Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
(PM 2) Bab 13


__ADS_3

" Mas, Mas Andra di mana?" panggilku dengan sedikit berteriak, sebab tak ku dapati ayah dari anakku itu di rumah ini.


Orang yang aku cari tak kunjung muncul juga akhirnya akupun menyerah.


Lebih baik aku menyusul Dimas saja daripada aku menunggu Mas Andra yang entah di mana, ya kemungkinan ke rumah Ibu, soalnya mereka lagi banyak masalah bisa saja kan seperti yang aku pikirkan.


Akupun masuk ke dalam kamarku, mendapati Dimas terlelap membuat aku jadi ingin mendekat ke arahnya dan memeluk bocah kecil itu dari belakang, udara dingin membuat aku ingin meringkuk di balik selimut ini dan melupakan semuanya dan melepas lelah.


Sinar mentari menerobos masuk ke sela-sela kamarku lewat saluran udara yang ada di atas jendela kamar.


" Ya Allah, aku kesiangan." Sontak tubuhku langsung terduduk dan agak sedikit linglung, sebab aku kaget tidak biasanya aku bangun kesiangan seperti ini.


Aku langsung bangkit dan menuju kamar mandi untuk sholat subuh yang sudah sangat telat sekali.


Usai sholat aku baru melirik jam yang menempel di dinding kamar ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, aku menepuk jidat, dasar aku ini tidur kaya kerbau saja, sholat subuh pakai kesiangan lagi, rutukku dala hati.


Jam segini bisanya Mas Andra sudah berangkat kerja, dan sekarang dia entah dimana, ah sudahlah nanti saja aku tanyakan kalau dia sudah pulang, aku enggan mengganggu dia yang lagi banyak masalah, aku tak mau membebaninya lagi.


Aku terpaku ketika di depan sudah tidak ada motor Mas Andra, jam berapa dia mengambil motornya itu, tadi perasaan motor itu masih ada kok di teras, aku benar-benar sangat yakin sekali, dini hari tadi motor Mas Andra masih di teras, aku ga lagi mimpi kok saat itu.

__ADS_1


Ah, aku pusing terus menebak-nebak, lebih baik aku masak dan beberes rumah saja, sebab hari ini aku berniat mulai membuka laundry ku, lebih cepat lebih baik, aku tak bisa mengharapkan Mas Andra yang lebih mementingkan keluarganya, aku juga tidak mau ribut lagi dengan mertua, walaupun aku punya hak atas nafkah dari suamiku itu, tetapi aku terlalu lelah untuk mengemis dan malah menjadi pelampiasan kemarahan ibu mertua.


Semua tugas rumah sudah aku kerjakan, aku sudah sudah memasang Banner di depan rumah, pertempuran siap di mulai,ucapku dalam hati menyemangati diriku sendiri, tak lupa aku minta tolong kepada Bu rt untuk mempromosikan usahaku ini, syukur Alhamdulillah Bu rt menyambutnya dengan baik, dan beliau lah yang menjadi pelanggan aku yang pertama, tentu saja di awal pembukaan ini aku memberikan diskon 50% sebagai harga perkenalan dariku di hari pertama buka.


Dan hari kedua buka hanya satu pelanggan saja yang aku terima, yaitu tetangga depan rumah yang menjadi pelanggan aku, orang kaya depan rumah yang katanya seorang pengusaha itu.


Dan walaupun hanya satu pelanggan saja hari ini tetapi baju-baju kotornya cukup banyak, terhitung ada lima plastik besar baju kotor yang di kirim oleh babysitter nya.


Memang tetangga depan rumahku itu memang orang kaya sekali sebab rumah itu paling megah di antar rumah yang lain di kampung ini.


Kata ibu-ibu di sini beliau salah seorang pengusaha, dia adalah duda beranak satu, anaknya baru lima bulan, istrinya meninggal sewaktu melahirkan anak pertamanya itu, beruntung aku mendapatkan pelanggan seperti dia, di saat pembantunya pulang kampung Pak Biyan nama pemilik rumah itu memang sedang membutuhkan jasa laundry seperti aku, hari pertama aku mendapatkan borongan nyuci baju dan setelikaan sampai lima plastik besar, tentu saja dengan senang hati aku bersedia antar jemput baju-baju yang akan di cuci dan setrikanya.


" Baik Mbak Siti, saya bersedia mengambil baju-baju yang kotor tiap paginya." jawabku ketika Mbak Siti menawari aku pekerjaan itu, soalnya sebelumnya Mbak Siti harus membawa baju-baju kotor milik tuannya ke laundry yang agak jauh dari rumah mereka.


" Baik Mbak, Alhamdulillah dengan begitu saya tak perlu jauh-jauh lagi kalau kirim baju-baju kotor ini, sebab saya sendiri juga sibuk ngurusi Malika." Balas Mbak Siti pada ku, Malika adalah anak Pak Biyan majikan Mbak Siti.


" Ia Mbak, mulai besuk biar saya yang akan mengambilnya ke rumah Mbak." Ucapku pada Mbak Siti, dengan senyum sumringah.


" Ya sudah Mbak kalau begitu saya pamit dulu ya Mbak, soalnya takut Malika keburu bangun, saya tadi nitip sama Pak Ujang sebentar." Pamit Mbak Siti terburu-buru.

__ADS_1


" Ia Mbak, terimakasih" balasku sambil aku menerima lima kantung besar baju milik Tuannya itu.


Dengan cepat aku membongkar semua baju-baju itu, dan memasukkan ke dalam mesin cuci, sambil menunggu cucian aku beres-beres rumah, sambil menemani Dimas yang main sendirian.


Hari ketiga baju-baju milik Pak Biyan dan anaknya Malika sudah bersih rapih dan wangi lagi, paginya segera aku antar baju itu ke rumah Pak Biyan sambil menggendong Dimas, aku membawa dua kantong plastik besar ke rumah pak Biyan sekalian ambil baju kotor selanjutnya.


" Selamat pagi Pak Ujang," sapaku pada satpam rumah itu.


" Selamat Pagi Mbak, mau antar setelikaan ya?" tanya Pak Ujang yang sudah membukukan pintu gerbang untukku.


" Ia Pak, ini sudah selesai dan sekalian mau ambil lagi Pak, baju-baju yang kotor." Ucapku dengan sopan.


" O... ia Mbak, masuk saja ya tidak apa-apa kok, Mbak Siti biasanya ada di samping rumah sama Non Malika." Ucap Pak Ujang memberitahu.


" Baik Pak sayang langsung masuk saja tidak apa-apa ya?" jawabku yang masih ragu, sebab baru pertama kali aku datang ke rumah ini, jadi ada perasaan tidak enak sebab aku adalah orang baru di kampung ini, dan belum tau karakter orang sini seperti apa.


" Tidak apa-apa kok Mbak, tadi Mbak Siti sudah pesan bila ada yang antar laundry di suruh masuk saja gitu."Tutur Pak Ujang.


Akupun mengangguk pada Pak Ujang, dan berjalan masuk dan kedua tanganku membawa dua plastik besar baju milik Pak Biyan dan Malika yang sudah selesai aku setrika, tentunya sambil menggendong Dimas di belakangku, walaupun dengan tubuh yang letih aku tetap berjalan, sebab pagi ini aku belum sarapan.

__ADS_1


Aku berjalan lewat samping rumah seperti yang di arahkan oleh Pak Ujang tadi, di samping rumah itu ada garasi dan di sana ada beberapa mobil mewah berjajar dan terparkir dengan rapih, lalu ketika aku melewati mobil terakhir aku tak tahu ternyata mobil itu mundur, dan sontak saja membuat aku kaget buka main, sebab aku belum sempat menghindarinya tetapi aku sudah lebih dulu terserempet mobil itu, sehingga membuat aku terjerembab jatuh bersama dengan Dimas dan anak itu menangis dengan kencang, dan seketika itu apa yang terjadi aku tak tahu lagi, sebab setelah itu mataku berkunang-kunang dan pandangan mataku menjadi kabur seketika menjadi gelap, suara tangisan Dimas sudah tak terdengar lagi.


__ADS_2