
Malam itu Dio pun larut dalam pekerjaan nya menyelidiki apa yang di lakukan oleh Vania selama di Bali sebelum keduanya menikah.
Mulai dari meretas keamanan cctv apartemen milik Vania hingga cctv dirumah orang tua Vania.
"Tidak ada yang aneh, Vania pun tidak nampak terlihat bersama dengan lelaki mana pun. Semua nampak normal, hanya sesekali petugas office boy apartemen lah yang datang keluar masuk membawa alat-alat kebersihan ke dalam apartemen milik Vania itu," gumam Dio dengan masih melihat dengan seksama rekaman cctv tersebut.
Lantas Dio pun meretas cctv club' malam tempat dimana dirinya dan Vania bertemu malam itu. Terlihat jika Vania seperti nya salah mengambil pesanan nya hingga yang di sodorkan untuk nya bukan lah yang seharusnya Vania pesan.
Di dalam cctv tersebut pun juga nampak Vania yang berusaha memapah Dio dengan di bantu petugas keamanan.
Seperti yang Dio duga jika Vania pun mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan hingga membawanya memasuki ke sebuah kamar hotel.
"Sial! Kenapa di dalam kamar hotel tidak di pasang cctv tersembunyi sekalian sih! Biar aku tidak usah susah payah menyelidiki seperti ini!" pekik Dio mengacak rambutnya dengan frustasi.
Kemudian Dio pun merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ada di ruang kerjanya tersebut. Dio pun nampak memandang langit-langit kamarnya.
"Seperti ada yang janggal dengan cctv di apartemen itu? Namun apa ya? Kan hanya office boy saja yang terlihat keluar masuk di dalam apartemen itu? Kenapa dengan office ..." Dio pun nampak tidak meneruskan ucapan nya karena sudah terlelap dalam tidur nya karena tubuhnya yang rasanya sudah tidak kuat untuk di ajak begadang kembali.
Berbeda dengan Liliana yang kini tengah menatap atap rumah sederhana milik kedua orang tua nya ditempat yang baru. Akhir-akhir ini setiap malam Liliana pun terlihat kesulitan memejamkan mata nya dengan segera.
Liliana pun nampak menerawang jauh mengingat bagaimana tentang kedekatan nya bersama dengan Dio selama di Jepang hingga buah cinta mereka kini telah tumbuh di dalam kandungan Liliana saat ini.
__ADS_1
"Hahh ..." Liliana pun nampak menghela nafas panjang karena setiap malam sebelum tidur Liliana pun merasa ingin sekali memeluk Dio.
"Apakah ini karena pengaruh bawaan bayi yang sedang ku kandung?" gumam Liliana seorang diri.
"Ayo segera kita tidur sayangku. Kita telah hidup ditempat yang baru bersama mama dan kakek nenek kamu," ucap Lilian dengan mengelus perlahan perutnya yang masih terlihat rata tersebut.
Setelah itu tak lama kemudian nampak Liliana yang pada akhirnya bisa segera tertidur dengan sangat pulas. Hingga pagi menyingsing, seperti biasa Liliana pun nampak segera terburu-buru menuju ke kamar mandi karena mual yang selalu melanda dirinya di pagi hari.
Setelah mualnya tidak begitu parah, dengan sigap Liliana pun nampak membuat wedang jahe panas untuk meredam rasa mual yang timbul dan hilang.
Untuk sekarang ini mual yang sudah tidak separah beberapa hari yang lalu. Kini Liliana sudah bisa beraktivitas dengan normal dengan membantu ke dua orang tua nya.
Disatu sisi Liliana membantu sang ibu membuat anyaman dari bambu, disisi lain Liliana tampak cekatan membantu sang ayah menjemur ikan hasil tangkapan untuk di jadikan ikan asin dan di jual kepada tengkulak setempat.
Liliana pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan nampak mengajar dengan suka rela. Mulai mengajar pelajaran dasar hingga Liliana pun mengajari anak didiknya berbahasa Inggris sedikit demi sedikit.
Kalau ada waktu senggang lain pun Liliana tampak sangat antusias mengajak siswa siswi nya untuk berkebun menamam beberapa tumbuhan sayur mayur seperti tomat, cabai, terong, dan tanaman lain nya yang sangat bermanfaat untuk di masak kembali ataupun di jual kepada tengkulak.
Sedangkan setiap akhir pekan, Liliana pun dengan antusias menjadi tenaga pendidik lansia yang tugasnya pun mengajari para lansia atau pun para pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin mahir membaca dan menulis.
Hingga lambat laun perut Liliana pun nampak sudah semakin terlihat membuncit. Namun seluruh penduduk di kampung nya tersebut menjadi iba kepada Liliana yang mereka ketahui Liliana hamil karena korban pemerkosaan.
__ADS_1
Banyak di antara ibu-ibu dari siswa siswi nya yang memberikan banyak hasil panen nya untuk di berikan kepada Liliana yang telah berhasil mengajar putra putri nya tersebut.
Di kampung tersebut walaupun Liliana berpenampilan yang sengaja di buat dekil pun tidak ada satupun penduduk desa setempat yang mengolok-olok kondisi Liliana.
Berbeda dengan kehidupan Dio bersama Vania yang setiap hari terlihat terus bertengkar setiap kali bertemu. Dio pun terlihat menemukan titik terang permasalahan nya tersebut.
Dio pun terlihat sangat curiga dengan kehadiran office boy apartemen tersebut yang sering keluar masuk apartemen milik Vania tersebut dengan durasi waktu yang sangat lama.
"Jika hanya membersihkan apartemen Vania kenapa harus membutuhkan waktu berjam-jam bahkan lebih dari tiga jam office boy tersebut baru nampak terlihat keluar dari apartemen milik Vania itu!" ucap Dio dengan sangat geram.
"Kenapa otakku sekarang menjadi lemot seperti ini! Padahal sedari awal aku sudah mencurigai kehadiran office boy tersebut yang terlihat leluasa keluar masuk apartemen milik wanita ular itu! Mungkin wanita ular itu juga hamil dengan office boy tersebut untuk menjebak ku, sialann!!" pekik Dio dengan dada yang terlihat naik turun menahan emosi yang terus membuncah.
Dio pun nampak mengutak atik monitor nya lagi dengan mencari keberadaan office boy yang sepertinya terlihat telah melarikan diri tersebut.
Seolah pucuk di cinta ulam pun tiba, office boy tersebut pun sepertinya berpindah tempat menuju ke kampung halaman orang tuanya bersama sang adik di Jogjakarta.
Dio pun terlihat segera menghubungi seseorang untuk kembali menyekap dan menangkap office boy tersebut untuk Dio introgasi.
"Jaga office boy itu baik-baik lebih dulu. Aku ingin menangkap dan membawa wanita ular itu esok hari untuk melakukan tes DNA terhadap bayi yang di kandung nya," ucap Dio dengan menggebu-gebu.
Hingga tak lama kemudian Dio pun segera merebahkan tubuhnya di kasur yang berada di ruang kerja nya tersebut dengan senyum yang mengembang karena masalah Vania pun telah terpecahkan.
__ADS_1
"Andai malam itu aku tidak menemui Vania, pasti kini disetiap malam aku bisa leluasa tidur berpelukan bersama dengan Aninda," gumam Dio dengan mata yang kemudian tertutup dan terbuai ke alam mimpinya.