Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Cermin


__ADS_3

Dio pun nampak menelepon mama Akio menanyakan mengenai psikolog yang di rekomendasikan dokter kenalan mama Akio tersebut.


"Ma? Bagaimana dengan alamat klinik psikolog nya ma? Rencana nya hari ini aku dan Aninda ingin segera berkonsultasi kesana," tutur Dio.


"Iya, baru saja mama mau telepon untuk mengabari kamu jika kata dokter William hari ini Bu Salsa psikolog kenalan nya tersebut hari ini buka praktik di kliniknya. Alamat nya akan segera mama kirimkan ke kamu. Sudah di daftarkan atas rekomendasi dokter William," tutur mama Akio.


"Baik ma. Ini kita segera bersiap kesana," jawab Dio.


"Jika Aninda sudah di nyatakan baik-baik saja jangan lupa untuk segera menikahi Aninda ya. Kamu jangan lari dari tanggung jawab," tutur mama Akio mengingatkan kembali akan tujuan Dio selanjutnya.


"Baik ma, bantu Dio untuk membujuk Aninda juga iya ma?" pinta Dio.


"Sudah pasti mama bantu. Sudah sana segera bersiap-siap dulu,"


"Baik ma, Dio tutup dulu,"


Setelah sambungan telepon terputus kemudian Dio nampak mendekati Aninda.

__ADS_1


"Nin? Mandi dulu atau enggak?" tanya Dio.


"Terserah,"


Mendengar kata terserah tersebut membuat Dio tanpa berpikir panjang langsung menggendong Aninda menuju ke kamar mandi.


Sambil mengisi air di dalam bathtub, Dio pun segera mendekat dan hendak melepaskan baju Aninda.


"Kamu mau ngapain?!" teriak Aninda dengan wajah panik dan nampak ketakutan.


"Maaf, aku hanya ingin membantu kamu melepaskan baju kamu ..." ujar Dio dengan lirih.


"Aku tidak mau keluar. Aku akan tetap disini dan menghadap tembok membelakangi mu," ucap Dio dengan cepat segera berbalik arah mengahdap tembok.


Aninda pun nampak menghela nafas panjang ketika hendak membuka bajunya tersebut.


"Jangan coba-coba untuk mengintip ya!" pekik Aninda dengan segera memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat dan busa.

__ADS_1


"Iyaa ... yaa ... aku masih menghadap ke tembok ini lohh," jawab Dio dengan melihat tubuh Aninda yang telah polos dari pantulan cermin di dekatnya tersebut.


Dio pun nampak meneguk ludahnya sendiri ketika melihat pemandangan indah dari cermin tersebut.


"Aihhh, kenapa juga mesti ada cermin di dekat ku ini hingga terlihat tubuh indahnya Aninda itu. Membuat milikku rasanya sudah sangat tegang dan terasa panas dingin ingin segera dikeluarkan," gumam Dio di dalam hati.


Sedangkan Aninda tampak secepat kilat menyelesaikan mandi nya tersebut agar Dio pun tidak terlalu lama menunggu.


"Dio, handuknya mana?" tanya Aninda dengan menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub agar tidak terlihat oleh Dio.


Dengan cepat Dio pun nampak melemparkan handuk tersebut tanpa melihat tubuh Aninda.


Tak lama kemudian Aninda pun telah nampak memakai kimono dan berjalan ke arah pintu keluar.


Namun di saat dirinya hendak keluar, Aninda pun nampak melihat ke arah cermin.


"Jadi kamu dari tadi melihatku dari arah cermin itu ya?!" teriak Aninda yang menjadi marah karena malu tersebut.

__ADS_1


Dengan secepat kilat Dio pun menggendong Aninda kembali untuk merias diri. Dengan lembut dan telaten Dio pun nampak mengeringkan rambut Aninda penggunakan hair dryer. Hingga tak berapa lama pun akhirnya tubuh Aninda pun telah bersih dan wangi.


"Kamu bersiaplah juga Dio. Aku akan menunggu mu dengan tenang jadi kamu tenang saja ya," ucap Aninda yang berusaha seorang diri


__ADS_2