Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Mencoba Bunuh Diri


__ADS_3

"To-tolong, hentikan. Jangan siksa aku seperti ini lagi. Aku sangat haus dan lapar. Aku ingin makan dan minum ..." ucap Akano dengan suara yang sangat lirih dengan kondisi tubuhnya tersebut yang terlihat banyak lebam dan bekas cakaran kuku seseorang di tubuh Akano tersebut.


"Boss Edrick belum memerintahkan agar kami segera berhenti. Enak saja ingin minta makan dan minum gratis jika pelayanan kamu itu sangatlah tidak bisa membuat kami merasa puas!" hardik salah satu anak buah Edrick tersebut dengan mencambuk tubuh Akano.


"Arrgghh!! Ini sakit sekali. Jangan cambuk aku," teriak Akano dengan suara lemah dan parau nya tersebut.


Orang tersebut pun nampak meninggalkan ruangan tempat Akano ditahan setelah mendapati tubuh Akano tergolek lemah tak berdaya tanpa seorang pun yang berusaha untuk menolong nya tersebut.


"Maaf kan kesalahan ku Ya Tuhan," ucap Akano dengan sangat lirih.


*


*


*


Aninda yang telah terbangun dari tidur nya pun merasakan pegal dan sakit di sekujur tubuh nya tersebut.


"Aww ... kenapa kepalaku sangat pusing dan badanku sangat sakit semua," ucap Aninda dengan lirih dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.


Dio yang berada di sebelah nya pun lantas terbangun dari tidur nya tersebut dan membantu Aninda untuk duduk bersandar di aats tempat tidur.


Kesadaran Aninda pun perlahan mulai pulih. Bayangan demi bayangan dirinya di culik pun berkelebat di dalam benak Aninda.


Dengan cepat Aninda pun segera melihat tubuh nya yang penuh dengan warna merah. Seketika air mata Aninda pun luruh karena diri nya yang telah ternoda itu.


"Ak-aku kenapa Dio. Siapa yang tega menculik dan melakukan ini terhadap ku? Huhuhuhu ..." Air mata Aninda pun turun dengan deras nya dan menangis dengan tersedu-sedu.

__ADS_1


Dio pun nampak kebingungan menenangkan Aninda. Dio pun mengambil nafas panjang dan segera memeluk Aninda.


"Kamu di culik oleh orang yang bernama Akano yang merupakan kembaran sensei Akane. Sebenarnya yang sering kamu temui dan kamu anggap sebagai sensei Akane itu adalah Akano. Sensei Akane yang asli telah di sekap oleh Akano untuk di manfaatkan kepentingan pribadinya itu di dunia pasar gelap. Namun kabar yang beredar jika sensei Akane yang asli telah kabur dari sekapan kembaran nya yang gila akan se*x tersebut,"


Aninda pun masih nampak menyimak penuturan dari Dio tersebut dengan masih menangis dengan tersedu-sedu.


"Singkat ceritanya, kamu di culik oleh anak buah Akano. Kemudian kamu di bawa ke rumah mewahnya Akano tersebut untuk di jadikan pemuas naf*su nya itu,"


"Jadi aku benar-benar telah di nodai oleh lelaki bajingan itu?! Aaaa!! Huuhuhuhu," Aninda pun tampak menangis histeris.


"Dengarkan penjelasan ku lebih dulu sayang," ucap Dio dengan memegang wajah Aninda serta menghapus air mata yang luruh di kedua sudut matanya tersebut. Dio pun kemudian nampak mengecup pelan kening nya tersebut.


"Kamu dalam keadaan masih terpengaruh obat bius pun di cekoki dengan wine yang telah Akano isi dengan obat perang*sang dengan dosis tinggi oleh Akano. Namun sebelum kamu benar-benar di sentuh oleh Akano, kami semua berhasil menyelamatkan mu," tutur Dio dengan mengambil nafas yang sangat dalam untuk melanjutkan ceritanya tersebut.


"Kamu pun segera ku bawa kembali ke apartemen karena saking panik nya aku pun segera merendam mu ke dalam bak mandi tanpa memanggil dokter terlebih dahulu. Hingga tubuhmu pun semakin bergairah akibat obat tersebut dan memaksa untuk melakukan hal tersebut,"


"Namun sudah ku coba hanya dengan membuat mu agar mencapai puncak hanya dengan menggunakan satu jari saja. Namun sepertinya reaksi obat tersebut sangatlah tinggi. Hingga dirimu pun mulai memaksaku dengan menyentuhku dengan dirimu yang telah berhasil melucuti seluruh pakaianmu hingga akhirnya kita pun melakukan nya berkali-kali. Maafkan aku Nin," ucap Dio dengan lirih.


"Kamu keluarlah Dio. Biar kan aku menyendiri lebih dulu," ucap Aninda dengan nada tanpa ekspresi tersebut meminta Dio untuk keluar dari dalam kamarnya tersebut.


"Tapi pintu kamar nya jangan ditutup ya??" pinta Dio yang sebenarnya masih sangat dilema tersebut.


Aninda pun nampak mengangguk. Dengan segera Dio pun keluar dari dalam kamar Aninda. Dengan langkah tertatih karena nyeri yang sangat luar biasa di area ************ tersebut membuat dirinya tidak bisa berjalan dengan normal untuk segera menuju ke kamar mandi.


Aninda pun nampak melihat di sekujur tubuhnya tersebut yang penuh dengan warna merah pun tangisnya pun tangis nya pun pecah.


"Huhuhu ... huhuhu ... huhuhu ..." isak tangis Aninda pun menggema terdengar hingga keluar dari kamar mandi nya tersebut.

__ADS_1


Dio yang mendengar Aninda menangis dengan kencang pun segera berlari ke arah kamar Aninda. Dio pun mendengar asal suara tangisan Aninda tersebut dari arah kamar mandi.


Dengan segera Dio pun tampak menggedor pintu kamar mandi tersebut. "Nin, kamu kenapa! Buka Nin atau aku dobrak jika kamu tidak mau segera membuka!" teriak Dio dengan sangat panik.


Aninda pun masih tetap tidak bergeming dan masih nampak menangis histeris di dalam bak mandi nya tersebut dengan memukul-mukul dirinya sendiri.


Aninda yang merasa dirinya nampak sangat kotor dan hina tersebut seperti tidak ada keinginan untuk hidup lagi. Aninda pun nampak menyakiti dirinya sendiri dengan berbagai cara.


Hingga Dio yang sudah tidak sabar lagi pun mendobrak pintu berkali-kali dengan sekuat tenaga nya.


Bangg!! Bangg!! Banggg!!


Bruagghhkk!!


Pintu kamar mandi milik Aninda pun berhasil Dio dobrak.


Dengan segera Dio mengangkat tubuh Aninda yang nampak bertambah luka di kening dan tangan nya yang nampak mencoba untuk bunuh diri tersebut.


"Apa yang kamu lakukan Anin?!!" pekik Dio sembari menggendong Aninda memakai kan kimono dan membaringkan tubuh Aninda tersebut di atas kasur.


Dengan segera Dio pun mencoba mengobati dan menghentikan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangan dan kening nya tersebut.


Hati Dio pun berdetak sangat kencang melihat bagaimana kacau nya Aninda saat ini.


"Di-dio ... untuk apa aku hidup jika aku telah kotor seperti ini," ucap Aninda dengan tertahan dan sangat lirih.


Dio pun nampak melirik tajam ke arah Aninda yang telah selesai menekan darah yang keluar tersebut.

__ADS_1


"Nin! dengar kan aku? Yang mengambil kesucian kamu adalah aku! Jadi kamu jangan kawatir atau pun memikirkan hal yang lain. Aku akan menikahi kamu dengan segera!" ucap Dio dengan nada penuh ketegasan.


Aninda pun nampak menggeleng lemah. " Ak-aku belum siap untuk menikah Dio. Aku pun menjadi sangat takut untuk kembali ke kampus lagi," ucap Aninda dengan kembali menangis tersedu-sedu.


__ADS_2