
Dio pun tidak putus asa dalam mencari keberadaan Aninda yang menghilang begitu saja. Diam-diam Dio pun menyewa beberapa detektif lokal untuk menemukan keberadaan Aninda.
"Jika di antara kalian ada yang bisa menemukan keberadaan Aninda, maka aku akan memberikan hadiah yang sangat fantastis untuk kalian baik itu berupa saham atupun berapa pun uang tunai yang kalian minta," tutur Dio dengan bersungguh-sungguh yang membuat para detektif lokal tersebut tampak sangat bersemangat mendengar hadiah yang Dio janjikan.
Mereka pun segera memulai pencarian dengan cara masing-masing. Hingga ada satu orang detektif yang menemukan sedikit celah jejak pelarian Aninda yang ditemukan oleh detektif Choi dengan senyum penuh mengembang.
Nampaknya detektif tersebut mencoba mencari jejak pelarian Aninda beserta keluarga nya dengan mendangi agen-agen bus di kota tersebut satu persatu hingga ditemukan nya sebuah data pembelian tiket atas nama Aninda dan kedua orangtuanya.
Dengan cepat detektif tersebut pun segera membeli tiket yang sama dengan menuju ke alamat pemberhentian bus yang sama dimana bus tersebut menunjukkan tujuan menuju ke pulau Kalimantan.
Detektif tersebut pun melakukan perjalanan darat menuju ke pulau Kalimantan dengan menempuh waktu satu hari satu malam. Dan detektif tersebut pun segera mencoba bertanya ditempat yang menjadi pemberhentian busnya tersebut dengan menunjukkan wajah Aninda beserta kedua orangtuanya.
Beberapa orang yang ia tanyai pun nampak menggelengkan kepalanya hingga detektif tersebut merasa lelah dan duduk di sebuah ruko yang nampak kosong tak berpenghuni.
"Hallo, tuan. Saya sedang berada di pulau Kalimantan sepertinya saya mene ... tutututut," sambungan telepon detektif tersebut dengan Dio pun terputus begitu saja.
"Hallo ... hallo tuan Choi! Hallo!" teriak Dio di dalam sambungan teleponnya yang tiba-tiba terputus.
"Aneh, tuan Choi sendiri yang meneleponku namun dia sendiri juga yang nampak mematikan telepon nya secara sepihak," gumam Dio yang kemudian berusaha menelepon detektif Choi kembali.
Namun nomer telepon nya tidak kunjung bisa tersambung dan berada di luar jangkauan.
Disisi lain nampak detektif Choi yang di culik paksa oleh beberapa orang ditugaskan oleh Om Harso yang merupakan orang berkuasa di pulau tersebut untuk menyekap dan membungkam detektif tersebut.
"Tuan, sepertinya ada seseorang yang mencari keberadaan nona Aninda di sekitaran pelabuhan," ujar anak buah om Harso dengan segera menelepon boss nya tersebut begitu mengetahui jika ada seseorang yang telah berusaha mencari informasi tentang keponakan tuan nya tersebut.
"Kalian bawa orang yang berusaha ingin mengorek keberadaan keponakan ku tersebut ke tempat terpencil yang jauh dari pelabuhan dan kota. Segera bersihkan jejak penemuan orang tersebut. Setelah itu aku akan menemui kalian dan memberikan pelajaran kepada cecenguk yang berani memasuki ranah kekuasaan ku," ucap Om Harso di seberang telepon tersebut dengan cepat.
__ADS_1
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan," jawab anak buah dari om Harso tersebut.
Dengan cepat para anak buah om Harso yang sengaja di tempatkan di sekitar pelabuhan pun segera membuntuti detektif Choi dan segera menyulik paksa detektif tersebut.
"Ikut dengan ku secara baik-baik atau anda saya lumpuhkan ditempat," ucap salah satu anak buah Om Harso dengan merebut paksa telepon genggam milik detektif Choi dan menginjak telepon tersebut hingga hancur berkeping-keping.
Detektif Choi pun nampak meronta dan berusaha melarikan diri hingga akhirnya detektif Choi pun segera di bius dan di bawa ke markas besar milik boss mereka.
Di dalam markas tersebut, nampak om Harso pun telah menunggu kedatangan detektif amatiran tersebut dengan wajah memerah penuh amarah.
Tak lama kemudian anak buah nya pun nampak telah tiba dengan menyeret tubuh detektif Choi yang masih di bawah pengaruh obat bius.
Kemudian detektif Choi pun segera di ikat di kursi dan berhadapan dengan langsung kepada bos besar mereka.
Dengan sigap anak buahnya tersebut pun menyerahkan data diri yang berada di dalam dompet detektif tersebut kepada boss Harso.
Tak lama kemudian detektif Choi pun nampak tersedar dan dirinya pun nampak sangat terkejut mendapati dirinya yang ternyata benar-benar di culik oleh beberapa orang yang sama sekali tidak ia kenal.
"Apa setelah ini aku akan di bunuh dan jasadku di lemparkan ke dalam kandang buaya?" gumam detektif Choi masih di dalam hatinya dengan pandangan yang semakin terlihat ketakutan.
"Hei bung, aku tahu kamu adalah detektif amatiran yang belum mengetahui seberapa berkuasa nya aku disini. Aku tidak pernah membunuh siapa pun, tapi anak buahku lah yang akan membunuhmu jika kamu tidak ada keinginan untuk menyumpal mulut mu rapat-rapat tentang apa yang kamu temukan dan kamu lihat atas apa yang kamu cari. Aku yakin kamu pasti paham dengan arah pembicaraan ku," ucap om Harso dengan nada tegas dan berwibawa di hadapan detektif Choi dan seluruh anak buahnya.
"Disini aku telah mengantongi identitas mu. Keluarga kamu dan termasuk foto anak istrimu. Kamu pasti sangat mencintai keluarga kecilmu kan?"
"Tuan, ampuni kesalahan saya. Tolong jangan usik keluarga saya yang tidak mengetahui apa pun. Istri saya pun sedang mengandung calon anak kedua kami. Saya mohon belas ampun tuan. Saya berjanji akan menyumpal mulut saya rapat-rapat dan segera pindah menuju ketempat yang baru," ucap detektif Choi dengan wajah yang nampak sangat cemas melihat orang di hadapan nya yang dengan mudah nya menemukan jejak anak dan istrinya tersebut.
"Baiklah, aku masih ada rasa belas kasihan terhadap mu. Namun ingat, jangan coba-coba menipuku atau mengelabuhi ku dengan berusaha membeberkan apa yang telah kamu temukan dan kamu lihat hari ini. Jika kamu ingin berkhianat kepadaku maka cobalah dan kemudian lihat apa yang akan terjadi kepada mu di kemudian hari," ucap om Harso dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
Detektif Choi pun dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Baik tuan, saya berjanji."
"Lepaskan ikatannya dan biar kan dia pergi,"ucap om Harso.
Setelah detektif Choi pergi, nampak tangan kanan nya pun melayangkan protes kepada tuan nya.
"Kenapa tuan melepaskan detektif itu begitu saja?"
"Tenang saja, anak buahku yang lain masih ada yang mengikuti nya hingga dirinya benar-benar melakukan perintahku atau memilih untuk berkhianat. Segera bereskan mengenai pihak agen bus yang mencatat kepergian Kakakku beserta keluarganya," ucap om Harso yang kemudian melenggang pergi.
Ditempat lain, dimana kini Amel sedang berada di kediaman kedua orang tua kandungnya. Amel pun nampak sangat menikmati waktu yang dia miliki di rumah orangtuanya tersebut dengan membantu ibunya yang sedang memetik sayur hasil panen.
"Nduk, kata nya Dila sudah kembali ke rumah kedua orangtuanya tanpa di dampingi suaminya. Terlebih lagi Dila yang tak lama kemudian melahirkan anaknya pun juga tidak nampak suaminya yang menengok Dila hingga saat ini. Ada desas desus yang mengatakan jika pernikahan kedua nya pun kandas begitu saja karena Dewa yang kembali bermain wanita dengan boss pengepul sayur yang katanya adalah seorang janda di daerah sana," ucap Ibu Amel dengan gamblang kepada putrinya.
"Loh? Bukan kah kak Dewa sudah terlihat bertaubat dan kehidupan pernikahan nya pun nampak terlihat baik-baik saja Bu?" tanya Amel dengan raut wajah penasaran.
"Semua orang juga mengira nya seperti itu nduk, mungkin Dila yang selama ini menyembunyikan rapat tentang masalah pernikahan nya. Cobalah kalau ada waktu tengok lah Dila beserta bayi nya yang baru lahir," ucap Ibu Amel dengan kembali ke dalam rumah nya dan meletakkan beberapa sayur mayur hang telah di panen nya bersama putri nya tersebut.
"Baiklah Bu, besok biar aku dan mas Akio berkunjung ke rumah Amel," ucap Amel dengan menghela nafas panjang.
"Bagaimana dengan perkembangan Aninda sekarang nduk? Apa sudah ada kabar?" tanya Ibu Amel kemudian.
Mendengar kata Aninda yang kembali di sebut pun membuat wajah Amel semakin mendung. Sahabat seperjuangan nya yang selama ini selalu menemaninya baik di saat suka maupun duka pun mendadak hilang bagaikan ditelan bumi.
"Belum Bu ..." ucap Amel dengan lirih dan wajahnya pun semakin terlihat sendu.
"Yang sabar. Kita doakan saja semoga Aninda beserta Bu Dirga dan Pak Dirga pun senantiasa di lindungi oleh Allah dimana mereka berada," ucap Ibu Amel dengan menenangkan putrinya lagi.
__ADS_1
Disisi lain, terlihat Vania yang mengamuk di dalam ruang kerja milik Dio begitu mengetahui jika suami nya tersebut diam-diam masih mencari keberadaan Aninda.
"Mau kamu cari Aninda beserta kedua orang tuanya kemana pun itu tetap tidak akan membuah kan hasil Dio sayang, karena mereka semua sudah lenyap di tangan orang suruhanku!" ucap Vania dengan membanting lembaran demi lembaran kertas yang ia temukan di dalam ruang kerja suaminya tersebut tanpa sepengetahuan Dio.