
Akano merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan ia pun membuka matanya menatap silau cahaya lampu di ruangan rumah sakit tersebut.
Akano pun nampak terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di tangan nya. Dia pun nampak menoleh dan mendapati anak kecil tampan dengan wajah pucat yang masih nampak tertidur dengan pulas.
"Anak kecil itu anakku ... aku telah memiliki anak," gumam Akano sembari menatap anak kecil tersebut.
"Kano kecil mengidap penyakit leukemia bawaan dari Naomi," ucap Akane menjelaskan.
"Bagaimana bisa anak sekecil itu sudah mengidap leukemia?" ucap Akano dengan suara lemah.
"Penyakit bawaan dari ibunya," ucap Akane dengan wajah datar ketika mengobrol dengan kembaran nya tersebut.
"A-apa?? Naomi juga punya riwayat penyakit leukemia??" ucap Akano raut wajah terkejut.
Akane pun hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
"Lalu dimana Naomi di rawat sekarang?? Aku ingin segera melihatnya," ucap Akano dengan berusaha bangun untuk menemui Naomi.
Hufhh..
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Akane.
"Ayo, segera tunjukkan kepadaku disebelah mana kamar inap Naomi?" ucapnya Akano yang sudah nampak terduduk di bangsal nya.
"Dia telah meninggalkan dunia fana ini," ucap Akane sekuat tenaga berusaha tegar agar tidak lagi mengingat penderitaan Naomi untuk bertahan hidup demi mempertahankan Kano kecil agar bisa lahir di dunia.
"Apa maksud kamu Akane?? Kamu berbohong denganku kan?? Kamu menyembunyikan Naomi dari ku seperti kamu yang telah menyembunyikan keberadaan putraku selama ini kan??" ucap Akano dengan nada suara yang menggema.
Kano kecil pun nampak menggeliat mendengar suara berisik disekitar nya. Namun kemudian ia pun nampak tertidur kembali.
__ADS_1
"Pelankan suara kamu. Aku sama sekali tidak berbohong. Naomi meninggal beberapa jam setelah melahirkan Kano kecil. Naomi ingin menukar nyawa nya dengan melahirkan putra dari orang yang sangat di cintai nya,"
"Naomi pun setiap hari harus menahan rasa sakitnya dan menolak untuk menggugurkan janin nya di awal kehamilan nya. Sehingga proses kemoterapi nya pun terhenti begitu saja hingga kondisi nya pun semakin parah. Namun ia tetap berjuang untuk hidup lebih lama lagi demi bisa melahirkan putra kamu tersebut,"
"Detik-detik Naomi menghembuskan nafasnya terakhir nya, dirinya berpesan untukku agar menjaga putra nya dengan sepenuh hati seperti menjaga anak kandung sendiri. Aku telah melakukan amanat yang di berikan oleh Naomi. Namun ternyata Kano kecil memiliki penyakit bawaan yang sama dengan ibunya," ucap Akane dengan memberikan berkas surat kematian milik Naomi dan berkas-berkas hasil laboratorium mengenai penyakit yang di derita oleh putra nya tersebut.
Akano pun segera membaca lembaran demi lembaran kertas tersebut dengan cepat dan air matanya pun tumpah perlahan menetes mengenai kertas-kertas tersebut.
"Jadi, aku meminta Dio dan Edward menuju kesini bukan semata-mata tanpa tujuan. Kano kecil membutuhkan donor sumsum tulang belakang secepatnya karena kondisi nya semakin hari semakin memburuk. Dan kemungkinan besar pendonor yang cocok adalah kamu. Ayah kandung nya sendiri," ucap Akane menjelaskan.
"Baik! Segera lakukan sekarang juga kalau bisa. Akan aku lakukan apa pun untuk menebus kesalahanku terhadap kalian," jawab Akano dengan cepat.
"Namun, setelah kamu melakukan donor sumsum tulang belakang untuk anakmu maka setelah itu kamu harus kembali ke markas Edward dan tidak ada kemungkinan untuk bertemu Kano kecil lagi," ucap Akane dengan menahan kesedihan yang bergejolak di hatinya.
Raut muka Akano pun berubah menjadi lebih sendu mendengar penuturan Akane. Namun segera ia tersenyum kembali ke arah kembarannya tersebut.
"Tidak masalah. Aku pun mempercayakan putraku untuk kamu jaga. Karena Naomi pun juga telah mempercayakan putraku untuk kamu jaga dan lindungi sepenuh hati," jawab Akano dengan mengusap air matanya yang meleleh teringat kejahatan yang pernah ia lakukan kepada banyak orang dan kini ia pun merasa sangat menyesal.
"Kak, jangan seperti ini. Kakak tidak perlu berlutut di kaki ku seperti ini. Tanpa kakak minta aku pun akan menjaga Kano sampai kapan pun. Karena aku telah menyayangi Kano kecil semenjak ia lahir di dunia ini kak," ucap Akane dengan mendudukkan kakak kembarnya tersebut.
"Kak, pergunakanlah kesempatan kakak untuk menemani Kano kecil sebaik-baiknya selama kakak belum kembali di tawan oleh tuan Edrick," ucap Akane mengingatkan Akano.
Akano pun nampak mengangguk mendekat ke ranjang putra nya tersebut. Ia pun nampak menggenggam tangan putra dengan sangat erat dan air matanya pun terus berjatuhan melihat wajah Kano yang sangat mirip dengan wajah Naomi tersebut.
"Terimakasih sayang telah melahirkan Kano untukku," ucap Akano di dalam hati sembari berterimakasih atas ketulusan Naomi untuknya selama ini dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.
Tak berapa lama kemudian nampak Kano kecil yang telah bangun dari tidurnya.
"Papa, kenapa menangis?" tanya Kano kecil dengan berusaha menggapai wajah Akano untuk menghapus air matanya.
__ADS_1
"Iya, ini papa nak. Maaf kan papa baru menjengukmu," ucap Akano sembari mengecup tangan mungil Kano kecil dengan bertubi-tubi penuh dengan kelembutan.
Kano pun kemudian tersenyum dan melihat sekeliling kamarnya. Tatapan mata Kano pun bertemu dengan mata Akane. Kemudian Kano kecil pun nampak terlihat bingung dan segera melepas genggaman tangan Akano dari nya.
"Kenapa papa ada dua?" tanya Kano kecil dengan wajah yang nampak ketakutan.
Akane pun perlahan mendekat ke alranjang Kano kecil.
"Jangan takut, papa Kano memang ada dua. Papa kembar. Tapi papa Kano yang sebenarnya adalah papa Akano yang menggenggam tangan Kano tadi," ucap Akane berusaha memberikan pengertian.
Kano kecil sendiri kemudian menganggukkan kepalanya.
"Jadi papa Kano ada dua. Asikk. Tapi papa, Kano bingung kalau mau memanggil papa. Semua wajahnya sama," ucap Kano dengan wajah bingung.
"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan om papa, dan panggil ayah kandung kamu dengan sebutan papa. Bedanya om papa memiliki tahi lalat di bawah dagu sedangkan papa kamu tidak memiliki tahi lalat di bawah dagu. Paham?", ucap Akane memberikan penjelasan kepada Kano kecil.
Kano kecil pun mengangguk dan segera duduk memegang tangan kedua papa nya tersebut dengan senyum manis nya.
Hingga tangan Akane dan Akano yang di genggam Kano kecil dengan erat pun tak lama kemudian terkena tetesan darah yang mengalir dari hidung Kano lagi dan lagi.
Akane dan Akano pun tampak panik dan segera menghentikan darah yang terus mengalir dari hidung putranya tersebut dengan menyumbat hidung nya dan menidurkan putra nya kembali dengan segera memencet tombol pertolongan petugas medis.
"Papa ... Kano senang sekali memiliki dua papa yang sangat menyayangi Kano," ucap Kano dengan lirih dan tak sadarkan diri lagi.
"Kano! Bangun nak. Jangan menakuti papa seperti ini di pertemuan pertama kita," ucap Akano dengan terus menggoyangkan tubuh Kano kecil.
"Kak! Jangan di goyangkan seperti itu. Petugas medis telah datang. Kakak jangan terlalu panik. Kita berdoa saja untuk kebaikan Kano kecil," ucap Akane yang berusaha menenangkan Akano tersebut.
"Dokter, saya telah siap untuk mendonorkan sumsum tulang belakang untuk putra saya," ucap Akano dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan, tolong tunggu lah sebentar. Saya masih memeriksa keadaan pasien. Setelah itu mari ikut saya untuk menjalankan serangkaian prosedur yang harus di lakukan untuk melakukan donor sumsum tulang belakang," ucap Dokter tersebut.