Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 24


__ADS_3

POV Author


Mata Zaenab berbinar ketika mendapat kartu kredit dari Roy sang pujaan hatinya yang baru itu.


Sudah pasti pikiran dia melayang membayangkan apa saja yang akan di belinya nanti.


Kali ini Zaenab mengajak ibunya turut serta jalan-jalan dan menginap di hotel di ibukota, semangat Bu Marni kian menggebu-gebu kala tahu Roy si calon menantunya memberikan uang kepada Zaenab dan kartu kredit, mata Bu Marni ikut berbinar-binar terang, itulah sedari dulu yang di inginkan sama Bu Marni, kaya tanpa harus kerja.


Lalu mereka berdua langsung berfoya-foya, selain ke Mall rencana mereka mau pergi ke salon dulu biar kelihatan orang kaya beneran.


Setelah itu tentu saja berbelanja sepuasnya, tanpa harus mikir hari esok mau makan apa.

__ADS_1


Pergi belanja ke Mall terbesar di Jakarta, adalah impian mereka berdua, wanita beda generasi itu gelap mata hingga sampai menghabiskan uang yang banyak ketika mereka sampai di Mall.


Tempat yang paling di incara oleh Zaenab adalah toko perhiasan, dia benar-benar berniat untuk membeli sebuah berlian dan ingin segera di pamerkan pada Karina, dengan tujuan adalah biar Karina tahu kalau Zaenab bisa membelinya juga.


" Ayo Bu kita masuk ke toko perhiasan itu, Zaenab sudah tak sabar membeli cincin berlian di sana, biar kecil tetapi tak masalah, yang penting Zaenab bisa beli, " ucap Zaenab sambil menarik tangan Ibunya, ke arah sebuah toko yang napak mewah.


Sampai di depan toko, kedua wanita itu dengan gaya yang sok anggun itu berjalan masuk ke dalam toko tersebut, nampak pelayan toko perhiasan itu menyapa dengan sikap ramahnya.


" Selamat datang di toko kamu, Nyonya dan Nona, bisa saya bantu?" ucap pegawai toko perhiasan itu dengan sopan.


" Kami mau lihat-lihat dulu Mbak, nanti kalau cocok kami akan membelinya" ucap Zaenab.

__ADS_1


Zaenab terpukau melihat di etalase toko perhiasan itu nampak berjajar perhiasan yang menyilaukan mata, wanita mana yang tidak akan tertarik melihat pemandangan di depan mata, melihat gemerlap dan berbagai model perhiasan yang indah, dan terpajang rapih di atas etalase itu membuatku Bu Marni dan Zaenab menelan ludahnya dengan kasar, ketika mereka berdua sampai di depan etalase tersebut mereka jadi bingung mau memilih yang mana.


" Wah indah sekali Nap, Ibu juga di belikan satu saja ya Nap, biar Ibu bawa ke arisan, biar teman-teman Ibu kagum pada Ibu, secara selama ini mereka selalu mencibir di belakang Ibu Nap," bisik Bu Marni di telinga anak gadisnya itu, eh author salah apa Zaenab masih gadis? author tepok jidat deh.


" Aduh Bu, Ibu nanti saja ya takut uangnya ga cukup Bu, biar hari ini Zaenab dulu yang beli, kalau untuk ibu lain kali saja ya, soalnya Zaenab belum beli baju Bu," bisik Zaenab yang merasa keberatan, sebab mereka sudah ada di dalam toko tersebut, sementara para pegawai di toko perhiasan tersebut sudah tersenyum-senyum melihat tingkah mereka berdua, lebih menggelikan lagi mereka napak kebingungan melihat banyaknya model perhiasan itu.


" Ya sudah Ibu tolong di belikan emas biasa saja kalau gitu" ucap Bu Marni dengan muka yang masam dan terlihat kesel permintaan dia tak di penuhi sama anaknya.


" Aduh Bu sabar dong, kalau ibu begini terus aku ga mau ajak ibu jalan-jalan lagi, biar tahu rasa," ucap Zaenab dengan lirih.


" Mendengar ucapan Zaenab Bu Marni langsung diam begitu saja, dia tahu Zaenab itu anak keras kepala, bila dia tak di ajak jalan-jalan lagi, nanti bisa-bisa dia tak bisa pamer sama teman-teman arisan dia nanti.

__ADS_1


Dia sadar diri sekarang tambang uangnya cuma Roy saja, sementara Pram hanya menjatah dia hanya satu juta saja, mana cukup buat gaya hidup Bu Marni yang terlewat hedon untuk ukuran orang kampung.


Bu Marni harus pinter-pinter merayu Roy untuk segera menghalalkan Zaenab, bila itu terjadi, maka sudah di pastikan Bu Marni akan masuk dalam salah satu orang kaya di kampung nantinya, rasanya Bu Marni tak sabar menanti saat seperti itu.


__ADS_2