Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 27


__ADS_3

POV Andra


" Assalamualaikum" ucapku ketika aku sudah berdiri di depan pintu rumah yang sederhana ini, tetapi tampak begitu bersih dan rapi, sudah tidak di ragukan lagi kalau Mitha yang mengurusi semua ini.


" Waalaikum salam," jawaban dari dalam membuat aku sedikit lega, lalu terdengar langkah kaki mendekat dari balik pintu ini, dan suara anak kunci terdengar di buka dari dalam, lalu muncullah wanita cantik yang mengenakan kerudung pasmina berwarna coklat yang sangat aku rindukan, dan kepalanya saja yang napak ke luar, dan sebagian tubuhnya masih tertutup oleh daun pintu.


Dia terlihat kaget dengan keberadaan aku yang sudah ada di depan pintu rumahnya, akupun juga kaget dengan perubahan wajahnya itu, terlihat seperti dulu waktu pertama kami bertemu, wajah cantik dan teduh, dengan kulit putih dan bersih.


Alasan aku menemui Mitha karena pada saat sidang pertama dia tak hadir, hanya pengacara dia saja yang mewakilinya.


Dan aku butuh penjelasan itu, mengapa secepat itu dia berpaling dariku, apa sudah ada pria yang lain di hati dia, sungguh aku tak terima bila dia menjadi milik pria lain.


Besuk lusa adalah sidang putusan kami, aku masih berharap Mitha membatalkan semuanya, aku akan menjanjikan pada dia hidup dengan layak dan memberi nafkah yang sesuai dengan keinginan dia, walaupun aku tak yakin akan bisa memberikan dia uang tersebut, sebab uangku sudah habis aku bagi-bagi ke keluarga dan istri keduaku.


Tapi sekarang yang penting adalah Mitha luluh dulu dengan janjiku itu.


Melihat mukanya membuat aku takjub tak percaya, Mitha yang dulu beda sama Mitha yang sekarang, dan pipinya sedikit cabi, cantik banget lebih cantik dari pada Wulan istri keduaku.


" Maaf kan aku" Seruku sambil aku menundukkan kepalaku dengan menautkan jemariku satu sama lain, tak sanggup aku menatap wajahnya yang datar itu, mengisyaratkan bahwa dia tak peduli padaku ini.

__ADS_1


" Bisa aku ketemu sama Dimas?" tanyaku kemudian sambil menatap padanya dengan rasa iba, Mitha masih terlihat diam, matanya memindai aku dari ujung atas sampai ujung bawah, lalu dia tersenyum sinis padaku.


Aku yang di tatap seperti itu menelan saliva aku dengan susah payah, rasanya tenggorokan aku jadi kering kerontang, kalimat tak bisa lagi aku ucapkan, matanya seakan mau menguliti aku hidup-hidup.


" Silahkan duduk di sana" ucapnya dengan datar, sembari jari tunjuk Mitha mengarah pada sebuah kursi yang ada di teras rumah, aku tersentak ketika dia menyuruh aku menunggu di kursi luar, apa dia tak salah bukankan aku masih menjadi suami dia, aku masih berhak untuk masuk ke dalam rumah ini.


Akupun menuruti saja kemauan dia, aku tak mau bikin ribut dengannya, lalu akupun menganggukan kepalaku, dan melangkah ke arah kursi yang di tunjuk Mitha tadi.


Lama aku menunggu di kursi depan rumah, hingga ada seorang wanita dengan menggendong bocah kecil masuk ke halaman rumah kontrakan Mitha.


"Lha kok di sini pak? bukankah Bapak ini adalah suami dari Bu Wulan ya tetangga belakang rumah."Ucap wanita yang tidak aku kenal itu, aku tersentak kaget dengan pertanyaan dia, berarti dia tahu banyak tentang aku.


Seketika aku gugup sekali harus jawab apa, lantas aku hanya tersenyum saja padanya, dan untungnya dia langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Mitha, tanpa menunggu jawaban aku lagi, setelah bilang permisi padaku.


Aku tersenyum pada lelaki kecil yang teramat sangat aku rindukan itu, badannya terlihat tambah gembul, kulitnya putih bersih seperti ibunya.


Dimas juga nampak berbeda seperti ibunya, bajunya terlihat baru tak kusam seperti dulu, serta tubuh mereka lebih terawat semenjak tinggal terpisah dari aku.


Hatiku rasanya ter-cubit melihat kenyataan ini.

__ADS_1


" Dimas, sini gendong sama ayah, Dimas tidak kangen sama ayah Nak?" ucapku dengan lembut dengan bibir yang gemetaran.


" Dimas mau ikut sama ayah Nak?" tanya Mitha pada Dimas yang masih enggan untuk menatap aku, kepalanya masih di sandarkan pada dada ibunya.


" Ayo Dimas ikut ayah sebentar yuk?" bujuk ku sekali lagi.


Bocah itu menggelengkan kepalanya dan tak mau menatap aku, matanya mulai tertutup mungkin dia lagi ngantuk, Dimas anak yang tenang dia tidak suka rewel.


" Jangan memaksanya, harusnya kamu datang sebelum dia berubah jadi seperti ini, sebenarnya dia begitu merindukan kamu, beberapa kali menanyakan kamu yang tak kunjung pulang ke sini, yang kamu pikirkan hanyalah keluarga kamu saja dan istri muda mu, tetapi kamu tak memikirkan kami, kamu sungguh tak punya hati, kamu hanya mengurus istri baru kamu dan anak sambung kamu saja, jadi jangan salahkan kami bila berubah seperti ini." Seru Mitha dengan lantang dengan raut mukanya yang datar itu.


" Tapi sudah aku bilang aku mengurusi Bowo waktu itu." Kilahku padanya.


" Mitha semua bisa di rubah bila kamu mencabut gugatan perceraian itu, aku mohon Mitha, kasihan Dimas dia akan kehilangan sosok ayah." Ucapku penuh permohonan.


" Jangan mimpi kamu, dan jangan bawa-bawa Dimas dalam masalah ini, kamu tetap ayahnya aku tidak akan menjauhkan kamu dari dia, dan semua keputusan aku tak ada yang berubah, dan sampai jumpa besuk lusa pagi di pengadilan agama, dan silahkan pergi dari sini dan jangan lupa bawa barang-barang kamu dari sini." Ucap Mitha dengan sinis.


" Tapi Mitha, ijinkan aku ingin menggendong Dimas sebentar?" Ucapku dengan mata berkaca-kaca.


" Aku tidak melarangnya, apa kamu tidak lihat ini, Dimas tidak mau sama kamu, aku juga tidak melarang dia kok, tapi walaupun dia masih balita tetapi dia punya perasaan juga, tidak seperti kamu, yang tak tahu diri dan tahu malu!!" sembur Mitha yang terpancing emosi, seolah kemarahan dia meledak.

__ADS_1


Aku terhenyak kaget mendengar Mitha berucap dengan nada tinggi seperti itu." Mitha jaga mulut kamu itu ya!!" seriku tak kalah kerasnya juga, aku ikut-ikutan terpancing emosiku juga.


" APA? KAMU MAU MARAH HAH!!!? PERGI KAMU DARI SINI! TEMPATMU BUKAN DI SINI, PERCUMA SELAMA INI AKU BERTAHAN DENGAN PENGKHIANAT SEPERTI MU, EGOIS DAN TAK TAHU MALU!! " Seru Mitha dengan lantang dan penuh emosi.


__ADS_2