
Setelah acara pertemuan keluarga tersebut selesai nampak keluarga Dio pun segera berpamitan untuk segera kembali pulang.
Namun nampak berbeda dengan Dio yang masih terlihat asik duduk dan tidak mau beranjak sama sekali mengikuti kedua orang tua nya yang bersiap keluar menuju arah pintu.
Mama Dio pun dapat menangkap gerak gerik mencurigakan dari putra nya tersebut dan segera menggandeng tangan Dio dengan cepat untuk membawanya keluar dari rumah Aninda.
"Ayo pulang. Apa kata orang jika kamu masih berdiam diri disini Dio," tutur mama Dio dengan menjewer pelan putra nya tersebut.
"Awhh sakitt ma. Iyaaya ma, Dio pasti pulang. Tapi jangan kayak gini dong ma. Dio malu tahu," ucap Dio dengan pelan agar mama nya tersebut segera melepas jeweran di telinga Dio itu.
"Mama tahu akal bulus kamu. Ayo masuk ke mobil," ucap mama Dio dengan menggandeng tangan putra nya dengan erat.
Keluarga Dio pun nampak telah pergi dari rumah Aninda. Sedangkan Aninda pun nampak di kerumuni oleh banyak sanak saudara dan tetangganya tersebut.
Diantara mereka kebanyakan ingin di ceritakan bagaimana itu Jepang mulai dari makanan, suasana, budaya dan semua yang berkaitan dengan negeri sakura pun Aninda ceritakan secara langsung dengan membagikan oleh-oleh yang telah di beli kan oleh Dio tersebut.
Namun Aninda pun tetap menutup rapat kisah kelam nya selama di negeri sakura tersebut agar kedua orang tuanya tidak mengkhawatirkan akan keadaan dirinya itu.
Sanak saudara dan tetangga Aninda yang mendapatkan oleh-oleh dari Jepang pun nampak tersenyum dengan gembira. Setelah di rasa cukup olehnya bercengkerama dengan segera Aninda pun undur diri mengistirahatkan dirinya tersebut di dalam kamarnya.
Aninda pun segera menuju ke kasur empuk di kamarnya tersebut dengan wajah yang sangat bahagia. Setelah sekian purnama akhirnya ia bisa kembali tidur di dalam kamar kesayangan nya tersebut.
Aninda pun nampak memeluk guling nya dengan berguling ke kanan dan ke kiri. Pandangan Aninda pun jatuh pada foto dirinya bersama ketiga sahabat nya sewaktu masa putih abu-abu dulu.
Aninda pun nampak menerawang jauh kembali mengenang keseruan mereka berempat di masa-masa putih abu-abu. Hingga segalanya yang nampak berubah setelah insiden Dewa waktu itu.
"Bagaimana ya kabar Dila?" gumam Aninda dengan rasa rindunya terhadap sahabat nya tersebut.
Walaupun dirinya telah merasa di khianati namun semuanya nampak telah melebur ketika Aninda telah menemukan sosok Dio yang berhasil membuat hidupnya kembali berwarna.
Nampak Aninda yang membuka Instagram nya dan membuka profil milik Dila tersebut. "Tidak ada unggahan apa pun."
__ADS_1
"Semoga Dila baik-baik saja di manapun dirinya berada," gumam Aninda yang nampak merindukan sosok Dila tersebut.
Ting!
"Sayang, besok pagi aku kerumah kamu ya buat jemput jalan-jalan. Aku tidak menerima penolakan titik."
Bunyi pesan dari Dio yang setengah memaksa membuat Aninda tersenyum kecil.
"Haish, terlalu posesif," gumam Aninda yang hanya membaca pesan dari Dio tersebut tanpa membalasnya karena rasa kantuk yang tiba-tiba menghinggapi nya.
Tak berapa lama Aninda pun nampak tertidur dengan pulasnya selama berjam-jam hingga rasa laparlah yang berhasil membangunkan Aninda dari rasa kantuknya tersebut.
"Ibu masak apa ya? Jika biasanya di Jepang pasti Dio lah yang selalu memanjakan ku dengan masakan buatan nya yang selalu nampak lezat itu," gumam Aninda yang nampak sudah merindukan masakan buatan Dio.
Aninda pun dengan cepat segera menuju ke meja makan dengan melihat beberapa masakan yang telah tersaji di meja makan yang nampak seperti masakan buatan Dio yang selalu diberi hiasan-hiasan kecil di dalam penyajian masakan nya tersebut.
"Ah mungkin aku yang terlalu sering terbayang oleh Dio. Makanya masakan buatan ibu pun aku mengira nya masakan buatan Dio," ucap Aninda dengan mengambil makanan yang tersedia dan menuangkan di dalam piring nya tersebut.
Hingga makanan di piring Aninda pun tandas tanpa sisa.
"Gimana sayang masakanku? Masih sangat enak seperti biasanya kan?" ucap Dio secara tiba-tiba yang membuat Aninda sangat terkejut.
"Astaga Dio ih! Kamu ngagetin aku tau," ucap Aninda dengan memukul Dio yang nampak seperti selesai membantu ayahnya di peternakan milik ayah Aninda tersebut.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Aninda penuh selidik.
"Sejak kamu tidak membalas pesan ku. Makanya aku buru-buru segera datang kemari. Orang rumah kita juga dekat. Mama sama papaku memutuskan untuk kembali tinggal di Jogjakarta untuk beberapa saat sampai mama ku selesai melahirkan katanya nya," ucap Dio dengan santai nya.
"Terus kita?" tanya Aninda sembari menatap Dio dengan penuh rasa penasaran.
"Setelah menikah? Ya Honeymoon lah sayang," jawab Dio dengan santainya.
__ADS_1
"Bukan itu maksud aku ih! Dio bikin aku kesel terus ih!" ucap Aninda dengan nada tinggi.
"Kalau bikin nya anak, enggak bakal bikin kamu kesel terus kan sayang?" ucap Dio dengan setengah berbisik yang membuat Aninda nampak terlihat sangat malu.
"Dio ih! Tak pukul mau kamu?!" gertak Aninda.
"Disayang sajalah honey. Masak Aninda yang cantik jelita ini mau jadi tukang pukul," seloroh Dio yang membuat Aninda semakin gemas oleh tingkah konyol Dio itu.
"Ah sudahlah terserah kamu. Meladeni kamu enggak ada habisnya," ucap Aninda dengan membawa piring kotornga tersebut ke wastafel untuk di cucinya.
"Sini biar aku saja yang mencuci piring kamu," ucap Dio merebut piring yang dipegang oleh Aninda.
"Eh!" ucap Aninda dengan kesal karena Dio yang seperti terlalu over protective terhadap dirinya tersebut.
Dengan cepat Aninda pun meninggalkan Dio dan mencari ibunya yang nampak membantu sang ayah mengambil telur-telur ayam yang baru saja bertelur dan memasukkan nya ke dalam wadah.
Aninda pun segera membantu ibunya tersebut dengan tahapan berikutnya yaitu menyortir telur terlebih dahulu sebelum di pasarkan.
Aninda pun membantu memilah telur dari yang layak untuk di jual dengan memisahkan bentuk telur tersebut mulai dari yang gepeng, lonjong, bulat atau yang memiliki bentuk yang lebih kecil dan aneh.
"Mbak Aninda sudah sangat cantik, pintar tapi juga masih mau bantu-bantu ayah ibunya di peternakan," ucap salah satu karyawan ayah Aninda yang juga membantu memilah telur yang selesai di panen tersebut.
Aninda pun nampak tersenyum. "Kan sudah terbiasa membantu Bu. Kalau tidak bantu-bantu dan hanya duduk-duduk saja rasanya pun sangat aneh. Hehehe," jawab Aninda sejujurnya.
Aninda pun segera mengangkat telur-telur yang sudah selesai di pilah-pilah tersebut untuk di satukan dengan telur yang siap untuk di timbang dan di setorkan ke pengepul.
Dio yang melihat Aninda membawa telur yang sangat banyak pun mendadak sangat cemas dan segera mengambil alih segala sesuatu yang dibawa oleh Aninda.
"Astaga, kamu jangan bawa sesuatu yang berat seperti itu sayang. Sini biar aku yang bawa," ucap Dio dengan cepat merebut telur-telur yang di bawa Aninda tersebut dengan cepat.
"Dio!!!" teriak Aninda sekuat tenaga karena jengkel melihat sikap Dio yang terlihat sangat berlebihan terhadap nya tersebut.
__ADS_1