Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 16


__ADS_3

"Mas pelan-pelan dong, ga enak di denger Ibu, ga lucu kalau aku melengking keenakan, aku malu mas, tapi aku pingin juga" Seru Karin dengan sudah menahan hasratnya nafasnya sudah tak beraturan lagi, sementara bajuku sudah dia lepas dan baju dia baru atas saja yang bisa aku buka kancingnya.


Aduh masih susah saja mau menjalani sunah Rasul sih, takut berisik dan di dengar Ibu.


Tok-tok-tok


Kami terjekat ketika mendengar ketokan pintu dari arah luar, aku dan Karin saling berpandangan dan mata kami terbelalak, "Ada apa ya Mas?" seru Karina yang kaget akupun juga begitu, ketika gairah sudah sampai pada ubun-ubun di sela dengan suara ketukan pintu dari arah luar rumah.


" Turun dulu Dek, mas lihat dulu ya". Dan aku menyuruh Karin turun dari pangkuanku sambil dia membetulkan baju yang dia kenakan.


Lalu aku buru-buru memakai bajuku lagi yang tadi sudah dilucuti sama Karina.


Lalu aku berjalan ke arah pintu kamar dan berniat untuk membuka pintu luar, tetapi sesampai di ruang tamu, ternyata Ibu sudah membuka pintu itu, dan tamunya adalah paman yang menjemput ibu untuk menemani anak-anak paman tidur di rumahnya, sebab paman mau ada perlu ke Jawa tengah.


" Ibu tinggal dulu ya Pram, paling besuk pagi ibu balik ke sini" pamit ibu padaku.


" Ia Bu, " aku tersenyum lega, entahlah ini rejeki, tahu aja apa mau kami, lirihku dalam hati.


" Paman minjam ibumu dulu Pram soalnya malam ini Paman langsung berangkat ke Jawa tengah" ujar padaku paman di balik pintu.


" Ia paman, apa saya antar saja ke stasiun saja?" ucapku menawarinya.


" Sudah, aku bawa motor saja nanti di titipkan stasiun jadi sewaktu-waktu pulang ga perlu ngrepotin kamu nanti," balas Paman menjelaskan.


" Ya sudah Paman hati-hati di jalan"ujarku sebelum aku menutup pintu pagar.


Setelah aku mau menutup pintu pagar tiba-tiba, Zaenab muncul dari dalam rumahnya memanggil aku.


" Mas Pram di rumah sendiri?" tanya Zaenab dengan sedikit teriak di balik pagar rumahnya.


" Sama Karina kok Nap," balasku juga teriak.

__ADS_1


" Aku kira sendiri Mas, kalau sendiri aku bisa temani kok," sahutnya lagi.


" Udah ya Nap, aku masuk dulu di tunggu Karina di kamar soalnya" seruku dan tanpa menunggu jawaban dari Zaenab aku langsung masuk saja ke dalam.


" Sang mantan ngapain Mas?" aku terjekat kaget melihat dia yang tiba-tiba sudah berdiri di balik pintu.


" Dia cuma menyapa saja, jangan cemburu ya neng, ga akan Mas kepincut sama dia kok, yang ini aja udah kinclong kaya gini masak nyari yang aneh-aneh." Godaku pada istriku, sambil menutup pintu ruang tamu.


Lalu Karina dengan tak sabaran menarik lenganku dan masuk ke dalam kamar.


" Mas cepetan aku pingin ininya ?" tunjuk Karina pada sesuatu yang sudah bangun dari tadi, aduh mesum sekali istriku ini.


" Sabar sayang Mas juga pingin kamu, tapi sabar ya neng." Balasku dengan senyum jail.


Dengan sigap aku dan Karina sudah ada di atas ranjang bahkan aku sudah siap menjadi kuda bagi dia, malam ini Karina benar-benar menjadi penunggang kuda yang handal dia memacu kudanya dengan lihai dan dengan kecepatan tinggi.


Untung aku sudah siapkan badanku sedemikian rupa, Istriku yang kelewat li*r malam ini bisa aku kendalikan.


" Mas, aku capek pijitin ya?" serunya sambil matanya terpejam.


" Ia dek, mas pijitin kamu, tidurlah" ucapku sembari ku memijit dan mengurut kaki dan badannya yang terlihat putih dan mulus sekali seperti bayi.


" Besuk lagi ya Dek?" rengekku di dekat telinganya, kenapa aku jadi ketagihan kaya gini pada Istriku, apa karena pengantin baru.


Tak ada jawaban hanya anggukan kepala saja yang aku lihat.


Aku kembali melanjutkan mengurut badannya sampai dia tertidur pulas, dan baru aku bisa tidur di sampingnya, memeluk dia dengan dari belakang dan menyusul dia mengejar mimpi.


Ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana, Karina dengan jahilnya memainkan belalai yang mulai memanjang itu dengan bibirnya, duh pagi-pagi sudah kaya gini cobaannya. Untung istriku keluhku tapi juga senang.


"Sayang" seruku dengan suara serak.

__ADS_1


" Mas... aku-" rengeknya dan tak lama kemudian.


Bless... sesuatu yang di tancapkan di bawah sana, aku kaget karena Karina memulainya dengan tiba-tiba, dia sudah mulai memacu kudanya lagi dengan sedikit l*ar, kali ini gerakan tubuhnya begitu kencang membuat aku memekik kaget, karena kesadaran ku belum pulih benar.


Sesuatu yang hangat menjepit di bawah sana, membuat otakku tak dapat berpikir, yang ku lakukan hanya bisa menikmatinya saja, ulah istriku itu.


" Oh, sayang " seruku sambil memegangi kedua pahanya.


Ku biarkan Karina sesuka hatinya melakukan yang ia suka, aku tersenyum puas ketika dia keluar berkali-kali, dengan nafasnya yang memburu, dan ambruk di atas tubuhku sampai tak berkutik, tanpa ia melepas sesuatu di bawah sana, aku sebenarnya geli setelah mati dengan sesuatu di bawah sana masih tertancap, tapi sepertinya Istriku menyukainya jadi kutahan saja sampai dia merasa puas.


Dan baru ketika dia tertidur pulas aku baru merebahkan tubuhnya di sampingku dengan hati-hati agar dia tak kebangun lagi.


Kupandangi wajah cantik itu dengan senyum bahagia, kulit putihnya seputih s*s* membuat aku ingin menciuminya, tak susah membuat kamu bahagia sayang, lirihku sambil ku elus-elus pipinya yang putih dan halus itu, lirihku.


Usai sholat subuh aku bangunkan Karina dengan penuh kesabaran, aduh dia kalau pagi dan sehabis bertempur susah untuk di bangunin.


Kaya anak kecil kalau mau membangunkan dia itu, butuh kesabaran extra.


" Dek, bangun dulu yuk mandi trus sholat " bujukku berkali-kali.


" Ia Mas" jawabnya yang masih diam di tempat.


" Ayolah sayang nanti di lanjutkan lagi boboknya" bujukku dengan rayuan.


Aku membangunkan dia sampai dia benar -benar bangun, dan ketika sudah melihat dia sudah bangun dan melangkahkan kakinya kamar mandi aku baru keluar dari kamar.


Ketika mencari ibu belum pulang, aku akhirnya Mecari kesibukan dengan berberes-beres sebisaku, dan ketika akan berniat membuat sarapan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Ternyata ibu datang, Ibu yang pulang dari rumah Paman sudah membawa rantang membuat wajahku jadi sumringah, ga perlu di tanyakan pasti isinya sarapan.


Ku sambut ibu dan ku ambil rantang itu dari tangannya.

__ADS_1


Aku dengan sigap menata semua menu di atas meja makan, dan menyiapkan piring serta air teh yang sudah aku siapkan tadi.


__ADS_2