
Dio pun kemudian dengan segera mengantarkan Aninda pulang kembali ke asramanya. Kedua nya pun nampak menuju basemen mobil bersama Dio yang terus memegang tangan Aninda dengan sangat erat agar tangan Aninda tersebut tetap mau untuk di gandeng dan tidak lepas dari genggaman nya.
"Dio, aku malu dilihatin orang kalau bergandengan tangan seperti ini." Bisik Aninda dengan berusaha untuk mengendurkan genggaman tangan nya dari tangan Dio tersebut.
"Kenapa harus malu? Tenang saja, mereka pun tidak mengenal kita. Kita kan hanya bergandengan tangan dan tidak melakukan hal yang memalukan." Bisik Akio di telinga Aninda.
Aninda pun akhirnya menurut tanpa melakukan perlawanan selagi masih dalam batasan. Sedangkan Dio pun diam-diam tersenyum senang karena kembali berdekatan dengan Aninda.
Dio pun membukakan pintu mobil untuk Aninda dan mempersilahkan untuk segera masuk. Kemudian Dio pun dengan segera melajukan mobilnya tersebut menuju ke asrama tempat Aninda tinggal selama di Jepang.
Kemudian Akio pun tampak memilih dan memutar lagu-lagu yang ada di dalam flashdisk yang menancap di USB musik di dalam mobil tersebut.
Terdengar lagu-lagu nostalgia pop Indonesia tahun 2000an yang membuat Aninda dan Dio pun terlena dengan alunan musik tersebut dengan tenggelam ke dalam pemikiran masing-masing.
Hingga mobil pun nampak telah sampai di depan gerbang asrama yang ditempati oleh Aninda. Dengan sigap Dio pun segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Aninda.
"Dio, terimakasih untuk hari ini. Aku masuk dulu ya? Kamu cepatlah kembali. Jika sudah sampai di apartemen segera kabari aku ya?" Ujar Aninda sembari melangkah menuju ke gerbang asrama nya tersebut.
Sedangkan Dio pun nampak mengangguk dan segera melambaikan tangannya ke arah Aninda.
Aninda pun turut melambaikan tangan dan segera masuk ke dalam asrama nya tersebut.
Setelah Dio merasa Aninda telah masuk ke dalam asrama, kemudian Dio pun kembali masuk ke dalam mobil dengan kecepatan sedang kembali menuju ke apartemen nya tersebut.
Hingga kini Dio pun telah sampai di dalam apartemen barunya. Apartemen pemberian dari Akio atas jasanya yang telah berhasil membantu memecahkan masalah yang Akio alami tersebut.
__ADS_1
Dio pun nampak merebahkan tubuhnya di kasur king size nya tersebut. Namun tak berapa lama Dio pun segera membuka laptopnya dan membuka beberapa surel balasan pengajuan kuliah daring yang Dio ajukan dan telah di setujui oleh pihak kampusnya tersebut.
Senyum Dio pun menjadi semakin mengembang melihat betapa senangnya hatinya saat ini karena dirinya kini bisa kuliah dari jarak jauh dan dirinya pun bisa dengan aman dan nyaman melihat dan memantau keseharian dari Aninda tersebut selama di Jepang.
"Gimana bisa mengejar cinta Aninda jika aku berada di Indonesia, sedangkan Aninda berada di Jepang? Jika hanya chattingan saja pun rasa nya tidak cukup karena chemistry nya pun kurang terjalin karena bertatap mata pun tidak bisa." Gumam Dio seorang diri sembari menatap balkon kamar apartemen nya tersebut.
"Semoga misi mengejar cintaku sampai ke negeri sakura ini membuahkan kisah yang indah." Ucap Dio dengan penuh harap.
Dio pun kemudian nampak memberikan pesan kepada Aninda jika dirinya telah sampai di apartemen semenjak tadi.
Setelah itu Dio pun beralih memeriksa pekerjaan yang telah ia terima dari beberapa klien nya tersebut. Dio pun disetiap pekerjaan tentunya tidak menerima semua klien yang menghubungi nya untuk di jadikan partner bisnisnya tersebut.
Dio hanya mau memilih beberapa klien saja yang dominan nya di anggap nya pekerjaan yang dia terima itu bersifat meluas demi kepentingan banyak orang. Bukan demi kepentingan sekelompok para bandit internasional yang berada di bawah naungan para mafia di pasar gelap.
Dio pun sering kali diam-diam pun menutup akses website yang terindikasi sebagai transaksi perdagangan manusia dalam berbagai macam bentuk.
Setelah berkutat di depan layar laptopnya tersebut Dio pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan nya dan segera merebahkan tubuhnya yang sangat lelah tersebut.
Sedangkan di kediaman Akio, nampak mama Akio yang telah mengajak calon menantunya tersebut untuk tidur bersama dengan nya hingga pernikahan mereka nanti.
Mama Akio pun telah menjelaskan kepada keduanya jika keduanya akan segera dinikahkan di negeri sakura tersebut satu Minggu lagi.
Namun mama Akio pun belum memberitahu kepada Amel jika dirinya pun telah menduga jika Amel telah berbadan dua dan belum mengatakan hal tersebut kepada Amel karena beberapa alasan.
Keputusan telah di ambil oleh mama Akio jika setelah menikah nanti baru mama Akio akan membawa menantunya tersebut periksa ke dokter kandungan.
__ADS_1
Kini mama Akio pun asik bercengkrama dengan calon menantunya tersebut hingga sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya tersebut.
Disatu sisi nampak Akio yang sangat gelisah karena ia tidak bisa berduaan dengan Amel kembali karena Amel telah di monopoli oleh mama nya seorang diri di dalam kamar mama nya tersebut.
Sebenarnya mama Akio bersikap seperti itu dikarena kan takut jika putra semata wayangnya tersebut nekat mendatangi Amel secara diam-diam disaat semua telah terlelap tidur dan merudapaksa calon menantunya tersebut. Walaupun diantara keduanya sih sebenarnya terlihat mau sama mau.
Hal tersebut tentu nya yang akan berimbas kepada janin yang sedang di kandung oleh Amel apalagi disaat ini janin belum terbentuk dengan sempurna dan sepengetahuan mama Akio pun di larang untuk terlalu sering berhubungan badan jika masih di trimester pertama.
Maka dari itu mama Akio pun memindahkan Amel dari kamar tamu menjadi berganti tidur bersama nya di kamarnya tersebut dan segera mengunci pintu dari dalam untuk menghindari sifat pemaksa dari putra tunggalnya itu.
Disaat Akio pun nampak pusing dan pening karena merindukan aroma tubuh Amel membuat tubuh Akio pun pada akhirnya tertidur di kamar tamu dengan memeluk baju milik Amel yang masih menampakkan aroma parfum yang biasa Amel gunakan.
Hingga pagi harinya Akio pun tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya karena perutnya yang terasa bergejolak dan segera memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya tersebut.
"Hoekk. Hoekk. Hoeekkk." Bunyi Akio saat memuntahkan isi perutnya yang nampak telah kosong sehingga yang ia muntahkan hanya riak-riak berwarna putih ke kuningan.
Disaat ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur, perut Akio pun nampak kembali bergejolak ingin segera di muntahkan. Hingga dirinya pun menjadi lemas dan berusaha untuk keluar dari dalam kamar tamu untuk membuat minuman jahe panas untuk meredakan mual nya tersebut.
"Apa aku keracunan masakan sup iga buatan Dio kemarin ya??" Pikir Akio seorang diri.
Kemudian Akio pun nampak mengambil sekaleng susu beruang yang digunakan untuk menetralisir keracunan makanan ditubuh dan meneguknya dengan cepat.
Keadaan nya pun sedikit membaik, ia pun mencoba mengisi perutnya dengan memakan sedikit roti karena sebenarnya perut Akio pun nampak sangat lapar. Namun anehnya perutnya tersebut seolah menolak dengan memuntahkan seluruh isinya.
Hingga di ketiga suapan, perut Akio pun nampak kembali mual dan segera Akio menuju wastafel untuk memuntahkan semua isinya tersebut.
__ADS_1
"Hoekk. Hoeekk. Astaga, aku sudah tidak kuat lagi dengan rasa mual ini." Ucap Akio seorang diri dan kembali menuju ke kamarnya di lantai dengan tertatih dan kemudian merbahkan tubuhnya hingga ia pun kembali tertidur dengan pulas.