Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Menuju Ke Pulau Lemukung


__ADS_3

Dio yang melihat berita tentang kasus papa Vania yang terlihat sangat booming dan menjadi bahan pembicaraan publik serta seluruh harta benda milik keluarga tersebut yang telah di sita dan berubah menjadi milik negara pun membuat perasaan Dio menjadi semakin lega.


"Syukurlah semua nya telah terkuak. Jadi misi ku setelah ini dalam mencari dan membawa kembali Aninda pasti akan mulus tanpa hambatan," gumam Dio dengan terus mengikuti berita yang sedang trending di seluruh saluran televisi tersebut.


Mama dan Papa Dio pun terlihat sangat bersyukur karena semua nya telah terungkap dan proses perceraian putra nya dengan Vania pun terlihat lancar tanpa adanya kendala satu apa pun.


"Ma ... pa ... Dio ingin segera menyisir sepanjang pulau Kalimantan untuk menemukan jejak Aninda hari ini juga. Dio pun telah membeli tiket melalui jalur laut. Karena berdasarkan pantauan ku Aninda beserta kedua orangtuanya pun menggunakan jalur laut dan aku ingin mencari melalui jejak yang tidak sengaja tertinggal tersebut," tutur Dio di hadapan ke dua orang tua nya.


Papa dan mama Dio pun sudah tidak kaget lagi dengan keinginan yang di utarakan oleh putra nya tersebut.


"Baiklah akan mama dan papa dukung. Gunakan jaringan yang memadai sinyal internet hingga ke pelosok pedalaman ya nak," ucap sang mama dengan segera memeluk haru putranya tersebut.


"Kamu sudah besar dan papa rasa tindakan kamu untuk segera mencari keberadaan Aninda tersebut memang lah yang terbaik. Lebih cepat mencari maka akan lebih cepat pula keberadaan Aninda beserta kedua orangtuanya ditemukan," ucap papa Dio yang juga mendukung keinginan putra nya tersebut.


Setelah mendapat kan restu dari kedua orang tua nya pun Dio segera bergegas menuju ke dalam kamar nya untuk mengemas perlengkapan yang akan di bawa ikut bersamanya.


Tak lupa Dio pun kemudian terlihat merogoh ponsel canggih nya tersebut untuk membawa segera berkabar kepada sahabat satu-satunya tersebut.


"Hallo," jawab Akio melalui sambungan telepon.


"Aku akan segera berangkat menuju agen bus antar pulau untuk membeli tiket bus menuju ke pulau Kalimantan," ucap Dio tanpa basa-basi di dalam telepon tersebut.


"Hah?? Tapi ini chip nya tinggal sehari lagi menuju sempurna?? Kamu tunggu sehari lagi ya Dio??" tutur Akio.


"Alah kerja mu lamban tau! Aku sudah tidak sabar untuk segera berangkat! Sudahlah aku tak perlu menunggu chip abal-abal mu itu dan lain sebagainya. Aku pamit berangkat dulu. Aku akan menghubungi mu, namun tidak akan sesering sekarang ini. Doakan aku ya Kio," ucap Dio dengan berpamitan melalui sambungan telepon.


"Yahh ... jadi kamu tidak mau menunggu chip ku jadi nih? Ya sudah doa ku menyertaimu Dio. Semoga kalian akan segera di pertemukan kembali ya. Jaga kesehatan baik-baik," ucap Akio dengan memberikan wejangan secara singkat kepada sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Iya tanpa kamu kasih tau pun aku sudah paham. Sudah ya, see you next time," tutur Dio di panggilan terakhirnya bersama Akio tersebut.


Entah mengapa Akio mendengar salam perpisahan dari sahabat nya tersebut membuat perasaan nya menjadi cemas dan was-was namun tidak bisa di jabarkan dengan jelas oleh Akio.


Sedangkan Dio terlihat telah siap dan segera berpamitan kepada kedua orangtuanya.


Dio pun memutuskan untuk menuju ke agen bus tersebut dengan menggunakan jasa ojol untuk mempercepat dirinya untuk segera tiba di agen bus tersebut.


Tak lama kemudian terlihat Dio yang telah sampai di agen bus antar pulau tersebut dengan melangkah masuk ke dalam bus tersebut dengan penuh harap.


Hingga beberapa jam kemudian bus pun terlihat segera mengantri menuju masuk ke pelabuhan sesuai dengan keberangkatan tujuan serta kapal yang hendak di naiki.


Setelah lebih dari satu jam mengantri, akhirnya bus tersebut pun segera memasuki area parkir yang tersedia untuk jenis bus dan beberapa mobil serta truk di dalam kapal tersebut.


Dio pun telah menanti kedatangan nya menuju pulau Kalimantan dengan perasaan membuncah.


Hingga tak terasa kapal yang Dio tumpangi pun terlihat semakin dekat dengan pelabuhan tujuan nya tersebut.


Setiba nya di pelabuhan di salah satu provinsi di Kalimantan tersebut Dio pun terlihat melihat peta GPS untuk mengira-ngira medan yang harus di lalui nya mengelilingi pulau yang nampak sangat luas dan lebar tersebut.


Hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu lama nya Dio menyusuri daerah-daerah di penjuru sudut pulau Kalimantan tersebut namun Dio sama sekali tidak menemukan petunjuk sedikit pun tentang keberadaan Aninda.


"Astaga, sudah minggu ke berapa ini aku mencari dengan tanpa tujuan tempat yang jelas? Ya Tuhan berilah petunjuk untukku dalam proses ku mencari seseorang yang sangat berharga di dalam hidupku," gumam Dio di dalam hati sembari berdoa di kala hati nya yang semakin gelisah.


Raga mengatakan menyerah namun jiwa nya mengatakan untuk tetap mencari. Bagaimana kan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.


Hingga sebuah selebaran kertas trip wisata menuju ke pulau Lemukung yang berada di provinsi Kalimantan Barat dan tak jauh dari lokasi nya saat ini jatuh tepat di bawah kaki nya setelah sempat terbawa oleh angin.

__ADS_1


"Haih, kertas apa ini?" gumam Dio dengan memungut kertas tersebut dan terlihat membaca sekilas isi brosur yang menawarkan trip perjalanan menuju ke pulau Lemukung.


"Ternyata penduduk setempat pintar juga dalam membuat selebaran brosur yang terlihat sangat menarik ini," gumam Dio kemudian yang terlihat tertarik untuk berkunjung ke pulau tersebut dengan tujuan untuk melepas penat.


Hingga Dio pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut di waktu itu juga dengan menaiki bus yang biasa membawa penduduk untuk singgah ke pulau Lemukung tersebut.


Disepanjang perjalanan Dio pun mengabadikan momen perjalanan yang ia lakoni lebih dari satu bulan tersebut selama mengembara.


Bahkan di setiap tempat singgah dalam perjalanan dirinya mencari Aninda di pulau tersebut pun selalu dirinya abadi kan baik itu berupa foto maupun Video.


"Pengunjung baru yang mau berkunjung ke pulau Lumukung ya mas?" sapa seorang bapak-bapak di sebelahnya yang berperawakan tegap namun rambutnya terlihat telah di penuhi oleh uban.


"Iya pak. Saya sedang ingin melepas penat dan ingin singgah melihat-lihat pulau Lemukung karena brosur yang saya bawa ini pak. Terlihat sangat menarik untuk di kunjungi," ucap Dio dengan menyodorkan selembar brosur yang telah dirinya temukan tersebut.


Bapak tua tersebut terlihat tersenyum terkekeh melihat brosur yang ada di genggaman Dio tersebut.


"Iya mas brosurnya memang sangat bagus untuk menarik wisatawan. brosur tersebut pun baru di buat dan di edarkan belum lama ini. Setelah adanya brosur cetak tersebut pulau kecil kamu pun sedikit banyak sudah banyak wisatawan yang berkunjung," tutur Bapak tersebut.


"Iya pak, benar yang bapak katakan. Maka dari itu saya pun kemudian juga terlihat sangat tertarik untuk mengunjungi pulau tersebut seketika. Hehehe," ucap Dio dengan jujur.


"Iya mas. Yang membuat brosur ini pun kelihatan nya juga orang yang berpindidikan. Belum lama ini pindah di pulau kami mas yang berarti penduduk pendatang. Namun kasihan kondisi nya mas karena sedang hamil tanpa suami. Katanya sih korban pemerkosaan mas. Sudah sering saya jodohkan wanita muda tersebut dengan anak perjaka bapak yang tak kunjung segera menikah. Namun wanita tersebut selalu menolak dengan bahasa yang lembut," terang bapak tersebut yang merupakan tetua kampung di tempat Aninda berada.


"Kasihan juga ya wanita muda tersebut. Kenapa sih akhir-akhir ini banyak sekali berita wara wiri yang mengabarkan berita tentang pemerkosaan. Setelah memperkosa wanita baik-baik kemudian meninggalkan korban nya begitu saja? Apa wanita juga pindah seorang diri di kampung bapak? Dari mana asal wanita tersebut?" tanya Dio dengan raut muka penasaran.


"Pindah bersama dengan ke dua orang tua nya mas. Sepertinya pindahan dari Pontianak mas. Kata beberapa orang yang sempat meminta kami untuk menerima kepindahan keluarga tersebut pun mereka berada di bawah naungan seorang Perwira yang di segani di kota Pontianak tersebut mas. Yang berasal dari pulau Jawa. Jadi kami pun tidak ada yang berani bertanya lebih detail," ucap tetua kampung tersebut dengan detail.


Mendengar ucapan penatua tersebut pun membuat Dio mengernyitkan dahinya sembari berfikir dengan keras.

__ADS_1


"Perwira? Orang Jawa? Korban pemerkosaan? Kenapa harus susah-susah mengasingkan diri di pulau terpencil seperti itu. Aneh," gumam Dio dengan hati yang masih terlihat bingung dengan kisah wanita muda yang di ceritakan oleh bapak tua tersebut.


"Ah sudahlah untuk apa aku peduli dengan kisah orang lain," gumam Dio yang kemudian terlihat menepis pikiran aneh nya tersebut.


__ADS_2