
Setelah Ke dua pasangan tersebut makan malam bersama dan terlihat lebih akrab, kedua pasangan tersebut pun segera bergegas undur diri menuju ke tempat persinggahan lain nya.
"Fujiwara cantik banget ya Dio. Dia ramah dan baik juga. Seperti nya Edrick juga terlihat sangat mencintai Fujiwara," ucap Aninda di dalam mobil milik Dio yang sudah nampak melaju.
"Kamu juga cantik dan baik. Aku juga sangat mencintai kamu. Fujiwara awalnya juga tidak mau menerima Edrick. Tapi sepertinya lama kelamaan kelihatan Fujiwara sudah terlihat sangat posesif dengan Edrick seperti tadi yang selalu mengusap tangan Edrick dengan penuh kelembutan," tutur Dio.
"Iya juga ya. Mungkin cintanya Fujiwara telah tumbuh seiring berjalan nya waktu," jawab Aninda dengan melihat trotoar yang nampak ramai oleh pejalan kaki.
"Seperti cinta kita kan sayang. Kamu oasti juga sudah menaruh hati kepada ku kan?" tanya Dio dengan penuh harap.
"Entahlah Dio, seperti nya. Pokok nya aku sudah cukup nyaman ketika berada di dekatmu," jawab Aninda dengan jujur tentang apa yang telah ia rasakan.
Dio pun nampak tersenyum senang melihat Aninda yang semakin menunjukkan kemajuan untuk menerima cintanya sepenuhnya.
"Kamu ingin makan apa sayang?" tanya Dio kepada Aninda.
"Kan udah selesai makan barusan Dio?" seru Aninda gemas.
"Oh iya ya, hehehe," jawab Dio dengan tertawa kecil.
"Aku hanya membayangkan saja bagaimana rasanya tidur di dalam hotel yang sangat tinggi itu," ucap Aninda dengan menunjuk sebuah hotel yang memang tampak lebih tinggi dari yang lain nya.
"Beneran kamu ingin? Sekarang juga?" tanya Dio.
"Aku hanya penasaran saja sih Dio," jawab Aninda.
Namun perkataan Aninda tersebut di anggap serius oleh Dio hingga Dio pun dengan secepat kilat memutar mobilnya menuju ke hotel yang telah ia lewati tersebut.
__ADS_1
Mobil pun segera ia parkirkan ke dalam basemen. Dio pun nampak tersenyum ceria menggandeng Aninda membawa nya masuk ke dalam hotel tersebut.
"Kamu menanggapi ucapanku dengan serius??" tanya Aninda dengan raut muka terkejut.
"Semua ucapanmu akan aku usahakan untuk aku kabulkan," ucap Dio dengan menuju ke tempat resepsionis untuk memesan kamar.
Setelah itu keduanya pun nampak memasuki lift dan menuju lantai atas yang telah berhasil Dio pesan.
"Kita menginap semalam saja tidak masalah kan sayangku?" ucap Dio bergelayut manja di dalam lift tersebut dengan mencium bibir milik Aninda secara sekilas namun penuh dengan has rat.
Aninda pun nampak bingung harus menjawab apa. Karena yang ada di dalam pikiran Aninda adalah rasa penasaran nya terhadap ruangan di dalam hotel tersebut dengan memandangi kota dari balik kaca kamar hotel itu saja tanpa menginap.
Namun sepertinya Dio salah mengartikan keinginan Aninda tersebut dengan membayangkan Aninda yang tampak menginginkan tempat bercin ta di dalam kamar hotel tersebut dengan nuansa yang baru.
Aninda pun nampak segera memberi jarak antara dirinya dengan Dio karena Aninda pun nampak sangat merinding dengan sentuhan yang Dio berikan tersebut.
Dengan segera Dio pun memeluk tubuh Aninda dengan erat sampai di depan kamar yang telah Dio pesan untuk semalam. Dengan segera Dio pun menggesekkan kartu hotel tersebut untuk membuka kamar hotel nya.
Dio dan Aninda pun segera masuk ke dalam dan segera melihat isi ruangan di dalam hotel tersebut.
"Sangat mewah! Berapa harga nya yang telah kamu keluarkan untuk semalam Dio??" tanya Aninda dengan raut muka penasaran.
"Sudahlah jangan kamu fikirkan. Kamu tadi ingin apa disini? Ingin bercin ta denganku dengan nuansa yang baru kan pasti?" tanya Dio dengan senyum me sum nya tersebut menyambar bi bir mungil Aninda tersebut dengan penuh naf su.
Aninda pun nampak terkejut dengan ucapan dan tindakan Dio yang sangat bertentangan dengan keinginan nya tersebut.
Aninda pun nampak sangat kesulitan untuk melepaskan diri dari kungkungan tubuh Dio yang menekan nya dengan sangat kuat tersebut.
__ADS_1
Tangan Dio pun segera menyentuh bagian tubuh Aninda yang menjadi favoritnya dengan sangat lembut hingga Aninda pun menggeliatkan tubuhnya karena merasa sangat geli dan aneh.
"Sayang, bagaimana jika bulan madu nya kita mulai sekarang saja? Anggap saja ini adalah bulan madu sebelum kita menikah," ucap Dio dengan menyentuh bagian-bagian sensitif milik Aninda agar Aninda pun segera terang sang dan tidak menolak keinginan nya lagi.
"Akio dan Amel pasti sewaktu di Puncak waktu itu juga melakukan bulan madu di awal hingga kini Amel pun tubuhnya menjadi lebih gemuk di awal kehamilan nya. Aku ingin melamar kamu disini lebih dulu. Dan akan aku lamar ulang ketika sudah bertemu dengan kedua orang tua kamu besok di pernikahan Akio ya sayang. Mau kah kamu menikah denganku?" tanya Dio dengan spontan memberikan cincin yang telah dia beli tadi pagi bersama Aninda.
Aninda pun nampak sangat terkejut melihat Dio yang benar-benar melamarnya di sebuah kamar hotel.
"Ini serius atau bercanda? Bukan kah cincin ini untuk kado pernikahan Amel?" tanya Aninda dengan raut wajah ragu terhadap Dio.
"Mana ada sih sayang kalau memberikan kado pernikahan seseorang dengan sebuah cincin berlian yang sangat indah? yang ada nanti aku di gampar Akio jika aku memberi kan cincin ini untuk Amel. Diterima ya sayang? Please, aku tidak akan mengecewakan kamu apalagi mengkhianati kamu. Seumur hidupku hanya bersama mu dan untukmu bersama anak-anak kita nanti," tutur Dio dengan panjang lebar meyakinkan Aninda dengan sepenuh hati.
Aninda pun seperti seolah terhipnotis oleh kata-kata Dio hingga dirinya pun tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
"Yes! terimakasih sayangku karena telah menerima lamaran ku," ucap Dio dengan memeluk Aninda dengan sangat erat.
"Ak-aku ..." ucapan Aninda pun nampak di potong oleh Dio dengan sebuah ciu man yang nampak sangat memabukkan untuk keduanya.
Aninda pun hanyut dalam lu ma tan demi lu ma tan yang Dio berikan hingga Aninda pun lambat laun membalas nya dengan ciu man yang nampak kaku.
Hati Dio pun semakin berbunga-bunga ketika Aninda pun nampak mulai berani membalas ciu man nya tersebut walau masih terasa kaku.
Tanpa di komando lagi Dio pun segera membuka kancing atasan yang dikenakan oleh Aninda hingga tak lama kemudian terlihat dua mochi miliknya tersebut yang membuat Dio pun semakin tidak bisa mengendalikan ga i rah nya.
Dengan cepat Dio pun meng hi sap kedua mochinya tersebut dengan bergantian hingga Aninda pun berteriak mera cau dan mende sah karena sensasi yang Dio berikan.
Hingga keduanya pun melakukan pergulatan pa nas di atas tempat tidur tersebut hingga membuat isi kamar tersebut nampak sangat porak poranda karena keganasan Dio dalam melakukan penya tuan yang dia lakukan berkali-kali dengan berbagai gaya yang ia lakukan di berbagai sudut kamar hotel tersebut.
__ADS_1
"Ahhh ahh astaga, se enak ini sayangku. Aku pun rasanya ingin melakukan nya lagi dan lagi," ra cau Dio dengan de sahan yang nampak melengking membahana di dalam kamar tersebut.