
Jarum jam sudah menunjukkan angka lima sore, berkas yang menumpuk di mejaku masih setengah yang belum aku kerjakan, aduh targetku hari ini berkas itu sudah selesai, tetapi tadi pas makan siang berhubungan Karina merengek minta di manja-manja, jadinya ga kelar deh kerjaan, lelah sudah tubuh ini, aku rebahkan tubuhku di sandaran kursi yang aku duduki, menggeliat sejenak untuk meregangkan otot tubuhku yang kaku supaya lebih rileks, mata ini rasanya kian lengket saja, padahal ini masih sore, tetapi entah kenapa rasa lelah kian mendera saja, semenjak investor masuk ke perusahaan ini, aku kerja bagai orang kesetanan, istirahat hanya sekedar makan dan sholat, lama-lama aku jadi workaholic kalau begini.
Aku mencoba sejak memejamkan mata barang lima menit, lumayan kan, gumamku dalam hati.
Baru mau memasuki alam mimpi, tiba-tiba aku di kagetkan dengan suara pintu terbuka dari arah luar, dan bau parfum itu tak bisa membohongi indra penciumanku, sangat familier dengan aroma itu, " Assalamu'alaikum" ucapnya, begitu Karina selalu membuat orang kaget, dia selalu begitu, masuk dulu dan baru mengucapkan salam.
" Oh sayang, kamu ngagetin saja," keluhku pada wanita itu.
" Kebiasaan, kenapa tidak ketuk pintu dulu, mengucapkan salam lalu masuk" ucapku dengan gemas, sambil aku noel hidungnya yang mancung itu dan mencium pipinya dengan gemas.
" Maaf..." balasnya, sambil merebahkan kepalanya di bahu ku ini, kebiasaan sekali ketika habis kerja selalu seperti itu, manjanya minta ampun, bila kelelahan dia pasti aku yang repot, harus mijitin dia sampai tertidur pulas, sementara badan aku sendiri rasanya mau rontok semua.
Kalau sudah seperti itu aku sulit untuk tidur, memikirkan kerjaan yang masih banyak sekali.
__ADS_1
Sudah aku pastikan akan begadang sampai malam, apa mendingan kerjaan ini aku bawa pulang saja, Karina pasti tidak mau menunggu aku lembur sampai tengah malam, dan pastinya dia nanti Karina merengek minta di pijitin kalau sudah sampai rumah.
" Mas pulang yuk, Adek capek minta di pijitin, lalu bobok " serunya merengek lagi, nah betulkan tebakanku, baru saja aku mengeluh sudah di todong minta di pijitin.
" Ya udah yuk pulang, tapi Mas beres-beres dulu ya," seruku sambil aku memberinya isyarat untuk bangkit dari pangkuan ku.
" Mas beresin meja dulu ya" bisikku di telinganya, diapun mengangguk dan menyeret tubuhnya ke arah sofa yang ada di sebelah meja kerjaku.
Karina merebahkan tubuhnya di sofa itu, dan mengganjal kepalanya dengan bantal yang ada di sana, tak seperti biasanya dia begitu lemas sekali, apa ada masalah yang aku tidak tahu? atau mungkin juga dia banyak kerjaan di atas sana, seperti aku ini kayaknya, tebak ku, sambil aku memasukkan berkas yang belum selesai aku kerjakan ke dalam tas kerjaku satu persatu.
Mata indah itu terbuka, dan menatap ke arahku dengan sayu, ku sentuh keningnya dengan punggung tanganku, rupanya dia agak sedikit panas.
" Aku merasa tidak enak badan Mas, mual dan pening sekali kepalaku," keluhnya sambil menatap aku dengan tatapan sayu.
__ADS_1
" Ya udah, pulang sekarang aja yuk kalau begitu," ajakku padanya.
Lalu Karina hanya mengangguk kepalanya, dan bangkit dari tempat ia merebahkan diri, dan duduk sejenak untuk mengumpulkan kekuatan.
" Adek kuat tidak untuk turun sampai bawah?" tanyaku padanya sambil aku bangkit dari aku berjongkok tadi.
" Kuat Mas, " serunya dengan suara yang lemah.
" Ya udah ayok kita pulang sekarang". Ucapku, sambil aku mengulurkan tanganku untuk membatu dia berdiri, lalu aku ambil tas miliknya dan aku letakkan tas itu di pundakku kiriku, dan tangan kiriku aku pakai untuk membawa tasku sendiri, tanganku kananku aku pakai untuk merangkul pundaknya sambil berjalan.
" Kalau Adek tidak kuat, Mas gendong saja ya? " seruku yang mulai khawatir padanya.
" Adek masih kuat kok Mas, sini tasnya biar aku bawa sendiri " pintanya pada ku, tangannya terulur untuk mengambil tas yang sudah ada di pundakku.
__ADS_1
" Ya syukur kalau masih kuat" ucapku sambil sekilas aku kecup keningnya dengan sayang.