Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2 ) Bab 19


__ADS_3

" Kita masuk mobil saja yuk, kita ngobrolnya di dalam saja, biar enak." Seru Pak Biyan pada kami, yang tengah melepas rindu ini.


Akhirnya kamipun masuk ke dalam mobil mewah itu, mobil Alph*rd yang mempunyai kapasitas tempat duduk yang cukup luas dan nyaman.


Baru kali ini aku menaiki mobil mewah itu, serasa di dalam rumah saja, terasa nyaman sekali, Dimas nampak begitu bahagia bisa menaiki mobil ini.


" Bu...bu... obingnya ngingin, hole imas tuka"( mobilnya dingin,hore Dimas suka) Ucap anakku itu dengan bahagianya.


Aku hanya tersenyum getir mendengar celotehannya.


" Dimas suka ya?" tanya Pak Biyan pada anakku itu. sebuah anggukan dan senyum yang bahagia terlihat lucu di mataku ini.


***


POV Andra.


Kecelakaan yang menimpa Bowo membuat aku pusing saja, aku harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membantu adik iparku itu, selain untuk biaya berobat dia sendiri, Bowo di tuntut oleh pihak keluarga yang di tabrak itu dengan meminta santunan uang yang tidak sedikit.

__ADS_1


Tentu saja aku keberatan mengeluarkan uang sebanyak itu, aku hanya memberikan bantuan separuh saja, itupun dengan perjanjian bawa Bowo meminjam kepada aku, aku sudah mu*k dengan adik iparku itu, sudah pengangguran banyak tingkah lagi, apa lagi belakangan ini aku tahu bahwa Bowo punya Wil di luar sana.


Aku tak terima, walaupun sampai detik ini Sinta tak tahu akan hal itu tapi sebagi kakak dan pengganti seorang ayah, bagiku itu sungguh sangat keterlaluan dan menginjak harga diri keluarga kami, dasar benalu dia tega mengkhianati adikku sendiri, ya walaupun aku tidak suka sama kelakuan Sinta tetapi bagaimanapun juga dia adalah adik kandung aku, dan aku lah pengganti dari ayah.


Keuangan aku main menipis akibat dari ulahnya Bowo itu, harusnya aku dapat bonus yang lumayan banyak dari perusahaan yang bisa aku gunakan untuk liburan bersama Wulansari sebagai hadiah dari pernikahan kami ini.


Aku sebenarnya baru saja menikah dengan Wulan secara diam-diam, tanpa ada yang tahu, ibu ku pun tak tahu bila aku menikah lagi, semenjak aku naik jabatan sebagai manager di PT Buana Saputra tak seorang pun tahu akan gajiku yang terbilang lumayan tinggi, hingga membuat aku menjadi jumawa, bahwa aku bisa menggaet wanita manapun, termasuk Wulan, wanita yang aku kenal dalam acara di Perusahaan itu termasuk idaman para pria yang butuh kep*asan di atas ranjang.


Aku bisa punya istri lebih tanpa harus bercerai dengan Mitha, dan jangan sampai Mitha tahu, sebab aku tak ingin kehilangan dia, bila Mitha minta berpisah bagaimana nasibku dan keluarga aku nantinya, bisa runyam.


Dia adalah janda beranak satu, yang di cerai sama suaminya kasihan dia, tentunya itu sah-sah saja pria menikah lagi, apalagi yang aku nikahi janda beranak satu pula, ya tentunya akan mendapat pahala yang banyak, sebab aku termasuk ikut merawat seorang janda beranak satu, begitu pikirku.


Nah itu yang tak aku dapatkan dari Mitha, tapi aku juga tak mau kehilangan Mitha, sebab dia wanita yang sangat penurut dan tak terlalu menuntut banyak, dia juga sabar sekali menghadapi sifat ibuku yang super cerewet itu.


Nafkah yang aku berikan hanya satu juta saja ia terima dengan senang hati, tanpa menuntut lebih, tetapi berbeda sama Ibuku dan Istriku yang baru ini, berapapun akan habis bila sudah aku berikan, gajiku aku kasihkan tiga juta ibu, kadang itu saja masih saja meminta bila ada acara arisan, dan lain-lain, belum lagi adikku Santi untuk biaya sekolah.


Sementara Wulan, oh istri baruku itu setiap bulan aku jatah lima juta saja juga masih saja kurang, padahal dia itu juga kerja kantoran, entah uangnya di belikan apa akupun tak tahu terserah yang terpenting dia melayani aku dengan puas di atas ranjang.

__ADS_1


ketika aku berada di rumah Wulan, aku ijin sama Mitha kalau aku pulang kerja langsung mengurusi Bowo di rumah sakit, padahal aku bohong kala itu.


Saat aku sedang bermesraan dengan Wulan tiba-tiba aku di telpon sama ibu dan mengabarkan bahwa Mitha pergi dari rumah, tentunya bersama dengan Dimas anakku, aku ketir-ketir mendengar kabar buruk itu, memang jauh-jauh hari Mitha sudah mengeluh ingin pindah kontrakan, dia sudah tak kuat dengan ocehan ibuku yang kalau marah seperti kereta api saja, panjang tanpa bisa berhenti, tentu aku menolaknya sebab nanti rumah siapa yang mengurusi dan mana ada uang buat biaya kontrak, buat Wulan sama ibu saja kadang masih kurang.


Beberapa hari memang aku membiarkan Mitha, sebab aku pun tak dapat pulang, karena aku harus mengurusi ibunya Wulan yang lagi sakit, duh tambah lagi pengeluaran ini.


Aku hanya bisa menelpon dan menanyakan keadaan Mitha saja, dan aku pun sekalian ijin padanya tidak bisa pulang, dan beralasan pada Mitha bila aku sedang mengurusi Bowo dan menyelesaikan pekerjaan kantor, hingga berlanjut kebohongan aku pada Mitha bawah aku sedang dinas di luar kota, biar Mitha tidak mencurigai aku, pikirku begitu.


Tapi tak aku sangka saat berada di Rumah sakit kami bertemu dengan Bosnya Wulan, dia ternyata adalah pemilik anak dari pemilik perusahaan Buana Saputra Grup. dimana aku bekerja di sana.


Pak Biyan itulah namanya, yang saat ini Pria yang tampan dan macho itu telah menengok ibu mertuaku yang tengah sakit, dan dia ternyata di rumah sakit itu juga sedang menunggu seseorang wanita yang telah di tabrak nya beberapa hari yang lalu, wanita itu baru saja pindah di depan rumahnya, dan mempunyai anak kecil dan tak ada keluarga dari wanita itu yang bisa menungguinya, sebab dia hanya berdua saja bersama dengan anaknya, sementara suaminya pergi ke luar kota, begitu ceritanya Pak Biyan pada kami.


Ah cerita Pak Biyan itu mengingatkan aku pada istriku Mitha, bahkan saat ini aku sangat merindukannya, entahlah kenapa aku ini mencintai dua orang wanita dalam waktu bersama, aku tak mau kehilangan Mitha, dia itu sebenarnya cantik, bahkan lebih cantik dari Wulansari, hanya saja dia kurang merawat diri, rumah hanya memakai daster terus, bahkan kadang dasternya sobek di beberapa bagian.


Sementara Wulansari dia adalah wanita yang modis dan seksi, tubuhnya begitu bohay dan berisi, tak seperti Mitha yang terlihat kurus, walaupun kulit Mitha putih bersih tetapi Wulan lebih berisi dan mengairahkan di atas ranjang.


" Boleh saya melihat wanita yang Bapak tabrak sebagi balasan kunjung Bapak Biyan ke sini" Ucap Wulan pada bosnya itu.

__ADS_1


" Tentu saja, silahkan bila ingin berkunjung, sebab sebentar lagi kami sudah mau pulang tinggal menunggu Pak Ujang yang masih terjebak macet di jalan." Ucap Pria itu dengan suaranya yang terdengar berwibawa itu.


Seketika perasaan aku jadi tidak enak, entahlah aku tak tahu, wajah Dimas dan Mitha begitu membayang-bayangi di pelupuk mataku, Dimas yang sangat menggemaskan itu, dan Mitha, oh istriku yang ayu itu begitu tiada duanya, wajahnya yang ayu dan lembut itu terlihat sangat aku rindukan dengan tiba-tiba.


__ADS_2