Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Sudah Ingat?


__ADS_3

Dio pun kemudian bergegas masuk ke dalam dan menuju ke dalam kamar Aninda. Kamar pun nampak tertutup. Dengan cepat Dio pun mengetuk pintu kamar Aninda.


Ttook Ttokk Tttokkk


"Nin, yuk makan malam di luar," ucap Dio dengan mengetuk pelan pintu kamar Aninda.


Tak lama kemudian nampak Aninda keluar dari dalam kamarnya. "Enggak usah sih Dio, aku enggak lapar. Aku mau tidur saja."


Mata Aninda pun nampak sembab dan suara nya pun nampak parau seperti sehabis menangis. Aninda pun segera menutup pintunya kembali. Namun gerakan Aninda lebih cepat dari usaha Dio untuk mendorong pintu kamar tersebut agar terbuka lebar.


Dituntun nya Aninda untuk segera duduk di pinggiran kasur. Dio pun nampak menggenggam kedua tangan Anindya dengan perlahan.


"Kamu kenapa menangis? Maafin aku jika perkataanku tadi membuat kamu tidak nyaman dan membuat mu menangis," ucap Dio dengan menatap lekat wajah Aninda.


"A-aku tidak menangis kok. Kamu jangan salah mengira," ucap Aninda berusaha untuk mengelak.


Dio pun kemudian memeluk Aninda dan menepuk punggung Aninda secara perlahan. "Jika ada apa-apa atau hal apa pun yang kurang membuatmu nyaman, bilanglah kepadaku jangan di pendam sendiri. Apa guna nya aku sebagai kekasih mu? Kenapa setelah kejadian itu hubungan kita menjadi lebih renggang sayang?"


Pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar begitu saja di mulut Dio yang membuat hati Aninda semakin galau dan menjadi menangis tersedu-sedu kembali.


"Huhuhuhu ... aku telah kotor dan ternoda Dio. Kenapa kamu masih juga baik sama aku?" ucap Aninda yang masih belum yakin jika Dio lah yang mengambil keperawanan nya.


Yang dia ingat hanyalah potongan kejadian dirinya yang nampak di sentuh-sentuh oleh seorang lelaki yang memiliki suara mirip sekali dengan suara sensei Akane dan sama sekali tidak ada ingatan jika Dio lah yang mengambil kesucian nya.

__ADS_1


Jadi Aninda pun menjadi tidak ada rasa percaya diri sama sekali untuk bersanding dengan Dio. Apalagi setiap saat Dio selalu mengajak nya untuk segera menikah yang membuat Aninda semakin tertekan dari hari ke hari.


Aninda pun nampak khawatir jika Dio ingin menikahi nya bukan karena dirinya yang masih mencintainya, namun karena bentuk rasa bersalah karena dirinya telah di nodai orang lain.


"Hei, honey listen to me. Yang mengambil keperawanan adalah aku. Benar-benar aku. Bukan Akane atau Akano atau siapa pun itu. Seandainya kamar ini terpasang cctv pastilah akan aku tunjukkan kepadamu dengan betapa gila nya aku ini yang telah berani mengambil keperawanan kamu seperti mengambil keuntungan dari kejadian yang menimpa dirimu,"


"Tapi sumpah demi apa pun, aku lah satu-satunya yang telah merenggut kesucian kamu. Jadi jangan khawatir kan apa pun lagi ya? Kamu hamil atau tidak hamil pun akan segera aku nikahi secepatnya," ucap Dio dengan menyentuh kedua tangan Aninda dan menciumnya bertubi-tubi penuh dengan cinta.


Aninda pun nampak menggelengkan kepalanya. "Se-sejujurnya ak-ku belum percya," ucap Aninda dengan nada tersendat-sendat.


"Kamu butuh bukti bahwa aku lah yang merenggut kesucian kamu?" tanya Dio dengan menatap lekat wajah cantik nya Aninda tersebut.


Aninda pun nampak menganggukkan kepalanya sembari menyeka air matanya. Tanpa di komando lagi Dio pun segera mencium bibir mungil Aninda dengan perlahan. Me nye sap nya meliuk-liuk kan lidah nya menjelajah area rongga mulut milik Aninda.


Sedangkan Aninda pun masih tampak menggelengkan kepalanya.


Melihat Aninda nampak menggelengkan kepalanya pun membuat Dio kemudian mengerat kan tubuh Aninda dan kemudian ia rebahkan di kasurnya tersebut.


Dengan cepat Dio pun segera menci um dan menye sap leher Aninda sehingga lehernya di penuhi oleh warna kemerah-merahan.


"Ahh ... Dio ini sangat ge-geli, apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Anindya menahan geli di sekujur tubuhnya.


Bukan nya berhenti namun Dio pun segera membuka piyama serta dalaman yang di kenakan oleh Aninda hingga nampak polos dan membuat Aninda bingung dan ketakutan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengingatkan kamu kembali sayang jika aku lah satu-satunya yang telah menyentuhmu luar dan dalam," ucap Dio yang kemudian meraup mochi kepunyaan Aninda yang terpampang indah dan sangat padat tersebut.


Dengan cepat Dio pun menye sap ke dua mochinya tersebut secara bergantian dan meninggalkan bekas kemerahan-merahan yang membuat Aninda pun men de sah. "Ahh Dio, stop."


Namun ucapan Aninda pun sudah tidak nampak di hiraukan lagi hingga seluruh tubuh Aninda pun penuh dengan bekas cu pangan mulut Dio yang telah nampak sangat ber ga i rah tersebut.


"Aku tidak ingin hubungan kita menjadi semakin hambar dan kamu terlihat semakin menjauhi ku sayang. Aku ingin memiliki mu seutuhnya dan segera melahirkan anak-anak untukku," ucap Dio dengan membuka seluruh pakaiannya hingga telihat Bu rung nya pun telah nampak tegak menjulang.


"Aku ingatkan kembali akan kejadian waktu itu sayangku," ucap Dio dengan memasukkan perlahan Bu ring nya tersebut ke dalam gua milik Aninda.


Aninda pun nampak menjerit kaget. "Di-dio apa yang kamu lakukan?" ucapnya dengan berusaha mendorong tubuh Dio dengan keras.


"Rupa nya kamu belum mengingatnya sayang? Kamu waktu itu hanya mengatakan jika milikmu sakit ketika milikku telah menembus gua milikmu dan kemudian kamu pun semakin liar hingga suara de sa han kita pun nampak menggema di area kamar kita," ucap Dio yang perlahan miliknya pun sudah masuk ke dalam gua milik Aninda.


"Di-Dio ahh kamu gila," ucap Aninda antara menolak namun de sa han nya pun keluar mengalir begitu saja ketika milik Dio pun nampak menusuk penuh kedalam miliknya yang membuatnya merasa terbang melayang dengan mengerjapkan kedua matanya menahan sensasi beda yang telah Dio berikan.


"Nikmatilah sayangku," ucap Dio dengan masih memompa tubuh Aninda dengan cepat sembari me nye sap kedua mochi milik Aninda tersebut hingga keduanya pun nampak me nge rang me ra cau dan men de sah.


Hingga tak lama kemudian milik Dio pun nampak berkedut hebat dengan Dio yang terus saja memompa miliknya dengan cepat.


"Ahhh aaahh, enak sekali Nin. Seperti inilah yang kita lakukan waktu itu," Ra cau Dio dengan terus menusuk hingga tak lama kemudian tubuh Aninda pun nampak meng ge lin jang dengan hebat.


"Akhhh ... Di-dio," Ra cau Aninda dengan mencengkeram punggung Dio karena telah mendapatkan pele pasan nya yang pertama.

__ADS_1


"Sudah ingat?" tanya Dio lagi dengan tersenyum smirk ke arah Aninda dengan menusuk dengan ritme yang lebih cepat dan menggila.


__ADS_2