
Zia yang mendengar ucapan Ryu yang sangat menusuk tajam pun menjadi mengurung kan niat nya untuk mengejar Ryu.
Sedangkan Zey yang melihat adik perempuan nya yang terlihat seperti hampir menangis pun segera menghampirinya.
"Kamu sih Zia ... sudah kakak bilang untuk melepas kunciran dan kacamata kamu jika papi dan mami tidak di dekat kita kan tidak masalah. Nanti kalau sudah bell pulang sekolah nanti biar kakak kuncir lagi seperti semula. Kamu biar ada teman," ujar Zey yang melihat adik nya dengan tatapan iba.
Namun Zia pun tetap menggeleng dan menolak usulan ide dari Zey untuk melepas kacamata dan rambut kepang nya tersebut.
"Tidak kak, papi kan selalu memantau kita dari cctv yang ada di setiap sudut sekolah ini. Jadi Zia tidak bisa dan harus tetap menurut apa kata papi," ucap Zia dengan menunduk.
"Yasudah sana masuk ke kelas. Nanti kalau istirahat biar kakak yang menemani kamu bermain. Jangan lagi mau di suruh-suruh Ryu dan Rossaline buat membawakan barang-barang mereka. Walaupun kakak juga merasa aneh dengan dandanan kamu itu namun kakak sama sekali tidak tega jika kamu diperlakukan seperti itu oleh Ryu dan Rossaline ataupun teman-teman kamu yang lain nya," tutur Zey dengan menggandeng tangan adiknya tersebut dan mengantarkan nya hingga masuk ke dalam ruang kelas nya.
"Sudah sana duduk di meja kamu. Kakak mau kembali dulu ke kelas," ucap Zey kemudian.
"Iya kak. Terimakasih banyak," jawab Zia dengan melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan langkah perlahan karena takut akan bullyan yang kembali diterima nya.
"Huh, si cupu tidak berani masuk ke kelas sendirian," ucap Rossaline dengan menubruk kan tubuhnya dengan tubuh Zia hingga tubuh Zia pun jatuh dan punggungnya membentur ujung meja dengan sangat keras.
"Awwhh ... sakittt. Hiks ... hikss ..." ucap Zia dengan terus mengusap punggung nya yang terasa sangat sakit tersebut.
Secara refleks Ryu pun menolong Zia dan memapahnya menuju ke kursi tempat duduknya tersebut.
"Ryu! Apa kamu mau berteman dengan Ziu si cupu itu?? Kamu ingin aku jauhi juga?? Jika kamu kembali menolong Zia maka kamu tidak usah lagi berteman dengan ku!" pekik Rossaline dengan segera pindah tempat duduk menjauh dari Ryu.
__ADS_1
Ryu pun terlihat bingung. "Tapi, Zia adalah putri sahabat papa aku. Kamu jangan berlebihan dan jangan membuat Zia terluka seperti itu. Itu juga tidak baik untuk kamu ke depan nya Ross. Papi Zia sedang mengamati kita melalui cctv di ruangan kelas ini," bisik Ryu kepada Rossaline.
"Hanya cctv saja, untuk apa aku takut. Salah sendiri penampilan nya sangat membuatku sakit mata," jawab Rossaline dengan cemberut.
Dan tak lama kemudian guru TK mereka pun datang masuk ke dalam kelas mereka. Semua nya pun terlihat sangat sibuk dengan pembelajaran yang sedang di jelaskan oleh gurunya tersebut.
Begitu juga dengan Zia yang terlihat sangat antusias dengan semua pelajaran yang di terimanya.
Selalu Zia dengan mudah nya menjawab seluruh pertanyaan yang gurunya berikan. Begitu juga dengan Ryu.
Ryu dan Zia pun di bidang akademik selalu yang paling menonjol lebih pintar dari siswa yang lain nya.
Sedangkan Dio pun di dalam kantornya merasa was-was dengan ke adaan putrinya yang terlihat selalu di bully oleh seorang gadis yang nampak populer dan di sukai oleh Ryu tersebut.
"Harus aku selidiki siapa orang tua murid yang bernama Rossaline ini. Sepertinya sudah terlalu kejam dan sering kali membuat putriku terluka," gumam Dio di dalam hati sembari terus mengawasi rekaman cctv di kelas putrinya tersebut.
"Maaf. Silahkan di lanjutkan lagi presentasi nya," tutur Dio dengan konsentrasi nya yang terpecah menjadi dua.
Meeting pun kemudian berlanjut hingga menuju kesepakatan kerja sama dengan klien nya tersebut yang merupakan warga negara Jepang yang tak lain adalah Edrick. Teman Akio dan juga teman Dio yang merupakan suami dari Fujiwara.
Setelah meeting selesai keduanya pun terlihat bersantai berdua di ruang kerja milik Dio tersebut.
"Bagaimana kabar kamu dan Fujiwara? Anak kalian perempuan atau laki-laki? Aku pun tidak menyangka jika klien yang mengajak bekerjasama dengan perusahaan ku adalah perusahaan milikmu," ucap Dio dengan memerintahkan bawahan nya untuk menyiapkan jamuan kepada tamu nya tersebut.
__ADS_1
"Anak kami laki-laki. Kapan-kapan biar aku ajak anak istriku berlibur kemari. Kamu jadi menikah dengan Aninda kan? Sudah punya anak berapa?" tanya Edrick kemudian.
"Anak pertamaku perempuan, cantik seperti maminya. Yaiyalah bro menikahku dengan Aninda. Walaupun dulu perjalanan kami penuh dengan godaan, cobaan dan perjuangan," jawab Dio yang kembali mengingat bagaimana perjuangan nya dulu dirinya dalam mencari jejak-jejak kepergian Aninda.
"Iya, dulu aku pun sempat mendengar jika pernikahan kamu dengan Aninda di hari krusialnya pun berganti mempelai wanita nya. Jadi kamu sudah pernah menduda dong ceritanya?" tutur Edrick dengan kembali melontarkan pertanyaan kepada Dio.
"Iya sempat menduda, gara-gara ya begitulah jebakan wanita gila dan diriku yang bodoh ini pun ikut terjebak dalam permainan nya. Pasti Akio kan yang bercerita dengan mu?" ucap Dio kemudian.
"Iyalah, siapa lagi kalau bukan Akio yang cerita," tutur Edrick dengan kembali membahas lebih lanjut tentang kerjasama antara perusahaan nya dengan perusahaan Dio.
Disisi lain, terlihat Ryu dan Zey yang terlihat asik memainkan game di komputer di ruangan khusus yang telah disediakan oleh papi nya tersebut.
"Zey, bagaimana jika minggu depan kamu mencoba game buatan ku yang baru aku sempurnakan kemarin malam? Tapi kamu harus bergantian berkunjung ke rumahku," tawar Zey dengan masih menatap layar monitor di depan nya tersebut.
"Bolehlah. Biar aku yang menguji coba nya hasil buatan kamu itu," jawab Zey yang juga merupakan sangat menyukai dunia games tersebut.
Hingga malam pun larut. Ryu pun segera pamit untuk menuju ke kamar tidur nya yang bersebelahan dengan kamar milik Zia.
Disaat melewati pintu kamar milik Zia pun pintu kamar gadis cilik tersebut terlihat belum menutup sempurna dengan lampu yang masih menyala terang benderang.
Jiwa penasaran Ryu pun mengatakan untuk mengintip lebih agar mengetahui apa yang sedang di lakukan oleh gadis cupu tersebut.
Ryu pun membuka pintu tersebut secara perlahan dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zia yang ternyata sudah nampak tertidur dengan sangat pulas dengan rambut yang tergerai indah.
__ADS_1
Ryu pun terlihat mencoba merebahkan tubuh nya di samping Zia yang terlihat jauh berbeda dengan penampilan nya di pagi harinya.
"Sangat cantik jika tidak memakai kacamata tebal dan berpenampilan cupu. Seperti mami Aninda," gumam Ryu tanpa sengaja yang kemudian nampak segera terpejam di samping Zia karena rasa kantuk yang kembali menyerangnya.