Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 39


__ADS_3

Aku benar-benar grogi dengan keadaan ini, rasanya hatiku mau copot saja ketika Mas Biyan sudah ada di sebelahku, sambil memainkan ponselnya,


Aku yang sedari tadi sudah rebahan di atas tempat tidur tak dapat memejamkan mata ini, sebab rasa was-was yang menyelimuti hati ini, maklum walaupun ini bukan yang pertama buat kami, tetapi rasanya begitu lain.


Hatiku terasa lega ketika Mas Biyan meminta ijin keluar sebentar untuk ketemu dengan beberapa relasi bisnisnya yang ada di bawah sana.


Akupun tak keberatan, sebab aku belum terbiasa dengan berada di sebelah dia, rasanya aku masih asing saja.


Hingga malam main larut, aku masih tak dapat memejamkan mata, mungkin karena pegal dan nyeri di kakiku yang membuat aku tak dapat memejamkan mata ini.


Kakiku benar-benar ngilu dan pegal. Kalau sudah begini aku tak dapat tidur, akhirnya aku mencari sesuatu untuk memijit kakiku sendiri.


Setelah menemukan apa yang aku cari, kemudian aku melangkah keluar dari dalam kamarku ini, aku menuju balkon yang ternyata lumayan dingin tetapi aku mungkin lebih nyaman di sini.


Aku mencari posisi tempat duduk yang panjang, dan mengangkat kedua kakiku ke atas kursi yang ada di luar balkon, perlahan-lahan aku pijit dan urut bagian tumit, dan pergelangan kakiku ini hingga aku merasa sedikit enakan.


Setelah di rasa agak enakkan aku berniat kembali ke ranjang untuk mencoba tidur, sebab bila kakiku masih nyeri sudah di pastika aku akan susah untuk tidur, dulu sewaktu di rumah mertua Mas Andra sering memijit aku hingga tertidur pulas sekali, tetapi di sini mana mungkin aku meminta mas Biyan memijit aku, yang ada malah aku tak enak sendiri karenanya.


Tetapi berapa kagetnya aku ketika aku mau membalikkan tubuhku, sebuah tangan kekar menyentuh pundakku dengan lembut, aku terhenyak kaget memegangi dadaku ini.


" Ya Allah Mas ngagetin saja kamu ini," seruku dengan muka yang masam.


" Maaf Dek,"ucapnya sambil terkekeh sendiri.


" Kamu kenapa? sakit ya kakinya?" tanyanya dengan penuh selidik, aku hanya menganggukan kepalaku saja lalu aku pun berlalu dari hadapannya, tanpa sepatah katapun.


" Dek, maaf ya lama tadi." Ucapnya merasa tak enak kepadaku.


" Ga apa-apa kok Mas, Mitha tidur duluan ya." Ucapku sambil bergegas, aku melangkahkan kaki ku menuju ranjang dengan cepat, aku takut Mas Biyan meminta haknya malam ini, aku masih malu sama dia, diakan hanya menikahi aku karena Malika dekat sama aku saja, seperti kata orang-orang selama ini.

__ADS_1


" Mas juga mau tidur Dek," serunya di belakangku.


Mas Biyan mematikan seluruh lampu di ruangan itu, kini tinggal lampu tidur saja yang menyala.


Aku sudah berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhku hingga sampai kepalaku, aku benar-benar tidak enak, aku tidak percaya diri berada di sebelah dia, dia pria tampan kaya, dan juga bau tubuhnya wangi sekali untuk ukuran laki-laki.


" Aduh, kok kepalanya di tutupi sih dek, nanti kalau tidak bisa nafas gimana?" Seru Mas Biyan menggoda aku.


Betapa menyebalkan sekali mahluk satu ini, idih dia mendekat ke punggungku, hembusan nafasnya terasa di cekuk leherku ini.


Mataku terpejam dan tak bergerak, aku pura-pura saja terlelap biar dia tak menggodaku.


Aku benar-benar belum siap, dan aku tidak percaya diri di depan Mas Biyan, lebih tepatnya sebenarnya aku ini tak pantas jadi istrinya dia, awalnya aku menerima Mas Biyan karena aku butuh perlindungan, dan Mas Biyan butuh aku untuk Malika, tetapi ternyata seperti ini jadinya, Mas Biyan serius padaku.


" Dek, capek ya?" Ucapnya dengan lembut, suara beratnya terdengar nyaring di telingaku ini.


" Ya Suda Bobok saja kali gitu, tapi sini dong geser dikit nanti kamu jatuh lho, mas ga terima bila kamu sampai jauh, aku nanti bisa memukuli lantai itu bila kamu nanti jatuh." Ucapnya dan seketika membuat aku mendelik ke arahnya.


Seperti biasa Mas Biyan akan terkekeh geli bila melihat merajuk, aku menatap tajam dan mendelik ke arahnya.


" Maaf " Ucapnya masih dengan tawanya yang menggelegak itu.


" Sini Mas pijitin kakinya bila masih capek." serunya kemudian.


" Ndak usah Mas" tolak ku padanya.


Tapi berapa kaget ya aku, ketika tubuh dia yang tadinya berada di belakang ku, kini tiba-tiba sudah naik di atas tubuhku, hingga membuat aku jadi memekik tak karuan.


" Mas... Bisa kita lakukan besuk saja," pintaku dengan penuh permohonan.

__ADS_1


Mas Biyan tak menjawab permintaan aku itu, dia malah tersenyum dengan nakalnya.


Aku dengan susah payah menelan saliva ku, membayang tubuh kekarnya di atas tubuhku sudah tak karuan hati ini, aku ngeri-ngeri sedap membayangkannya, dia sepertinya orang yang sangat berbahaya ketika sudah ada di atas ranjang, beda jauh sama Mas Andra.


Kini bola mata Mas Biyan sudah menyendu menatapku, akhirnya aku tak dapat mengelaknya lagi, dengan cepat bibirnya sudah menyambar bibirku ini yang hendak bicara padanya.


Sebuah gelombang yang sudah lama tidak aku rasakan kini hadir di malam ini, tubuh kekar itu bermain-main dengan lembut di atasku, memanjakan aku, membuat aku bahagia hingga mencapai awang-awang, beberapa kali Mas Biyan memberikan aku gelombang kenikm*tan itu secara terus menerus hingga membuat tubuhku terkulai lemas tak berdaya, sungguh tak meleset,


Apa yang aku takutkan terjadi, Mas Biyan bukan hanya pria gagah di kalangan teman-temannya terapi dia juga gagah di atas ranjang, dia begitu mematikan di atas ranjang, jujur baru kali ini aku merasakan kep*asan menjadi pasangan suami-istri, Mas Biyan memang luar biasa.


Tapi aku takut aku tak sanggup mengimbanginya, dia begitu kuat sekali padahal aku sudah tak berdaya.


Sudah tiga malam Mas Biyan meminta bermain terus tanpa henti, kadang siang pun dia masih aktif beroperasi, katanya biar cepet memberikan adik buat Dimas dan Malika, padahal Dimas dan Malika saja masih bocil semua, ah modus saja permintaan Mas Biyan itu.


" Sudah ya Mas." Aku menolak ketika baru selesai mandi, sebab siang ini kami mau pulang ke rumah, jangan sampai dia memperpanjang menginap di sini.


" Terakhir kali dek, nanti malam saja kita baru pulang ke rumah, pasti aku sudah tak dapat jatah dari kamu dek, pasti aku akan kalah sama anak-anak." Pria tinggi kekar itu merajuk di sebelahku persis seperti anak kecil mau meminta lolypop saja.


" Ya ampun Mas, kaki aku masih keder mas rasanya, tubuhku gemetaran, aku ga mau sakit nanti anak-anak gimana, kamu sudah garap aku sing dan malam tak mau istirahat, cuma makan dan sholat saja aku baru bisa bernafas lega." keluhku padanya.


" Ini beneran Yank terakhir, " bujuknya lagi, kali ini dia berlutut di hadapanku, memegang jemariku yang tengah merapatkan baju yang belum sempat aku kancing kan.


Kalau sudah begini aku bisa apa, yang ada aku hanya pasrah saja, jujur aku juga sangat menikmati semua perlakuan lembut dan manis dari Mas Biyan, tetapi tubuhku juga punya kapasitas untuk istirahat juga, ibaratnya mesin aku juga butuh di dinginkan, aku sudah punya anak satu jadi wajar bila tak berdaya kalau di forsir, kalau di ajak kaya gitu juga harus ada perhitungan nya, tetapi ini tidak, Mas Biyan malah ngeyel dan menjadi-jadi.


Membayangkan tubuhnya yang kekar menindih tubuhku yang mungil ini saja sudah membuat aku ngeri lagi, sudah jangan di tanya kakiku pasti besuk tak dapat jalan dengan baik, ini saja aku jalan sudah kaya orang habis di sunat.


Untung masih di sini, coba kalau di rumah pasti aku sudah di ketawa-in sama Mbak Siti dan Bi Pur.


Ya ampun Mas, tenaga kamu ini kaya tidak ada habisnya saja, aku hanya bisa menggeleng kepala saja dengan pasrah.

__ADS_1


__ADS_2