Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 28


__ADS_3

" APA? KAMU MAU MARAH HAH!!!? PERGI KAMU DARI SINI! TEMPATMU BUKAN DI SINI, PERCUMA SELAMA INI AKU BERTAHAN DENGAN PENGKHIANAT SEPERTI MU, EGOIS DAN TAK TAHU MALU!! " Seru Mitha dengan suara yang lantang dan penuh emosi, dada wanita cantik itu naik turun, matanya sudah melotot ke arah calon mantan suami, sungguh wanita cantik itu sudah tak dapat menahan dirinya lagi, seolah semua perasaan yang menumpuk sejak lama dia keluarkan detik itu juga.


" DIAM!! " seruku dengan mataku melotot ke arahnya, aku tak kalah emosi juga.


" KAMU YANG SOPAN SEDIKIT MITHA" teriakku padanya, Dimas mulai ketakutan, dia terisak di dada ibunya.


" Bagaimana pun juga aku masih suami kamu, selama pengadilan belum memberi keputusan pada kita, kamu masih sah menjadi istriku." Ucapku dengan geram dan penuh penekanan, sambil aku mencengkram bahunya erat-erat, hingga membuat Dimas jadi tambah histeris dan Mitha meringis mungkin menahan sakit ketika bahunya kau cengkram dengan kuat.


" Lepaskan aku, kamu tak berhak mengatur hidupku lagi, seperti aku juga tak dapat berhak atas nafkah dari kamu, dasar pria egois dan tak tahu malu, kamu pikir aku orang bodoh yang hanya kamu jadikan babu gratisan di rumah kamu yang seperti neraka itu, HAH!" balasnya dengan lantang.


Tangan kiriku mencengkram bahunya, dan tangan kananku mengepal dan ketika aku hendak mengangkat tangan kanan ku dan akan melayangkan pukulan ke arah Mitha tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang ku, hingga menghentikan aksiku, aku mengurungkan niatku untuk memukul Mitha, sebab saat itu juga kewarasanku kembali, sehingga bisa mengendalikan diri.


" LEPASKAN DIA!!, jangan hanya berani sama wanita saja, bila kamu lelaki harusnya kamu tak akan berbuat seperti itu pada wanita." Seru seorang dengan lantang, seperti aku pernah mendengar suara itu.


Aku mengurai jemariku dari pundak Mitha, dan aku berbalik badan, ternyata sudah banyak orang-orang berkerumun melihat di pagar rumah ini, dan terlihat pak RT dan Pak Biyan ada di hadapan aku saat ini, nyaliku seketika menciut, melihat Pak Biyan.


Pria tampan dan bertubuh tinggi itu berjalan ke arahku dan Mitha, dengan sorot matanya yang tajam bagaikan elang yang siap membunuh mangsanya.


Tubuhku seakan hilang keseimbangan, aku malu, dan akhirnya semua orang tahu siapa diriku ini, pria yang mempunyai dua istri dan sekarang di gugat cerai sama istri pertamanya.


" Ini urusan keluarga Pak, tolonglah jangan ikut campur."Ucapku pada mereka.


" Kami berhak ikut turun tangan selama kamu masih berlaku baik pada istri kamu, hm... maksudnya calon." Seru Pak Biyan yang seolah mengejek padaku.


" Jaga ucapan anda Pak, Mitha akan mencabut gugatannya," ucapku tak terima.

__ADS_1


" Jangan Mimpi kamu Mas, sampai lebaran monyet aku tak akan mencabut gugatan itu, dan hanya orang yang b*doh saja yang mau bertahan dengan manusia macam kamu dan keluargamu itu." Ucap Mitha dengan sinis.


" DIAM!" seruku tak kalah emosi dengannya, aku tak terima ketika Mitha menghina keluarga aku.


" Sudah Mbak Mitha, sabar ya?" ucap Bu RT yang ada di sebelahnya sambil mengelus punggung istriku itu.


Sementara Dimas mengulurkan tangannya ke arah pria yang bertubuh atletis itu, pria itu berdiri tak jauh dari tempat ku.


Hatiku rasanya ter-cubit melihat pemandangan itu, aku tak dia hiraukan oleh anakku, dia malah minta di gendong oleh Pak Biyan, sambil menangis sesegukan.


" Sudah begini Mbak Mitha dan Pak Andra kita bicarakan baik-baik di dalam saja ya?" Ucap Pak RT yang mengajak kamu masuk ke dalam dan perwakilan beberapa warga.


*****


POV Author


Sebab mau tak mau semua harus di urai dari awal, dan jadinya warga tahu hubungan mereka bertiga seperti apa, siapa Mitha, Andra serta Wulan sebagi istri muda Andra, walaupun dengan berat hati akhirnya Andra mau menerima segala konsekwensinya.


Gugatan tetap berjalan, bahkan besuk lusa sudah ada putusan, jadi agak ada lagi yang harus di permasalahan, sebab kasus sudah selesai dan semua berdamai.


****


Akta perceraian sudah di tangan Mitha, perasaan lega telah menyelimuti hati wanita itu, setidaknya ia punya status yang jelas tidak di gantung seperti jemuran.


Bukan hanya Mitha yang merasa lega, ada seorang pria jauh lebih lega dan bahagia dengan turunnya surat perceraian itu, siapa lagi kalau bukan Abiyan, pria macho dan tampan itu berkali-kali berucap syukur atas putusan pengadilan.

__ADS_1


Sekarang Abiyan nampak harus waspada pada beberapa pria yang tengah mendekati Mitha, pria tampan itu berpikir keras bagaimana caranya ia mengutarakan isi hatinya pada wanita pujaan hatinya itu.


Hari menjelang malam hujan yang sedari sore hari menguyur bumi tak juga berhenti.


Seorang pria yang berada di balik kemudi menajamkan matanya mengawasi jalan, sebab air hujan yang menguyur menganggu pengelihatannya, dan dengan sigap mata elangnya menangkap sosok yang berjalan di tengah guyuran hujan, nampak dari kejauhan seorang wanita berjalan terburu-buru dia memakai jas hujan, dan payung untuk melindungi tubuhnya dari guyuran hujan yang kian deras.


Pria itu nampak gusar tetapi Biyan tahu siap wanita itu, sebab hanya Biyan yang punya payung itu, payung yang berlogo perusahaan miliknya, dan payung itu pernah ia berikan pada wanita pujaan hatinya itu.


Abiyan berhenti di sebrang jalan dan membuka kaca jendela mobilnya dan berteriak memanggil seseorang di sebrang sana." MITHA!!"serunya dari dalam mobil.


Sementara wanita yang di panggil pun menengok ke arah suara itu, dan menganggukan kepalanya saja, lantas wanita itu berjalan lagi dengan cepat.


" MITHA TUNGGU" Abiyan nampak kesal dengan sikap Mitha yang cuek.


Pria itupun turun dan nekat lari ke sebrang jalan, sampai di sebrang jalan pria tinggi dan tampan itu mengambil gagang payung yang di pegang oleh Mitha.


" Buru-buru sekali mau ke mana kalian?" Biyan tahu ada seorang bocah tersembunyi di balik jas hujan itu.


" Dimas demam Pak Biyan, ini saya mau bawa ke bidan yang praktek di depan itu, sebab dari tadi saya pesan taksi online tak juga menyahut jadi saya nekat saja jalan kaki ke depan." Tutur Mitha yang terlihat gugup.


" Sudah ayo masuk mobil saja, kita pergi ke Dokter langganan aku." Ucap Biyan dengan memaksa, pria itu memaksa dan menarik bahu Mitha untuk berjalan ke arah mobilnya dengan cepat.


" Tapi Pak-" ucap Mitha yang belum usai meneruskan kalimatnya.


" Sudah kamu jangan bantah ya, pikirkan Dimas, ngerti." Ucap Biyan ketika sampai di depan pintu mobil, pria itu dengan sabar membantu melepaskan jas hujan yang Mitha pakai sambil memegang payung.

__ADS_1


Setelah Mitha masuk, Abiyan melipatnya dengan asal jas hujan itu, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Tubuh kekar itu bergerak ke arah depan dan masuk kedalam mobil, dan duduk di belakang kemudi.


__ADS_2