
Ku lihat suasana masih lengan ketika aku di lantai bawah, Bibi sudah menyambut di depan pintu sambil menenteng paper bag, sarapan yang aku pesan.
" Pagi Non, mari saya antar ke depan." sebelum Mak Lampir lihat Mbak di sini" Bisik Bibi sambil menarik aku berjalan ke arah pintu keluar.
" Dih Bibi ada-ada saja, emangnya kenapa Bi, kalau dia lihat saya, saya tidak takut Bi, lha ini rumah saya kok," balasku.
" Ia Non, Bibi tahu tetapi masalahnya dia itu ga tahu diri mbak, sudah numpang belagu lagi " seru Bibi dengan sengit.
Aku hanya terkekeh sambil masuk ke dalam kursi kemudi mobil, dan Bibi mengikuti aku dan meletakkan papar bag di kursi samping.
" Hati-hati Non, jangan ngebut" kata Bibi memberi saran.
" Ia Bi, terimakasih ya? Bibi juga hati-hati di rumah ga usah ribut sama Mak nya" pamit ku, sambil aku menggoda Bibi yang berdiri di pinggir mobil, Bibi bibirnya manyun ketika aku godain.
Aku mengklakson supaya pak Jono membukakan pintu gerbang untukku, ketika pintu gerbang sudah di buka aku menginjak gas, dan saat aku melihat ke arah spion mobil aku melihat dari kejauhan nampak dua orang pria dan wanita muda keluar dalam rumahku sambil menenteng koper di tangannya, tak lain ialah Zaenab dan Pak Udin.
__ADS_1
Apa mereka sudah sadar diri lalu pergi tanpa pamit, karena malu? ah sudahlah yang penting pengacau itu tak ada lagi sekarang, sebuah senyuman terbit di bibirku.
Dan setelah keluar dari pekarangan rumah aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, dan mobil ku berbaur dengan kendaraan yang lain, membelah kota Jakarta, di saat hari masih pagi seperti ini suasana jalan belum terlalu padat, aku gas kendaraan ku sedikit lebih cepat.
POV Author
Setelah itu di lain tempat, seorang wanita paruh baya dari dia bangun tidur tadi tidak menemukan anak dan suaminya di kamar, wanita itu panik dan gelisah, dan ketika dia menanyakan hal itu pada para pelayan di rumah ini semua menjawab tidak tahu, sebab Zaenab dan Bapaknya pergi begitu saja tanpa pamit kepada penghuni rumah, sebenarnya pelayan dan scurity tahu Zaenab dan Pak Udin keluar dari rumah mewah itu, tetapi berhubung mereka juga sudah terlanjur kesal pada keluarga itu, makanya mereka bilang tidak tahu.
Para pelayan tak mau ribut sama Bu Marni, yang ada malah membuang-buang tenaga saja bila meladeni wanita tua itu.
Wanita tua itu terus melahap makanannya hingga tandas, dia mau mengisi perutnya setelah itu dia baru mau mencari kedua orang itu.
Bu Marni makin bingung sebab besuk dia sudah harus angkat kaki dari sini, dan orang yang di jadikan alasan untuk tinggal di sini sudah tak ada lagi, terus dia harus bagaimana lagi untuk mencari alasan untuk tinggal di sini.
Terlalu enak tinggal di sini, makan tinggal makan tak perlu repot, tak perlu mikir buat makan besuk.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Bu Marni dengan nekat ingin bertemu dengan Pak Adi melalui para pelayan, wanita itupun ingin meminta maaf dan meminta kepada Pak Adi untuk mencarikan pekerjaan.
Dan Pak Adi adalah orang yang baik dan mudah memaafkan orang lain, jadi Bu Marni dengan mudah di maafkan, dan serta mendapatkan pekerjaan dari Pak Adi.
Dan harapan Pak Adi adalah Bu Marni sungguh-sungguh menyadari akan kesalahannya.
Pak Adi hanya memberikan pekerjaan sebagai art di rumahnya, sebab wanita paruh baya itu selain usainya sudah lanjut, ia juga tak punya kemampuan apa-apa.
Maka akhirnya Bu Marni di terima bekerja sebagai art di rumah Pak Adi.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Pram Dan Karina hidup dalam kebahagiaan dan di karunia anak kembar, sementara Zaenab dan Pak Udin kembali ke desa asalnya Pak Udin, dan mereka hanya hidup berdua dengan anaknya di sana dengan kesederhanaan.
Itulah akhir dari cerita ini, setiap apa yang kita tabur pasti akan kita tuai di kemudian hari, dan semuanya akan memetik dari apa yang kita tanam.
__ADS_1