
Hari pernikahan Akio dan Amel pun tiba. Aninda pun tampak menghampiri Amel yang belum selesai di make up oleh MUA. Aninda pun nampak duduk di dekat Amel dan memandangi wajah Amel yang masih di make up.
Begitu juga Amel yang nampak memandang Aninda sembari tersenyum dan tidak ada obrolan di antara keduanya karena Amel yang masih belum selesai di make up.
"Duh, kok cantikan Aninda sih ketimbang aku?" gumam Amel didalam hati sambil terkekeh pelan.
"Kak, jangan banyak gerak dulu ini bentar lagi dah selesai kok," ucap sang Mua.
Amel pun nampak menurut dan tidak banyak bergerak lagi. Sedangkan Akio di dalam ruang ganti pria pun nampak grogi.
"Dio tanganku gemetaran sejak tadi. Dari semalam aku pun sama sekali tidak bisa tidur. Mataku tidak kunjung mau untuk aku pejam kan," ucap Akio yang nampak nervous tersebut.
Dio yang mendengar penuturan Akio pun tertawa pelan. Seorang Akio ada sisi nervousnya juga hingga tidak bisa tidur semalaman.
"Sudah, kamu tenang saja. Grogi boleh, tapi jangan berlebihan kayak kamu," ucap Dio dengan tertawa kecil memandangi Akio yang terlihat lucu.
"Kamu sih belum merasakan rasanya mau menikah itu gimana? Awas kamu kalau besok di saat mau nikah terus terlihat grogi seperti ku," ucap Akio.
"Aku kan hanya bisa memberimu saran Akio. Hilangkan rasa cemas mu dan ingat sebentar lagi statusmu sudah berubah menjadi suami dan calon bapak," ucap Dio dengan senyum lebarnya.
"Calon bapak?" tanya Akio dengan wajah heran nya.
"Iya kan kamu memang calon bapak. Di dalam perut Amel itu sudah ada benih yang kamu tabur," tutur Dio membeberkan tentang kehamilan Amel.
"Kamu enggak percaya? Kata mama kamu kemarin-kemarin itu kamu lagi ngidam tau. Terus muntah-muntah, enggak bisa nahan bau aneh-aneh. Memangnya kamu enggak sadar? Kamu kan kena sindrom kehamilan simpatik, hihihi. Lucu sih yang mual-mual yang nanem benih nya. Biar tau rasanya muntah-muntah dan bukan cuma tau enaknya main coblos dan tusuk menusuk doang," tutur Dio dengan mengejek Akio yang masih nampak bengong.
"Jadi Amel ini lagi hamil anakku??" ucapnya Akio dengan rasa senang yang tak terkira di hatinya.
Dio pun membalas dengan anggukan dan Akio pun kemudian tampak duduk bersandar di kursi dengan raut wajah yang nampak sangat senang.
"Pantas saja tubuh dan kedua mochi milik Amel semakin montok. Terus makan nya pun semakin banyak. Aku kira karena Amel memang sedang kelaparan Dio," ucap Akio dengan tersenyum senang.
"Astaga, yang kamu ingat saja hanya tubuh dan mochi nya saja tanpa menyadari perubahan Amel yang sudah nampak jelas itu," jawab Dio dengan mencebikkan bibirnya.
"Laki-laki normal ya biasalah. Emangnya kamu yang enggak normal dan enggak berani menyentuh Aninda. Huu kasian deh lho, masa berjuang kamu masih sangat lama karena langkah mu mendekati Aninda masih stuck di tempat," ejek Akio yang membuat Dio panas hati mendengar ucapan Akio.
"Siapa yang enggak normal? Aku dengan Aninda pun sudah melakukan nya berkali-kali. Bahkan kita pun kemarin sudah mencobanya di hotel yang terkenal paling mahal dan tinggi itu! Beuh, kamu belum tau saja jika Aninda sudah mulai menerimaku," ucap Dio dengan menggebu-gebu.
"Ah masak sih, enggak percaya tuh aku," jawab Akio dengan memancing Dio agar bercerita lebih lagi.
Dengan cepat Dio pun membuka jas dan tuxedo hingga terlihat seluruh tubuh Dio yang nampak berwarna kemerah-merahan itu. Akio pun melongo melihat tubuh Dio yang penuh dengan tanda cinta.
"Kalian main gila ya sampai lengan tangan pun semua nya terlihat memerah," ucap Akio dengan wajah heran.
__ADS_1
"Entahlah. Awalnya kita menerima minuman dan makanan dari pihak hotel yang dikirim oleh petugas hotel. Kita pun memakan nya hingga habis tak tersisa. Namun setelah itu tak lama kemudian tubuh kami pun terasa sangat panas dingin dan rasanya kami sama-sama saling menginginkan hingga seperti ini lah," terang Dio yang kembali mengingat bagaimana gilanya dirinya dan Aninda kemarin melakukan hal tersebut.
"Kamu tau enggak Kio kalau di dalam kamar hotel itu juga tersedia sofa kamasutra nya juga lho. Yang sering aku lihat di video +++ yang biasa digunakan untuk honeymoon," ucap Dio dengan mengingat sofa kamasutra yang tak luput dari tempat ber cin ta mereka dengan senyum merekah di wajahnya.
"Apa itu mungkin kamar khusus untuk kamar tamu yang sering datang untuk honeymoon kali ya Dio, makanya terlihat lengkap banget. Tapi kalau makanan dan minuman nya itu mungkin tertukar kali ya. Itu mungkin bukan untuk kalian. Tapi makanan dan minuman yang telah di pesan kamar sebelah kalian kali yang sudah di campur dengan obat laknat," ucap Akio dengan heran.
"Mungkin juga begitu kali ya," jawab Dio yang juga sama terheran-heran.
"Kamu beneran kemarin itu di hotel yang itu? Kalau benar begitu aku juga maulah menginap di sana. Membuktikan apa yang kamu ucapan barusan," ucap Akio dengan wajah membayangkan ruangan di dalam hotel yang Dio tempati sembari tersenyum mesum.
Tak lama kemudian suara pintu pun terdengar diketuk berkali-kali. Dengan cepat Dio pun mengancingkan tuxedonya kembali dan bersiap membuka pintu bersama Akio.
"Ayo sudah siap, sudah waktunya," ucap Aninda yang di berikan instruksi oleh mama Akio untuk memanggil Akio dan Dio di ruang ganti.
Akio dan Dio yang melihat penampilan Aninda yang nampak sangat cantik pun membuat keduanya terpana. Sedangkan Aninda nampak segera berbalik arah menuju ke ruang dimana Amel berada.
"Heh ingat jangan terpesona dengan calon istri sahabat sendiri," ucap Dio dengan ketus dan meninggalkan Akio seorang diri.
Dengan secepat kilat Dio pun mengikuti kemana Aninda melangkah. Dio pun juga nampak masuk ke dalam dan melihat Amel yang juga telah siap. Dio pun segera merangkul Aninda dengan sangat posesif dan rasanya tidak rela jika kecantikan Aninda pun di lihat oleh banyak orang.
"Sayang, bisa tidak kamu jangan menjadi pengiring pengantin nya. Kamu nanti pasti dilihatin banyak cowok dan banyak yang naksir kamu," ucap Dio merajuk dengan terus menempel kemanapun Aninda melangkah.
"Dio, jangan begini. Lihatlah kita ini dilihatin oleh banyak orang karena tingkah kamu ini. Sesuai dengan perjanjian awal kan memang aku di minta untuk jadi pengiring pengantin," ucap Aninda kepada Dio dengan menahan kesal.
Ijab kabul pun di mulai. Hingga tak berapa lama terdengar kata "SAH!" dari para hadirin. Akio pun nampak bernafas lega dan segera memeluk haru Amel yang telah sah menjadi istrinya tersebut.
"Sayang, kita sudah bisa ninuninu sepuasnya enggak ada yang melarang lagi," bisik Akio dengan pelan di telinga Amel.
"Hish, otak kamu isinya apa cuma itu terus sih sayang," balas Amel.
"Sayang, terimakasih ya karena kamu sudah berhasil mengandung anak kita," bisik Akio lagi dengan mengusap pelan perut Amel tersebut.
Amel pun nampak terbengong mendengar perkataan suaminya tersebut.
"Kamu bercanda kan?" bisik Amel kemudian.
"Sama sekali tidak. Mama, papaku, Dio dan Aninda juga sudah tahu kalau kamu itu sedang hamil. Lihatlah perut kamu kan sudah lebih buncit sedikit dari yang lalu," jawab Akio dengan pelan serta mengecup kening Amel.
"Astaga, kenapa hanya aku yang tidak menyadarinya?" gumam Amel dengan mengelus pelan perut nya tersebut.
Sedangkan Aninda dan Dio pun nampak duduk di kursi yang disediakan untuk tamu bersama orang tua Aninda serta Fujiwara dan Edrick.
Aninda pun nampak mengunyah makanan yang ada di depan mejanya tersebut dengan tidak terlalu memperhatikan sekitar.
__ADS_1
Hingga tak berapa lama bunga yang Amel lempar pun jatuh tepat di atas pangkuan Aninda yang membuat seluruh pandangan mata para hadirin pun memandang Aninda.
Sedangkan Aninda sendiri nampak bingung karena tiba-tiba ada sebuket bunga melayang dan mendarat tepat di atas pangkuan nya tersebut.
"Wooww, seperti nya calon pengantin berikutnya adalah pengiring mempelai pengantin yang terlihat sangat cantik itu," ucap MC pernikahan tersebut menggema yang membuat semua nya pun nampak bertepuk tangan hingga membuat Aninda malu.
Sedangkan Dio yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan pun segera maju ke podium dengan menggandeng tangan Aninda.
"Ehem, test test" ucap Dio mencoba microphone yang tersedia.
"Para hadirin di acara pernikahan sahabat saya. Izinkan lah saya menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang berada di samping saya yang terlihat sangat cantik sekali hari ini,"
Dio pun nampak menyanyikan sebuah lagu dengan sangat menghayati.
"Dengarkanlah ...
Wanita pujaanku ...
Hari ini akan kusampaikan ...
Hasrat suci kepadamu, dewiku. Dengarkanlah kesungguhan ini ...
Aku ingin mempersuntingmu ...
Tuk yang pertama dan terakhir ...
Jangan kau tolak dan buatku hancur ...
Ku tak akan mengulang tuk meminta, Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu ..."
Dio pun menyanyikan lagu tersebut dengan sangat apik hingga membuat seluruh hadirin bisa menebak apa yang akan Dio lakukan.
Dio pun kemudian berlutut di hadapan Aninda dengan memberikan sekotak cincin yang terlihat sangat indah.
"Will you marry me?" ucap Dio dengan memohon.
Para hadirin pun bersorak sorai menyerukan kata "Terima! Terima! Terima!"
Hingga membuat wajah Aninda pun nampak semakin memerah antara senang dan malu. Tak lama kemudian Aninda pun segera menganggukkan kepalanya dan di sambut sorak sorai para tamu undangan dengan ikut berbahagia.
Sedangkan Akio yang melihat Dio yang sok romantis tersebut pun mencebikkan bibirnya.
"Sayang, lihatlah kelakuan sahabat mu itu yang terlihat mencuri perhatian tamu undangan kita," gerutu Akio dengan wajah lucu yang membuat Amel pun tertawa sendiri melihat wajah suaminya tersebut.
__ADS_1
"Biarkan saja sayang, yang penting kita sudah sah menjadi suami istri kan. Jadi biarkan giliran Dio dengan usaha nya mengejar cinta Aninda," jawab Amel dengan tersenyum sumringah.