
Pagi pun menyambut kedua insan yang masih tertidur dengan sangat pulas dengan saling berpelukan memeluk satu sama lain.
Aninda pun nampak mengendus tubuh Dio dan memeluknya dengan sangat erat. Dalam benak Aninda, yang dia peluk adalah sebuah guling yang biasa iya peluk ketika berada di kamar asramanya tersebut.
"Hemm.. Kenapa gulingku aroma nya berbeda dan terasa lebih padat dan keras??" Gumam Aninda dengan mata yang masih tertutup dan nampak belum sadar sepenuhnya dari bangun tidurnya itu.
Dio yang merasa geli karena dada nya di raba-raba oleh jari jemari Aninda pun reflek membuka matanya dengan cepat.
"Astaga, jari jemari tangan Anin kenapa bisa meraba-raba dada ku sampai kemana-mana. Astaga jangan sampai jari jemari Aninda ini turun meraba sesuatu yang lain." Pekik Dio didalam hati sembari menahan nafasnya tersebut.
Dengan cepat Dio pun nampak pura-pura menggeliat dan memunggungi tubuh Aninda untuk menghindari hal-hal tidak di inginkan lebih jauh.
Aninda yang merasa jika guling yang nampak ia peluk tersebut bisa berpindah posisi pun seketika mata Aninda pun menjadi terbuka dengan sempurna.
"Astaga, apa yang telah terjadi? Kenapa aku bisa satu ranjang dengan Dio??" Pekik Aninda dalam hati.
Dengan cepat Aninda pun menyibakkan selimut yang ia pakai. Aninda pun nampak bernafas lega karena ia masih mengenakan baju yang utuh sama seperti yang ia kenakan semalam.
"Dio, bangun. Kamu pindahlah ke kamar kamu sendiri. Aku mau segera mandi dan bersiap ke kampus." Ucap Aninda dengan menggoyang-goyangkan tubuh Dio.
Dio yang sebenarnya telah bangun sedari tadi pun nampak pura-pura menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya dengan perlahan.
Tanpa berbasa basi lagi, Dio pun nampak menarik tubuh Aninda ke dalam pelukan nya.
"Muah. Selamat pagi Aninda sayang." Ucap Dio dengan mencium bibir Aninda secara singkat dan segera bangun dari tidurnya kemudian menuju ke dapur mengambil air minum untuk membasahi tenggorokan nya.
Aninda yang dicium secara tiba-tiba oleh Dio pun menjadi terkejut hingga membuat jantungnya pun berdegup dengan sangat cepat.
"Pagi yang mengejutkan!" Pekik Aninda di dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Dengan cepat kemudian Aninda merapikan tempat tidurnya dan kemudian melenggang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhn.
Sedangkan Dio, nampak menyibukkan diri membuat sarapan pagi. Kali ini Dio hanya membuat sarapan nasi goreng simpel dengan irisan sosis dan bakso ala rumahan dengan kerupuk udang sebagai pelengkap makanan nya.
Dio pun nampak sangat lihai menyajikan makanan tersebut ke dalam piring untuk dirinya dan Aninda dengan dua gelas susu putih hangat serta dua gelas air putih.
Setelah dirinya selesai menyakin sarapan nya tersebut, Dio pun dengan cepat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dio pun telah bertekat untuk benar-benar mengawasi Aninda selama 24jam setiap harinya. Jadi kemana pun Aninda pergi maka dirinya akan selalu ada di dekatnya tersebut.
Dio pun sama sekali nampak tidak kawatir karena dirinya pun sudah terbiasa menghadapi kasus misterius seperti itu dan dirinya pun jago ilmu bela diri ditambah diam-diam Dio pun membeli senjata untuk melindungi dirinya sendiri jika di perlukan dalam keadaan darurat.
Namun yang tidak dimiliki Dio selama di Jepang adalah bodyguard saja. Bukan tak mampu untuk menyewa dan merekrut beberapa bodyguard. Hanya saja Dio berpikir jika bodyguard sangat belum ia butuhkan.
Tak berapa lama Dio pun telah rapi dengan setelan style nya yang biasa digunakan anak kampus pada umumnya.
Sedangkan Aninda yang baru selesai berdandan dan merapikan keperluan yang akan di bawa nya ke kampus pun nampak melongo melihat Dio yang telah rapi dan sarapan yang telah siap tersaji.
Dio pun nampak mengangguk dan mempersilahkan Aninda untuk segera duduk di kursi meja makan yang berhadapan dengan nya tersebut.
Aninda pun nampak menurut dengan perintah Dio tersebut. Kedua nya pun nampak makan dengan khidmat dan lahap.
Seperti biasa masakan yang Dio buat selalu membuat Aninda takjub. Walaupun hanya dengan menu sederhana sekalipun.
"Sangat enak seperti biasa. Cocoknya kamu menjadi chef terkenal saja Dio. Kamu bukalah restoran. Sudah pasti restoran kamu akan selalu ramai dikunjungi banyak orang. Masakan kamu sangat enak-enak semua lho." Ucap Aninda dengan mulut penuh makanan.
Dio yang melihat Aninda nampak sangat antusias memakan masakan nya pun menjadi sangat senang.
"Tidak, aku hanya ingin memasak khusus untuk kamu dan anak-anak kita nanti." Ucap Dio dengan tersenyum hangat ke arah Aninda.
__ADS_1
Aninda yang di beri gombalan seperti itu pun hanya menanggapi dengan mencebik kan bibirnya.
Aninda pun kembali melahap nasi goreng buatan Dio tersebut dengan lahap. Tak lama kemudian nampak nasi goreng dipiring masing-masing tersebut sudah habis tanpa sisa.
Dengan cepat kali ini Aninda mengangkat semua piring kotor dan di angkutnya menuju wastafel untuk segera ia cuci.
Aninda yang mencuci piring-piring kotor tersebut sedangkan Dio membantu untuk membilasnya.
"Kita sudah seperti suami istri yang kompak ya?" Seloroh Dio.
"Haihh, terserah kamu sajalah." Ucap Aninda yang tidak mau berdebat panjang dengan Dio tersebut.
"Ayo cepat bersiap, aku antar kamu ke kampus segera." Ucap Dio memberikan instruksi kepada Aninda.
Aninda segera mengambil tas nya tersebut dan mengikuti langkah kaki Dio yang tengah mengambil kunci mobil di meja ruang tengah.
"Aku sudah siap. Ayo kita berangkat." Ucap Aninda.
Dio pun dengan segera menuju pintu keluar dan menggandeng tangan Aninda dengan sangat erat.
Aninda pun tidak nampak menolak genggaman tangan Dio tersebut. Karena sia-sia saja jika ia menolak pasti Dio pun tetap dengan kukuh tidak akan melonggarkan genggaman nya itu.
Mobil yang dikendarai oleh Dio pun nampak telah melaju dan tak berapa lama kemudian telah sampai di depan gerbang kampusnya itu.
"Kamu masuk lah dengan tenang. Aku yang akan mengawasi kamu dari jarak dekat. Namun aku juga sambil kuliah zoom loh ya?? Kalau ada apa-apa segera telepon aku." Ucap Dio dengan mencium kening Aninda dengan perlahan.
"Huh, kamu jangan sedikit-sedikit menciumku seperti itu lagi ya." Pinta Aninda.
Dio pun hanya nampak menanggapi dengan senyum kecil saja. Sedangkan Aninda nampak segera melenggang masuk ke dalam kampus.
__ADS_1
Dio lantas segera memarkirkan mobilnya tersebut ditempat yang aman. Ia pun segera menggunakan masker serta topi dan memakai tas nya tersebut mencari tempat yang aman untuk mencari jejak lelaki misterius tersebut sambil mengikuti kelas daring yang wajib ia ikuti menggantikan kuliah tatap muka nya tersebut.