Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2 ) Bab 7


__ADS_3

Bagi Mitha ini sudah hal yang biasa dia lihat, merasakan kelakuan mertua dan adik iparnya.


Selesaikan sudah pekerjaan rumah pagi ini, seperti biasa aku bergegas masuk ke dalam kamar, tak seperti biasanya penghuni kamar ini kenapa masih belum pada bangun, biasanya usai aku kerjakan pekerjaan rumah, paling tidak dia antara mereka sudah ada yang bangun, entahlah apa yang terjadi semalam aku saja tidur bagaikan orang m*ti saking lelahnya.


Ah masa b*doh aku akan bangunkan Mas Andra untuk segera mandi dan berangkat kerja, biasanya Mas Andra habis sholat subuh tidur lagi, bila Dimas tidak kebangun makan Mas Andra akan tidur.


" Mas bangun Mas" aku tepuk pipi suamiku perlahan-lahan, Mas Andra pun membuat matanya perlahan-lahan.


" Jam berapa ini Dek?" tanyanya sambil menguap dan mengusap mukanya dengan telapak tangannya.


" Setengah tujuh Mas, buruan ayo jangan sampai telat." Ujarku memperingatkan.


Lalu Mas Andra pun duduk sebentar dan menggeser tubuhnya ke tepi ranjang dengan menguap beberapa kali.


" Mas kenapa tumben rumah sepi? biasanya Mitha bila sudah selesai memasak dan beresin rumah paling tidak sudah ada yang bangun."Tanyaku pada suamiku.


" Oh, itu Dek, tadi malam Bowo masuk rumah sakit dia kecelakaan, terus kita semua menyusul ke sana untuk melihat keadaannya, sengaja Mas tidak membangunkan kamu, Mas tahu kamu pasti capek jadi Mas biarkan kamu tidur." ucap Mas Andra menjelaskan, mendengar kabar itu aku membekap mulutku seolah tak percaya.


" Innalilahi, O... pantas kok sepi, pasti pada kecapaian, terus bagaimana keadaan Bowo sendiri Mas?" tanyaku yang penasaran.

__ADS_1


" Kakinya patah Dek, terus yang di tabrak meninggal dunia " Seru Mas Andra lagi menjelaskan.


" Innalilahi wa innailaihi rojiun" aku seketika terdiam sesaat.


" Kamu di rumah saja dek, jaga Dimas, biar Mas yang mengurus semuanya, kalau Ibu masih bersikap tidak baik sama kamu, lebih baik kamu diam saja ya." ucap Mas Andra menasehati.


Aku hanya mengangguk pasrah saja, gagal lagi rencana aku yang ingin pindah hari ini juga, sebab aku tadi sudah mempersiapkan diri untuk bicara empat mata dengan Mas Andra, eh malah aku yang mendapatkan kejutan lain, tak mungkin keadaan lagi berduka seperti ini aku pergi begitu saja, lagi pula kasihan Mas Andra pasti dia yang repot mengurusi semua ini.


***


" Aduh Dek, Mas harus nyari uang kekurangan biaya untuk santunan yang meninggal dan biaya berobatnya Bowo, uang lima puluh juta itu tidak sedikit, Mas harus nyari di mana." Keluh Mas Andra padaku ketika dia sampai di dalam kamar, dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Lho kenapa jadi Mas Andra yang harus bertanggung jawab pada kecelakaan Mas Bowo?" tanyaku yang keheranan, sebab itu bukan tanggung jawab suamiku, tetapi Mas Andra yang pusing jadinya.


" Ya silahkan Mas bila kamu punya uang, uang yang Mas Andra berikan padaku tiap bulan saja, pas buat makan sebulan satu keluarga, maaf aku tak bisa bantu." ucapku dengan kesal.


Entahlah aku sudah lelah dengan semua ini, walaupun aku masih punya simpanan cukup, aku tak akan berniat untuk membantu mereka yang tega menzolimi aku tiap hari, itu sudah jadi konsekuensi.


" Benar Dek kamu tidak ada simpanan sama sekali?" tanya Mas Andra dengan mengiba padaku, sepertinya dia tahu kalau aku punya uang simpanan dulu sewaktu masih kerja.

__ADS_1


" Sudah aku bilang Mas, aku dapat nafkah dari kamu hanya satu juta Mas, buat makan sekeluarga, belum bayar listrik token dan beli susu Dimas, sabun dan lain-lain, coba bayangkan Mas, apa aku bisa menabung? tentu saja tidak Mas, malah kurang." Seruku mulai terpancing emosi.


" Ia Dek Mas tahu, maksud Mas adalah simpanan uang pribadi kamu dulu, mas pinjam untuk menutupi kekurangan ini." seru Mas Andra lagi.


Sudah aku duga dia pasti mengarah ke situ, karena aku sudah tak tahan lagi akhirnya aku sekalian terbuka saja padanya.


" Maaf mas uang simpanan aku sudah aku pakai untuk membayar sewa kontrakan, dan modal usaha jadi saat ini aku sudah tak ada lagi, jujur sebenarnya hari ini aku pingin pindah dari sini Mas, tetapi berhubung Mas Andra sibuk aku harus mengurungkan niat ku pindah hari ini." jawabku panjang lebar.


Mendengar penuturan ku mata Mas melotot ke arahku tak percaya dengan apa yang aku ucapku.


" Ya ampun Mitha kenapa kamu nekat sih, sudah Mas bilang bertahanlah di sini, Mas sudah Menasehati Sinta dan ibu untuk tidak mengusik mu, apa itu belum cukup?" kali ini Mas Andra terlihat marah sekali, tetapi aku tak peduli, nasehat dia tak mempan, tadi saja sewaktu dia pergi seharian, tak ada yang berubah malah semakin parah sikapnya terhadap aku.


" Apa harus aku rekam kejadian tadi siang, untuk menjelaskan pada kamu Mas, jujur mas aku sudah tak sanggup lagi tinggal di sini, dengan atau tanpamu aku akan tetap pindah Mas, terserah Mas Andra mengecap aku sebagi istri yang durhaka, tetapi apa aku akan terus-terusan seperti ini Mas, mendengar caci maki keluarga kamu setiap hari, semua yang aku lakukan selalu salah di mata mereka, padahal aku sudah melakukan hal yang terbaik!!" Ucapku berapi-api dengan air mata yang berlinang menetes di pipiku tiada henti, aku sudah tak tahan lagi kali ini, semua aku tumpahkan saat ini juga, sebab aku sudah terpancing dengan sikap Mas Andra terhadapku, Dimas ikut menangis di gendonganku, aku menepuk-nepuk pantatnya sembari menenangkan dia, walaupun aku masih dalam keadaan tersedu-sedu.


" Mitha!!" seru Mas Andra, dia mungkin tak percaya aku bisa histeris seperti saat ini.


Terlihat Mas Andra juga menahan emosinya, nafasnya naik turun tiada henti, lalu dia pun keluar dari kamar meninggalkan aku dengan Dimas.


Jujur aku sebenarnya tak berniat untuk melawan suamiku, tetapi karena aku sudah tak tahan, dan aku bertahan bukan hanya sehari dua hari tetapi selama aku tinggal di situ, maka kemarahan yang menumpuk ini meledak juga.

__ADS_1


Hingga keputusan aku tak bisa di ganggu gugat, termasuk Mas Andra sendiri, dan akhirnya aku putuskan besuk aku akan pindah dari sini.


Ini sudah keputusan final, biarlah Mas Andra nanti bolak balik ke rumah ini dan rumah kontrakan yang aku tempati, yang jelas aku ingin terpisah dari keluarga ini, aku menepuk-nepuk pantat anakku hingga tertidur, supaya aku bisa berkemas-kemas, untuk kepindahan aku besuk, tadi siang aku sudah membeli beberapa kardus kosong yang akan ku jadikan tempat bajuku dan Dimas, sebab koper dan tas jinjing yang aku punya tidak cukup, maka aku membeli dua kardus besar untuk baju Dimas dan aku, bismillah maafkan aku ya Allah bila ini menjadi murkamu, tetapi aku juga harus


__ADS_2