
"Sayang ... ayo bangun," ucap Dio dengan menggoyangkan perlahan tubuh gemoi istrinya tersebut.
"Eum, biarkan aku tertidur sebentar lagi ya ..." jawab Aninda dengan lirih serta mata yang nampak masih terpejam.
"Sayangku ... ini sudah pagi. Ibu hamil alangkah baiknya segera bangun untuk olahraga serta sarapan pagi. Ayo sayangku, bangun," ucap Dio penuh kelembutan dengan terus mendaratkan ciuman di wajah imut Aninda tersebut.
"Sayang ... aku baru saja tertidur. Ini semua juga karena ulahmu yang terus meminta untuk mengulang lagi dan lagi hingga subuh kan? Badanku rasanya lelah dan remuk sekali. Biar kan aku tertidur beberapa jam lagi ya? Please, kali ini saja?" ucap Aninda dengan menatap mata suaminya tersebut dengan penuh harap.
Dio yang mendengar ucapan istrinya tersebut pun menjadi merasa sangat bersalah karena memang semua itu adalah ulah dirinya yang sudah tidak bisa menahan keinginan nya lagi untuk tidak menyentuh istri nya tersebut.
"Baiklah sayangku tidur lah lagi," ucap Dio dengan mengelus perut Aninda dengan penuh kelembutan.
Tak berapa lama Aninda pun kembali terlelap dalam mimpi indah nya. Sedangkan Dio pun masih menatap wajah istri nya yang sangat di cintai nya tersebut dengan penuh cinta.
"Terimakasih sayang karena kamu telah kembali hadir untuk menua bersamaku merawat anak-anak kita bersama," ucap Dio dengan memeluk erat istrinya yang terlihat sudah kembali terlelap di dalam mimpi indahnya tersebut.
"Anak-anak papi, baik-baik ya di dalam perut mami. Yang akur ya kalian di dalam perut mami," ucap Dio dengan kembali mengelus perut Aninda.
"Eh anak papi merespon! Perut kamu bergerak-gerak sendiri lho sayang!" pekik Dio dengan menggoyangkan tubuh Aninda agar segera terbangun.
"Euumm, sudah sejak seminggu yang lalu sudah mulai aktif bergerak. Sayang, jangan berisik ya. Aku benar-benar mengantuk ini," ucap Aninda dengan kembali terpejam.
Dio pun terlihat mengangguk dan kemudian kembali memeluk tubuh istrinya tersebut dengan raut wajah bahagia.
Namun baru beberapa menit Dio merebahkan tubuhnya kembali, dirinya pun segera kembali terbangun karena teringat jika dirinya harus kembali melanjutkan kuliah daringnya agar kuliahnya tersebut segera lulus lebih cepat mengingat dirinya yang sebentar memiliki anak dan menjadi orang tua.
"Enak saja kembali tertidur. Malu lah sama anak-anak aku nanti karena papi nya belum juga lulus kuliah," gumam Dio yang kemudian membuka laptopnya dan tetap mengikuti kuliah daring nya tersebut.
Sedang kan Akio pun telah di nyatakan lulus dengan predikat lulusan terbaik dan terlihat sedang merayakan kelulusan nya tersebut bersama sang istri dan kedua orang tua nya tersebut di sebuah restoran mewah yang berada pusat kota Tokyo.
"Sayang, makan lah yang banyak untuk nutrisi anak kita di dalam perut mu," ucap Akio seperti dengan terus menambahkan banyak makanan di piring Amel tersebut.
"Selalu seperti ini!" pekik Amel di dalam hati dengan menatap malas makanan yang terlihat menggunung tersebut.
Akio pun menatap heran dengan wajah muram istrinya tersebut.
"Kenapa sayang? Ada yang tidak kamu suka?" tanya Akio dengan menatap wajah istrinya tersebut.
"Ini terlalu banyak sayang. Aku tidak sanggup jika harus menghabiskan banyak makanan yang selalu kamu tumpuk-tumpuk di atas piring ku ini seperti ini. Ini bukan nya membuat selera makan ku meningkat namun yang ada aku tidak ada nafsu untuk memakan ini semua," ucap Amel dengan mencoba memakan sedikit demi sedikit makanan yang terhidang di atas piring nya tersebut.
"Maaf sayang. Aku kira semua ibu hamil porsi makan nya menggunung seperti ini. Maka dari itu aku selalu memberimu dengan porsi yang sangat banyak. Sini aku bantu buat makan berdua biar kamu tidak merasa berat," ucap Akio yang kemudian membantu melahap makanan yang terhidang di piring istrinya tersebut.
"Iya banyak, namun bukan sekali porsi langsung banyak begini sayangku. Harusnya porsi sedang namun sering," ucap Amel dengan kembali mengunyah makanan nya tersebut.
"Kamu ingin aku memegang perusahaan papa yang ada di Indonesia atau di Jepang?" tanya Akio di sela-sela obrolan nya tersebut.
"Di mana ya? Di Indonesia saja ya? Namun kita sesekali masih bisa kembali melihat pemandangan Jepang kan?" tanya Amel yang terlihat sangat tertarik dengan negeri sakura tersebut namun enggan untuk meninggalkan tanah kelahirannya.
__ADS_1
"Bisalah sayang. Gampang itu. Kamu mau menyelesaikan kuliah mubsetelah melahirkan atau gimana sayang?" tanya Akio yang kembali mengingat kuliah istrinya yang menjadi terbengkalai karena ke hamilan nya tersebut.
"Aku mengikut Aninda sajalah sayang," jawab Amel dengan enteng.
"Lho? Kenapa begitu??" tanya Akio dengan wajah heran.
"Ya maksudnya aku itu kalau Aninda meneruskan kembali kuliah nya maka aku juga ikut meneruskan kuliah ku. Kalau enggak ya aku juga enggak. Kan dari dulu aku mengikuti jejak Aninda. Hehehe," jawab Amel dengan terkekeh pelan.
Sedang kan Akio pun menggeleng pelan melihat tingkah konyol istrinya tersebut.
"Terserah kamu sajalah sayang. Yang penting jaga dengan baik pola makan kamu ya," ucap Akio yang kemudian di jawab Amel dengan anggukan kepala.
Disisi lain, Dio yang telah menyelesaikan kuliah daring nya pun terlihat terburu-buru membangunkan istrinya tersebut.
Karena menjelang siang istrinya tersebut belum juga kunjung terbangun dan melupakan sarapan pagi nya.
"Sayang, cepatlah bangun. Ayo makan dulu. Kasihan anak-anak kita di dalam perut kamu ini jika kamu melewatkan sarapan pagi seperti ini," tutur Dio dengan terus membangun kan istrinya tersebut.
"Iyaa ..." jawab Aninda perlahan dengan mengusap wajahnya tersebut.
Dengan sigap Dio pun terlihat mengambilkan menu makan mereka yang terlihat sudah dingin tersebut dari atas nakas untuk segera di berikan kepada istrinya tersebut.
"Mau di pesan kan yang masih hangat atau yang ini enggak masalah sayang?" tanya Dio yang terlihat bingung karena makanan mereka tersebut memang terasa dingin karena kondisi ruangan hotel tersebut.
"Ini saja tidak masalah," jawab Aninda dengan santai karena dirinya sangatlah berat hati jika harus membuang-buang makanan mengingat bagaimana susah nya mencari sesuap nasi.
"Sayang ..." ucap Aninda secara tiba-tiba.
"Iya, gimana istriku?" tutur Dio yang kemudian segera menatap wajah istrinya tersebut.
"Aku ingin jalan-jalan dengan Amel. Boleh kah?" tanya Aninda yang tiba-tiba ingin bersantai berdua bersama sahabat nya tersebut seperti dulu.
"Sekarang?" tanya Dio kemudian.
"Iya lah sekarang. Masak iya besok?" jawab Aninda dengan terus mengunyah makanan yang ada di dalam piring nya tersebut.
"Tapi, aku lihat di postingan Amel hari ini kelihatan nya mereka berdua sedang berada di Jepang. Hari ini Akio kan wisuda sayang," ucap Dio dengan wajah bingung.
"Benarkah?" tanya Aninda memastikan lagi ucapan suaminya tersebut.
Sedangkan Dio pun dengan segera menjawab dengan anggukan kepala serta menyodorkan ponsel pintar nya tersebut yang tengah menunjukkan postingan sosial media Amel hari ini.
"Baiklah," jawab Aninda dengan raut wajah kecewa.
"Kamu enggak lagi marah sama aku karena Amel sedang di Jepang kan sayang?" tanya Dio yang melihat perubahan di wajah istrinya tersebut.
"Tidak," jawab Aninda dengan cepat dan segera membuka koper nya dan terlihat mengambil baju ganti.
__ADS_1
Aninda pun dengan cepat melenggang menuju ke dalam kamar mandi dan terlihat segera mengunci pintu kamar mandinya tersebut dari dalam.
Hingga Aninda keluar dari kamar mandi pun Aninda masih nampak terdiam dan hanya menanggapi perkataan suaminya tersebut dengan jawaban iya dan tidak.
"Sayang, temani aku renang yuk? Kamu duduklah saja di kursi yang tersedia di pinggiran kolam itu dan lihat lah aku berenang ya?" pinta Dio yang hanya di tanggapi Aninda dengan satu anggukan kepala saja.
Aninda pun terlihat duduk di kursi yang di maksud oleh Dio dengan wajah yang terlihat sedang melamun.
Sedangkan Dio sendiri terlihat tengah berenang mengitari kolam renang tersebut dengan berbagai macam gaya dengan tujuan untuk unjuk kebolehan di depan istrinya tersebut.
Namun lagi-lagi Dio pun merasa di abaikan oleh istrinya tersebut yang tengah melamun dan tanpa sedikit pun melihat ke arah nya.
Akhirnya Dio pun menyudahi kegiatan berenangnya tersebut dan menghampiri istrinya tersebut.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dio dengan tiba-tiba menghadap istrinya yang masih asik melamun itu.
Aninda pun terlihat sangat terkejut karena tiba-tiba suaminya tersebut datang dan membuyarkan lamunan nya itu serta terlihat berdiri di hadapan nya secara tiba-tiba.
Suaminya tersebut terlihat masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan dalaman saja yang memperlihatkan tubuh atletis suaminya tersebut disertai tetesan air yang terus menetes dari tubuhnya tersebut.
Aninda pun terlihat menatap tubuh suaminya itu dari atas hingga kebawah yang terlihat sangat rupawan tersebut dan membuat jantung nya kembali berdebar-debar ketika suaminya itu terlihat membopong dirinya untuk masuk ke dalam kolam.
"Di--Dio, aku tidak bisa berenang," ucap Aninda dengan panik tatkala tubuhnya telah berada di dalam kolam renang.
"Tenang, ada aku. Kamu lagi sedih ya? Kenapa?" tanya Dio secara langsung kepada istrinya yang terlihat merajuk itu sembari mengajari istrinya berenang sedikit demi sedikit.
"Enggak kok," jawab Aninda yang terlihat mulai bergerak kesana kemari di dalam air tersebut dengan di pegangi oleh Dio.
"Kamu ingin bertemu Amel kan? Bagaimana kalau kita susul Amel dan suaminya?" ucap Dio dengan masih terus melatih istrinya tersebut.
"Benarkah??" tanya Aninda dengan mata berbinar dan menghentikan gerakan tubuhnya tersebut dan terlihat menepi ketepian kolam.
"Benar. Tapi besok saja ya sayang kita berangkatnya. Sekalian kita honeymoon disana," bisik Dio di telinga Aninda yang membuat Aninda pun geli merinding karena sapuan nafas Dio karena bisikan nya tersebut.
"Mau tidak sayang?" bisik Dio kemudian dengan memeluk tubuh istrinya tersebut dari arah belakang.
"Sudah ku tebak pasti ada mau nya. Baiklah," ucap Anindya dengan mengurai pelukan suaminya tersebut.
"Boleh tidak sayang?" tanya Dio lagi dengan kembali memeluk istrinya tersebut.
"Iya boleh," jawab Aninda asal.
"Jadi kamu mau melakukan nya denganku di tepi kolam ini kan, sayang?" ucap Dio dengan memeluk tubuh istri nya sangat erat dan mengecup leher Aninda dengan sangat lembut.
"Ha?? Maksud aku bukan boleh yang melakukan anu-anu disini. Tapi boleh untuk berangkat menyusul Amel nya be--" ucapan Aninda pun nampak terpotong oleh serangan dan sentuhan dadakan yang diberikan oleh Dio.
Hingga Aninda pun kesulitan melepaskan diri dari jeratan suaminya itu dan pada akhirnya luluh dengan buaian sentuhan yang diberikan oleh suaminya tersebut.
__ADS_1
"Sa--sayang, ahhh ... jangan disini. Nanti bagaimana jika ada pesawat yang lewat dan melihat tubuh kita yang polos ini sedang melakukan anu-anu di kolam ini. Sa--sayang, ahhh ... ahh Dio nakal!" pekik Aninda dengan wajah yang terlihat memerah.