Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Pernyataan Cinta Ammar


__ADS_3

Aninda beserta Dio kini telah berada di dalam pesawat menuju ke Narita Airport.


Di sepanjang perjalanan menuju ke Narita Airport, Aninda dan Dio pun terlihat tertidur dengan sangat pulas walaupun di dalam pesawat tersebut turbulensi pun beberapa kali datang mengguncang badan pesawat tersebut.


"Sayang, bangun. Sebentar lagi kita sampai di Narita," ucap Dio perlahan.


Aninda pun segera meregangkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan capek.


Hingga tak berapa lama pesawat pun telah mendarat di Narita Airport. Dengan sigap Dio pun segera menggandeng Aninda serta membawa koper untuk di dorong nya keluar dari area bandara tersebut dan segera mencari taksi untuk membawa kedua nya menuju ke hotel yang telah di pesan oleh Dio ketika masih berada di Indonesia.


"Sayang, kali ini kita berdua menginjakkan kaki kita ke Tokyo sebagai sepasang suami istri. Bukan lagi teman dekat atau pun hanya sekedar teman biasa. Hehehe," ucap Dio dengan tersenyum senang di sepanjang perjalanan.


"Iyaa ... waahhh ... pohon sakuranya telah bermekaran," ucap Aninda dengan takjub melihat bunga sakura yang tumbuh bermekaran dari balik jendela taksi yang sedang keduanya tumpangi.


"Bagaimana kalau malam ini kita melihat Hanami di sepanjang Sumida?" ajak Dio kepada istrinya tersebut.


"Boleh. Ini pun pertama kalinya aku melihat bunga sakura bermekaran secara langsung," ucap Aninda yang masih menatap jalanan yang terdapat bunga sakura bermekaran dari balik jendela taksi.


Hingga taksi pun kemudian berhenti di sebuah hotel bintang lima. Dio pun segera memperlihatkan tiket pemesanan via online untuk paket bulan madu.


Setelah mendapat kan kartu akses masuk ke dalam hotel tersebut, kedua nya pun segera menuju ke kamar hotel yang telah di booking nya tersebut.


Pertama kali memasuki memasuki kamar hotel tersebut pun Aninda nampak melongo mendapati seluruh lantai dan kasur yang terlihat banyak bunga mawar bertebaran.


Dengan harum aromaterapi yang menguar di dalam kamar tersebut yang membuat Aninda merasa kan sedikit rilex.


"Ahh sayang sekali bunga cantik-cantik begini harus di buang," ucap Aninda yang terlihat segera membersihkan bunga-bunga mawar yang bertebaran di atas kasurnya tersebut.


Setelah itu Aninda pun segera merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan capek di atas kasur tersebut.


"Lain kali tidak usah memesan kamar yang seperti ini. Malam pertama kita sudah berlalu sangat lama. Apalagi aksesoris seperti kemoceng cinta, tali panjang untuk mengikat tangan pasangan, atau sofa kamasutra yang ada di pojok itu semua nya terasa aneh untukku yang tengah berbadan tiga dengan tubuh yang sudah terlihat bengkak dimana-mana," ucap Aninda yang terlihat tidak nyaman dengan nuansa kamar yang terasa sangat berlebihan tersebut.


"Baiklah sayang, mandilah lebih dulu. Setelah itu kita turun ke bawah untuk mengisi perut kita di restoran yang tersedia di hotel ini ya sayang," ucap Dio dengan sabar dan berusaha membuat mood ibu hamil bersinar kembali.

__ADS_1


"Lah kita kapan ketemu Amel nya?" tanya Aninda kemudian.


"Gampang itu sayang, kita puas kan untuk perjalanan kita berdua saja ya kali ini. Setelah itu kita undang Amel dan Akio untuk menemui kita," tutur Dio dengan segera menyiapkan baju ganti untuk istrinya tersebut.


Sedangkan Aninda pun terlihat menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket tersebut.


Setelah Aninda selesai dengan ritual mandinya, maka berganti Dio lah yang segera membersihkan tubuhnya tersebut dengan sangat cepat.


Hingga kedua nya pun telah siap untuk menuju ke restoran yang ada di dalam hotel tersebut.


Tak lama kemudian keduanya pun telah duduk dengan melihat-lihat menu yang tersedia di restoran tersebut.


"Aku yang pilihkan saja ya," ucap Dio dengan cepat menuliskan menu makanan sehat untuk istrinya yang sedang hamil tersebut.


Beberapa jenis sup sayur, udon serta beberapa olahan ikan segar yang telah di masak dengan matang serta semangkuk sup iga serta air mineral kemasan dan dua gelas jus jeruk pun tersaji di atas meja.


"Perhatikan makanan yang kamu makan ya sayang. Jangan sampai salah memakan makanan seperti menu makanan yang di masak setengah matang atau bahkan tidak di masak sama sekali," ucap Dio dengan over protective.


"Iya sayang," jawab Aninda dengan singkat dan kemudian langsung memakan hidangan satu persatu hingga semua nya pun terlihat tersisa tulang belulang dan kuah nya saja.


Sedangkan di sudut meja restoran yang lain nya, nampak Ammar yang begitu terkejut tatkala pandangan matanya tertuju kepada Aninda yang berada di tempat yang sama dengan nya tersebut.


"Aku cari dimana-mana tidak ketemu. Aku hubungi pun sama sekali tidak terhubung. Namun kalau jodoh tidak kemana dan pasti bertemu. Ini buktinya kita bertemu kembali tanpa di sengaja Aninda," gumam Ammar yang terlihat pamit undur diri dari acara makan malam keluarga besarnya tersebut yang juga dominan nya adalah penduduk asli Jepang.


Ammar pun segera tergesa melangkah menuju ke meja dimana Aninda berada dengan senyum mengembang dengan sangat lebar.


"Hai Aninda, apa kabar?" ucap Ammar dengan spontan mengulurkan tangan nya kepada Aninda.


Tanpa basa basi Dio pun segera menepis uluran tangan Ammar yang terlihat sangat senang sekali ketika bertemu dengan istrinya itu.


"Kenapa ada laki-laki ini disini? Bukan kah laki-laki ini yang dulu bertemu dengan ku dan Aninda di restoran yang tak jauh dari kampus nya itu?" gumam Dio dengan menatap tajam Ammar.


Namun Ammar yang sedang di tatap tajam oleh Dio pun sama sekali tidak menyadari karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan seseorang yang beberapa bulan terakhir ini memenuhi relung hatinya tersebut.

__ADS_1


"A--aku baik, Ammar. Duduklah," ucap Aninda dengan mempersilahkan Aninda untuk segera duduk di kursi yang tersedia.


Dengan cepat pun Ammar duduk dan berhadapan dengan langsung dengan terus menatap wajah Aninda yang terlihat lebih chubby dari terakhir kali bertemu dengan nya.


"Aku kangen tau, Nin. Kamu aku cari namun tak kunjung kembali ke kampus lagi. Hingga acara pertukaran mahasiswa berakhir kamu pun tidak kunjung terlihat. Kamu kemana saja? Kenapa nomer kamu sama sekali tidak bisa aku hubungi kembali?" ucap Ammar dengan terus mencerca Aninda dengan banyak pertanyaan yang membuat Dio semakin kesal karena seperti menjadi orang ketiga di antara kedua nya.


"Banyak yang terjadi pada ku Ammar. Bagaimana ya cara ku menjelaskan nya. Itu akan memakan waktu yang sangat lama," ucap Aninda dengan raut bingung.


Apalagi mendapati wajah suaminya yang sudah terlihat seperti banteng mengamuk dengan mata merah menyala siap memangsa Ammar.


"Tidak usah di jelaskan tidak masalah. Yang penting kini aku sudah bisa bertemu dengan mu kembali. Apa aku boleh mengatakan sesuatu Nin? Sebelum semua nya terlambat," ucap Ammar dengan wajah seriusnya.


Aninda pun semakin bingung dengan ucapan yang terlontar dari mulut Ammar yang juga terlihat tidak memperdulikan akan kehadiran suaminya tersebut.


"Ka--katakanlah," ucap Aninda dengan terbata antara takut suaminya marah dan cemburu namun juga agar dirinya segera mengetahui apa yang akan di katakan oleh Ammar dan setelah itu dirinya pun akan mengusir Ammar secara halus.


"Sebelum janur kuning melengkung. Aku ingin mengatakan jika aku telah mencintai mu di awal pertemuan kita Nin. Aku pun sangat gila karena mencari-cari dirimu yang tiba-tiba menghilang dari peredaran kampus tanpa sebab yang ku ketahui. Hingga aku pun sering bolak-balik menuju Indonesia untuk mendapatkan informasi mu di kampus asal mu Nin. Namun semua itu terasa nihil," tutur Ammar dengan menggebu-gebu.


"A--Amar, aku te--" ucap Aninda yang ingin menjelaskan bahwa dirinya telah menikah terlihat segera dipotong oleh Ammar.


"Dengar kan aku dulu, Nin. Mungkin kita benar-benar berjodoh maka dari itu kita bisa benar-benar bertemu disini," ucap Ammar yang kemudian akan meraih tangan Aninda tersebut.


Dengan cepat Dio pun menjauh kan tangan istrinya tersebut dari jangkauan Ammar.


"Aninda adalah istriku! Dan calon ibu dari calon anak-anak ku yang sedang berada di dalam perut Aninda saat ini. Jadi kamu jangan lagi berharap terlalu banyak terhadap istriku!" ucap Dio dengan penuh penekanan dan menatap tajam ke arah Ammar.


Sedangkan Ammar yang mendengar ucapan Dio pun mendadak berubah menjadi pucat pasi antara ingin percaya dan tidak.


"Ini tidak mungkin kan, Nin? Secepat itu kah kalian menikah? Kalian pasti bohong!" pekik Ammar dengan menggebrak meja tersebut dengan sangat keras karena telah diselimuti oleh cemburu dan amarah yang membara di dalam jiwa nya mendengar ucapan Dio tersebut.


"Sayangku, berdirilah. Biar lelaki itu yakin jika kamu telah menikah dan mengandung anak-anak ku," pinta Dio dengan cepat karena dirinya pun tidak kalah emosi melihat tingkah Ammar yang menurutnya sangat tidak sopan tersebut.


Aninda pun segera menuruti perintah suaminya tersebut dengan berdiri memperlihatkan perutnya yang benar telah terlihat buncit tersebut.

__ADS_1


"Yang di katakan suamiku itu benar adanya Ammar jika kami telah menikah dan akan segera memiliki bayi. Jadi janganlah lagi berharap banyak dengan ku. Carilah wanita yang lain nya lagi pasti akan ada banyak yang berusaha ingin mendapatkan kamu," ucap Aninda dengan perlahan.


"Aku benci kamu Aninda! Kenapa kamu pergi tanpa kabar dan datang lagi dengan membawa kabar buruk untukku!" pekik Ammar yang kemudian terlihat meninggalkan meja yang sedang Aninda dan Dio tempati dengan wajah penuh kekecewaan.


__ADS_2