
Vania pun gugup setengah mati dengan berusaha mencari-cari alasan yang masuk akal di hadapan kedua mertua nya tersebut.
"Vania! Kenapa di tubuhmu terlihat banyak sekali bekas kemerahan!" bentak mama Dio dengan memutari tubuh Vania dan menyingkap rambut Vania yang terlihat tergerai dan menutupi lehernya.
"Astaga Vania, kenapa di seluruh lehermu juga banyak sekali bekas hisapan dengan warna yang masih sangat merah ..." ucap mama Dio dengan lirih dan seluruh tubuhnya pun tampak lemas.
Segera Vania pun bersujud di hadapan kedua sang mertua dengan mengatakan bahwa dirinya telah di ninu ninu oleh orang tidak di kenal.
"Ma ... Pa ... sebenarnya Vania mau jujur. Huhuhu ..." ucap nya sambil menangis terisak.
Dio yang melihat akting Vania yang begitu terasa sangat menghayati pun nampak memutar bola matanya dengan malas. "Mau beraksi apa lagi wanita ular itu di depan kedua orang tua ku setelah semuanya nampak jelas," gumam Dio dengan terus milirik mimik muka Vania.
"Se-sebenarnya Va-vania di sekap dan di paksa melakukan hubungan terlarang oleh orang yang Vania tidak kenal sama sekali ma. Vania pun baru berhasil melarikan setelah mereka tertidur dengan pulas setelah melakukan hal tersebut kepada Vania ma,"
"Semalaman Vania pun di sekap dan di ancam agar tidak bercerita atau menghubungi siapapun ma. Vania pun di paksa melakukan hal tersebut oleh segerombolan orang yang Vania tidak kenal,"
"Vania bisa berhasil kabur dan kembali kerumah mama dan papa pun sudah sangat beruntung dan bersyukur. Sebenarnya Vania ingin menutupi kejadian tragis yang menimpa Vania dan tidak ingin menceritakan kepada siapa pun karena Vania pun malu karena telah disentuh oleh pria lain ma,"
"Vania pun takut jika Dio tidak akan menerima Vania lagi jika Vania berkata jujur. Namun jika Vania tidak mengatakan kejadian yang sesungguhnya pun yang ada di dalam fikiran Dio hanyalah menganggap Vania sebagai wanita murahan ma,"
"Huhuhuhu ... bagaimana nasib Vania ma. Namun Vania siap di cerai jika Dio tidak mau menerima keadaan Vania yang telah di sentuh oleh orang lain. Huhuhuhu ..." ucap Vania dengan menangis dengan meraung hingga siapa pun yang mendengar ceritanya pun terlihat iba.
__ADS_1
Mama dan papa Dio pun ikut hanyut dalam drama yang sedang Vania lakoni. Sedangkan Dio pun merasa semakin emosi melihat Vania yang semakin hari semakin pandai mengasah bakat akting nya untuk mengambil hati kedua orangtuanya tersebut.
Mama Dio pun nampak menitik kan air matanya dan segera memeluk sang menantu agar tidak kian tertekan karena kejadian yang telah menimpanya tersebut.
"Sudahlah nak. Kamu jangan menangis lagi. Ini semua bukan salah kamu. Maafkan kita yang telah menuduh kamu dengan macam-macam ya nak. Dio tidak akan menceraikan kamu karena bagaimanapun juga bayi yang kamu kandung adalah cucu mama. Perut kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya mama Dio dengan perasaan cemas.
"Syukurlah sudah baik-baik saja ma. Sewaktu Vania di paksa melakukan itu dengan brutal, Vania sempat merasakan perut Vania terasa kram dan sesekali terasa nyeri ma. Namun sekarang sudah kembali baik-baik saja," ucap Vania dengan nada yang di buat selirih mungkin.
"Ceritakan kepada papa di mana segerombolan preman melakukan hal tersebut kepada mu Vania. Agar papa pun bisa menyiksa orang-orang yang berani berbuat jahat terhadap keluarga papa!" terang papa Dio yang membuat Vania terlihat gelagapan dan bingung mau menjawab dimana tempat kejadian tersebut.
"Va-Vania lupa pa. Yang Vania ingat Vania tersesat masuk ke jalanan sepi yang kemudian mobil Vania pun di hadang oleh segerombolan preman dan membawa Vania ke sebuah rumah kosong dan kumuh. Rumah kosong tersebut pun sangat minim cahaya hingga Vania pun tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas pa," jawab Vania dengan spontan namun juga terdengar masuk akal.
"Apa kamu tidak berusaha berteriak sayang?" tanya mama Dio dengan wajah iba namun heran.
Sedangkan Dio pun nampak tersenyum mengejek melihat akting Vania yang memang terlihat begitu nyata.
"Haih, sudahlah lebih baik aku kembali mengikuti kuliah daringku di ruang kerja dari pada menanggapi akting artis wanita ular itu. Setelah itu aku akan kembali menyelidiki semalam Vania sedang dimana dengan siapa agar bukti-bukti yang akan aku ungkap beserta tes DNA keluar pun tidak akan bisa membuat wanita ular itu kembali mengarang cerita. Sayang sekali hari ini rencanaku terlihat kacau untuk menjebak Vania agar mengakui kejahatan nya yang telah membayar segerombolan preman untuk mengintimidasi Aninda sekeluarga," gumam Dio dengan melangkah kembali menaiki lantai atas dengan wajah santai nya.
"Dio! Kamu mau kemana?! Temani Vania yang sedang terlihat kacau ini!" pekik sang mama kepada Dio begitu melihat Dio yang melenggang pergi begitu saja.
"Dio mau kembali belajar ma. Belajar akting, biar semakin menghayati. Seperti siapa ya?? Seperti wanita ular mungkin," ucap Dio dengan kalimat sarkas nya yang terlihat menyindir Vania dengan sangat menohok.
__ADS_1
Vania pun diam-diam mengepalkan kedua tangannya. "Yasudah lah jika Dio mengetahui kalau aku sedang berakting. Yang penting kedua orang tua Dio percaya dan menganggap ku wanita yang baik. Dan setelah ini sebaiknya aku pun harus berhati-hati di dalam rumah ini. Siapa tahu Dio telah memasang perangkap jebakan yang membuatku tidak memiliki muka kembali dan di usir dari kediaman ini," gumam Vania di dalam hati dengan masih memperlihatkan wajah sendu nya.
"Ma ... pa ... Vania masih terasa begitu syok dan belum siap untuk melaporkan kejadian yang menimpa Vania saat ini ke kantor polisi. Beri waktu hingga Vania siap iya ma ... pa ..." tutur Vania kemudian yang membuat mama Dio kembali perhatian dan merasa sangat prihatin dengan keadaan mental menantunya tersebut.
"Baiklah sayang, kamu ingin sarapan dulu atau istirahat lebih dulu?" tanya mama Dio dengan mengelus puncak kepala sang menantu.
"Vania ingin istirahat lebih dulu ma. Ingin menenangkan diri Vania lebih dulu ..." ucap Vania dengan lirih.
"Yasudah ayo Mama antar ke kamar kamu," ucap mama Dio dengan menuntun Vania.
Tak lama kemudian Vania dan mama Dio pun telah tiba di dalam kamar Vania. Vania pun segera merebahkan tubuhnya yang terasa sangat remuk akibat melayani dua orang pria perkasaa yang membuatnya sangat kewalahan namun sangat menikmatii sentuhan demi sentuhan yang Vania terima.
"Vania, istirahat dan tenangkan dirimu dulu. Nanti jika butuh apapun segera panggil mama. Mama juga sangat lelah dengan perut mama yang terlihat semakin membuncit ini dan ingin segera merebahkan tubuh mama di kasur. Jadi mama tinggal lebih dulu dan jangan kamu dari dalam ya pintu kamar kamu?" pinta mama Dio.
Setelah mama Dio terlihat keluar dari dalam kamarnya, Vania pun segera memejamkan kedua matanya yang tak lama kemudian terlihat terlelap.
Sedangkan Dio yang melihat Vania dari cctv tersembunyi pun menjadi semakin geram terhadap Vania.
"Jika tidak ada hukum penjara maka aku pun ingin segera melenyapkan Vania agar keberadaan nya pun tidak semakin menjadi parasit yang tidak tahu malu dikeluarga kami," gumam Dio dengan sangat geram.
"Kamu pikir aku bodoh karena tidak mampu melacak keberadaan kamu semalam? Heh wanita ular, tinggal menelusuri riwayat GPS yang terpasang di mobil yang kamu gunakan semalam pun urusan sudah beres," gumam Dio lagi dengan membuka aplikasi GPS yang terhubung dengan banyak mobil di kediaman rumahnya tersebut.
__ADS_1
"Astaga, benar kan jika wanita ular itu semalaman berada di hotel!" pekik Dio dengan menggebrak meja kerjanya tersebut setelah melihat titik lokasi yang di singgahi oleh Vania yang terlihat berada di sebuah hotel ternama.