
Makan sore Aninda dan Dio pun menjadi kacau karena kedatangan Ammar yang tanpa mereka duga.
Aninda pun mencuri pandang melihat wajah suaminya yang sedari tadi terlihat cemberut dan terus berdiam diri tanpa ada nya obrolan di penghujung makan sore kedua nya.
"Sayang ... maaf ya? Itu teman kampus dari Malaysia yang juga melakukan pertukaran mahasiswa dan satu kelas denganku. Aku dari awal hanya menganggap nya sebagai teman dekat saja selama di perkuliahan kami itu. Tapi aku tidak menyangka jika Ammar nekat menyatakan cintanya untuk ku di hadapan kamu," ucap Aninda dengan berusaha untuk menjelaskan agar suaminya tersebut tidak terus mendiamkan nya.
Dio pun kemudian mendongak kan wajah nya dan kemudian menatap wajah istri cantiknya tersebut dengan menghela nafas panjang.
"Iyaa, aku paham jika banyak sekali yang naksir sama kamu. Namun pemenang nya tetap lah aku yang telah berhasil memiliki mu seutuhnya. Aku tadi hanya sedang mengontrol hati, pikiran, dan perasaanku saja yang nampak terlihat kacau karena kedatangan teman kamu yang sangat memiliki bakat untuk merebut istri orang," tutur Dio yang kemudian kembali tersenyum serta menggenggam jemari Aninda.
Bulan madu ke duanya pun di lalui dengan khidmat tanpa ada nya hambatan yang berarti.
Aninda pun sudah terlihat bertemu beberapa kali dengan Amel selama bulan madu nya ke Jepang tersebut.
Dan kini Aninda serta Dio pun telah kembali dari honeymoon nya tersebut dan telah menjalani hari-hari nya seperti biasanya.
Aninda pun telah memutuskan untuk mengajukan izin cuti kuliah selama kehamilan nya yang semakin terlihat membesar tersebut. Begitu juga dengan Amel.
Kedua nya pun terlihat sering bertemu di acara kelas senam kehamilan yang di ikutinya bersama ibu-ibu hamil lain nya.
Kandungan Amel pun telah menginjak usia sembilan bulan sedang kan usia kandungan Aninda pun sebentar lagi memasuki bulan ke delapan.
"Ahh, Nin. Hamil bayi satu saja aku sudah nampak kelelahan dan ngos-ngosan. Apalagi kamu yang tengah mengandung dua bayi dengan perut kamu yang terlihat sangat besar itu apa kamu enggak ada capek nya sama sekali?" tanya Amel dengan heran karena wajah Aninda yang tidak nampak kelelahan sama sekali.
"Di jalani dengan sepenuh hati kunci nya kan, Mel. Aku melatih tubuhku dengan terus bergerak. Agar persalinan ku nanti lancar dan normal. Kamu yang sebentar lagi melahirkan tinggal menunggu hari rajin-rajinlah bergerak agar proses persalinan kamu lancar," ucap Aninda menasehati sahabat nya tersebut.
Hingga tak terasa hari persalinan Amel pun tiba. Perutnya yang sedari tengah malam terasa aneh pun hanya bisa membolak-balik kan tubuhnya di kasurnya tersebut.
Akio yang melihat tubuh istrinya yang terlihat gelisah pun menjadi terbangun dan segera menatap wajah istrinya yang sudah terlihat pucat tersebut.
"Kamu kenapa sayang??" tanya Akio dengan panik.
"Pe-perutku sedikit-sedikit sakit. Jadi aku susah buat tidurnya hingga menjelang subuh ini," ucap Amel dengan terbata karena menahan rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba datang dan pergi.
"Sebentar sayang, biar aku panggilkan mama dulu. Aku tidak paham jika soal begini. Mau aku urut pun aku takut jika akan berakibat fatal," ucap Akio dengan segera terbangun.
"Sa-sayng, se-sepertinya aku akan me-melahirkan," ucap Amel dengan suara yang kian terbata dan lemah.
Akio yang mendengar ucapan istrinya tersebut pun segera menepuk keningnya.
"Iya kamu benar sayang! Ini sudah tanggal hpl kamu! Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Akio dengan cepat segera mempersiapkan perlengkapan baju-baju bayi serta lain nya lagi untuk di masukkan ke dalam bagasi mobil nya.
Kemudian Akio pun segera menggendong Amel dan mendudukkan nya di kursi mobilnya tersebut.
Mendengar suara ribut-ribut pun mama dan papa Dio terlihat bangun dan melihat anak serta menantunya yang tengah bersiap untuk menuju ke rumah sakit.
"Mau kemana Akio?!" tanya sang mama dengan setengah berteriak karena mobil yang di kendarai putra nya pun telah melaju perlahan.
"Mau ke rumah sakit internasional ma! Istriku akan segera melahirkan! Mama dan Papa segera menyusul lah!" teriak Akio yang terlihat menyembulkan kepalanya dari jendela.
__ADS_1
"Ayo Pa! Menantu kita akan segera melahirkan! Ayo cepat untuk segera bersiap menuju ke rumah sakit internasional!" pekik Mama Akio dengan panik.
Sedangkan di sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit internasional di Bali, terlihat Amel yang terus merintih menahan sakit di perutnya yang terus mendera nya.
"Sayang bertahanlah!" pekik Dio dengan terus melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan terlihat terus menyalip mobil dan motor lain nya.
"Aa--Akio ... ini rasa nya sakitt se--kali ... aku sudah tidak kuat lagi Kio. Arrgghhh!!" ucap Amel dengan terbata dan kemudian terlihat mengejan di dalam mobil tersebut.
"Sayang! Tahan dulu! Jangan mengejan dulu sayang! Ini sebentar lagi kita akan sampai! Bertahanlah!" pekik Akio dengan peluh yang bercucuran melihat keadaan istrinya yang terlihat sangat kesakitan dan beberapa kali terlihat mengejan.
Hingga mobil pun telah sampai di depan IGD rumah sakit internasional yang sangat terkemuka di Bali.
Baik Aninda mau pun Amel pun selama kehamilan sejak telah memasuki trimester ke tiga pun sudah di boyong oleh mertua masing-masing agar melahirkan cucu mereka di pulau Dewata tersebut.
"Sayang!! Arrrgghhh!! Sakiiitt!!" pekik Amel di atas brankar yang terlihat di dorong oleh petugas medis menuju ke ruang bersalin.
Sedangkan Akio pun terus mengikuti dan memegang tangan istrinya tersebut yang nampak bercucuran dengan banyak peluh keringat.
"Bu, jangan mengejan terlebih dahulu. Tunggu aba-aba dari saya jika ingin mengejan. Pembukaan Ibu telah lengkap. Segera mengejan jika merasa kontraksi telah datang," ucap sang bidan dengan sigap.
Amel pun terlihat mengangguk lemah serta kontraksi pun kembali muncul dengan rasa yang sangat luar biasa.
"Eenggg ... Aargh!! Huh Huhh!! Sakitt sekali," ucap Amel dengan mengejan dengan sekuat tenaga ketika kontraksi semakin timbul.
"Yaa, ayo Bu terus mengejan lebih kencang lagi. Kepala nya sudah terlihat. Ayo di tekan lagi sekuat tenaga. Ayoo ... Bu jangan berhenti! Kasihan bayi nya karena kepalanya telah terlihat," ucap Bu Bidan tersebut yang membuat Amel terus mengejan sekuat tenaga nya.
"Ayo sayangku, demi putra kita," ucap Akio dengan mengelap kening dan kepala istri nya yang nampak di penuhi oleh butiran keringat.
Segera Akio pun melihat bayi yang telah di lahirkan oleh istrinya tersebut yang nampak di bersihkan oleh salah satu suster.
Tak lama kemudian bayi telah bersih dan segera di berikan kepada Akio untuk segera di adzani.
Dengan suka cita Akio pun segera mengadzani bayi mungilnya tersebut dengan perlahan.
Setelah itu Amel pun segera di pindahkan ke ruang rawat inap bersama sang bayi setelah melalui tahap observasi dari pihak petugas medis.
Terlihat Aninda dengan melangkah lebar penuh semangat segera menuju ke ruang rawat inap dari sahabat nya tersebut.
"Sayang, jangan tergesa-gesa!" pekik Dio dengan mengimbangi langkah istrinya tersebut.
Hingga kedua nya pun telah sampai di dalam ruang rawat inap Amel saat ini yang nampak di temani oleh kedua mertua nya tersebut.
"Waahhh tampan sekali!!" pekik Aninda ketika pertama kali melihat baby Akio tersebut.
"Hish, tapi kok enggak mirip sama kamu sih, Mel. Semua bentuk wajahnya sangat mirip dengan Akio. Tapi baguslah karena baby kamu ini jadinya terlihat sangat tampan," ucap Aninda dengan terus menoel pipi bayi mungil milik Amel tersebut.
"Iya lah tampan. Namanya Ryu Akihiko. Sudah cocok kan untuk kamu jadikan menantu masa depan kamu. Hehehe. Sini Nin, aku ingin segera menyentuh perut gembul kamu," ucap Amel.
Dengan perlahan Aninda pun segera mendekati ranjang sahabat nya tersebut.
__ADS_1
"Ayo baby twins, segera lahirlah ke dunia ini. Lihatlah calon suami kamu telah lahir lebih dulu dan sedang menantikan kamu lahir untuk segera di pinang setelah lahir di dunia ini. Hehehe," ucap Amel dengan terus mengelus perut Aninda.
Hingga bayi-bayi Aninda pun terlihat merespons ucapan Amel tersebut dengan beberapa kali tendangan.
"Astaga, baby twins kamu terus bergerak Nin! Paham dengan apa yang aku ucapkan ya?" pekik Amel dengan girang ketika terus mendapatkan tendangan dari baby twins Aninda tersebut.
"Iya dari tadi juga aktif terus. Perutku pun sudah mulai mulas-mulas ketika menuju kemari. Namun tidak mungkin juga kan jika aku akan melahirkan hari ini juga?" ucap Aninda yang kembali merasakan perutnya terasa mulas kembali.
Semua nya pun menjadi bengong dan kemudian menatap wajah Aninda dengan tatapan serius mendengar ucapan Aninda tersebut.
"Jangan-jangan kamu benar akan melahirkan hari ini sayang?" ucap Dio dengan panik karena memang sedari tadi istrinya pun seperti menahan rasa sakit.
"Kata dokter masih beberapa hari lagi kan seharusnya hpl ku?" ucap Aninda yang kemudian menduduk kan tubuhnya di atas sofa yang tersedia di dalam kamar rawat inap yang Amel tempati tersebut.
"Kontraksi palsu mungkin itu, Nak" sahut mama Akio.
"Iya mungkin, Ma. Aku numpang istirahat sebentar disofa empuk ini ya. Ah nyaman sekali," ucap Aninda.
Hingga semua nya pun terlihat melakukan obrolan pelan dan perlahan agar baby Ryu tidak terbangun dari tidur nya.
"Sayang, kenapa kamu dari tadi diam terus di situ? Nimbrung saja tidak masalah," ucap Dio dengan mendekati istrinya yang nampak terpejam dengan sesekali mendesis perlahan.
"Perutku mulas lagi Dio. Diamlah!" bentak Aninda dengan spontan ketika merasakan perutnya yang semakin terasa sakit.
"Segera kamu priksakan Dio! Barang kali istri kamu bukan kontraksi palsu namun benar-benar akan melahirkan!" ucap mama Akio yang terlihat tergesa mendekati Aninda.
"Huh ... huhhh ... sakitt sekali," ucap Aninda.
Hingga pada akhirnya Aninda pun mendapatkan penanganan medis dengan cepat karena Aninda pun telah mengalami pembukaan yang sudah hampir lengkap.
Dio pun dengan sigap memberikan semangat ekstra untuk istrinya agar segera melahirkan dengan normal dan selamat.
Hingga beberapa jam kemudian terlihat dua baby mungil di dalam box yang telah tertidur dengan pulas.
"Kita beri nama siapa sayang untuk baby boy dan baby girl kita?" tanya Dio kepada istrinya tersebut.
"Terserah kamu sayang," jawab Aninda sekena nya karena memang sama sekali belum terlintas nama yang cocok untuk putra dan putri nya tersebut.
"Jangan terserah aku lah sayang. Kan kamu yang telah berjuang melahirkan nya. Lebih afdhol nama pemberian dari kamu sayang," ucap Dio.
"Tapi kamu juga ikut andil dalam mengadon anak-anak kamu. Bagaimana kalau kita beri nama Zey dan Zia?" tutur Aninda dengan spontan.
"Zey dan Zia juga bagus sayang nama nya. Baiklah baby twins Z," ucap Dio menyetujui nama pemberian dari istrinya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Season pertama telah berakhir 🤗🤗🤗
Seasons kedua akan segera hadiirrr😍
__ADS_1
Semoga pembaca setia author tetap setia mengikuti keseluruhan cerita nya hingga tamat iyaa🤗🙏