Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Tatapan papa Vania pun beringsut ketika melihat tatapan tajam mata papa Akio beserta seluruh keluarga nya yang terlihat sangat kompak tersebut.


"Astaga, dia itu kan pemilik banyak hotel bintang lima yang banyak tersebar di Bali dan di pusat ibukota. Kabarnya juga memiliki lebih banyak lagi hotel mewah dan megah yang lain nya lagi yang juga tersebar di seluruh negara Jepang. Kenapa keluarga Dio seperti sangat dekat dengan keluarga pemilik hotel terkenal itu," batin papa Vania dengan mengalihkan pandangannya agar tidak membuat nya bermasalah dengan keluarga papa Akio.


"Sudahlah pa, jangan menambah keributan lagi. Yang penting Dio sekarang telah menjadi milikku seutuhnya. Biarkan aku membuat perhitungan dengan wanita hamil itu di lain waktu saja pa. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membalas mereka semua," bisik Vania pelan di telinga sang papa dan kemudian mendapatkan anggukan kepala dari papa nya tersebut.


Papa Vania pun kembali memanggil perias untuk menata kembali riasan putrinya yang terlihat sangat berantakan tersebut.


Tak lama kemudian penampilan Vania pun telah kembali menjadi rapi dan tertata lagi. Sedangkan Vania pun mencoba bergelayut manja di pundak Dio yang kemudian nampak ditepis perlahan oleh Dio.


"Dio sayang, terimakasih telah bertanggung jawab dan mau menikahi ku. Asal kamu tahu, semalam kamu pun terlihat sangat gagah dan berkharisma hingga membuatku rasanya terbang melayang hingga kelangit ketujuh. Semoga di perut aku ini segera tumbuh buah cinta kita ya sayang," ucap Vania dengan tanpa malu dengan bumbu kebohongan yang terus ia ucapkan hingga membuat perut Dio rasanya mual dan ingin muntah.


Dio pun masih tidak menanggapi sama sekali ucapan Vania. Sedangkan Amel pun masih terlihat menatap tajam ke arah Dio dan Vania yang rasanya masih ingin menghabisi wanita murahan yang bersanding bersama Dio itu.


"Dasar wanita ular!" ucap Amel dengan mengacungkan jari tengahnya ketika tatapan matanya dengan Vania bertemu kembali.


Vania pun nampak bergidik ngeri melihat tatapan dari Amel tersebut yang seolah siap untuk menerkam nya kembali.


"Sialan! Tunggu pembalasan ku setelah ini wahai wanita bar-bar yang berani menyentuhku dan mempermalukan ku di muka umum," ucap Vania dengan geram di dalam hatinya.


"Sayang, aku siap melayani kamu lagi setelah acara ini selesai," ucap Vania dengan manja serta suara yang begitu keras hingga perkataan nya tersebut terdengar sampai di telinga Amel dan beberapa tamu undangan yang duduk tidak jauh dari tempat pelaminan.


"Cih, pasangan yang sama-sama tidak punya rasa malu. Lebih baik kita keluar dari acara pernikahan wanita laknat itu," ucap Amel dengan suara yang tak kalah keras juga.


Tanpa berpikir lagi kemudian Amel pun segera menggandeng tangan suaminya tersebut untuk segera keluar dari gedung pernikahan tersebut yang nampak di ikuti oleh sebagian besar tamu undangan yang terlihat bingung dengan acara pernikahan tersebut yang dengan tiba-tiba merubah mempelai wanita nya.


"Sayang, kita segera ke rumah keluarga Aninda saja ya. Aku sangat cemas dengan keadaan Aninda," pinta Amel kepada Akio yang langsung mendapatkan jawaban dengan anggukan kepala.


"Siap istriku," jawab Akio dengan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Aninda sesuai instruksi istrinya tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil pun terparkir di halaman rumah milik Aninda yang terlihat sepi tersebut. Banyak di antara para tetangga Aninda yang melihat kedatangan Amel bersama suaminya tersebut menatap dengan tatapan kepo yang kemudian segera berbisik-bisik.


Melihat tetangga Aninda yang seperti itu pun membuat Amel terlihat sangat kesal dengan tingkah ibu-ibu tukang gossip tersebut.


Amel pun kemudian masuk kedalam rumah orang tua Aninda dengan mengucap salam.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikusalam,"


Nampak ibu Aninda menyambut kedatangan Amel bersama suaminya tersebut dengan senyuman hangat. Ibu Aninda yang paham dengan maksud kedatangan Amel pun segera meminta nya untuk langsung menuju ke kamar Aninda.


"Nin, kita masuk ya," ucap Amel yang langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Aninda.


Amel pun nampak membangunkan Aninda yang masih terlihat menangis dengan sesenggukan dengan menghadap ke arah tembok.


"Mel, kenapa nasib ku seperti ini. Sudah dua kali ini aku di khianati oleh lelaki. Kenapa Dio yang sudah aku anggap sangat tulus dan aku pun telah memberikan semua yang aku miliki ternyata dengan mudahnya dia meniduri wanita lain di hotel itu Mel. Sakit mel, sakiitt sekali hatiku ketika melihat secara langsung tubuh wanita itu dan tubuh Dio yang tampak di penuhi oleh bekas cumbuan percintaan," ucap Aninda dengan menangis meraung di pelukan sahabat nya.


"Aku harus bagaimana Mel?? Aku sangat malu dengan diriku saat ini. Kenapa luka seperti ini yang selalu aku terima. Apa salahku Mel?" tutur Aninda dengan menepuk-nepuk dada nya yang terasa sangat sakit dan sesak tersebut.


"Kamu tidak salah apa pun Nin. Mereka saja yang tidak tahu bagaimana cara nya menghargai ketulusan orang lain," ucap Amel yang nampak kebingungan bagaimana cara menenangkan hati sahabat nya tersebut.


Sedangkan Akio pun nampak sangat sedih melihat keadaan Aninda saat ini yang terlihat sangat terpukul dan hancur.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dio? Kenapa dirinya dengan mudah berpaling dari Aninda yang sangat di cintai nya sedari dulu? Apa ini adalah sebuah jebakan yang telah di rencanakan dengan matang oleh seseorang?" gumam Akio di dalam hatinya tersebut dengan masih setia mendengar keluh kesah antara istrinya dengan Aninda.


"Terimakasih ya Mel kamu masih setia menemaniku hingga saat ini. Pulanglah, aku sudah lebih baik dari pada tadi sebelum bertemu denganmu," pinta Aninda dengan mengulas sebuah senyuman untuk sahabat nya tersebut.


"Beneran nih aku tinggalin pulang enggak masalah?" tanya Amel yang ragu dengan ucapan Aninda tersebut.

__ADS_1


"Beneran! Besok datanglah lagi kemari," ucap Aninda kemudian.


"Baiklah kalau begitu, kita pulang lebih dulu. Besok pagi kita akan kesini lagi, oke?" ucap Amel dengan kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh Aninda.


Amel dan Akio pun nampak telah pulang. Hingga siang pun berganti malam. Rumah dan lingkungan kampung Aninda pun terasa lebih sunyi dari biasanya.


Disaat tengah malam datang dan terlihat penduduk kampung sudah terlelap didalam tidurnya. kedua orang tua Aninda serta Aninda pun dikejutkan oleh beberapa preman yang menggunakan penutup kepala memaksa masuk dan mengancam keluarga Aninda tersebut.


"Ku beri kalian pilihan. Tinggalkan rumah ini saat ini juga dan jangan pernah memperlihatkan wajah kalian kembali di pulau ini atau jika kalian melawan maka dengan terpaksa kami akan melenyapkan nyawa kalian secara paksa!" ucap ketua preman tersebut dengan mengeluarkan sebilah pisau tajam yang siap di gunakan mengeksekusi keluarga Aninda jika berani melawan.


Kedua orang tua Aninda serta Aninda pun menjadi sangat panik dan ketakutan. Aninda pun nampak menghela nafas panjang untuk menguatkan hatinya agar berani serta memiliki nyali untuk bertanya kepada ketua preman ataupun pembunuh bayaran yang terlihat di sewa oleh seseorang tersebut.


"Baiklah kami akan keluar malam ini juga dan tidak akan pernah menginjakkan kaki kami kemari lagi. Namun izinkan saya bertanya untuk terakhir kalinya," ucap Aninda dengan suara yang dibuat seberani mungkin.


"Katakan!"


"Siapa yang menyuruh kalian?"


"Kami tidak berhak menjawab! Cepat kemasi barang kalian segera! Kalau bisa segera ganti identitas kalian dengan identitas yang baru agar kalian tidak mudah terlacak dan tidak kembali di datangi oleh pembunuh bayaran yang lain lagi untuk melenyapkan nyawa kalian bertiga!" ucap pentolan preman tersebut dengan nada intimidasinya namun juga berkesan memperingatkan dan melindungi Aninda beserta keluarga nya itu.


Setelah Aninda beserta keluarga nya sudah berhasil keluar dari kota tersebut, pentolan preman tersebut pun nampak bernafas dengan cukup lega.


"Semoga keberadaan kalian tidak akan ditemukan oleh orang yang menyewa jasa ku ini untuk melenyapkan nyawa kalian. Maafkan saya yang hanya bisa membalas kebaikan hati pak Dirga yang pernah menolong saya beserta adik saya semasa hidupnya dengan cara seperti ini," ucap lelaki tersebut dengan menitikkan air matanya dengan menerawang jauh.


"Jika aku tahu yang di jadikan target adalah keluarga pak Dirga yang pernah menolong dan menampung kami semasa kecil dulu, maka dengan cepat pasti akan ku tolak permintaan wanita kejam itu yang telah membayar jasaku," gumam preman sekaligus ketua pentolan pembunuh bayaran tersebut.


Dengan cepat ketua pembunuh bayaran tersebut segera merogoh sakunya dan menelepon orang yang telah menyuruh nya. "Target sudah kami lenyapkan."


"Kerja bagus! bayaran kalian akan segera aku berikan beserta bonusnya," ucap Vania dengan senyum mengembang dengan penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2