Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 18


__ADS_3

Dengan tatapan yang sendu sekali mata itu menatapku terus, aku balik menatap mata itu dengan sangat tajam, Mas Andra pun akhirnya berdiri tepat di tepi ranjangku.


" Mitha?" seru Pak Biyan membuyarkan lamunanku.


Aku tersadar akan lamunan aku, akhirnya dengan cepat akupun mengulurkan tangan ini kepada pria itu, aku tak mau pada curiga, seperti Mas Andar mengajak aku bersandiwara.


" Mitha" ucapku memperkenalkan diri dengan nada suara yang dingin tanpa senyuman sedikitpun juga, aku mengangkat tangan ini ke arahnya, dan ketika kami berjabat tangan aku merasakan tangannya gemetar dan dingin sekali, dan bahkan tangannya begitu kuat meremas tanganku, dan tak ingin melepaskannya, aku menunggu reaksinya sejenak, namun tiba-tiba.


" Ah sudah dong jangan lama-lama salaman nya, aku cemburu lho." Ucap perempuan itu dengan nada centilnya lagi. Dengan cepat akupun melepaskan tanganku dari genggamannya, dan aku mencoba kembali menguasai keadaan.


Mendengar seruan wanita itu Pak Biyan terkekeh. " Mitha memang wanita yang cantik dan baik, sangat beruntung pria yang menjadi suaminya, tapi sayang suaminya tak memperdulikan dia, andai status dia adalah seorang single aku pasti yang pertama akan mempersunting dia menjadi ibu dari anakku, Malika." Ucap Pak Biyan dengan gayanya yang santai, dan suaranya yang berwibawa itu, tapi kalimat yang di ucapkan Pak Biyan itu membuat aku kaget terlebih lagi Mas Andra yang terlihat mimik mukanya memerah, entahlah dia menahan amarah atau merasa tersindir oleh kalimat yang di utarakan Pak Biyan.


" Hati-hati lho Mbak, ini suami aku, jangan di incar ya Mbak soalnya susah dapetinnya." Gurau Perempuan itu dengan centil, sambil memeluk lengan Mas Andra dengan mesranya, aku hanya tersenyum sinis ke arahnya.


" Ga mungkin Mbak, saya juga sudah punya suami kok, ya walaupun suami saya tidak perhatian sama saya, tetapi saya masih setia menunggu dia sampai pulang ke rumah, sebab suami saya sekarang sedang dinas di luar kota Mbak, kasihan dia harus berjuang mencari nafkah demi keluarga kami." Ucapku dengan lantang, sambil ekor mata ini mengawasi raut wajah ayahnya Dimas itu apa dia merasa tersindir atau tidak, aku juga tak tahu isi ot*knya dia.


" Sabar ya Mit semua ada hikmahnya." Ucap Pak Biyan yang ini duduk di pinggiran ranjang, mata itu mengawasi aku dengan senyumnya yang lembut.


Pak Biyan selalu bicara penuh dengan makna, seolah dia tahu segalanya.


" Ya syukur kalau begitu Mbak, masalahnya kalau kita tak bisa jaga suami kita jangan salahkan pelakor akan selalu berseliweran di mana-mana." Ucapnya tanpa beban seolah dia itu tak merasa bersalah sama sekali bahwa suami yang dia banggakan itu adalah milik wanita lain.


Aku hanya tersenyum sinis mendengar ocehannya itu, apa kabar dengan dirinya sendiri? mengatai orang lain pelakor.


Suara ketukan pintu menghentikan ocehan Perempuan genit itu, sosok Pria paruh baya muncul di sela daun pintu itu.


" Maaf Pak Biyan baru nyampai soalnya tadi Dimas sempat menangis tidak mau di ajak naik mobil jadi menunggu sampai Dimas tenang." Ucap Pak Ujang melapor kepada majikannya itu.

__ADS_1


" Ya sudah tidak apa-apa, lagian ini juga masih ada tamu kok Pak." Balas Pak Biyan pada Pak Ujang, melihat gelagat Pak Ujang terlihat dia kaget ketika melihat tamu yang di maksud Pak Biyan itu, sepertinya Pak Ujang mengenal tamu dari Pak Biyan ini dengan baik.


" Oh Ibu Wulan tho, tetangga baru juga, wah maaf Bu, lama tidak kelihatan nih." Ucap Pak Ujang dengan agak gugup, dan matanya menatap ke arah Mas Andra yang sedang menggendong anak dari Perempuan genit itu.


" Ia Pak Ujang apa kabar?" sapa Perempuan genit itu.


" Alhamdulillah baik Bu" jawab Pak Ujang dengan singkat.


" Ya sudah, Pak tolong ambilkan kursi rodanya dulu ya, biar Mitha tidak terlalu kelelahan nanti, soalnya kita jalannya lumayan jauh ke depan." Perintah Pak Biyan dengan suaranya yang terdengar sangat berwibawa itu.


" Baik Pak Biyan" jawab Pak Ujang dengan sopan.


" Oh ya, Dinasnya di mana Pak?" tanya Pak Biyan sebelum Pak Ujang keluar dari pintu kamar ini.


" Sama Mbak Siti tadi Pak, menunggu di parkiran, tadinya mau di ajak masuk, eh dianya ketakutan melihat para suster seragam putih-putih, katanya takut di suntik gitu katanya." Jawab Pak Ujang sambil terkekeh.


Pak Biyan pun ikut terkekeh sendiri mendengar cerita Pak Ujang, aku membayangkan ekspresi anakku itu pasti sangat menggemaskan.


***


Setelah tamu Pak Biyan keluar, akupun turun dari ranjang dan berjalan ke arah kursi roda yang sudah di siapkan oleh pak Biyan,


Ketika semua sudah siap dan baju-bajuku pun di bawa Pak Ujang, bahkan baju-baju ganti aku itu di belikan oleh Pak Biyan untuk ganti aku di rumah sakit, dan buka baju aku sendiri.


Dan ada juga peralatan make up yang di belikan Pak Biyan entah dalam rangka apa akupun tak tahu, alat make-up, baju gamis, tas, semua di bawanya ke sini untuk aku katanya, selain sebagai ucapan permintaan maaf itu, aku juga pasti membutuhkannya katanya seperti itu, padahal tak pernah aku ini ber make-up kalau pas pergi ke kondangan saja dan pergi jauh baru aku bermake-up, mana sempat aku melakukan hal itu selain tak mampu aku beli, tak ada waktu aku untuk mengurus diri sendiri, ah terserah lah aku tak mau memikirkan nya, sebab mikirin hidupku yang sudah morat marit seperti ini saja sudah membuat kepala aku jadi pening, apalagi ngurusi yang ndak-ndak.


Tapi make-up nya boleh juga ya, lumayan untuk manas-mansi istri barunya Mas Andra, sepertinya orangnya itu mata duitan dan doyan belanja, lihat saja nanti aku pasti bisa seperti dia, tanpa harus merampas suami orang, aku akan buktikan bahwa aku bisa seperti perempuan itu, entah apa yang merasuki aku bisa-bisanya berfikir seperti itu, cicitku dalam hati.

__ADS_1


Setelah kursi roda siap akupun duduk di atasnya dengan tenang dan Bosnya Mbak Siti itu yang mendorong kursi roda tersebut.


Aku benar-benar tak enak hati, tapi bagaimana lagi, hanya dia yang bisa aku andalkan, ah seorang Bos memperlakukan aku seperti ini, Bos macho itu tak ada malu-malunya membawa tasku di pundaknya sambil mendorong kursi roda yang aku duduki menyusuri lorong rumah sakit, tetapi ah terserah lah, salah sendiri dia yang mau seperti ini, padahal aku sudah bisa jalan wal tertatih-tatih.


***


Ketika sampai di parkiran aku bernafas dengan lega, rasanya baru keluar dari tahanan saja, apa lagi dari kejauhan aku sudah bisa melihat sosok yang aku rindukan selama tiga hari ini, bocah lelaki kecil dengan pipi yang gembul dan kulitnya yang putih bersih itu, begitu melihat aku tangannya melambai-lambai, bahkan ibuku ada di antara mereka, entah siapa yang memberi kabar itu, apa Titi datang ke rumah dan memberitahu ibuku.


Air mata ini menetes sedih ketika melihatnya, begitupun dengan dia langsung menangis dan meminta ikut dengan aku.


" Pak Berhenti dulu, saya ingin menggendong Dimas," ucapku pada Pak Biyan dengan suara yang parau sebab menahan tangis.


" Jangan Mitha kamu jangan menggendong dia dulu, lebih baik kamu pangku dulu saja ya" ucapnya menasehati aku.


Aku menganggukkan kepalaku saja, sambil berlinangan air mata, sebab saking rindunya kau pada anakku.


" ibu-ibu, mau tama ibu" seru anak itu dengan suara cadelnya.


Pak Biyan dengan sabarnya meraih tubuh kecil itu dari gendongan Mbak Siti, dan mendudukkan nya di pangkuan aku.


Tanganku terulur ke arah Dimas, dan merangkul tubuh mungil itu dengan rindu yang teramat sangat, kamipun berpelukan dengan erat serasa setahun tidak pernah ketemu saja, padahal kami baru terpisah salam tiga hari saja.


Dari lahir sampai usianya yang hampir dua tahun ini, Dimas selalu bersama dengan aku, hanya aku dan ayahnya saja yang dekat dengan Dimas, serta neneknya.


" Gimana keadaan kamu Nduk." tanya ibu di sebelah kursi roda yang aku duduki, tangan tua itu mengulur ke kepala ku dan membelai kepalaku yang terbalut pasmina yang aku kenakan.


" Alhamdulillah baik Bu, dari mana ibu tahu Mitha di sini?" tanyaku pada wanita yang sudah melahirkan aku itu, wajah sendunya menatap aku penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


" Dari Titik dia cerita semuanya Nduk," Ucap Ibu dengan iba, lalu matanya berkaca-kaca ketika melihat aku.


" Kita masuk mobil saja yuk, kita ngobrolnya di dalam saja, biar enak." Seru Pak Biyan pada kami yang tengah melepas rindu ini.


__ADS_2