
Tubuh kekar itu bergerak ke arah depan dan kemudian masuk kedalam mobil, dan kemudian duduk di belakang kemudi.
Sesaat Abiyan menoleh ke samping sebelah kirinya dan mengawasi wajah Mitha yang terlihat cemas, sementara Dimas tertidur dengan tenang, terlihat dari bibir bocah kecil itu tampak merah merona, menandakan bahwa panas tubuh anak itu lagi tinggi.
Abiyan mendesah kesal, lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Dimas, ekor mata Biyan melirik pada Mitha, lalu dengan cepat ia menjalankan mobilnya
" Panasnya tinggi sekali Mitha, kenapa kamu tidak telpon aku bila Dimas sakit Hah?" ucap Biyan dengan suara tinggi.
Mitha hanya bisa terdiam tanpa suara, mata wanita itu terpejam sesaat, sepertinya menahan sesuatu yang begitu sesak di dada, dan menggigit bibir bawahnya dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Sudahlah lain kali jangan begini, sudah aku kasih tahu bila ada apa-apa telepon saja, oke?" ucap Abiyan lembut, dia tak ingin Mitha tertekan dan membuat Mitha tak nyaman di sebelahnya, wanita cantik berkerudung hitam itu lalu menyandarkan tubuhnya di jog kursi depan, dan matanya terpejam sesaat.
" Kita langsung ke IGD saja ya biar cepat di tangani." Imbuh Abiyan pada Mitha, saat Abiyan mendengar rintihan anak kecil itu, akhirnya dia harus bergerak cepat.
Dimas mengigau di sepanjang jalan, untuk lalu lintas tak begitu macet, mungkin karena hujan turun terlalu lebat hingga membuat pengendara motor enggan keluar rumah, lima belas menit sampai juga di rumah sakit yang di tuju, rumah sakit yang sama sewaktu Mitha di rawat kala itu.
Biyan tanpa pikir panjang langsung parkir di depan IGD, seorang satpam menghampiri mobil itu, dan membukakan pintu buat Mitha, lalu Mitha membawa Dimas keluar dari pintu depan, sementara Abiyan meminta tolong pada satpam tersebut untuk memarkirkan mobilnya, dan Abiyan mengekori Mitha yang tengah berjalan jauh darinya ke arah ruang periksa.
" Tolong Dok, " seru Mitha dengan suara parau, pada seorang wanita cantik yang memakai jas putih itu.
Lalu Dokter wanita itu mengangguk dan tersenyum, " Baik ibu sini letakkan di sini," suruh Dokter itu menunjuk pada sebuah bangker yang ada di sana, dan seorang perawat menyuruh Mitha untuk keluar sebentar, agar Dimas di tangani dengan baik.
Lalu Mitha keluar dari ruang tersebut, bertepatan dengan Abiyan yang terlihat berjalan tergesa-gesa ke arah Mitha.
__ADS_1
" Gimana?" ucap Abiyan yang cemas juga.
" Belum tahu Pak, masih di periksa di dalam." Ucap Mitha sambil menggigit bibir bawahnya.
" Kamu tenang ya, aku sudah meminta pada petugas di sini untuk mencarikan Dokter anak yang terbaik di sini, supaya Dimas di tangani dengan cepat." Ucap Biyan pada Mitha, supaya wanita itu tak terlalu gugup dan sedih.
Sungguh Abiyan tak sanggup melihat wanita itu menangis lagi.
" Bapak Pulang saja, nanti takutnya Malika kangen sama Bapak, lagian ini sudah hampir malam." Ucap Mitha sambil wanita itu meletakkan bobotnya di sebuah kursi di dekat ruang tersebut.
" Kamu jangan khawatir aku sudah menelpon Siti bahwa aku akan pulang telat." Ucap Biyan menjelaskan.
" Bapak perlu istirahat, kan habis pulang kerja," tutur Mitha tanpa melihat pada Biyan, wanita cantik berkerudung hitam itu lebih suka menunduk sambil mengawasi ubin yang ada di depannya.
" Kamu tidak usah mikirin aku Mitha, aku tidak pernah merasakan di repot kan kok, tunggu sini dulu ya aku pergi sebentar." Ucap Biyan pada Mitha yang menunggu Dimas di depan ruangan bercat putih dengan perasaan tak menentu.
Tak selang berapa lama seseorang membuka pintu dari dalam, dan terlihat seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut dan di damping oleh seorang perawat, Mitha lantas berdiri ketika melihat pintu itu terbuka.
" Keluarga dari Anak Dimas?" tanya seorang perawat yang keluar bersama dengan seorang Dokter wanita.
" Ia saya." Mitha melangkahkan maju ke depan menuju depan pintu di mana Dokter dan perawat itu berada.
Dokter cantik itu lalu menyapa Biyan yang tiba-tiba sudah ada di belakang Mitha.
__ADS_1
" Mas Biyan." Sapa dokter cantik itu yang terlihat di id card nya bernama Selly.
" Hello sel," balas menyapa pria tinggi nan tampan itu.
" Keluarga Mas?" tanya dokter itu dengan tatapan memuja.
" Ia calon istriku" balas Biaya datar, sementara Mitha seketika kaget dengan pernyataan Abiyan pada Dokter cantik itu, kepala Mitha langsung menoleh ke arah belakang dan melotot ke arah Abiyan.
" Kanapa sayang? kamu juga sakit." Tanya Abiyan sambil memegang Bahu Mitha dan menatap mata Mitha yang tengah meminta penjelasan, Mitha risih lalu Mitha berpaling dan menoleh lagi ke arah depan, di mana Dokter itu berada.
" O ia, bagaimana keadaannya Dimas Sell?" tanya Abiyan langsung pada Dokter itu, dia mengabaikan Mitha yang masih tak percaya akan ucapan Biyan.
" Trombosit menurun drastis, untung sekali cepat-cepat di bawa ke sini, dan semoga saja dia bisa melewati masa kritisnya dengan baik, mm... ini kita tunggu sebentar setelah semua selesai baru kita alihkan ke ruang rawat inap, sama sekalian kita menunggu hasil dari uji darah dulu."Ucap dokter cantik itu memberikan penjelasan pada Mitha.
" Terimakasih Dok," Ucap Mitha dengan tulus, lalu tersenyum.
" Sama-sama Bu Mitha, tapi tunggu sebentar ya Bu, sementara pasien belum bisa di tengok, untuk sementara belum bisa di pemindahan ruang rawatnya, maka dari itu mohon di ⁰urus dulu di bagian administrasi." Tutur dokter itu menjelaskan pada Mitha.
" O... itu sudah saya urus kok Sell." Balas Biyan memotong pembicaraan kedua wanita itu.
" O... ya sudah ya? m... kalau begitu tunggu sebentar biar semua di siapkan, Mas Biyan ada waktu sebentar?" ucap Selly mengalihkan pembicaraan, mata Selly bergantian menatap pria yang ada di belakang Mitha.
" Oke." balas Biyan kemudian.
__ADS_1
" Kamu tunggu sini dulu ya sayang, dan jangan ke mana-mana ya," ucap Biyan dengan lembut sambil menarik Mitha untuk duduk di kursi tunggu, di depan ruangan di mana Dimas berada, dan Biyan mengulurkan minuman yang ada dalam cup dan bungkusan plastik pada Mitha.
" Makan dulu, dan jangan membantah, ok?" ucap Biyan pada Mitha seperti menyuruh anak kecil yang tak mau makan. Mitha bingung dengan sikap Biyan yang berlebihan, dan dia ingin mengutarakan sesuatu tapi Mitha tahan, dia menunggu nanti saja bila keadaan membaik, Mitha tahu seperti apa Biyan, pria yang tak mau di bantah, akhirnya dia mengikuti saja, maunya dia apa, hingga nanti bila ada waktu senggang dia akan meminta penjelasan dari pria tersebut.