Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
S2. Baby Zyu


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu. Pernikahan yang pada awalnya menjadikan sebuah trauma tersendiri untuk Zia pun kini lambat laun telah mampu Zia terima dengan lapang dada.


Walaupun sudah satu bulan lama nya sejak kejadian tersebut dan hingga kini Ryu belum di izinkan untuk memberikan nafkah batin kepada Zia pun tidak membuat hati Ryu menjadi goyah dan berpaling.


Bahkan hati Ryu pun berubah menjadi semakin berbunga-bunga begitu mengetahui sang istri terlihat terus menerus merasakan mual yang sangat luar biasa.


"Selamat tuan! Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua baru karena telah tumbuh janin di perut istri anda. Ini sudah memasuki minggu ke tujuh usia kandungan nya," ucap sang dokter kepada Ryu.


Ryu yang mendengarkan penjelasan sang dokter pun menjadi sangat bahagia.


"Sayang! Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah!" pekik Ryu kegirangan dengan menggenggam erat kedua tangan Zia.


Zia yang mendengar penuturan sang dokter pun juga ikut merasakan haru karena kini di dalam perutnya telah tumbuh benih dan itu artinya dirinya pun akan menjadi seorang ibu.


"Aku akan berusaha menjadi orang tua siaga untuk calon baby kita sayang!" pekiknya Ryu lagi.


Setelahnya kedua nya pun berpamit undur diri dan kembali ke kediaman orang tua Zia.


Kedatangan Ryu dan Zia pun telah di sambut antusias oleh Mami Aninda.


Begitu juga dengan Papi Dio yang pura-pura cuek namun ikut membuka telinga selebar-lebarnya karena tidak ingin ketinggalan informasi tentang hasil pemeriksaan sang putri.


"Gimana sayang hasil pemeriksaan nya??" tanya Aninda dengan sangat antusias menatap Ryu dan Zia secara bergantian.


Tak lama kemudian, Zia pun memberikan hasil pemeriksaan nya tersebut berup foto hasil USG terhadap sang mami.


Aninda yang melihat hasil USG tersebut menitikkan air mata haru. Begitu juga dengan Dio. Kedua nya pun tidak menyangka jika akan menjadi seorang kakek dan nenek sebentar lagi.


"Terimakasih Mi, Pi ... karena telah memberikan restu untuk menikahi Zia secepatnya. Hingga Ryu kini pun bisa mendampingi Zia seutuhnya sebagai seorang suami di saat awal kehamilan nya dan hingga nanti," ucap Ryu dengan kembali bersimpuh di hadapan kedua orang tua Zia.


"Sudah, berdirilah yang penting kamu harus terus membahagiakan putriku Zia dan berjanji untuk tidak akan menyakiti nya lagi," ucap Dio yang kemudian di ikuti oleh anggukan Aninda.


Setelah selesai mengobrol dengan keduanya mertua nya pun Ryu segera menggandeng tangan Zia untuk segera menuju ke kamar keduanya.


"Ayo sayang, kamu butuh istirahat ekstra demi tumbuh kembang baby kita yang ada di dalam perut kamu ini," ucap Ryu dengan merebahkan tubuh sang istri.


Entah mengapa Zia pun kali ini sangat menurut dengan semua ucapan yang terlontar dari mulut Ryu.


Bahkan di tinggal pergi ke kamar mandi sebentar saja pun hati Zia mendadak tak karuan dan menangis sesenggukan seorang diri.


"Kamu kenapa menangis keras sekali sayang?" tanya Ryu dengan tergopoh-gopoh kembali menemui sang istri.


"Kamu meninggalkanku terlalu lama di kamar mandi. Huaa ... Huhuhu ..." ucap Zia sambil terus menangis.


"Sayang, aku di dalam kamar mandi juga belum sampai lima menit. Enggak lama sama sekali. Sudah jangan banyak nangis, kasih baby kita," ucap Ryu dengan mengusap air mata yang berjatuhan di kedua pelupuk mata Zia.

__ADS_1


Zia pun kembali menganggukkan kepalanya begitu mendengar nasihat dari Ryu.


"Tidurlah di sampingku. Aku ingin tidur di peluk," ucap Zia dengan menepuk sisi kasur di samping nya.


Merasa mendapatkan angin segar karena di perbolehkan untuk tidur di sampingnya pun membuat perasaan Ryu semakin berbunga-bunga.


Bahkan setiap malam, Zia pun semakin agresif untuk menyentuh dan memeluk Ryu hingga membuat kepala Ryu rasa nya terus cenat cenut karena menahan rasa yang terus bergejolak di dalam tubuhnya.


"Sayang, jika kamu terus menerus menggodaku seperti ini maka jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mengontrol tubuhku untuk tidak menyentuhmu," ucap Ryu dengan wajah yang telah menjadi memerah.


Zia pun mendadak gugup mendengar penuturan sang suami. Dirinya pun tidak begitu mengerti kenapa tubuhnya sangat ingin untuk di sentuh oleh Ryu.


"Ma--maaf, aku tidak bermaksud begitu. Entahlah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi merasa sangat ingin dekat dan ingin mu, Ryu," ucap Zia dengan terbata serta menahan debaran di jantungnya karena posisi dirinya dan Ryu yang teramat sangat dekat dan intim.


Hingga tanpa menunggu persetujuan dari Zia lebih lanjut pun Ryu sudah mulai mencium Zia secara perlahan. Hingga kedua nya pun menyatu dalam kenikmatan yang membuat otak Zia semakin berfikir liar kemana-mana.


"Astaga, kenapa aku menjadi sangat menikmati dan selalu menginginkan lagi dan lagi setiap sentuhan yang Ryu berikan? Apakah ini artinya aku telah menerima Ryu ataukah keinginan baby kita untuk saling menerima satu sama lain?" batin Zia dengan menggelengkan kepalanya terus menerus.


"Kamu kenapa sayang??" tanya Ryu dengan panik dan segera menghentikan aktivitas nya dengan cepat.


"Jangan berhenti!" pekik Zia dengan wajah yang terlihat kesal karena Ryu yang terlihat menghentikan permainan nya begitu saja.


"Aku pikir kamu dan baby kita kesakitan karena ulah milikku sayang," jawab Ryu yang kembali membuat Zia terbang melayang.


"Baby kita menyukainya!" ucap Zia dengan nada lantang yang membuat Ryu tersenyum dengan sangat lebar.


Dengan sigap Zia pun selalu menggandeng mesra tangan sang suami dimana pun ke duanya berada.


"Terimakasih sayang, karena kehadiran mu pun membuat mama kamu bisa seposessif ini terhadap ayah," ucap Ryu dengan mengelus perut Zia yang telah nampak sangat membesar tersebut.


Perutnya yang kembali di sentuh oleh Ryu pun membuat tubuh Zia kembali panas dingin.


"Sayang, aku ingin," rengek Zia dengan meraba-raba tubuh Ryu.


"Tapi sayang, sebentar lagi kan jam kantor selesai. Kita lakukan di rumah saja ya dan jangan disini. Apalagi usia kandungan kamu sudah lebih dari sembilan bulan. Aku takut terjadi apa-apa karena terus melakukan itu," ucap Ryu dengan raut wajah khawatir.


Mendengar jawaban sang suami yang terkesan menolak pun membuat hati Zia kembali bersedih. Dengan cepat Zia pun menyambar tasnya dan bergegas keluar dari ruang tersebut.


"Sayang! Mau kemana??" teriak Ryu yang kemudian membawa Zia ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak lagi menginginkan ku! Untuk apa aku berlama-lama disini jika hanya membuat hati ku bersedih mendengar penolakan yang kamu ucapkan!" bentak Zia dengan menghempas serta mendorong tubuh Ryu.


Mendengar jawaban Zia pun membuat Ryu merasa bersalah. Dengan cepat Ryu pun segera merengkuh tubuh Zia dan menidurkan nya di dalam ruang istirahat dan memulai aktivitas yang membuat keduanya merasakan terbang melayang.


Namun, ada yang aneh dengan perut Zia kali ini karena terasa sakit yang terus mendera.

__ADS_1


"Sayang! Hentikan! Perutku rasanya sakit sekali! Datang dan pergi namun kali ini rasa sakitnya lebih cepat dan sering. Seperti nya aku akan melahirkan!" pekik Zia yang kemudian mendorong sang suami.


Ryu yang mendengar bahwa ucapan sang istri pun segera memakai bajunya kembali.


"Ayo sayang! Kita segera ke rumah sakit! Jangan membuatku semakin cemas. Sudah beberapa minggu yang lalu aku ingin kamu cuti lebih cepat namun kamu selalu menolak dengan dalih rasa cemburu mu itu," ucap Ryu dengan memapah sang istri menuju ke basemenet mobil.


"Sayang, jangan banyak mengomel! Aku suu--sudah tidak kuat. Ini sa--sakit se--kali," ucap Zia dengan terbata dan tak mampu untuk berjalan kembali.


Dengan sigap Ryu pun segera menggendong sang istri. Mobil pun melaju dengan cepat dan sampailah di depan rumah sakit serta dengan sigap petugas medis pun membawa Zia masuk kedalam ruang bersalin.


"Sayang! Huh! Huh! Huh!" ucap Zia dengan nafas tersengal begitu kontraksi datang kembali kepadanya dengan rasa sakit yang luar biasa.


Ryu yang mendengar rintihan kesakitan dari mulut Zia serta keringat yang terus berjatuhan dari wajah Zia pun mendadak menjadi sangat panik.


"Tenang tuan, istri anda ini telah siap untuk mengejan. Beri dukungan untuk istri anda semaksimal mungkin agar istri nya lebih bersemangat lagi dalam mengejan," sahut sang bidan.


Ryu pun terlihat mengangguk dan memberikan semangat semaksimal mungkin kepada sang istri.


Hingga tak berapa lama, terdengar tangis bayi yang terus menggema di ruang tersebut. Bayi Ryu dan Zia pun berhasil melihat indahnya dunia.


Sedangkan Aninda, Dio, Amel serta Akio yang mendengar suara isak tangis sang cucu yang telah lahir ke dunia pun nampak menitikkan air mata haru dan senang.


"Kita telah menjadi kakek dan nenek!" pekik mereka berempat berbarengan.


Tak lama kemudian, Zia pun telah di perbolehkan pindah ruangan. Dan diruangan kelas VVIP ini lah mereka semua berada.


"Astaga, kenapa baby boy nya seluruh wajah nya mewarisi wajah Ryu?!" pekik Dio tak terima.


Semua orang yang mendengar ucapan Dio pun tertawa serentak.


"Kamu terima kenyataan saja. Memang itu kan hasil benih dari putraku. Wajar lah kalau mewarisi wajah tampan rupawan putraku, Ryu," ucap Akio dengan menyombongkan gen tampan keturunan nya tersebut.


"Kamu pikir wajah putriku jelek begitu?!" ucap Dio tak terima.


"Sudah lah kalian para kakek-kakek jangan berdebat terus. Kasihan baby Zyu kan jadi terbangun akibat suara keras kalian!" bentak Aninda dengan menggandeng tangan suaminya tersebut.


Begitu juga dengan Amel yang juga melakukan hal sama terhadap Akio.


Sedangkan Ryu dan Zia pun terlihat saling pandang dengan senyum yang terus merekah diantara keduanya.


Happy Ending!!


Terimakasih untuk pembaca setia author yang masih setia hingga akhir cerita,❤❤❤


Jangan lupa untuk membaca karya author yang lain nya iyaa pembaca setia author🤗❤

__ADS_1


Terimakasih dan sampai bertemu di karya author yang terbaru yang berjudul My Impotent Husband karya Devi chan ❤🤗🏃


__ADS_2