
Kedatangan keluarga Dio pun di sambut dengan baik oleh seluruh warga kampung.
Sedangkan orang tua Liliana pun masih terlihat canggung dengan kedatangan besan nya tersebut.
"Pak Dirga, mohon maafkan segala kesalahan keluarga kami. Terutama putra kami ya pak. Semoga Pak Dirga bisa menerima dengan baik putra saya Dio yang telah menjadi menantu Pak Dirga," tutur Papa Dio dengan sungguh-sungguh.
"Asalkan Nak Dio tidak kembali menyakiti putri saya kembali maka dengan senang hati kami menerima Nak Dio sebagai menantu kami," jawab Ayah Liliana.
"Setelah ini saya menginginkan untuk pernikahan keduanya segera di sahkan oleh pencatatan sipil. Setelah nya kami ingin mengadakan acara resepsi mewah untuk ke Dio dan Aninda. Apakah Pak Dirga telah siap untuk kembali ke kampung halaman?" tanya Papa Dio dengan menatap lekat wajah besan nya tersebut.
Sedangkan Ayah Liliana pun terlihat bimbang serta terlihat sangat berat meninggalkan kampung halaman yang baru beberapa bulan di tempati nya tersebut.
"Pak Dirga bisa kembali berkunjung kemari kapan pun," ucap Abah Saleh yang mengerti ketidak relaan Ayah Liliana meninggalkan kampung yang telah membawa kehidupan baru untuk nya tersebut.
Ayah Liliana pun terlihat meneteskan air mata nya. Jika dirinya benar-benar kembali ke kampung halaman nya maka dirinya akan kembali ke identitas nya dulu.
"Terimakasih Abah Saleh dan seluruh warga di kampung ini yang telah berbaik hati terhadap keluarga kami. Kami pasti akan sangat merindukan Abah Saleh beserta seluruh warga kampung ini," ucap Ayah Liliana dengan menangis terisak karena tidak menyangka jika dirinya harus meninggalkan kampung damai tersebut dan kembali menuju ke kampung halaman nya kembali.
"Seluruh warga kampung disini pun akan kami undang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan putra putri kami. Serta seluruh akomodasi pulang dan pergi saya yang akan menanggung nya," ucap Papa Dio yang membuat seluruh warga kampung terlihat senang.
Dio pun terlihat tersenyum senang karena tidak menyangka jika dirinya telah menikah dengan Aninda walau masih menikah secara agama saja.
Dio pun terlihat terus menatap lekat wajah Aninda yang masih terlihat sibuk mengobrol bersama Amel.
"Kenapa Aninda belum juga mau untuk ku ajak mengobrol? Apa Aninda masih marah denganku?" gumam Dio di dalam hati.
Sedangkan Aninda pun sebenarnya hanya masih merasa canggung dan butuh waktu sedikit lagi untuk memulai semua nya dari awal.
Mau menjawab obrolan dari Dio pun lidah nya rasa nya masih kelu dan malu-malu hingga yang terjadi keheningan yang tercipta di antara keduanya.
Setelah berdiskusi panjang dan lebar serta menemukan titik terang, maka keluarga Liliana pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di hari itu juga.
Tangis dari warga pun pecah mengiringi kepergian keluarga Liliana tersebut. Serta rumah yang pernah ditempati oleh keluarga Liliana kini pun telah di hibahkan untuk di jadikan sebagai balai pertemuan di kampung nya tersebut.
Beberapa hari pun telah berlalu. Yang artinya Aninda beserta kedua orang tua nya pun kembali ke identitas semula.
__ADS_1
Aninda pun telah berada di rumah kedua orang tua Dio dan sedang sibuk melakukan fitting baju pengantin bersama designer ternama yang di datangkan secara langsung menuju ke kediaman mewah kedua orang tua Dio.
Sedangkan Dio pun terlihat terus menerus tersenyum menatap istrinya tersebut dengan penuh rasa syukur.
...----------------...
"Saahhhh!!!" teriak seluruh tamu undangan.
Dio dan Aninda pun akhirnya telah resmi menjadi pasangan suami istri yang tercatat di pencatatan sipil.
Beberapa tamu undangan pun bergantian memberikan selamat kepada kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia tersebut.
"Kamu lelah, sayang?" tanya Dio yang melihat Aninda nampak kelelahan dengan wajah yang terlihat agak pucat.
Aninda pun menjawab dengan anggukan kepala karena perutnya yang terasa agak kram.
Aninda pun segera di tuntun Dio untuk segera duduk di kursi pelaminan.
"Anak-anak papi, jangan nakal di dalam perut mami ya," ucap Dio dengan mengelus perut Aninda yang terlihat sudah sangat besar tersebut.
"Heh, mesranya nanti malam setelah acara selesai," ucap Akio kepada Dio yang terlihat begitu intim dengan Aninda dihadapan para tamu undangan.
"Untuk apa iri denganmu," sahut Akio.
"Sudah-sudah kalian kalau ketemu susah ya akur nya. Eh Nin, ngomong-ngomong perut kamu kok jauh lebih besar dari perut aku ya? Padahal hamil nya kan lebih dulu aku," ucap Amel dengan menatap perut Aninda yang memang terlihat lebih besar dari perut dirinya.
Aninda pun tersenyum terkekeh. "Iya lah jelas gede perut aku, karena aku mengandung dua baby."
"Astaga? Kamu serius?? Pantesan perut kamu jauh mengembang lebih besar," ucap Amel yang kembali menatap heran perut sahabat nya tersebut.
"Kenapa sayang?" tanya Akio kepada istrinya tersebut yang terlihat terus menatap perut Aninda.
"Kenapa Aninda bisa hamil kembar sedangkan aku tidak? Seperti nya langsung melahirkan dua baby juga lebih bagus sayang," ucap nya pelan yang masih terdengar oleh Dio dan Aninda.
"Itu sih karena gen keturunan dari nenek aku yang juga memiliki kembaran," sahut Dio dengan terus mengelus perut Aninda tanpa ada rasa malu sedikit pun.
__ADS_1
"Oh, gitu ya. Seperti nya akan susah juga buat hamil kembar jika tidak ada riwayat gen kembar," jawab Amel dengan sedikit sendu yang tiba-tiba juga ingin memiliki bayi kembar seperti Aninda.
"Tenang sayang, setiap tahun nya nanti jika kamu mau akan aku buat kamu hamil dan melahirkan bayi lagi dan lagi hingga kita memiliki banyak anak dari tahun ke tahun," ucap Akio dengan menatap wajah istrinya tersebut dengan penuh napsu.
"Kamu enak tinggal coblos dan keluarkan. Tapi ya nggak masalah sih. Aku mau-mau aja jika memiliki banyak anak. Karena jadi anak tunggal itu enggak enak. Cenderung kesepian sih seperti ku," tutur Amel yang membuat Akio menjadi tersenyum senang.
"Kalian menghalangi tamu undangan ku. Kalian berkeliling lah dan segera cicipi hidangan yang tersedia," ucap Dio mengusir sahabat nya tersebut secara halus.
Amel dan Akio pun terlihat menurut dan terlihat berkeliling mengambil beberapa hidangan.
Hingga malam pun tiba, Aninda dan Dio pun telah berada di sebuah kamar hotel milik keluarga Akio dengan fasilitas cabana room yang memiliki privat pool.
Terlihat Aninda yang telah mengenakan lingerie transparan namun tidak begitu ketat yang membuat bentuk lekuk tubuh serta perut buncitnya tersebut yang semakin membuatnya terlihat sangat cantik dan membuat Dio pun semakin bergairahh ingin segera menyentuhnya.
"Sayang, kali ini apakah aku sudah di izinkan untuk menengok kedua baby kita di dalam?" tanya Dio dengan memeluk Aninda dari belakang yang masih terlihat asik memoleskan rangkaian perawatan wajah yang aman untuk ibu hamil dan menyusui.
"Aku lelah, Dio. Seperti nya malam ini jangan dulu ya?" tutur Aninda dengan menolak secara halus ajakan suami nya tersebut.
"Ya sudahlah kalau istriku tidak mau. Rebahkan tubuhmu. Biar aku pijat perlahan tubuh istriku yang cantik jelita ini. Ayo," ucap Dio dengan menuntut istrinya tersebut menuju ke kasur king size yang tersedia di kamar tersebut.
Aninda pun terlihat menurut dengan ucapan Dio. Sedangkan Dio pun terlihat tersenyum licik dengan segera mengambil minyak urut andalan nya tersebut di dalam tas kecil nya untuk melancarkan aksi nya tersebut.
"Semoga khasiat nya masih sama," gumam Dio dengan segera mengoleskan minyak urut penambah gairahh tersebut ke tubuh Aninda.
"Dio, ingat ya pelan-pelan mijitnya karena aku kan sedang mengandung," tutur Aninda mengingatkan sang suami.
"Beres sayangku," ucap Dio dengan terus memijat pelan kaki dan tangan serta pundak istrinya tersebut dengan sangat perlahan.
Hingga Aninda pun kemudian merasakan sensasi aneh dengan sentuhan pijatan dari suami nya yang membuat tubuhnya pun merespon dengan lenguhann.
"Ahh, Dio ... kenapa pijatan kamu selalu membuatku terasa sangat gelisah," ucap Aninda dengan lirih menahan gejolak aneh ditubuhnya tersebut.
Pijatan Dio pun kemudian beralih menuju ke area mochi istrinya tersebut dengan sangat perlahan.
"Di--Dio, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Aninda dengan perlahan.
__ADS_1
Bukan jawaban yang Aninda dapatkan melainkan serangan sentuhan yang memabukkan yang membuat kedua nya pun pada akhirnya melakukan penyatuan lagi dan lagi.
"Dio sayang! Jangan di keluarkan di dalam lagi karena itu tidak baik untuk baby kita di dalam! Ahhh Ahhh, Dio ... kamu dengar ucapan ku atau tidak sih??" teriak Aninda disertai dengan desahann yang terus keluar dari bibirnya tersebut.