
Bu Nani benar-benar marah, wanita paruh baya itu benar-benar menumpahkan isi hatinya saat itu juga, sudah terlanjur dia sakit hati dan jengah akan sikap keluarga itu.
" Bukankah Bu Marni punya perhiasan, saya rasa dengan perhiasan itu Bu Marni bisa kok membuka usaha walaupun kecil-kecilan, itu tergantung akan niat Bu Marni dan Pak Udin, mau berusaha atau tidak, kamu juga Zaenab" Imbuh Bu Nani dengan entengnya, wanita yang terlihat kalem itu sekarang menggeliat, dia sudah lelah di injak-injak sama mantan besannya itu.
Kalimat yang di ucapkan Bu Nani itu adalah sebuah kebenaran, tapi begitu menyakitkan, kalimat Bu Nani seolah menelanjanginya bulat-bulat keluarga itu, sebab pada tak menyangka bila Bu Nani setega itu padanya, bahan apapun yang di minta Bu Marni pasti akan di turuti.
Sekarang Bu Marni sudah di skak sama Bu Nani.
" Kalian boleh menginap di sini satu hari lagi, tetapi mulai besuk saya mohon segera angkat kaki dari sini, kalau tidak saya akan laporkan kalian pada polisi,dan saya tak peduli kalian akan tinggal di mana " selesai berucap panjang lebar, Bu Nani segera pergi meninggalkan Bu Marni yang terpaku tak percaya, apa yang dia dengar seolah seperti mimpi, mendengar kalimat sakti Bu Nani yang selama ini tak di dengarnya.
Dan apa tadi dia besuk harus pergi dari sini, aduh mau kemana dia kalau sudah di usir dari sini, dan Setega itukah Bu Nani melaporkan dia pada polisi.
Sementara Pak Udin sebagai kepala keluarga yang tak kunjung bersikap tegas hanya diam juga tak bisa berucap sepatah katapun, seolah kalimat Bu Nani seolah tamparan keras buatnya, karena semua benar adanya.
__ADS_1
Pak Udin yang tadinya berdiri tak jauh dari sang istri akhirnya terduduk lesu, seolah tak bertenaga lagi, dia malu sekali sama semua orang kampung, terlebih lagi sama Bu Nani dan Pram, harusnya Pak Udin ini adalah yang bertanggung jawab penuh pada istri dan anaknya, bukan orang lain, malah dia sendiri ikut membebani kehidupan Pram dan Bu Nani.
" Bagaimana ini Pak? katakan kita harus bagaimana? jangan diam saja Pak, aku takut nanti ancaman Bu Nani akan segera di lakukan, sebab benar adanya Zaenab mengandung anaknya Roy bukan Pram, jadi kita tak punya kekuatan untuk menuntut pada Pram dan Bu Nani untuk tinggal di sini lebih lama lagi, ayolah Pak berpikir jangan hanya terima enaknya saja, tahunya ngopi dan merokok saja," Bu Marni terus mendesak suaminya untuk bertindak.
" Kapan Bapak ini berubah, tanggung jawab kepada keluarga, pokoknya kalau sampai di usir dari sini aku tak mau Pak, karena kita tak punya tempat tinggal lagi" seru Bu Marni pada suaminya yang terlihat pasrah saja, benar-benar mau enaknya saja.
" Ia Bu ini Bapak juga lagi mikir, agar kita tak di usir dari sini, Bapak malu juga sama Pak Adi dan Karina juga, sebab Bapak baru tahu Pak Adi itu rupanya seorang pengusaha besar, dia konglomerat Bu, kita tak ada seujung kukunya, jadi Bapak malu sendiri ketika Ibu dulu ngata-ngatain Karina sebagai benalu padahal kita sendiri yang jadi benalu, Bapak akan bicara sama Pak Adi, Bu." Pak Udin menjeda ucapannya, " Bapak akan minta pekerjaan pada Pak Adi supaya kalian bisa tinggal di sini" imbuh Pak Udin.
" Tidak usah Pak, mending kita pergi dari sini saja, kita sudah terlalu banyak merepotkan Mas Pram dan Bu Nani selama ini, Zaenab malu pak, dan sebenarnya Zaenab sudah tak punya muka lagi untuk berhadapan dengan mereka, tetapi karena Ibu memaksa jadi Zaenab nurut saja apa kata ibu" sela Zaenab di tengah-tengah pertengkarannya kedua orang tuanya.
Kalau sudah begini Zaenab bisa apa? apa yang mau di banggakan, dia sudah tak perawan lagi, kuliah saja belum selesai, hidupnya selama ini hanya di habiskan dengan bersenang-senang saja, dan meminta belas kasihan dari Bu Nani dan Pram, inilah balasnya untuk orang yang tak tahu diri seperti keluarga Zaenab ini.
" Zaenab tidak mau Bu, Zaenab mau pergi dari sini saja, terserah Bapak dan ibu mau tinggal di sini, tetapi Zaenab tak mau mengikuti tingkah Ibu yang tiap harinya membuat Zaenab malu setelah mati". Seru Zaenab tak peduli, akan hasutan Ibunya, Zaenab sudah lelah akan kelakukan ibunya dan Bapaknya yang tak mau bergerak mencari nafkah, dia hanya menadahkan tangan saja pada orang lain, dan Zaenab pun menyalahkan dirinya sendiri juga.
__ADS_1
Akhirnya Zaenab tak tahan dan pergi dari ruang keluarga itu menuju kamar yang di tempati selama di rumah Karina.
" Zaenab tunggu dulu kita belum selesai bicara" seru Bu Marni berteriak di ruang keluarga itu, tanpa malu-malu, beberapa pelayan sempat menegurnya tetapi malah di semprot habis-habisan sama Bu Marni.
" Sudah Bu, benar apa kata Zaenab, kita ini menyusahkan orang lain terus, jangan buat keributan lagi Bu, malu sama Pak Adi." Seru Pak Udin menasehati sang istri.
" Ah Bapak ini tau apa hah, tahunya hanya merokok dan ngopi saja, sekarang coba Ibu tanya ke Bapak, kita akan tinggal di mana coba? bila tak bertahan di sini, pikir Pak, bukan cuma aku terus yang suruh kamu pikir, kalau Bapak mau Ibu mengalah, sekarang carikan tempat tinggal yang layak buat kami, Bapak bisa?" bentak Bu Marni pada suaminya, Bu Marni juga sudah lelah dengan kelakuan suaminya yang hanya bisa berpangku tangan saja.
" Bisa Bu, asal Ibu mau terima dengan tempat seadanya, tak menuntut lebih seperti kemauan Ibu." Balas Pak Udin dengan tegas pada istrinya itu.
" Ya jangan seadanya Pak, yang layak buat aku sama Zaenab, kalau cuma rumah reyot mau roboh, mana ibu mau Pak, harus masak pakai kayu bakar dan harus nimba sebelum mandi, aduh sangat merepotkan Ibu tidak mau Pak." Tolak Bu Marni mentah-mentah, pada hal Pak Udin belum memberi tahu ke mana mereka akan pergi.
" Ya adanya itu mau bagaimana lagi Bu, yang penting kita bisa hidup mandiri, tidak jadi pengemis yang sombong, macam ibu" cibir Pak Udin dengan kesal, selama ini istrinya itu memang ga tahu terimakasih, setiap yang di berikan padanya tak mau ia bersyukur sama sekali.
__ADS_1
" Terserah Bapak, Ibu tak mau ikut sama Bapak," potong Bu Marni.
" Baiklah Bapak akan bawa Zaenab ikut sama Bapak, terserah kalau ibu mau di sini, selalu merepotkan." Balas Pak Udin tak kalah pedasnya, saking keselnya Pak Udin lantas pergi meninggalkan Bu Marni seorang diri di ruang keluarga itu, dengan masih berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di depan dada.