
POV Karina
Di tengah-tengah aku mau merebahkan tubuhku di atas karpet yang sudah di alasi bedcover sama Mas Pram, ponsel di saku aku tiba-tiba berbunyi.
" Siapa Karin" tanya Mas Pram padaku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
" Temanku Mas yang bawa mobilku dan barang-barang berharga ku" jawabku datar.
" Ya sudah suruh ke sini saja jangan keluar dulu tanpa aku" balas Mas Pram tegas.
Aku mendengar Jawaban dia membuat aku menjadi berbunga-bunga, entahlah sejak pertama aku melihat dia di kantor waktu itu, hatiku jadi berdebar-debar, pada dasarnya aku masih Jomblo, dan lama ga punya komitmen dengan seorang Pria melihat dia pertama kali aku rasanya ada sesuatu di hatiku ini.
Tapi banyak gosip yang beredar banyak karyawati naksir berat sama dia, contohnya saja si Bella sekertaris aku itu, yang udah kaya cacing kepanasan saja bila Mas Pram berada di dekatnya, huh dasar orang ke gatelan sungutku dalam hati, saat lihat polah tingkahnya lewat cctv di ruanganku,
Jujur semenjak melihat mas Pram juga, aku jadi tambah semangat menghadapi masalah perusahaan yang sangat pelik, apalagi aku mendengar kalau Pak Hamdan dan Mas Pram adalah orang kepercayaan Ayahku, membuat aku tiba-tiba seperti punya power lebih, secara aku butuh dukungan dan bantuannya selain itu juga aku suka berdekatan dengan dia, seperti sekarang ini aku sudah ada di tengah-tengah keluarga yang hangat dan sayangnya padanya, kami berada di kosnya yang lumayan luas menurut ku, bila hanya di tinggali sendiri.
Aku ketemu sama Ibu dan sepupunya, dan satu lagi seorang wanita bernama Zaenab, dia siapa entahlah kalau tak lihat dari gelagatnya, dia buka siap-siapnya Mas Pram, tetapi mereka kelihatan ada hubungan khusus, entahlah tetapi belum jelas hubungan seperti apa antara mereka berdua.
Aku bahagia Mas Pram begitu perhatian padaku saat ini, ketika aku sakit dia memberiku obat, dan sekarang saat ini ketika Pria bernama Bram mau ketemu sama aku, dia melarang aku ketemu kecuali kalau dia ikut, padahal dia adalah sahabatku dekat aku, kami sama sekali ga ada hubungan apapun, sepertinya dia cemburu, aku terkekeh dalam hati.
__ADS_1
" Istirahat dulu gih, biar cepet sembuh," suruhnya tanpa bantahan.
" Tapi gimana dengan Bram?" balasku.
" Biar Mas yang temui dia saja, Karina istirahat saja di sini," balas Mas Pram tanpa bisa aku membantah lagi. Lantas aku hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti.
Melihat interaksi aku sama Mas Pram yang kelihatan begitu intens membuat gadis yang bernama Zaenab itu jadi cemberut ke arahku, yang aku tafsir usianya seumuran dengan aku, mukanya kian masam ketika Mas Pram perhatian sama kondisi aku.
" Mas, jangan tinggalkan aku ya, kalau Mas Pram mau menemui Bram aku tetap ikut, jangan di tinggal soalnya aku ada urusan yang tidak di wakilkan" ucapku agak keras biar di dengar gadis yang bernama Zaenab itu, jadi tambah meradang, hingga membuat aku tambah senang, karena berhasil aku godain dia, dan mood dia seketika ga enak di lihat.
" Ia Mbak Karin jangan mau di tinggal sama Mas Pram nanti takutnya Mas Pram di gondol orang baru tahu rasa deh, kalau menurut aku di kekepin aja Mbak, aku akan ikut jagain Mas Pram deh jadi jangan khawatir, Mbak ga akan rugi dapat Mas Pram aku jamin Mbak" crocos Fatimah yang tak ada saringannya itu, aku tahu dia memanas-manasi si Zaenab itu, so dari tadi dia nyindir-nyindir Zaenab terus, entahlah hubungan seperti apa antara Mas Pram dan Zaenab itu sebenarnya, aku belum sempat menanyakan lebih jauh, sebab aku sendiri masih bingung dengan masalahku sendiri.
" Fatimah mau ke depan beli teh dan kopi dulu Mas, nanti buat bude kalau mau minum teh, Mas mau nitip apa?" tanya Fatimah.
" Karin kamu butuh sesuatu?" Mas Pram malah padaku.
" Aku pingin Coklat Mas kalau ada?" seruku yang sedikit manja padanya, kalau mood aku lagi kaya gini coklat yang bisa mengembalikan mood aku, lalu aku melirik ke arah Zaenab lewat ekor mataku.
Dan benar saja, kulihat wajah Zaenab jadi masam dan melihat tak suka padaku, 'aku ga peduli' seruku dalam hati.
__ADS_1
Aku jadi bertambah yakin ada permasalahan di antara mereka, entah itu apa aku ga tahu, aku kepo ingin cepat-cepat mengoreknya nanti dari Fatimah yang memang juga dari tadi nyindir Zaenab ga henti-hentinya.
" Nanti Mas saja yang carikan, sekarang tidur dan jangan banyak pikiran biar cepet sembuh" suruh Mas Pram.
" Iya Mas," aku menurut saja seperti seorang Istri, secara aku juga bahagia dong di perhatikan sama Mas Pram, pria idaman di kantor, orangnya ganteng dan ga neko-neko.
Walaupun aku banyak yang naksir, terutama dari anak temen Ayahku tetapi aku ga ada yang satupun klik di hatiku, mereka semua seperti mau memanfaatkan aku saja, sebab aku yakin mereka itu ngejar aku karena selain aku good looking aku juga anak orang kaya. duh pede banget aku ini, secara aku mempunyai wajah yang melankolis bah artis cantik Indonesia Din* Lorenz*.
Tetapi Mas Pramudya tidak seperti Pria kebanyakan yang nyebelin, dia beda sama yang lain, entah apa tetapi dia itu ada yang istimewa.
Cara dia bersikap pada orang lain, dan perhatiannya tak di buat-buat deh.
Apalagi lihat cara kerjanya cekatan dan tak banyak intrik pokoknya, aku semakin suka sikapnya kebapakan bisa membuat hati ini meleleh, bahkan klepek-klepek.
Pria berpenampilan sederhana dan berwajah tampan itu sangat mengagumkan, kulitnya yang putih bersih dan tubuh atletisnya selalu menggoda untuk di sentuh, kadang aku sendiri berpikir yang tidak-tidak ketika satu ruang sama dia.
Dan yang lucunya lagi aku suka memanggil dia bila di kantor itu iseng aja, biar dekat-dekat gitu, jujur kadang aku ga suka bila Mila itu perhatian sama dia rasanya gedek saja aku padanya juga. 'Cemburu' Of course sebab tak terima aja dia mendekati lelaki pujaan hatiku.
Tapi sayangnya kalau di kantor mereka sering dekat, sebab sama-sama bawahan Pak Hamdan, tahu sendiri aku selalu cemburu melihat kebersamaan mereka terlalu intim, Mila yang sok kalem itu sering bawain bekal makan siang pada Mas Pram hampir tiap hari lagi, siapa yang ga panas dingin terbakar cemburu coba, melihat ayang pujaan hati di perhatikan sama wanita lain, duh gemes aku jadinya.
__ADS_1
Misiku saat ini adalah meluluhkan dia agar dia mau menikah dengan aku tanpa paksaan dan ikhlas, dan itu harus, karena aku menyetujui tantangan Ayahku, bahwa aku harus cepat menikah.