Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Rencana Mengundang Keluarga Aninda


__ADS_3

Setelah dokter menyuntikkan obat untuk Kano kecil, dengan segera dokter tersebut memanggil Akano dan Akane di ruang kerjanya.


"Sus Reina, tolong jagakan Kano sebentar ya. Kita mau berbincang dengan dokter dulu," ucap Akane meminta tolong kepada suster Reina.


"Baiklah tuan," jawab suster Reina dengan kemudian menjaga Kano kecil di samping nya.


Akano dan Akane pun nampak berjalan di belakang dokter tersebut. Ketiga nya pun telah berada di ruang kerja dokter yang telah menangani Kano kecil.


"Silahkan duduk lebih dulu tuan-tuan," ucap dokter tersebut mempersilahkan Akano dan Akane untuk segera duduk.


Akane dan Akano pun nampak segera duduk bersebelahan dan berhadapan dengan dokter tersebut.


"Tuan, akan saya jelaskan kembali bahwa disini pasien mengidap penyakit leukemia bawaan dan segera membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Beberapa hari yang lalu tuan Akane sendiri telah menjalani pemeriksaan poncocokan untuk donor sumsum tulang belakang untuk Kano namun DNA nya pun menolak. Jadi disini kami membutuhkan ayah kandung Kano yang memungkinan besar kecocokan nya adalah 99%. Bagaimana tuan? Siapa di antara kalian yang merupakan ayah kandung nya?" tanya dokter tersebut dengan memandang wajah Akano dan Akane secara bergantian.


"Baik, saya setuju dan telah siap dok," ucap Akano dengan cepat.


"Baiklah, besok pagi kita memulai menjalani serangkaian tes kecocokan terlebih dahulu ya tuan," ucap dokter tersebut dengan memandang wajah Akano.


"Baik dok," tutur Akano.


Setelah pembicaraan di antara mereka selesai kemudian dengan setengah berlari kedua nya nampak ingin segera sampai di ruang inap dimana Kano kecil berada.


...----------------...


Disisi lain, Aninda pun nampak resah menunggu kepulangan Dio hingga hari nampak gelap pun Dio tak kunjung kembali ke apartemen juga.


"Ah yasudahlah sebaiknya aku mandi terlebih dahulu saja," ucap Aninda.


Aninda pun segera menuju ke kamar mandi dan melepas seluruh pakaiannya. Namun Aninda pun nampak tertegun ketika melihat pembalutnya yang sudah tidak menampakkan darah pms nya tersebut.


"Aneh, padahal tadi pagi bangun tidur aku telah pms sampai bocor. Namun kenapa ini malah menjadi tidak pms sama sekali?" ucap Aninda.

__ADS_1


"Ah yasudahlah palingan juga karena faktor kecapekan saja," ucap Aninda yang kemudian dengan cepat menyelesaikan mandi nya secepat mungkin.


Setelah mandi pun Aninda nampak terlihat mulai bingung dan gelisah. Hingga tak lama kemudian nampak Dio yang telah membawa sekantung benlanjaan nya.


"Kamu dari mana saja sih??"tanya Aninda dengan wajah jutek nya.


"Keluar sebentar untuk bertemu Akane dan Akano," ucap Dio dengan jujur dengan raut wajah yang santai.


Mendengar kata Akane dan Akano pun membuat wajah Aninda kembali berubah menjadi pias. Tubuhnya pun bergetar ketakutan serta bayangan dan suara-suara Akano ketika berusaha melecehkan nya pun kembali terngiang-ngiang di kepalanya.


Sedangkan Dio yang mengetahui perubahan di wajah Aninda pun segera mendekat.


"Nin, kamu kenapa??" tanya Dio dengan wajah cemas nya mendekati Aninda.


"Kamu brengsek! Jangan mendekat! Aku tidak mau kamu mendekat ke arahku!" ucap Aninda dengan histeris dan melemparkan benda apa pun ke arah Dio.


Dio pun kemudian berhenti mendekat ke arah Aninda. Dio pun nampak berfikir kesalahan apa yang dilakukannya hingga membuat Aninda berteriak begitu histeris kepadanya.


"Astaga, apakah Aninda kembali trauma hanya dengan aku menyebut nama Akane dan Akano??" gumam nya dalam hati sembari memberikan ruang untuk Aninda tenang untuk sejenak namun masih dalam panatauan nya.


Hufhh


Huuffhhh


Huuuffhhh


Dio pun nampak mengambil nafas dalam dengan sebanyak-banyaknya untuk membuatnya lebih rileks.


"Setelah ini sepertinya aku memang harus segera menikahi Aninda mau atau tidak mau agar semuanya tidak terlambat," gumam Dio.


Dio pun kemudian segera menuju ke dapur dan mengambil gelas plastik serta menuang gelas tersebut dengan air minum.

__ADS_1


Kemudian air minum tersebut pun nampak Dio berikan kepada Aninda secara perlahan.


"Nin, ayo besok ikut aku pulang ke Indonesia. Aku akan memperkenalkan mu kepada ke dua orang tuaku. Dan begitu juga sebaliknya," ucap Dio dengan hati-hati.


Aninda pun tampak menoleh dan melihat wajah Aninda dengan lekat dan dalam.


"Untuk apa?" tanya Aninda dengan wajah bingung.


"Untuk mengenal keluarga ku dan keluarga mu lebih dekat," jawab Dio dengan hati-hati.


"Tidak usah. Aku begitu ragu untuk memperkenalkan mu dengan keluarga ku begitu juga sebaliknya. Karena aku sangat tidak ingin mempermalukan kedua orang tua ku untuk kesekian kalinya karena diriku yang pernah di khianati oleh seorang lelaki dan membuat orang tuaku menjadi malu karena banyk dari tetanggaku yang menggunjingkan kegagalan ku itu," ucap Aninda segera berdiri kembali menuju kamarnya dan meninggalkan Dio seorang diri.


"Huffhh ... salah lagii," ucap Dio dengan setengah frustasi.


Kemudian Dio pun segera menuju ke balkon apartemen nya dengan memandang pemandangan di sekitarnya untuk kembali menjernihkan pikiran nya.


"Bagaimana caraku agar bisa meminta restu orang tua Aninda sedang kan Aninda pun tetap teguh pendirian seperti itu?" gumam Dio dengan menyulut sebatang rokok agar membuatnya kembali bisa berfikir dan lebih rileks.


Tanpa berfikir lagi, Dio pun nampak mendial nomer hp Akano.


"Hallo," ucap Akio dengan wajah parau nya karena baru terbangun dari tidurnya.


"Akio, apa kamu mengundang orang tua Aninda di pernikahan mu yang disini??" tanya Dio dengan setengah berharap Akio untuk memberikan jawaban iya.


"Tidak sih. Aku pikir tidak perlu mengundang banyak orang," jawab Akio yang memang tidak mengundang banyak orang.


"Bagaimana jika aku meminta kamu untuk mengundang orang tua Aninda serta untuk menghadiri pernikahan kalian disini? Biar nanti biaya dan lainnya aku yang menanggung," ucap Dio dengan berharap.


"Boleh, yasudah biar aku saja yang urus semuanya kamu tidak usah khawatir dengan itu semua. Aku tahu maksud dan tujuanmu meminta ku untuk mengundang serta orang tua Aninda," tutur Akio yang nampak bisa membaca dengan jelas maksud dan tujuan Dio tersebut.


"Terimakasih banyak Kio, akan ku berikan kado terindah untuk kamu nanti. Hehehe," jawab Dio dengan tertawa jahil.

__ADS_1


"Tidak usah! Aku tidak ingin menerima kado dari mu. Kado dari kamu dari dulu tidak ada yang jelas sama sekali!" ucap Akio setengah kesal dan segera menutup teleponnya tersebut.


Dio pun nampak tertawa seorang diri mengingat betapa seringnya dirinya menjahili Akio dengan memberikan kado yang cukup tidak masuk akal sedari Akio kecil yang membuat Akio menolak mentah-mentah kado pemberian dari dirinya tersebut.


__ADS_2