
POV Bu Marni
Awalnya aku sangat bahagia karena, aku bisa punya besan seperti Bu Nani yang selalu perhatian pada keluargaku, bukan hanya itu saja Bu Nani, semenjak suamiku tidak kerja lagi, Bu Nani memberikan bantuan berupa uang untuk kehidupan kami sehari-hari, bahkan sekolah Zaenab juga di tanggung sama keluarga Bu Nani dan Pram, bahkan sampai bangku kuliah, Apalagi gaji Pram lebih banyak di berikan pada aku dari pada ibunya.
Pram memang menantu idaman, aku bangga menjadi besan Bu Nani, jadi aku sekarang merasa tak menjadi berkecil hati lagi dong dengan para tetangga di sini, mereka dulu melihat kami mencibir karena miskin tak punya uang, hidup saja numpang di rumah Pram, dan hutang sembako pada warung sayur sudah terlalu banyak, hingga sampai ayah Pram membatu kami, dan memberi kehidupan yang layak untuk kami, aku terharu para kebaikan keluarga Bu Nani dan suaminya, aku sampai mempunyai ide untuk menjodohkan mereka berdua, supaya Zaenab bisa hidup enak dan aku juga tidak kesusahan nantinya, tetapi harta telah membutakan aku.
Semenjak aku ketemu dengan Roy anak pemilik minimarket di kampung ku, aku jadi terbujuk akan rayuan dia, Roy rupanya jatuh hati pada Zaenab sejak lama, dan dia tak berani mengutarakan pada Zaenab sendiri, sebab kedua orang tua Roy tidak suka pada keluarga kami yang miskin ini, dan Roy di jodohkan dengan wanita lain.
Roy juga mengimingi-imingi aku akan di buatkan sebuah rumah mewah bahkan lebih mewah dari rumah yang kami tempati sekarang ini, dan hidupku akan di jamin dia sampai akhir hayat, itulah janji Roy pada kami.
Siapa yang tak tergiur dengan kemewahan, seiring berjalannya waktu aku berhasil membujuk Zaenab untuk menjalin kasih dengan Roy, rupanya gayung bersambut, Zaenab rupanya juga jatuh hati pada perlakuan Roy yang sangat perhatian pada kami, hingga Hubungan Zaenab dan Pram merenggang, dan karena Pram kurang komunikasi juga sama Zaenab, jadi kurang merasa di perhatikan, hati Zaenab goyah dan Zaenab akhirnya jatuh cinta pada Roy.
Itulah awal kesalahan yang Bu Marni buat, semu sudah terlanjur terjadi, nasi sudah menjadi bubur, sekarang Bu Marni berharap Roy menepati janjinya untuk datang dan sesegera mungkin melakukan ijab kabul, Bu Marni tidak mau di cibir sama tetangganya lagi, apalagi sama Bu Nani, mau di taruh di aman mukanya Bu Marni.
Dia selalu membanggakan anaknya yang masih gadis itu, kini telah berbadan dua.
Sementara di tempat lain di sebuah gedung, sosok pria tampan berbadan kekar masih setia duduk di depan seorang wanita cantik yang tengah asik sibuk sendiri, pria itu seolah mati kutu, sedari tadi di kacang in tanpa melakukan apapun, sudah sepuluh menit dia menunggu bosnya itu, hingga dia tak tahan lagi untuk bersuara, kalau begini terus keadaannya, bagaimana dengan pekerjaannya nanti, bisa terbengkalai semua kerjaan dia.
Pram sudah membayangkan map-map beraneka warna yang menumpuk di mejanya itu sudah menunggu untuk di eksekusi.
" Maaf Bu Karin, saya menyela sebentar, ini Bu Karin bila memang belum ada perintah lagi, baiknya saya mohon diri dulu bagaimana Ibu? sebab saya ada janji sama para supervisor untuk briefing sebentar lagi." Ucapku sambil ku tatap wajah istriku itu, seketika dia mendongak menatap ke arah ku, dia terlihat kaget, apa di kira aku sedari tadi di sini di anggap patung ya, lirihku dalam hati.
__ADS_1
" Ya ampun maaf Mas jadi kelupaan," serunya, membuat aku gelang-gelang kepalan.
Lalu dia bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah di mana aku sedang duduk, lalu mendaratkan pantatnya di pangkuan ku.
Aku yang kaget karena tak menyangka dia akan melakukan hal itu, lalu di kalungkan kedua0 tangannya di leherku ini, sementara aku menahan tubuhnya itu agar tidak jatuh.
" Mas, maaf ya tadi aku menyuruh Mas ke sini itu sih cuma, m... aku kangen aja," serunya tanpa dosa, ya Allah apa-apaan ini, aku yang sedari tadi di kacang in cuma dia hanya bilang kangen, rutukku dalam hati.
" Dek ini di kantor, nanti saja ya sayang, Mas banyak sekali pekerjaan yang menunggu di meja kerja, nanti ga kelar-kelar kalau hanya di diamkan saja, biar nanti Mas tidak pulang telat lagi," bujukku pada istriku itu dengan lembut, Karina akan bersikap berbanding terbalik bila di depan umum, saat berduaan seperti ini dia sangat manja sekali padaku, tetapi aku tak merasa keberatan akan hal itu, justru aku suka.
" Tapi Mas, Karina pusing ga tahan," rengeknya dengan manja.
Aku menghembuskan nafas perlahan-lahan, sekuat tenaga aku membujuknya agar dia mau mengerti.
" Ya sudah kalau kaya gitu," gerutunya sambil mukanya terlihat masam dan cemberut.
" Jangan marah sayang, cantiknya jadi hilang lho?" rayuku padanya.
" Karina ga marah kok, cuma kesel saja." gerutunya.
" Maaf ya dek, Mas janji kok, Mas juga ingin tetapi, ini kesempatan kita sayang untuk membuktikan pada investor kita, kalau apa yang kita presentasi kan tadi semua adalah benar adanya, perusahaan kita bisa di andalkan dan bisa mencapai target." Bujukku lagi padanya, sambil ku raih dagunya lalu aku sekilas mencium bibirnya yang sexy itu dengan lembut.
__ADS_1
" Maaf ya sayang kita lanjutkan lagi nanti ya?" ucapku sambil tersenyum padanya, dengan berharap dia mau mengerti kaki ini.
Lalu Karina pun tersenyum dan mengangguk kan kepalanya,
" Janji ya jangan pulang malam," serunya sekali lagi.
" Iya sayang Mas janji" balasku sambil ku cium kembali bibirnya.
" Oh ia sayang, Mas nanti mau makan siang di ruangan saja, Adek mau Mas pesanan apa?" ucapku di sela-sela perbincangan ini.
" Mau sama kaya Mas aja deh?" ucapnya dengan manja, dan bibirnya manyun ke depan, tambah gemes in aja nih bocah, aku gregetan sendiri melihat polah tingkahnya.
" Mas pesen nasi Padang, Adek juga mau itu?" tawaku padanya, sambil menatap wajah yang gemesin itu.
" Ia tapi nasinya dikit aja ya," jawabnya sambil dia berdiri.
Seketika aku lega melihatnya tak merajuk lagi, aku akan segera bereskan kerjaan ku yang terbengkalai di meja sana.
" Baiklah Mas balik dulu ke ruangan ya?" ucapku sambil berdiri, lalu kuciumi cekuk lehernya dengan gemes.
" Tunggu nanti malam ya, Mas akan membuat kamu kalah, dan Mas akun buat kamu meminta ampun," ancam ku dengan nakal padanya,
__ADS_1
" Siapa takut huh" serunya sembari tersenyum mengejek padaku.
" Maaf sayang, Mas harus pergi, siapkan stamina mu untuk nanti malam" seruku lagi sebelum aku pergi meninggalkan raungan ini.