Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 31


__ADS_3

POV Karina


Aku meletakkan gawaiku di atas nakas, mataku ku tutup rapat-rapat dan kedua tanganku ku letakkan di pelipis ku, rasanya kepala ini mau pecah saja, Masalah silih berganti menghampiri ku.


Setelah aku mendapatkan telpon dari Ibu mertua, dan Fatimah di kampung perasaan aku kian tak enak saja, tentu saja aku takut Mas Pram diam-diam masih menyimpan perasaan suka kepada Zaenab, sebab itu bisa saja terjadi pada siap saja bukan? aku juga tak tahu seberapa dalam cinta Mas Pram pada Zaenab, yang jelas mereka sudah berpisah, sebelum aku masuk ke dalam kehidupan Mas Pram, Zaenab lah yang mengisi hati Pria yang kini jadi suamiku itu, apalagi aku belum di karunia anak pada pernikahan kami ini.


Hati ini resah karena hal itu juga, takut di cap mandul juga.


Untung sewaktu aku menerima telpon tersebut Mas Pram tak ada di sampingku, setelah menidurkan aku Mas Pram langsung pergi ke ruang kerjanya, untuk mengerjakan sebagian berkas yang belum kelar dari kantor.


Sebenarnya aku kasihan melihat Mas Pram, dia pontang-panting sejak peristiwa kecurangan yang terjadi di Perusahaan Ayah, hanya pak Hamdan dan Mas Pram yang masih loyal pada perusahaan, yang saat itu perusahaan belum bisa memberikan gaji pada mereka.


Aku harus bagaimana ini, memberitahu Mas Pram hanya membuat dia nanti banyak pikiran saja, sementara Zaenab dan Ibunya nekat datang ke sini, secara Zaenab sudah tahu rumah ini.


Duh kepala ini rasanya kian pusing saja, masalah datang silih berganti, sudah dua hari aku juga belum menjenguk Ayah, sebab aku dan mas Pram lagi sibuk dengan adanya investor baru di Perusahaan, apa mendingan Ayah aku ajak saja ke sini ya, biar aku juga tak kepikiran lagi padanya, pikirku itu lebih baik.


Rumah Ini begitu besar hanya aku dan Mas Pram saja yang menempatinya, sementara Ayah lebih suka tinggal di rumah yang lama, justru rumah yang lebih kecil bila di bandingkan dengan rumah ini.


Aku harus mencari cara agar Zaenab dan Bu Marni tak ketemu sama Mas Pram, tetapi bagaimana caranya? kata Fatimah mereka berdua sudah berangkat dengan membawa koper besar, aduh aku takut Mas Pram menerima mereka tinggal di sini, dan mau menuruti permintaan Bu Marni yang tak masuk akal itu.


Bu Marni orang yang pandai bersilat lidah, banyak alasan yang akan dia ungkapkan pada kami, ujung-ujungnya alasan kemanusiaan, ah repot urusan sama dia itu.


Di tengah kegundahan hati ku tiba-tiba pintu di buka dari luar, muncullah sosok Pria tampan itu dengan tampangnya yang terlihat kusut sekali, mukanya begitu tegang dan terlihat lelah.


" Kamu terbangun sayang?" serunya sambil melangkah kakinya mendekat ke arahku, sementara aku masih menyandarkan kepalaku di ujung ranjang.


" Iya Mas" ucapku dengan manja.

__ADS_1


" Kenapa sayang masih pusing?" tanyanya dengan nada yang khawatir, di dudukkan bobotnya di tepi ranjang yang aku tiduri.


Aku hanya mengangguk lemah, ingin mengatakan masalah Zaenab, tetapi aku juga ragu, aku kasihan sama dia yang sudah terlihat letih kerja dan juga mengurusi aku.


" Buat tidur saja kalau begitu ya," ucapnya seraya mengelus rambutku yang tergerai panjang.


" Atau Adek mau sesuatu?" tanyanya lagi.


" Ndak Mas, mau tidur lagi capek" keluhku dengan manja.


" Ya sudah kalau begitu Mas tinggal dulu ya ke bawah?" ucapnya, lalu diapun bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kamar.


****


Suara burung peliharaan Mas Pram sudah berbunyi nyaring di pagi hari membuat suasana pagi yang mendung ini menjadi syahdu.


Ketika aku mau keluar kamar sayup-sayup aku mendengar suara berisik di bawah sana, tak seperti biasanya agak ramai, aku memicingkan mataku untuk melihat ke bawah sana, tetapi aku tak menemukan apa-apa di sana, karena rasa penasaran yang kelewat tinggi akhirnya aku turun saja ke bawah untuk melihat siapa yang pagi-pagi begini sudah bikin ribut, biasanya Bi Ijah tak mungkin ribut sama Lastri mereka Art yang sopan dan tahu tata krama.


Ketika aku sampai di bawah, dan berjalan menuju meja makan berapa terkejutnya aku melihat dua orang yang sudah tak asing lagi untuk ku, dua orang itu telah makan dengan lahapnya di meja makan ku, mereka makan seperti orang yang kelaparan saja.


" Kalian!! kenapa kalian ada di sini??" seruku dengan kagetnya, dengan mengangkat jari telunjukku ke arah mereka berdua.


" Kenapa?? ga usah kaget gitu, rumah ini adalah milik calon suami anakku jadi ga usah bersikap kasar seperti itu, biasa saja, lha wong calon mantu aku saja tak melarang kami kok" timpal Bu Marni dengan gayanya yang selalu songsong.


" Sudah Nap, ayo makalah yang banyak, janin yang ada di perut kamu harus di kasih gizi yang banyak jangan pedulikan orang mandul itu" ucap Bu Marni dengan pedasnya.


" Apa kamu bilang tadi? kamu ngatain aku mandul??" sela Karina yang tersulit emosi akan perkataan Karina.

__ADS_1


" Lha kenyataan begitu kok, coba kalau tidak mandul lalu apa sebutannya? kalian sudah menikah hampir satu tahun, tetapi masih saja belum di kasih anak" balas Bu Marni dengan sinis.


" Kamu jangan seenaknya menuduh aku mandul ya, lihatlah anak kamu itu, belum menikah tetapi sudah hamil duluan kalau seperti itu namanya apa hah!!??" kemarahanku sudah sampai di ubun-ubun, Bu Marni sudah memancing kemarahan ku, hingga membuat aku lepas kendali berkata kasar pada wanita tua yang harusnya aku hormati itu.


" Lancang mulut kamu itu Karina, biar pun Zaenab hamil, tetapi anak yang di kandung Zaenab adalah anaknya Pram, JADI MAU APA KAMU SEKARANG HAH!!?? " bentak Bu Marni padaku sambil berdiri dan berkacak pinggang.


Bi Ijah dan Lastri tergopoh-gopoh menghampiri aku dari arah dapur, sepertinya Art ku ini tanggap apa yang akan terjadi.


Kontan bola mataku membulat mendengar pernyataan Bu Marni itu, bahwa Zaenab mengandung anaknya Mas Pram, apa aku tak salah dengar, rasanya tak mungkin.


" Tak mungkin Mas Pram menghamili Zaenab, saya tak percaya, kalian itu hanya memfitnah suamiku saja kan? kalian hanya membuat hubungan kami menjadi hancurkan?" balasku tak terima, aku menapik pernyataan Bu Marni itu.


" Terserah kamu percaya atau tidak, yang jelas Zaenab akan menikah dengan Pram, tanpa meminta persetujuan dari kamu,huh" balas Bu Marni dengan sengitnya, sambil menunjuk jari telunjuknya ke arahku.


" Jangan mimpi Bu, terlalu berkhayal nanti jauh dan sakit, setelah makan saya harap anda berdua pergi dari rumah ini, saya tidak suka melihat kalian berkeliaran di rumahku ini," ucapku dengan geram, aku sudah tak bisa menahan emosiku, rasa kemanusiaan aku sudah hilang, aku tak terima di hina oleh mereka berdua.


" Apa kamu bilang kamu harus pergi dari sini, mikir dong ini itu rumah siapa? rumah ini milik calon menantuku, Pram yang ada malah kamu yang di usir sama Pram bila tak mau terima kami di sini," ucap Bu Marni dengan percaya diri sekali, ih... songsong sekali ini manusia ajaib ini.


" Apa? rumah Mas Pram, apa aku tidak salah dengar telingaku ini, heh dengarkan telinga kalian baik-baik ya rumah ini sudah berdiri tegak di sini sebelum kami menikah, rumah ini adalah milik Ayah aku yang di hadiahkan untuk aku jadi jangan mimpi kamu akan tinggal di sini" ucapku sambil aku mendekatkan wajahku kehadapan kedua orang yang tak tahu malu itu." setelah itu aku pergi dari hadapan mereka dengan membawa sejuta kemarahan yang ingin aku lupakan entah pada siapa.


Bikin darah tinggi saja kedua orang itu, apalagi Bu Marni yang tak tahu diri itu.


" Sayang kamu sudah bangun" seru suara yang sudah aku kenal, dua orang pria yang ada di sana, berbaju Koko dan bersatu hanya berdiri di ambang pintu yang menghubungkan antar ruang keluarga dan raung tamu.


" Mas aku mau bicara sama kamu, penting!" bentak-ku dengan sorot mata ku menatap tajam ke arahnya.


" I-ia sayang, maaf akan aku jelaskan semuanya." ucapnya sambil dia berjalan mengekor di belakang ku.

__ADS_1


Sementara ku lihat sekilas Ayahnya Zaenab tertunduk mukanya dan berjalan ke arah dapur.


__ADS_2