Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Akting Vania


__ADS_3

Vania pun tampak menangis histeris hingga membuat mama Dio yang sedang berada di lantai atas pun datang tergopoh-gopoh menuju ke lantai bawah dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini Dio?" Tanya mama Dio yang nampak terlihat bingung.


"Tanya saja dengan wanita ular itu ma!" tutur Dio dengan nada sarkas dan segera naik menuju ke lantai atas dan segera memasuki ruang kerja nya.


"Ada apa ini nak? Kenapa kamu bersimpuh di lantai seperti itu? Ayo segera berdiri," tutur mama Duo dengan membantu Vania berdiri dan kedua nya pun segera duduk di kursi sofa dengan Vania yang terus menangis terisak.


"Ma, Dio meragukan bayi nya dan terus menerus menuduhku atas apa yang sama sekali tidak aku lakukan ma. Aku tau jika aku salah malam itu. Kenapa juga mesti aku membawa Dio ke hotel. Huhuhu, waktu itu Vania pun di bawah pengaruh alkohol sehingga tidak kuasa melawan kungkungan Dio yang mengambil kesucian Vania dengan paksa ma,"


"Setelah itu kita pun sama-sama terbuai oleh nikmat nya percintaan yang membawa petaka untuk kami semua ma. Di-dio pun sewaktu menodai ku terus meneriakkan nama Aninda dan mengira bahwa aku adalah Aninda hingga Dio terus melakukan nya lagi dan lagi sampai kita berdua sama-sama saling tertidur pulas ma,"


"Mama juga melihat sendiri kan bekas percintaan kami di sekujur tubuh Vania ma. Begitu juga di tubuh Dio. Vania yang sudah sangat mencintai Dio di awal bertemu pun memberikan keperawanan Vania untuk Dio ma. Vania antara sadar dan tidak waktu melakukan persetubuhann itu ma. Huhuhu. Apa mama juga turut membenciku seperti Dio yang membenci Vania ma?" ucap Vania dengan melancarkan aksinya mencari simpati kepada mama Dio.


Mama Dio pun nampak sangat bingung dengan apa yang harus ia ucapkan kepada menantunya tersebut. Siapa yang harus ia bela antara menantunya yang terus menangis ataukah putra kandung nya sendiri.


"Sudahlah Vania, kamu jangan terus menangis. Kasihan anak yang ada di dalam kandunganmu itu jika kamu terus menerus bersedih. Biar nanti mama yang berbicara dengan Dio. Kamu istirahat lah sayang," ucap mama Dio dengan penuh kasih sayang kepada menantu nya tersebut.


"Tapi ma, perut Vania rasanya seperti kram karena di dorong oleh Dio tadi. Sepertinya bayi yang ada di dalam perut Vania sangat ingin di sentuh oleh papa biologis nya ma,"


"Setiap malam tidur Vania pun tidak nyenyak karena keinginan Vania untuk di sentuh oleh Dio setiap malam tidak kunjung terkabulkan ma. Huhuhu ... kenapa Dio lebih suka tidur di dalam ruang kerja nya dan sama sekali tidak peduli terhadap bayinya," ucap Vania dengan masih menangis tersedu-sedu yang membuat mama Dio pun merasa iba dengan apa yang di alami oleh Vania tersebut.

__ADS_1


"Sudah kamu jangan menangis lagi. Biar nanti mama yang berbicara dengan Dio agar mulai nanti malam tidurnya di kamar kalian. Istirahat lah ke atas. Jangan berfikiran macam-macam lagi. Kasihan cucu mama yang ada di dalam perut kamu itu pasti sangat tersiksa jika kamu terus menerus menangis," ucap mama Dio.


"Baiklah ma, Vania istirahat ke atas dulu ya ma. Terimakasih mama telah sangat baik terhadap Vania," ucap Vania dengan segera menaiki anak tangga.


Sedangkan di dalam hati Vania pun nampak bersorak sorai senang karena aktingnya tersebut telah bisa mengundang simpati mama nya Dio.


"Huu, dasar mama Dio mudah sekali aku kibulin. Enggak seperti anaknya yang susah sekali buat ditipu dan ditaklukan!" gerutu Vania di dalam hati dan kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


"Hallo!" bentak Vania di dalam telepon tersebut.


"Iya ha-hallo, tolong jangan ancam saya dan adik saya terus menerus Van," jawab seseorang di dalam telepon yang memiliki suara khas seorang lelaki.


"Ba-baiklah, kami akan segera berkemas untuk pergi dari pulau ini," jawab lelaki tersebut di sebrang telepon nya.


Dengan cepat Vania pun segera mematikan teleponnya dan nampak tersenyum dengan senang. Karena sudah tidak ada penghalang lagi bagi dirinya untuk memiliki Dio seutuhnya.


"Hahh ... akhirnya tinggal menaklukkan Dio saja seorang. Pasti lama kelamaan nanti Dio akan menerimaku sepenuh hati. Cepat atau lambat, karena wajahku pun sangat cantik serta bodyku yang tidak diragukan lagi dan terlihat seperti gitar spanyol serta sangat seksi," gumam Vania di depan cermin kamar tidurnya.


"Tttoookkk!! Ttookk!! Ttoook!!" bunyi suara pintu kamar di ketuk dengan keras.


"Siapa sih ganggu saja!" umpat Vania dengan segera membuka pintu kamar dengan perlahan.

__ADS_1


"Nak, ini mama antarkan camilan dan susu untuk kamu. Kalau kamu ingin menonton tv bersama mama dan papa boleh saja nak, tinggal turun ke bawah saja jangan sungkan," ucap Mama Dio dengan nada lembut.


"Apa Dio juga sedang menonton tv ma?" tanya Vania dengan berharap jawaban dari mama Dio tersebut adalah iya.


Namun sayang sekali mama Dio pun segera menggelengkan kepalanya pelan. "Dio masih berada di ruang kerjanya. Yasudah mama mau ke ruang kerja Dio sebentar," jawab mama Dio dengan segera melangkah menuju ruang kerja putra nya tersebut.


"Ttookk ... Ttookk ... Dio, ini mama," ucap mama Dio sembari mengetuk pintu kerja putra nya tersebut.


"Masuk saja maa," ucap Dio dari dalam.


Kemudian mama Dio pun segera membuka pelan pintu ruang kerja putra nya tersebut.


"Ada apa ma?" tanya Dio kepada sang mama dengan wajah yang terlihat bingung.


"Cobalah kamu lebih perhatian terhadap istri dan calon anak kamu yang masih ada di dalam kandungan ya Dio," ucap mama Dio sehalus mungkin agar tidak membuat putranya tersinggung.


"Istri dan calon anak yang mana ma? Pernikahan itu tidak sah ma, wanita ular itu yang telah merencanakan semuanya. Dio sedang mengumpulkan bukti-bukti jika Dio tidak melakukan apa pun dan janin yang di kandung wanita ular itu sudah bisa di pastikan bukan cucu mama!" pekik Dio dengan kesal karena selalu itu yang mama nya bicarakan.


"Kenapa kamu membentak mama, Dio? Mama pun sudah bilang kepada kamu untuk jangan kemana-mana selama masa kamu di pingit! Tapi apa Dio?? Kamu pun melanggar omongan orang tua kamu sendiri dan berakhir menjadi seperti ini dan mencelakai banyak orang!" pekik mama Dio yang juga menahan kesal karena sikap putra nya tersebut.


"Ma, Dio tidak bermaksud membentak mama ..." ucap Dio dengan lirih melihat sang mama yang nampak menangis dan hanya bisa menatap punggung sang mama yang telah keluar dari ruang kerjanya tersebut dengan setengah berlari.

__ADS_1


__ADS_2