
" Mas bagaimana kalau kita pindah saja cari kontrakan? rasanya lebih nyaman bila kita tinggal terpisah, apa lagi kita sudah berkeluarga Mas?" ucapku pada suamiku, dan seketika membuat mata suamiku melotot ke arahku, sejenak aku terdiam untuk menenangkan hatiku, aku yakin sebentar lagi pasti akan ribut jadinya.
" Kenapa kamu selalu tak mengerti aku Dek, Mas tidak bisa meninggalkan Ibu di sini sendiri, lagi pula uang Mas tidak cukup untuk membayar sewa kontrakan, kamu tahu sendiri berapa gaji supervisor ku sekarang." Ucap suamiku dengan wajah yang begitu datar, dia seperti lagi kesal pada ku.
" Mas yang tidak mengerti aku, aku capek Mas kalau seperti ini terus, bukanya aku menolak kerjaan rumah Mas, tetapi kenapa sekarang ujung-ujungnya semua di serahkan kepadaku, aku tak masalah mencuci baju Ibu, tetapi kenapa semua baju yang menghuni rumah ini jadi aku yang mencucinya, bayangkan Mas baju suami Sinta harus aku yang mencucinya, bahkan ********** juga, apa itu pantas Mas??" ucapku dengan geram, aku sudah kesal sekali, muka Mas Andra berubah menjadi kaget dan mulutnya menganga, seakan ia tak percaya pada perkataan aku.
" Sinta itu istrinya bukan aku." Imbuhku lagi.
" APA!?benar itu Dek? kalau begitu ini tak bisa Mas diamkan, Mas akan bicara sama Sinta, ini sangat keterlaluan dia pikir kamu babu di sini," ucap mas Andra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kamu tunggu di sini Dek, istirahatlah dulu, biar Mas yang bicara sama Sinta." suruh suamiku padaku, aku hanya mengangguk saja dengan perintahnya.
POV Andra
Aku tak menyangka Sinta membuat ulah lagi, sebenarnya dia itu memang tak suka bila aku menikah dengan Mitha, alasannya kerena Mita itu orang kampung, tak pantas menjadi istriku.
Tapi aku tak peduli, aku menikah dengan Mitha selain cantik karena dia wanita yang baik, dan penurut selain itu dia sangat sabar.
Beberapa kali memang aku sempat mendengar Mitha dengan Sinta ribut terus, hanya karena masalah sepele, aku tahu persis bagaimana sifat adikku itu dia itu egois dan keras kepala.
Lalu akupun keluar dari kamar, dan mencari adik perempuanku itu.
" Sinta, Sinta!!" seruku dengan suara agak lantang.
__ADS_1
" Kamu di mana?" seruku lagi.
" Ia Mas, kenapa sih pakai teriak-teriak segala" balasnya sambil cemberut, dia keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamarnya.
" Mas mau bicara" ucapku dengan tegas.
" ikut aku" ucapku padanya.
" Duduk " suruhku dengan suara yang agak meninggi.
" Ada apa sih Mas? biasa aja kali ga usah teriak-teriak gitu." Ucapnya dengan ketus.
" Mas mau ngomong sama kamu sebentar, dan jangan membantah sebelum aku selesai bicara, " ucapku padanya dengan penuh penekanan, aku sudah tahu wataknya Sinta yang selalu suka memotong pembicaraan orang.
" Hem" serunya tanpa menatap kepadaku.
" Oh jadi wanita kampung itu mengadu pada kamu Mas?" teriaknya padaku dengan mengembalikan pertanyaan padaku.
" Sinta!" seruku padanya dengan aku menatap tajam padanya.
" Bisa tidak sih, kamu menghargai kakak ipar kamu sedikit saja, hah?" bentak-ku hingga aku tersulut emosi.
" Kamu itu sudah menikah, dan suami kamu itu tanggung jawab kamu untuk urusan pakaian dan lainnya, bukan kakak ipar kamu, selama ini kamu menganggap kakak ipar kamu apa hah? art di rumah ini? tolong hargai sedikit saja, jangan membuat masalah lagi, selama ini aku kurang apa? suami kamu tidak kerja aku tak keberatan memberi dia makan, tetapi tolong hargai istriku jangan kamu jadikan dia babu di rumah ini." Ucapku pada Sinta.
__ADS_1
" Tidak pantas itu Sinta, coba kalau kamu aku suruh mencuci bajuku pasti belum tentu juga mau" ucapku padanya, aku tahu betul seperti apa Sinta ini.
" Hanya karena seperti itu kamu tega memarahi aku Mas" balasnya tak terima.
" Jangan kamu kira ini masalah sepele Sinta, jika kamu tak menuruti aku dan mau mengerti juga, jangan salahkan aku bila aku menyuruh suami kamu pergi dari rumah ini." Ucapku tak mau kalah, aku sudah lelah dengan sikap Bowo yang terkesan cuek, dia tidak merasa punya tanggung.
Andaikan dia tak pilih-pilih pekerjaan pastinya dia akan mendapatkan penghasilan kok walaupun hanya sekedar untuk makan.
" Mulai besuk urusi suami kamu sendiri,dan jangan suka merepotkan orang lain, kalau tidak silahkan pergi dari sini, dia punya tanggung jawab pada kamu. Dan kamu sebagai istri harusnya yang mengurusi dia bukan orang lain, mengerti?!" seruku sebelum aku beranjak pergi dari halaman belakang itu.
Setelah selesai aku mengucapkan perkata ku, akupun berbangkit dari dudukku dan pergi meninggalkan Sinta di halaman belakang seorang diri.
Sepertinya Sinta masih tak bisa terima dengan kalimat protes ku padanya, yang di lakukan Sinta itu keterlaluan, hingga membuat istriku tak betah tinggal di sini, terang aja dia ga betah, kerjaan rumah ini Mitha yang mengerjakan semua, harusnya Sinta membantu nyapu dan mengepel, tetapi ini malah menambah beban Mitha saja, patas saja Mitha minta pindah.
Semoga setelah ini, Mitha tidak minta untuk pindah dari sini, sebab aku belum punya cukup uang untuk mencari rumah kontrakan, dan nanti malah aku yang repot sendiri, bila itu sampai terjadi, aku harus menghidupi dua dapur sekaligus.
Gaji sebulan habis untuk bayar cicilan motor Santi dan untuk makan dan kebutuhan lain, aku tak bisa lagi untuk menabung, semenjak Sinta dan suaminya di sini membuat beban kebutuhan menjadi meningkat, dan ujung-ujungnya istriku yang selalu aku korbankan di sini, dia terima hanya aku beri uang satu juta untuk satu bulan.
Makan selalu mendapat sisa dari kami, aku sebenarnya ga tega, dari pagi sebelum subuh sudah bangun dan istirahat di kala malam saja.
Kadang aku memijit kakinya bila dia sudah berbaring di tempat tidur, sampai dia terlelap karena kecapekan.
" Sabar ya Dek, nanti bila Mas di angkat jadi Manager Mas janji kita akan pindah rumah kalau perlu kita beli rumah dan tak perlu ngontrak seperti apa yang kamu inginkan." ucapku lirih, sambil aku memandangi wajah lelah itu tertidur pulas.
__ADS_1
Biarpun Mitha orang kampung tetapi hatinya baik, dia dulunya adalah seorang karyawan di perusahaan besar, dan rela resign mengorbankan pekerjaan hanya untuk mengasuh buah hati kami, aku sangat menghargai ketulusan istriku, menuruti perintah ku sebagai suaminya, tak pantas bila aku memperlakukan dia seperti ini, bahkan keluarga aku sering mencemoohnya, untung Mitha sabar dan bisa bertahan sampai detik ini.
Semoga setelah aku nasehati Sinta, mau bersikap lebih lunak walaupun aku meragukannya, sebab aku tahu betul siapa Sinta, dia seperti ibu sangat sulit untuk di kasih nasehat.