Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 20


__ADS_3

Ketika tirai itu di buka tubuhku membeku seketika, mata ku melotot ke arah wanita yang cantik bahkan sangat cantik dari terakhir aku tinggalkan di rumah kontrakan itu, wanita yang di tabrak Pak Biyan itu duduk menyandar di atas ranjang rumah sakit, aku sudah membayangkan bagaimana kondisi dia saat kejadian, apalagi menurut cerita Mitha lagi menggendong Dimas saat itu, oh berdosa aku ini.


Wanita cantik itu mengenakannya baju gamis yang terlihat mahal, dengan warna yang pas di kulitnya yang putih itu, setahu aku Mitha tak ada punya baju gamis semacam itu, bahkan gamis yang ia punya bisa di hitung dengan jari, paling cuma tiga saja yang bagus untuk berpergian, dan selain itu cuma daster saja yang sebagian warnanya sudah memudar.


Dan kulit mukanya pun terlihat terawat dengan makeup tipis yang ia kenakan, dan satu lagi badannya sedikit berisi juga, rasanya aku tertampar seketika, Istriku di rawat dengan baik oleh pria lain yang baru saja ia kenal, bahkan aku belum seminggu aku tak jumpa sama dia sudah seperti ini keadaan dia, dan jangan di tanya bagaimana perasaan aku, sebagai seorang suami tentu saja aku sangat malu pada diriku sendiri yang tak bisa membahagiakan dia, malah lebih membahagiakan orang lain, uang untuk beli susu saja aku begitu susah mengeluarkannya, aku membuat dia seperti seorang pembantu, memberi nafkah yang tak sesuai dengan yang seharusnya, kalau di telisik lebih jauh uang satu juta tak akan cukup buat makan sekeluarga, apalagi tahu sendiri seperti apa watak keluarga aku yang tak mau makan seadanya, malu aku sungguh malu.


Aku sungguh sangat-sangat tak menyangka bahwa wanita yang di bilang pak Biyan ternyata adalah istriku sendiri.


Dia terbaring lemah di atas ranjang itu, dengan masih ada sisa perban di atas kepalanya.


" Maafkan suami kamu yang tak tahu di untung ini sayang." ucapku dalam hati.


Ingin sekali aku mengubur ke dalam pelukannya, tetapi apa daya, aku mati kutu sekarang aku menggali lubang ku sendiri dan siap untuk di kuburkan, dan apa boleh buat aku dengan terpaksa pura-pura bersandiwara saja di depan mereka, dan kami pura-pura tak saling mengenal.


Aku benar-benar ingin menenggelamkan diri ke dalam sumur saja, sebagai seorang suami dan sebagai seorang ayah harusnya akulah yang bertanggung jawab di sini, bukan pria lain yang mengurusi Mitha di sini.


Kalau Mitha minta pisah dariku aku tak sanggup, jujur aku semenjak tinggal bersama dengan Wulansari semua aku lakukan sendiri, Wulan tak selincah dan segesit Mitha yang selalu menyiapkan segala kebutuhan aku.


Aku mencintai Mitha, dan Wulan juga, itulah yang aku rasakan saat ini, terserah aku mau di bilang egois tetapi aku sangat mencintai keduanya.


Apalagi tadi mendengar pernyataan Pak bosnya Wulan bahwa dia secara gamblang menyukai istri ku, bila Mitha minta cerai sudah di pastikan Wanita itu akan jadi buruan banyak lelaki, sebab setahu aku Mitha adalah wanita yang memiliki magnet tersendiri, apalagi bila dia sudah berdandan aura cantiknya terlihat sekali, jadi jangan remehkan ibu-ibu berdaster bila sudah berdandan, kalian akan klepek-klepek setelah itu.

__ADS_1


Aku harus bagaimana Ya Tuhan,


Melihat wajahnya Mitha yang terlihat ingin menerkam aku saja aku sudah ngeri.


Apalagi bila nanti kita ketemu berdua saja di rumah pasti akan jauh lebih mengerikan aku bingung harus bagaimana mengelaknya pun tak mungkin


Kontrakan Mitha, Wulan dan Pak Biyan berada dalam satu kompleks, terus aku harus bagaimana, untung kemarin sewaktu aku ke rumah kontrakan Mitha aku datang di saat malam, dan pagi-pagi sekali aku sudah pergi dari sana jadi tak ada yang melihat wajah aku ini.


Sementara rumah Wulan juga baru pindah dan tepat di belakang rumah Mitha.


Mitha di rawat dengan baik oleh Pak Biyan, dia di tempat kan di sebuah ruangan VVIP di rumah sakit ini.


Setelah sampai di depan mobil mereka, di sana aku lihat juga ibu mertua dan Dimas, oh anakku itu, aku sangat merindukan dia, begitu aku melihatnya air mata ini merembes tak dapat aku bendung.


Penyesalan, itulah kata yang tepat untuk di sematkan kepadaku.


Beberapa kali aku coba hubungi ponsel Mitha, tetapi tak bisa di hubungi dan ponsel itupun mati.


***


POV Author

__ADS_1


Seminggu sudah Andra mengirim pesan sama sang istri, tetapi sayang sekali nomor itu tak dapat di hubungi, sepertinya memang sudah di matikan.


Andra bingung sekali bagaimana dia mau berkunjung ke sana untuk membicarakan masalah yang terjadi kemarin di rumah sakit itu, sebab Andra malu pada Mitha, dia mengkhianati sang istri, apalagi sebab Pak Biyan sudah mengenal dia sebagai suami dari Wulansari bukan suami dari Mitha, dan satu lagi ketika Pak Biyan tahu Andra punya dua istri tentunya akan menjadi masalah di Perusahaan tempat ia bekerja, dan Andra tak mau jabatannya menjadi taruhannya, sebab dengan susah payah Andra mencapai posisi itu.


Andra ingin menjelaskan posisi dia saat ini pada Mitha istri tuanya, bahwa Andra tak akan menceraikan Mitha, dan juga tak bisa meninggalkan Wulansari.


Andra akan bersikap adil para kedua istrinya itulah nanti yang akan di jelaskan Andra ketika bertemu dengan Mitha.


Gaji bulan ini saja Mitha tak di berikan, bagaimana dia harus menjelaskan, sementara Andra begitu banyak kebutuhan yang harus ia keluarkan, mertuanya sakit dan di rawat di kelas satu, membuat pengeluaran semakin membengkak dan tak terkendali, uang bonus yang lumayan banyak habis dalam sekejap, bahkan sekarang Andra hanya memegang uang hanya untuk bisa membeli bensin saja.


Begitulah bila berlaku zalim terhadap istrinya yang setia dan tak menuntut lebih.


***


Sebulan sudah berlalu, Andra tak kunjung menemui Mitha untuk menjelaskan semuanya, dan akan di bawa kemana rumah tangga dia ini.


Sementara Mitha juga menunggu Andra, menunggu dia sebagai seorang pria yang secara baik-baik meminangnya dulu, dan Mitha hanya ingin tahu sejauh mana Andra peduli pada dirinya dan anaknya itu.


Dua bulan sudah Mitha tak mendapatkan nafkah dari Andra, tetapi Mitha beruntung usaha laundry dia begitu ramai dan bahkan Mitha sudah punya karyawan tiga orang sekaligus, itu juga berkat campur tangan Pak Biyan yang tak henti-hentinya membatu promosi.


Mitha sendiri tak ambil pusing, secara mental dia sudah siap akan semuanya, sebab kepergian dia dari rumah sang mertua adalah tekat Mitha untuk hidup mandiri, dan tak mau selalu di hina dan di caci tiap hari, kini mitha dan Dimas hidup berdua saja.

__ADS_1


__ADS_2