Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Love is Blind


__ADS_3

Dio pun duduk termenung sembari mengawasi lelaki aneh tersebut dari tempat duduknya. Hati Dio pun mendadak cemas dan was-was.


Sembari mengikuti kelas zoom nya, Dio pun masih dengan waspada mengintai gerak-gerik lelaki tersebut. Perhatian Dio pun menjadi terpecah. Antara mengawasi lelaki asing tersebut, mengawasi ruang Aninda dari kejauhan, dan mengikuti kelas zoom nya tersebut.


Dalam benak Dio pun bertanya-tanya. Untuk apa lelaki mencurigakan tersebut terlihat mengamati rekaman video cctv yang telah di retasnya tersebut.


Jika tidak ada hubungannya dengan Aninda mungkin Dio tidak akan ikut campur lebih lanjut.


Namun bagaimana jika gerak gerik lelaki tersebut ada hubungannya dengan Aninda?


"Aku harus tetap mengawasi gerak-gerik lelaki itu hingga aku tahu apa tujuan lelaki tersebut hanya meretas ruang kelas yang di gunakan oleh Aninda dan mahasiswa lain nya yang berada di ruang tersebut." Gumam Dio sembari berfikir dengan keras.


Akhirnya Dio pun memutuskan untuk left dari kelas zoom nya hari ini dan lebih fokus untuk mengikuti alur yang sedang di mainkan oleh sosok misterius tersebut.


Tak lama kemudian nampak Aninda dan kawan-kawan nya tersebut keluar dari ruang kelas tersebut dan berpindah kelas di samping ruangan yang tadi di gunakan oleh Aninda dkk.


Dio pun kembali melihat lelaki asing tersebut nampak melihat kearah Aninda yang keluar dari kelas dan menuju kelas yang lain.


Dengan cekatan lelaki tersebut pun kembali mengotak-atik laptopnya tersebut dan menampilkan kembali video rekaman cctv di mana Aninda dan seluruh teman kelasnya berada.


"Astaga, apakah yang sedang di mata-matai lelaki itu adalah Aninda??" Gumam Dio dengan perasaan cemas.


Dengan sembunyi-sembunyi Dio pun merekam seluruh kegiatan yang di lakukan oleh lelaki tersebut. Diam-diam pula Dio pun nampak berkutat di depan laptopnya tersebut meretas seluruh cctv yang ada di kampus tersebut.


Dio pun melihat jika Aninda pun telah di ikuti oleh orang asing tersebut tanpa Aninda ketahui berdasarkan cctv yang baru saja Dio retas itu.


"Apa yang di inginkan dari lelaki itu??" Gumam Dio dengan geram.


Dio pun nampak terus melihat gerak gerik dari lelaki asing tersebut. Tak lama kemudian lelaki asing tersebut pun nampak menutup laptopnya dan membereskan seluruh barang nya tersebut ke dalam tas miliknya.


Lelaki tersebut pun bergegas pergi meninggalkan kantin dengan cepat. Begitu juga dengan Dio yang dengan terburu-buru memasukkan seluruh barangnya.

__ADS_1


Namun begitu Dio ingin mengikuti lelaki asing tersebut mendadak lelaki tersebut pun tampak menghilang di persimpangan jalan kampus dan nampak membaur dengan mahasiswa yang berlalu lalang.


Hati Dio pun berdebar semakin kencang melihat bahaya yang mengintai yang belum di ketahui apa motifnya tersebut memata-matai Aninda secara sembunyi-sembunyi.


Dio pun akhirnya menunggu Anindya dari jarak aman yang tidak terpantau oleh cctv. Karena Dio pun yakin jika sang penguntit tersebut pasti telah melihat setiap gerak-gerik yang Aninda lakukan melalui cctv yang terpasang hampir di setiap sudut ruang di kampus itu.


Dio pun tidak ingin menampakkan wajahnya di sekitar area cctv karena itu akan memudahkan sang penguntit untuk mengorek informasi tentang nya jika terlihat berdekatan dengan Aninda secara terang-terangan.


Kali ini Dio harus memikirkan strategi yang tepat untuk melindungi dirinya dan Aninda.


"Apa yang harus ku lakukan? Pasti di sekitar asrama Aninda pun cctv nya telah di retas oleh penguntit aneh tersebut." Ucap Dio seorang diri.


Jauh dari apa yang di temukan oleh Dio tersebut, sebenarnya Aninda pun telah merasa jika setiap gerak geriknya seperti ada yang mengawasi.


Terkadang Aninda pun merasa takut untuk keluar seorang diri jika itu bukan lah kepentingan yang sangat mendesak.


Sama halnya dikampus pun dirinya juga merasa sedikit takut jika berpapasan dengan orang aneh yang tampak mencurigakan dan selalu menggunakan masker untuk menutup wajahnya tersebut.


Aninda pun tidak berani untuk menceritakan ke gelisahan nya tersebut kepada siapa pun. Karena Aninda belum memiliki bukti jika ia benar-benar di ikuti oleh seseorang.


"Dio lagi dimana? Bisa jemput aku pulang ke asrama sekarang tidak?" Bunyi chat yang Aninda kirimkan kepada Dio.


Dio pun membaca pesan Aninda tersebut dan dengan cepat pun membalas nya.


"Baiklah aku sudah menunggu mu di gerbang depan." Bunyi pesan chat dari Dio.


Dio pun lantas mengambil mobilnya tersebut dan memarkiran di depan gerbang namun yang tidak terlihat oleh cctv.


Tak lama kemudian nampak Aninda berjalan dengan sedikit-sedikit nampak menoleh ke kiri kekanan dan ke belakang.


"Syukurlah seperti nya aman karena tidak nampak orang aneh yang sering berpapasan denganku." Ucap Aninda dan segera menuju mobil yang Dio kendarai dengan cepat.

__ADS_1


"Ayo Dio, kita segera pergi dari sini." Ucap Aninda tergesa.


Dio pun melajukan mobilnya dan membawa Aninda menuju ke rumah makan kecil yang sekiranya tidak terdapat kamera pengawas alias cctv.


"Ayo kita berhenti disini dan segera makan sore bersama. Karena ku lihat jika kamu belum makan siang sedari tadi." Ucap Dio dengan penuh perhatian.


Aninda pun nampak mengikuti langkah Dio yang nampak memasuki sebuah restoran kecil yang menyajikan banyak jenis ramen dan nampak tidak terlalu ramai dan ruangan nya pun terlihat nyaman.


Sembari menunggu pesanan datang, Dio pun membuka obrolan.


"Jika aku mengatakan kamu tengah di ikuti seseorang apakah kamu percaya dengan apa yang aku katakan?" Ucap Dio dengan jelas.


Mata Aninda pun nampak melebar dan ia pun mendadak cemas dan nampak meremas celana yang di gunakan nya untuk menghindari rasa cemas yang berlebihan dalam diri nya tersebut.


"Kamu tahu jika aku di ikuti oleh orang aneh? Jadi itu bukan hanya perasaan ku saja jika aku telah di ikuti??" Ucap Aninda dengan tubuh bergetar.


"Aku baru tahu siang ini jika ada orang yang diam-diam mengikuti kamu. Bahkan orang tersebut pun nampak lihai meretas cctv yang ada di area kampus kamu itu." Ucap Dio dengan menghela nafas untuk menahan gejolak yang ada di dalam dada nya itu.


"Aku baru merasa di ikuti oleh orang aneh yang selalu menggunakan masker dan topi itu selama satu Minggu ini Dio." Ungkap Aninda dengan nada lirih.


"Kenapa kamu nggak cerita ke aku sih nin jika kamu sudah merasa di ikuti orang mencurigakan?? Kamu tahu enggak itu akibatnya fatal sekali jika terlambat sedetik saja. Kita orang asing di negeri orang Nin. Jadi kalau kamu merasa ada sesuatu yang aneh kamu harus segera dengan cepat menghubungi ku." Tutur Dio dengan nada sedikit tinggi karena terbawa emosi.


"Aku awalnya pun mengabaikan perasaan ku jika aku telah di ikuti seseorang. Karena pun selama di Jepang ini aku tidak pernah menyinggung siapa pun Dio. Teman yang ku kenal dan cukup akrab saja hanya dengan Ammar." Tutur Aninda dengan semakin meremas celana nya tersebut dengan kencang.


"Ammar?? Kamu sudah cukup akrab dengan Ammar?? Lebih akrab denganku atau Ammar?? Atau jangan-jangan kamu pun telah berciuman seperti ku dengan Ammar yang kamu katakan dekat itu??" Ucap Dio dengan emosi menggebu karena terbakar api cemburu.


Aninda pun nampak ingin menampar mulut Dio tersebut. Namun dengan cepat pun ia mengurungkan niatnya tersebut. Aninda pun tampak lelah meladeni Dio yang terkadang sikap kekanakan nya tersebut muncul. Ditambah dengan orang misterius yang sedang ia hadapi itu.


Dengan cepat pun Aninda melenggang keluar dari dalam restoran tersebut dan ia putuskan untuk menghentikan taksi yang nampak lewat di pinggiran jalan tersebut.


"Anin!!" Teriak Dio memanggil nama Aninda tersebut yang telah menaiki taksi dan melaju menjauh dari restoran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2