zia untuk berkeliling memutari jalanan di sepanjang kota tersebut.
Kini sudah ke sebelas kali nya taksi tersebut mengelilingi kota tersebut hingga sang supir pun khawatir jika sang penumpang tidak sanggup untuk membayar tagihan yang semakin membengkak.
"Non, tagihan sudah mencapai jutaan rupiah. Bensin mobil saya pun telah menipis. Apakah nona sanggup untuk membayar tagihan argo taksi yang jumlahnya semakin banyak ini?" tanya sang supir taksi dengan melirik Zia dari arah spion tengah mobil taksi tersebut dengan raut muka khawatir.
"Baiklah, Pak. Turun kan saya di depan mall itu," ucap Zia dengan menunjuk bangunan mall yang sudah terlihat dari jarak pandang nya tersebut.
Tak berapa lama, mobil taksi pun berhenti tepat di depan lobby mall tersebut. Zia pun dengan cepat membayar tagihan taksi tersebut dan segera melenggang masuk ke dalam mall tersebut.
Dengan langkah pasti, Zia pun segera menuju ke lantai paling atas dimana lantai food court berada.
Dirinya pun langsung menuju ke tenant makanan favorit nya di jual dengan memesan beberapa jenis camilan dan minuman yang di ingin kan nya.
Zia pun segera duduk di sudut kursi yang tersedia. Posisinya pun menghadap kaca tembus pandang yang bisa dengan mudah melihat kesibukan dari orang-orang di area sekitar mall tersebut.
Hingga tak berapa lama terlihat seorang lelaki yang lumayan tampan datang ke meja di mana Zia berada.
"Hai, Zia sayang. Maaf ya jadinya kamu menunggu ku agak lama disini. Bagaimana jika setelah makan siang ini kita lanjut menonton bioskop sebagai tanda permintaan maaf dariku?" ucap lelaki tersebut dengan gaya sok cool nya.
"Baiklah, Kak Zidan. Sesekali kita menonton tidak apalah," jawab Zia menyetujui ajakan dari kekasih baru nya tersebut yang bernama Zidan.
Zidan pun terlihat tersenyum senang dan segera menuju ke tenant dengan memesan beberapa menu makan siang untuk keduanya.
Setelahnya terlihat Zia dan Zidan terlibat obrolan seru yang membuat keduanya menjadi semakin terlihat cocok.
__ADS_1
Sesekali terdengar canda dan tawa di antara keduanya. Hingga kedua nya pun terlihat memasuki bioskop.
Disaat menonton bioskop pun Zia merasakan rasa nyaman tersendiri dengan lelaki yang baru menjadi kekasih nya semalam.
Tidak ada hal-hal aneh yang patut di curigai dari sosok Zidan tersebut yang juga merupakan kakak seniornya yang diketahui kini tengah bekerja di perusahaan milik Papi Zia tersebut.
Hingga setelah kedua nya selesai menonton pun dengan sopan Zidan pun segera mengantar kan Zia untuk segera pulang kembali ke kediaman orang tua nya tersebut.
"Hati-hati di jalan ya, Kak!!" teriak Zia dengan melambaikan tangan nya ketika mobil milik Zidan melaju meninggalkan rumah mewah milik orang tua nya tersebut.
Sedangkan Ryu yang sedari tadi melihat kedekatan antara Zia dan kakak seniornya pun segera menarik paksa Zia menuju ke sebuah ruangan dikediaman orang tua Zia tersebut yang tidak terpantau oleh cctv.
"Ryu! Lepas! Sakit tahu!" bentak Zia dengan memberontak berusaha untuk mengendorkan cengkeraman tangan milik Ryu.
Namun seolah buta dan tuli, Ryu pun terlihat menyudutkan Zia di sebuah sudut ruangan dengan kilatan amarah yang bergemuruh di dalam dada nya melihat Zia yang terlihat dekat dengan lelaki lain.
"Apa hubungan kamu dengan mantan kakak senior kita dulu?" tanya Ryu dengan tatapan tajam ke arah Zia.
"Kak Zidan adalah pacarku. Memang nya kenapa? Mau melarangku? Apa hak kamu melarangku? Orang tua bukan, saudara bukan, pacar apalagi sudah pasti bukan. Minggir! Atau diri ku akan berteriak dengan keras jika kamu terus seperti ini!" ancam Zia dengan berbalik menatap tajam ke arah mata wajah Ryu tersebut.
"Kamu belum terlalu mengenal kakak senior kita itu. Jadi kenapa sudah sangat yakin untuk menjadikan nya kekasih mu??" tanya Ryu dengan masih mencengkeram kedua tangan milik Zia tersebut.
"Lantas siapa yang cocok bersanding denganku? Apakah kamu? Bukan kah kamu telah menolak perjodohan kita sebulan yang lalu. Jadi untuk apa kamu masih terus menghalangi ku untuk dekat dengan pria yang lain nya?!" pekik Zia yang mulai jengah dengan sikap Ryu.
"Kamu boleh berpacaran. Tapi tidak dengan dia!" ucap Ryu lagi.
"Beri aku alasan kenapa kamu melarangku dengan Kak Zidan??" tanya Zia dengan menatap penuh amarah kepada Ryu.
__ADS_1
Lidah Ryu pun terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari Zia tersebut. Tidak ada satu pun alasan yang tepat untuk di jadikan alasan untuk menjatuh sosok Zidan tersebut di hadapan Zia. Karena memang Zidan tidak memiliki desas desus atau pun riwayat playboy yang melekat di diri nya itu.
"Tidak mampu menjawab kan?! Jangan lagi mencampuri urusan ku lagi! Carilah kekasih masa kecilmu itu saja dan jangan pedulikan aku mulai dari sekarang!" ucap Zia dengan menendang kuat benda berharga milik Ryu tersebut.
"Awwhhh!! Sakitt!! Ziaa!!!" pekik Ryu dengan menahan rasa ngilu di senjata berharga miliknya tersebut.
Sedangkan Zia pun segera melangkah menuju ke dalam kamar nya dan mengunci diri.
Zia pun segera menumpahkan rasa sedih dan kesalnya terhadap perlakuan Ryu dengan menangis sekencang-kencang di dalam kamarnya tersebut.
"Aku benci kamu Ryu!" pekik Zia dengan menyobek-nyobek seluruh kenangan foto keduanya mulai dari kecil hingga saat ini.
"Kamu adalah laki-laki egois yang pernah aku temui!" pekik Zia dengan terus menyobek foto tersebut hingga hancur menjadi potongan kecil-kecil.
Tokkk .... tttokk ... ttoook
"Zia, turunlah. Di bawah masih ada Ryu yang masih menunggumu di ruang tamu," ucap Mami Aninda terus mengetuk pintu milik putri pertama nya tersebut.
"Mi, Zia lelah. Katakan saja jika Zia telah tertidur dan sampai kan ke Ryu untuk datang berkunjung nya di lain hari saja!" teriak Zia dari dalam kamarnya tersebut.
Aninda yang mendengar jawaban dari putrinya tersebut pun nampak menggelengkan kepalanya dan segera kembali menuruni anak tangga menuju ke arah Ryu yang kini tengah terduduk lesu di ruang tamu mereka.
"Zia sudah tertidur, Nak. Datanglah lain hari saja ya," ucap Mami Aninda kepada putra dari sahabat nya tersebut.
"Baiklah, Mi. Biar besok pagi Ryu datang kembali kemari," jawab Ryu yang kemudian terlihat berpamitan untuk segera kembali menuju ke apartemen pemberian orang tua nya tersebut.
"Tunggu sebentar, Nak! Jika kamu tidak memiliki perasaan apa pun untuk Zia, maka Mami minta untuk segera lepaskan Zia dan jangan membuat nya terus bersedih atas penolakan kamu waktu itu ya. Mami harap Ryu mengerti dan memahami ucapan Mami," ucap Aninda kepada anak sahabat nya tersebut secara langsung dan segera kembali masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Ryu yang mendengar penuturan mami Zia pun menjadi semakin pias karena terlihat dari raut wajah mami Zia yang kini sudah tidak sehangat dulu terhadap nya.
"Hahh ... entah kenapa dengan perasaan ku saat ini," ucap Ryu dengan menghela nafas panjang dan bergegas meninggalkan kediaman keluarga Zia dengan perasaan kacau.